
"Yeee.... pantai..." teriak Vee sambil berlari diatas pasir.
Sudah daritadi anak itu merengek minta ke pantai, sejak tadi saat mengunjungi keraton dan tempat membatik.
"Jangan lari Vee, nanti jatuh" teriak Vani.
"Sudah, biarkan saja. Kan ada susternya" kata Yudha.
"Tadi juga jatuh meskipun dijaga suster" gerutu Vani.
"Jangan cemberut gitu dong, kan aku jadi gemes sama kamu" goda Yudha.
"Apa sih. Nggak lucu" kata Vani yang berjalan menjauhi Yudha.
Pria itu hanya tersenyum menanggapi perkataan Vani. "Pasti pipinya merah" gumam Yudha yang mengejar Vani dengan berlari kecil agar bisa mensejajarkan langkahnya lagi.
Setelah menemukan tempat yang nyaman untuk duduk, mereka berdua beristirahat sambil melihat ombak yang berkejaran.
Yudha terlihat berbeda kali ini, dengan memakai kemeja pantai dan celana pendek. Topi bundar melingkar di kepalanya, tak lupa kaca mata hitam yang bertengger indah di hidung mancungnya.
Pemandangan disebelah Vani ini sebenarnya tak kalah indah dengan lautan lepas. Keduanya sama-sama sulit diselami, dan menenggelamkan jika tidak berhati-hati.
"Jangan lihat-lihat, nanti kamu jatuh cinta lagi sama aku" kata Yudha yang menyadari jika Vani sedang menatapnya.
Terkejut, Vani segera mengalihkan pandangan. "Siapa juga yang lihat kamu, mas. Aku lagi lihat es kelapa muda yang disana itu, enak kayaknya" kata Vani berbohong, tapi memang benar kalau ada penjual es kelapa muda di seberang sana.
"Oh, iya. Jadi kamu nggak lihatin aku nih?" tanya Yudha semakin menggoda.
"Enggak lah. Bentar ya, aku mau beli es dulu. Kamu mau juga?" tanya Vani yang telah berdiri.
"Baru juga duduk, Van. Masak sudah mau pergi lagi sih?" tanya Yudha.
"Iya, haus. Mau ikut apa duduk disini kamu?" tanya Vani.
"Oke, aku temani kamu" kata Yudha beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf ya aku banyak belanja tadi di tempat membatik, kamu sih ngajak kesana" kata Vani memecah kecanggungan.
"Nggak apa-apa, uangku nggak akan habis cuma buat beli itu saja. Beli tempatnya sekalian juga nggak apa-apa kalau kamu mau" jawab Yudha.
"Huh, sombong" cibir Vani.
Yudha hanya terkekeh, lalu mereka diam. Kembali suasana menjadi canggung.
"Kamu ingat kita pernah jalan dibawah gerimis?" tanya Yudha saat melangkah bersama Vani menuju penjual es.
"Nggak ingat, aku kan nggak suka hujan, mas. Mungkin kamu lagi jalan sama wanita lain kali" jawab Vani sambil mengendikkan bahu.
Mana mungkin Vani lupa kenangan bersama Yudha, hanya saja dia tidak mau terjerumus terlalu dalam untuk kedua kalinya.
"Aku nggak lupa kok kalau kamu lebih suka musik panas, kamu itu cengeng, kamu yang suka warna abu-abu. Masak kamu lupain kenangan kita sih?" tanya Yudha sedikit kecewa
"Semua yang menyakitkan kan memang harus dilupakan, mas. Ngapain dikenang?" kata Vani tanpa menatap Yudha.
__ADS_1
Mendengarkan itu Yudha sejenak menghentikan langkahnya. Ternyata bukan hanya dia yang tersakiti, wanita disampingnya inipun juga tersiksa dengan kepergian Yudha waktu itu.
"Oh, andai waktu bisa diputar" jerit Yudha dalam hati.
"Memangnya aku nyakitin kamu ya?" tanya Yudha.
Vani hanya diam, mereka sudah sampai di penjual es kelapa.
"Mau beli berapa bu?" tanya penjual itu.
"Ehm... tujuh deh pak" kata Vani.
"Siap bu, silahkan ditunggu sebentar. Bisa duduk di sebelah sana bu" kata penjual itu menunjukkan deretan tempat duduk di belakangnya.
Vani hanya mengangguk, dan melangkahkan kakinya ke tempat yang dimaksud. Yudha masih mengekor padanya.
"Kok nggak dijawab?" tanya Yudha setelah keduanya mendapat tempat duduk yang nyaman.
"Memangnya kamu tanya apa?" tanya Vani pura-pura lupa.
"Aku dulu nyakitin kamu, ya?" tanya Yudha memperjelas.
Vani terdiam, bingung bagaimana caranya menyampaikan pada Yudha.
"Nggak kok, kamu nggak nyakitin aku mas. Akunya saja yang terlalu baper sama perlakuan kamu ke aku" kata Vani tanpa mau melihat ke arah Yudha.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Yudha seolah tak mengerti, sebenarnya Yudha hanya ingin tahu saja apakah Vani juga ada perasaan yang sama dengannya.
Yudha masih terdiam menunggu kelanjutan dari perkataan Vani.
"Aku terlalu muda waktu itu untuk menilai semua perlakuan kamu. Aku mengira kalau kamu punya perasaan sama aku, tapi nyatanya kamu pergi" kata Vani menunduk, nyatanya perasaan itu masih tertinggal di hatinya hingga saat ini.
"Maafkan aku ya, Van" kata Yudha.
Vani menoleh, sedikit memberikan senyumnya. Lalu menunduk lagi.
"Sejak waktu itu aku mulai sedikit menyukai hujan, karena saat hujan turun aku bisa menumpahkan air mataku tanpa orang lain tahu" kata Vani.
Sejenak mereka berdua terdiam, saling menyelami perasaan masing-masing. Debaran itu masih ada hingga saat ini. Mereka jatuh cinta lagi diwaktu yang salah.
"Pesanannya bu, mau diantarkan kemana? Biar dibantu sama anak saya" perkataan penjual es kelapa muda itu membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Eh, iya pak. Tolong dibawakan kesana ya" kata Vani menunjuk tempatnya yang tadi, ada supirnya yang menunggu disana.
"Baik, bu" kata si penjual.
"Ayo kesana lagi, mas" kata Vani yang sudah beranjak dari tempatnya.
Yudha mengikuti langkah Vani yang berjalan disamping penjual es, dia dikacangi sekarang. Vani malah mengobrol dengan penjual itu.
"Totalnya seratus empat puluh ribu, bu" kata penjual setelah meletakkan ketujuh es diatas tikar yang digelar.
"Hah? Iya sebentar" kata Vani membuka tasnya untuk mengambil uang. Tapi tentu sudah dibayarkan oleh Yudha duluan.
__ADS_1
"Kembaliannya ambil saja" kata Yudha setelah memberi dua lembar uang kertas berwarna merah.
"Terimakasih pak, saya permisi dulu" kata penjual itu senang, dan menarik lengan anaknya untuk pergi.
"Mahal juga ya, kalau di tempatku bisa dapat dua kali lipat dari ini semua" kata Vani menggerutu dengan harga es itu.
"Sudah, nggak usah dipikirin. Anggap saja sedang berbagi" kata Yudha.
"Iya, terserah mas saja" kata Vani.
"Jadi, kamu nangis ya waktu aku pergi?" tanya Yudha yang masih ingin bernostalgia dengan masa lalunya.
"Cg, ngapain masih dibahas sih mas?" kata Vani yang malah terdengar seperti sedang merengek.
"Aku itu sebenarnya--" belum sempat Yudha melanjutkan kalimatnya, Vee sudah datang mengganggu.
"Bunda, aku kita berenang" kata Vee, balita itu sudah basah dan kotor karena bermain dengan pasir setelah bermain air laut.
"Ya Allah Vee, kotor banget kamu" kata Vani yang tak mau didekati Vee.
"Pa, kenapa bunda nggak mau dekat sama Vee?" tanya balita itu heran.
"Sini sama papa Yudha aja, bunda kamu lagi bad mood" kata Yudha mengajak Vee ke dalam pangkuannya. Membuat Vani mencebikkan bibirnya.
"Kamu mau es kelapa muda?" tanya Yudha.
"Iya, mau" kata Vee menerima es dari Yudha.
"Kamu juga boleh ambil" kata Yudha pada suster Hesti.
"Iya pak, terimakasih" jawab sister Hesti mengambil satu buah es dan menikmatinya dengan supir mereka.
"Varo kemana ya mas?" tanya Vani yang tidak menjumpai anak lelakinya sejak tiba dipantai tadi.
"Sus, tanya teman kamu dulu ya, lagi dimana sama Varo" kata Yudha memerintah suster Hesti.
"Iya, pak" kata suster.
"Varo sedang memancing, pak" kata suster melaporkan kegiatan Varo.
"Dimana?" tanya Vani.
"Di batuan karang sebelah selatan sana bu" kata Suster.
"Biarkan saja Van, anak laki-laki jangan terlalu dikekang, nanti malah suka memberontak" kata Yudha.
"Iya deh, yang penting dia aman" jawab Vani.
.
.
.
__ADS_1