
"Bunda... Bunda... Bunda... Bunda..." kata Vera setelah memasuki minimarket tempat Vani bekerja.
"Uluu... anak cantik cari siapa?" tanya Dewi melihat Yudha yang datang dengan dua anak kecil, sementara Vani masih mencari barang di gudang, dua sedang restok display.
"Aku cari bunda, tante" kata Vee.
"Bunda kamu siapa memangnya, dimana?" tanya Dewi semakin menggoda Vee.
"Dimana Vani?" tanya Yudha.
"Ada pak, sedang di gudang. Sebentar saya panggilkan" kata Dewi.
Belum juga beranjak, ternyata Vani sudah keluar dengan membawa beberapa barang dengan troli untuk di display.
"Hei, ngapai kesini?" tanya Vani melihat kedua anaknya.
"Aku yang ajak, sengaja biar kamu tambah repot" goda Yudha.
"Isshh, mas Yudha nih. Pantesan tadi Yoga bilang anak-anak dibawa omnya, ternyata kamu yang bawa?" tanya Vani.
"Iya, lagi nggak ada kerjaan tadi abis meeting juga, kebetulan lewat dekat sekolah mereka. Jadi ya aku bawa saja sekalian" kata Yudha.
Dewi mencium aroma-aroma kasmaran pada diri bosnya itu. Cara pandang dan cara bicaranya pada Vani terlihat berbeda. Entahlah, gadis itu tak mau ambil pusing. Dia masih butuh pekerjaan santai di sini, jadi dia tetap diam saja.
"Bentar bunda tinggal menata barang dulu ya. Kalian diem sama papa Yudha, kan kalian kesini sama papa Yudha" kata Vani meninggalkan kedua anaknya bersama Yudha.
"Kalian mau apa?" tanya Yudha.
"Es krim boleh papa?" tanya Vee takut-takut.
"Kamu belum makan Vee, jangan makan es krim dulu" teriak Vani dari balik etalase.
"Yasudah, kita makan dulu yuk diluar. Karena bunda cerewet, jadi kita nggak usah ngajak bunda. Gimana, mau?" tanya Yudha.
"Aku ok pa" kata Vee langsung digendong Yudha, sementara Varo terlihat berfikir.
"Bunda nggak diajak makan juga? kasihan kan kalau lapar" ujar anak laki-laki itu, ternyata dia memikirkan bundanya.
"Hahaha... kamu sayang banget sama bunda kamu ya? nanti kita bungkus saja buat bunda sama tante Dewi ya" kata Yudha.
"Engmh ... baiklah, kita makan" kata Varo.
__ADS_1
Hati Vani berbunga mendengar Varo yang perhatian padanya. "Yakin mau makan tanpa ngajakin bunda?" tanya Vani mendekat pada mereka.
"Bunda kan kasihan" akhirnya Vee berucap.
"Tapi lebih kasihan tante Dewi dong kalau ditinggal sendiri" kata Vani membuat anaknya semakin bingung.
"Kau ini, masih kecil jangan disuruh mikir. Nanti kita bungkusin buat bunda dan tante ya, sekarang kita makan dulu" kata Yudha, Vani hanya cengengesan saja. Dia tahu bahwa Varo terlalu lama berfikir.
"Papa Yudha ok" kata Vera.
Merekapun pergi lagi mencari makan siang. Sementara Vani dan Dewi masih harus menyelesaikan pekerjaan mereka, karena memang belum waktunya istirahat.
"Mbak Vani, hubungan kalian tuh seperti apa sih? kok kayaknya pak Yudha sayang banget sama anak-anaknya mbak?" tanya Dewi di sela kesibukannya.
"Mas Yudha itu dulu temanku Dew, berhubung sampai sekarang dia masih belum dikaruniai anak, jadi dia pingin ngerasain jadi papa dengan cara menganggap anakku seperti anaknya sendiri. Gitu sih kalau dia ngomong ke aku" kata Vani.
"Uwih, asyik dong bisa tambah dekat sama pak bos" kata Dewi.
"Tapi aku nggak pernah manfaatin kesempatan kok Dew. Aku ngerti batasannya. Lagian suami aku juga nggak kalah ganteng kok sama mas Yudha" kata Vani.
"Iya, iya percaya yang suaminya ada bule-bulenya" kata Dewi.
"Eh, kok kamu tahu sih Dew" kata Vani.
"Nggak tahu juga sih Dew. Tapi kalau dia cerita sih, dulu waktu jaman penjajahan, nenek moyangnya Jovan tuh diangkat anak sama seorang Belanda gitu. Nggak tahu deh terusannya ada darah bule darimana, tapi memang kalau dilihat-lihat warna matanya kebiru-biruan gitu yaa" kata Vani menatap awang-awang.
"Iya.. iyaa, nggak usah lebay gitu. Yaudah lanjut kerja yuk, buruan istirahat" kata Dewi.
"Isshh kamu nih" kata Vani.
*****
Sementara Yudha, Varo dan Vera memilih makan di kfc saja. Tempat favorit anak-anak.
Mereka tampak bahagia bisa makan dalam satu meja. Sebenarnya Yudha yang nampak senang, dan seringai licik muncul di wajahnya.
Dia merekam kedua bocil yang sedang asyik makan. "Makan sama siapa?" tanya Yudha pada mereka.
"Papa Yudha" jawab Vera senang.
Setelahnya, dia mengirimkan video tersebut kepada Jovan. Berniat agar laki-laki itu tambah terbebani. Dan tentu saja dia berhasil.
__ADS_1
Saat Jovan mendengar notif di ponselnya, dan melihat video yang isinya adalah kedua anaknya yang sedang asyik makan dengan rival terberatnya, tapi juga penolongnya.
Tangannya mengepal kesal, terlihat urat-uratnya keluar menahan amarah yang tertahan. "Benar-benar tidak bisa dibiarkan" batin Jovan berkecamuk. Pikirannya benar-benar kalut.
Semua iming-iming yang dikatakan Gina bermunculan di otaknya. Bahwa dia bisa mendapat uang dari Gina dengan syarat dia mau menikahi wanita itu.
Bahwa tidak ada pengkhianatan karena Jovan masihlah suami dari Vani. Bahwa Jovan tidak harus menafkahi Gina karena semua gaji Jovan bisa untuk Vani. Bahwa tidak harus ada anak diantara mereka. Bahwa semua keputusan ada di tangan Jovan.
Jovan kehabisan akal, dia benar-benar frustasi kali ini. Dia ingin terlepas dari cap bahwa Yudha yang telah menolongnya. Sehingga pria itu bisa dengan seenaknya melakukan apapun pada anak dan istrinya.
Bahkan sekarang kedua anaknya telah memanggilnya dengan sebutan papa. Apa-apaan itu? Sungguh tidak bisa dibiarkan.
Dengan sedikit ragu, Jovan menghubungi Gina. Setelah beberapa hari dia mendiamkan Gina karena merasa risih harus terus dikejar-kejar.
"Hallo, Jovan. Akhirnya kamu hubungi aku. Ada apa?" tanya Gina setelah sambungan telpon terhubung.
"Engmh .. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" kata Jovan.
"Ya, tentu. Ada apa?".
"Bisa kita bertemu?".
"Nanti malam aku datang ke rumah kamu ya".
"Sepertinya serius? Memangnya ada apa sih?" tanya Gina penasaran.
"Ya, nanti kita. bicara saat bertemu" kata Jovan.
"Oh baiklah, aku tunggu kamu nanti di rumah ya" kata gina senang.
Jovan segera mengakhiri panggilannya dan memantapkan hatinya bahwa ini adalah jalan satu-satunya untuk terbebas dari permainan Yudha yang tidak diketahui Vani.
Istrinya itu terlalu berfikiran positif pada semua orang. Hingga tidak tahu jika dimanfaatkan oleh orang lain.
Tanpa disadari, Jovanpun sudah masuk permainan Gina.
Percayalah, tidak ada manusia yang merasa cukup setelah satu keinginannya terkabul. Pasti nanti akan timbul keinginan lain setelah satu dari sekian banyak obsesinya terpenuhi.
***
Sementara Yudha dan dua bocil yang sedang makan siang saat itu terlihat sangat bahagia, karena Yudha juga melengkapi pesanannya dengan es krim favorit para bocil.
__ADS_1
Sebenarnya Yudha tulus menyayangi dua anak kecil ini. Bersama mereka, dia merasakan seutuhnya menjadi seorang papa.
Rasa yang belum pernah dia rasakan selama lebih dari satu dekade menjalin rumah tangga dengan Bella. Istrinya yang sibuk dengan pekerjaannya...