Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Yudha penasaran?


__ADS_3

Pagi ini mentari bersinar cerah. Cahayanya menembus hingga menghangatkan hati dingin yang telah lama memendam rasa.


Tak ada jangkauan dari luar yang mampu merobohkan dinding hati yang telah memahat sebuah nama indah di dalamnya.


Lebih dari sepuluh tahun Yudha memendam rasa pada Vani, cintanya yang seolah tak diijinkan oleh semesta.


Kesungguhan hati Vani untuk tetap memilih suaminya membuat Yudha merasa sedih. Hingga membuat Yudha sangat penasaran dengan sosok Jovan Aprilio, bocah yang berhasil menghalalkan Vani.


Siang ini, setelah berpikir cukup lama Yudha memutuskan untuk menyuruh orang agar mencari informasi detail tentang Jovan.


Bila sosok bocah itu mumpuni, Yudha akan merelakan cintanya dijaga oleh bocah itu.


" Bar, ke ruanganku sekarang" titah Yudha pada asistennya.


Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu. Yudha mempersilahkan Akbar, asistennya itu masuk.


"ada yang harus saya lakukan pak?"


"iya, aku ingin kamu selidiki orang bernama Jovan Aprilio. Sekarang dia sedang bekerja di PT Dinar Abadi di kota Pesisir. Gali informasi sedetail-detailnya tentang orang ini" kata Yudha sambil menyerahkan foto Jovan pada Akbar.


" Baik pak. Kalau boleh tahu, apakah ini saingan bisnis bapak atau ada hal lain?" tanya Akbar penasaran.


"Saingan hati, Bar. Sudah jangan banyak tanya. Kerjakan saja" kata Yudha jengkel.


"Hengmh.. Baiklah pak. Apa ada lagi yang lain pak?"


"semakin lama kenapa bos jadi semakin aneh begini ya" ucap Akbar dalam hati.


"Jadwalku apa saja hari ini?"


"Ada pertemuan dengan meubel Kartika jam 9 pagi ini pak, untuk membahas perabot yang akan dimasukkan di hotel baru kita yang sudah tahap pengerjaan di Solo pak"


"Setelah itu apa lagi?"


"Tidak ada lagi pak, karena bisa dipastikan kalau meeting kali ini butuh waktu yang lama. Mungkin sampai sore hari nanti"


"Hengmh... ok. Kamu boleh kembali"

__ADS_1


"Baik pak, permisi"


Sekembalinya Akbar, Yudha melihat jam. Masih jam setengah delapan. Masih ada waktu untuk sarapan. Karena tadi pagi dia tidak sempat sarapan.


Yudha bangkit dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya menuju cafetaria yang ada di lantai dasar.


Duduk di salah satu sofa yang tersedia di dalam cafe itu, terasa sangat nyaman. Dan memesan beberapa menu untuk sarapannya.


Setelah menunggu beberapa saat, menunya datang. Yudha menikmatinya sambil memainkan gawai mahalnya. Terlihat sangat menawan.


Beberapa pasang mata mengamatinya. Memang perwujudannya saat ini sangat menawan. Ketampanan masih terpampang nyata di usia yang tak lagi muda.


Apalagi dengan harta berlimpah, banyak perempuan dari kalangan manapun pasti tertarik padanya.


Tidak seperti dulu saat dirinya dekat dengan Vani, kondisinya sangat mengenaskan. Karena hukuman dari papanya, tidak ada kemewahan yang ada di diri pemuda itu.


Tapi itu tidak membuat Vani berpaling meski tidak ada ikatan diantara keduanya. Dan masih bisa dipastikan, rasa itu masih ada di hati perempuan beranak dua itu. Tapi semua terhalang oleh adanya pria bernama Jovan, yang Yudha anggap sebagai bocah karena memang usianya terpaut jauh darinya.


Bahkan diingatan Yudha masih segar terasa saat suatu hari pernah mengantarkan Vani pulang menggunakan mobil pick up milik WO tempatnya bekerja.


Saat wanita lain pasti malu diantarkan pulang dengan mobil bak terbuka yang masih ada muatannya, tapi tidak dengan Vani. Wanita itu terlihat biasa saja dengan itu.


Yudha tak habis pikir, kenapa Vani sangat setia pada suaminya yang jelas-jelas jauh dibandingkan dengannya. Apalagi dari segi kekayaan, jelas saja Jovan bukanlah tandingannya.


Mengingat tentang pasangan hidup, Yudha hampir saja melupakan istrinya sendiri karena terlalu sibuk mengurusi Vani yang sebenarnya tidak perlu.


Mencoba membuka percakapan dengan istrinya, setidaknya menanyakan kabarnya saat ini. Karena kesibukan keduanya, bahkan untuk bertukar kabar sangat jarang.


Sebenarnya Yudha juga penasaran, apa yang dilakukan istrinya itu hingga sangat betah tinggal berjauhan dengannya.


Karena yang Yudha tahu, orang yang jatuh cinta pasti merasa ingin selalu berdekatan. Seperti dia saat ini yang selalu ingin tahu kegiatan Vani.


Setahunya, istrinya itu mengaku sangat mencintainya. Tapi mengapa dia rela tinggal berjauhan dengannya?


Apakah sebenarnya istrinya itu berbohong?


Maka setelah berbalas pesan dengan Bella, Yudha memutuskan untuk menyelidiki tentang Bella yang sekarang katanya sedang berada di Thailand.

__ADS_1


Benarkah istrinya itu fokus dengan pekerjaannya ataukah ada yang lainnya sehingga dia sangat betah tinggal di sana.


Maka bertambahlah urusan memata-matainya yang semula hanya ingin mengetahui tentang Jovan, sekarang dia juga sangat ingin tahu tentang istri seksinya itu.


*****


Sementara di sisi lain, lain halnya dengan Gina. Gadis itu merasa sangat senang karena semalam Jovan benar-benar menghubungiya.


Melewati sambungan telpon, mereka berdua banyak bertukar cerita hingga menjelang malam.


Pagi ini senyum merekah selalu terpancar di bibir gadis 27 tahun itu. Bahkan kegiatannya di pagi ini selalu diiringi senandung kecil dan bibir tersenyum.


Terlihat seperti anak abg yang baru saja jatuh cinta. Kebahagiaannya sampai menular pada orang-orang disekitarnya yang juga ikut-ikutan tersenyum melihat tingkah guru cantik itu.


"Bu Gina sedang bahagia ya?" tanya Bu Ningsih, salah satu guru di SD tempat Gina mengajar sementara ini.


"eh... iya bu, bagaimanapun ibu bisa tahu?" tanya Gina balik dengan malu-malu.


"Terlihat jelas dari wajah ibu yang menyanyi sambil tersenyum dari tadi. Memangnya ada apa kalau boleh tahu bu?" tanya Bu Ningsih kepo.


"Bu Ningsih ini mau tahu aja. Yang jelas memang hari ini saya sangat hepi bu" kata Gina dengan senyum yang masih mengembang.


"hengmh... yasudah bu. Semoga hari ibu selalu menyenangkan" kata Bu Ningsih lagi.


"hehehe iya bu. Terimakasih, semoga hari ibu juga menyenangkan ya. Saya mau ke kelas dulu bu, ada jam mengajar di jam pertama saya. Permisi ya bu" kata Gina sopan


"iya bu Gina. Silahkan".


Ginapun menyusuri jalan menuju ruang kelas V yang pagi ini dia dijadwalkan mengajar pelajaran Matematika di kelas itu. Perjalanannya terasa sangat ringan hanya dengan mengingat bahwa semalam dia bisa melakukan panggilan telpon dengan Jovan.


Gina berjanji pada dirinya sendiri bahwa nanti malam, di jam yang sama dengan kemarin, dia akan menelepon Jovan lagi.


******


Sedangkan Akbar yang mendapat tugas dari bosnya, langsung bergerak cepat.


Dia mengutus anak buahnya untuk terjun langsung ke kota Pesisir terlebih dahulu. Dia ingin memperoleh informasi lebih dengan cara mendekati sasaran secara langsung.

__ADS_1


Dia sendiri juga mengecek data-data tentang Jovan melalui layar komputernya untuk mengetahui biodata pria itu. Semua informasi mengenai tempat tanggal lahir dan jejak pendidikannya.


Hingga waktu menunjukkan pukul setengah sembilan. Akbar menyudahi pekerjaannya dan menuju ruang kerja Yudha untuk melakukan pertemuan sesuai jadwal kerja Yudha hari ini.


__ADS_2