
"Kenapa bisa seperti ini, bu? Apa ibu turun dari ranjang hari ini?" tanya dokter sembari memeriksa keadaan Vani.
"Tidak dokter, saya seharian hanya tiduran di ranjang saja" kata Vani yang masih meringis kesakitan.
"Ketubannya sudah keluar bu, salah satu bayi ibu denyut jantungnya melemah. Harus segera ditindak lanjuti ini. Apa pihak keluarga bersedia jika harus dilakukan operasi Caesar hari ini juga, bu?" tanya dokter.
Tita yang mendengarkannya jadi ikut panik, daritadi tangannya sampai gemetar hanya untuk menghubungi Jovan.
"Hallo, ada apa Ta?" terdengar suara Jovan dari telepon Tita.
"Iya Van, ini keadaan Vani memburuk. Dokter bilang harus segera Caesar. Kamu bisa kan segera ke rumah sakit sekarang?" tanya Tita tergesa-gesa, dia terlalu gugup untuk menjelaskan.
"Oh, ok. Kamu tolong jangan tinggalin Vani, ya. Aku segera kesana" kata Jovan.
"Iya, pasti. Aku pasti menemani Vani disini" kata Tita.
"ok, terimakasih ya, Ta. Assalamualaikum" Jovan memberi salam sebelum menutup panggilannya.
"Waalaikumsalam" jawab Tita yang kini jadi bingung sendiri harus berbuat apa saat melihat Vani kesakitan begini.
"Sakit, dokter" kata Vani yang sudah melelehkan air matanya.
"Sabar ya, Van. Sebentar lagi Jovan mau datang" kata Tita sambil membelai perut Vani.
Sedangkan dokter masih sibuk memeriksa keadaan Vani.
Entah mengapa, dalam hatinya, Vani terus saja kepikiran tentang Yudha. Perasaannya sangat tidak enak saat mengingatnya.
"Mas Yudha, kamu kenapa? Kenapa perasaanku selalu tak enak saat ingat kamu?" Vani hanya bisa berkata dalam hatinya.
Memang ikatan darah tak bisa dibohongi, dan juga. Kegiatan yang telah Yudha lakukan beberapa saat yang lalu, pasti menimbulkan efek bagi kehamilan Vani.
Saat seorang ayah kandung telah menghabisi nyawa seseorang dengan mudahnya. Mungkin tuhan juga mengirim hukumannya melalui orang-orang yang kita sayangi.
Dan kini, Vani dan kedua bayinya yang harus menanggung perbuatan yang telah Yudha lakukan.
***
"Bu, aku tinggal ke rumah sakit lagi ya. Keadaan Vani tiba-tiba memburuk, bu. Kata dokter harus segera dioperasi" kata Jovan tergesa-gesa.
"Kamu kesana naik apa? Biar di antar sama adikmu saja ya, lama nanti kalau naik angkot" kata ibu Jovan.
"Iya, bu" kata Jovan yang menyetujui saran ibunya.
"Ayo cepetan, Za" keluh Jovan yang merasa Hamza terlalu lama saat berkendara.
"Ini sudah cepat, mas. Mau ngebut yang kayak gimana lagi?" tanya Hamza.
Sedangkan Yudha di tempatnya, dia sedang tertawa senang karena telah berhasil melenyapkan satu nyawa yang dirasa sangat menyusahkannya.
"Hahahahahaha, itu hukuman untuk wanita nakal seperti kamu, Gina. Kan sudah aku katakan untuk tidak mengganggu Vani. Kenapa kamu masih tak mau mendengarkanku?".
Seperti orang gila, Yudha tertawa senang saat melihat jasad Gina yang mengenaskan.
Hanya menggunakan kedua tangannya, Yudha berhasil membuat napas Gina berhenti untuk selamanya.
Kepalanya bahkan masih terputar ke belakang, dan matanya melotot tajam dan menghadap ke atas. Lidahnya terjulur panjang dengan air liur yang menetes.
Tangannya masih sedikit gemetaran karena proses pencabutan nyawa yang terlalu mendadak.
"Sayang sekali cewek cantik begini harus mati secepat ini" gumam anak buah Yudha.
Sungguh sangat mengenaskan cara Gina meregang nyawa.
"Akan kita kemanakan jasadnya, bos?" tanya salah satu anak buah Yudha.
"Buat saja seperti terkena serangan binatang liar" kata Yudha yang masih melihat jasad Gina dengan seringai kemenangannya.
"Bawa mobilnya ke dekat hutan, masukkan ular besar ke dalamnya. Lilitkan pada lehernya. Pastikan sidik jariku aman tak tersisa" perintah Yudha terdengar mudah, tapi itu sungguh sangat sulit karena banyak sekali kamera cctv terpasang di tempat-tempat umum yang terkadang tak di ketahui.
"Dan yang paling penting, buat se nyata mungkin" kata Yudha.
"Saat nanti sudah terdengar berita tentang wanita ini, akan kutemui kepala keamanan kota secara langsung saat ada yang mengendus kalau semua ini adalah perbuatanku" sambil mengelap tangannya dengan sprei, Yudha berniat meninggalkan kamar penyekapan Gina.
"Oh, iya. Lakukan malam ini juga. Aku tak mau ada mayat tak berguna di dalam rumahku" kata Yudha. Kini langkahnya telah pasti untuk pergi dari rumah itu sementara waktu.
Masih menggunakan supirnya, Yudha sedang menuju rumah peninggalan neneknya dipinggir kota.
"Oh, iya. Bagaimana keadaan Vani sekarang, ya?" gumam Yudha.
__ADS_1
Hatinya berkata untuk mengetahui keadaan calon bayinya.
Yudha ingin menghubungi Vani.
"Assalamualaikum, mas Yudha" sapa seseorang dari teleponnya.
Yudha melihat lagi layar ponselnya, takut kalau dia salah memencet nomer telepon, tapi benar ini nomor Vani. Tapi kenapa suaranya berbeda?
"Waalaikumsalam, ini benar nomor ponsel Vani, kan?" tanya Yudha.
"Iya benar. Aku Tita, temannya Vani. Kebetulan Vani sedang ditangani oleh dokter, keadaannya memburuk. Dokter bilang harus segera dioperasi" kata Tita memberikan informasi yang sama pada Yudha.
Tentu saja Yudha terkejut mendengarnya, karena tadi pagi Vani bilang kalau keadaannya sudah membaik.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Yudha sedikit membentak, dia terlalu takut terjadi sesuatu pada anaknya.
"Aku juga tidak tahu, mas. Kalau kamu mau tahu lebih lanjut, lebih baik kamu tanyakan sama dokternya langsung saja" gerutu Tita yang menjadi sasaran amarah Yudha.
"Oh, maaf. Aku minta maaf, terimakasih sudah mau memberitahuku. Segera aku akan datang kesana" kata Yudha yang kebetulan jaraknya sudah dekat dengan rumah sakit tempat Vani dirawat.
Yudha menutup sambungan teleponnya, hatinya jadi terlalu khawatir saat ini.
"Ke rumah sakit pak, cepetan ya" Yudha memerintahkan supirnya.
"Siap, tuan" kata Supirnya patuh.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit.
Dengan langkah lebar dan tergesa, Yudha segera menuju ruangan Vani setelah menanyakan pada resepsionis di depan.
"Ada apa kamu kesini pak Yudha?" tanya Jovan yang kebetulan bertemu dengan Yudha di lorong rumah sakit.
"Tentu aku ingin melihat keadaan anak-anakku" jawab Yudha sedikit emosi.
Sontak Jovan mengatupkan bibirnya, sekuat tenaga dia meredam emosinya. Masih bukan saat yang tepat untuk mereka adu kekuatan disini. Nyawa Vani dan kedua bayinya lebih utama.
Tanpa meneruskan pembicaraan, Jovan melangkahkan kakinya ke ruangan Vani. Dengan Yudha yang juga setengah berlari di belakangnya.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Jovan setelah sampai di kamar Vani.
"Maaf pak Jovan, Bu Vani harus segera dioperasi. Air ketubannya sudah merembes sejak tadi. Dan yang lebih mengkhawatirkan, detak jantung dari salah satu bayinya tidak stabil" kata dokter memberi penjelasan
"Saya khawatir jika tidak segera dikeluarkan, akan terjadi sesuatu padanya" kata dokter.
"Bagaimana pak Jovan, apa anda sebagai suaminya mengizinkan untuk segera dilakukan tindakan operasi?" tanya Dokter.
"Jawab, bodoh" geretakan dari Yudha kali ini menyadarkan Jovan yang terlalu bingung.
"Ba, baik dok. Lakukan yang terbaik" akhirnya Jovan bisa bersuara.
"Silahkan tanda tangan disini, pak. Ini surat persetujuan untuk segera dilakukan tindakan operasi" kata suster memberikan bolpoin dan sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.
"Iya, sus" kata Jovan dan segera membubuhkan tandatangannya diatas kertas itu.
"Baiklah, suster. Tolong segera bawa ibu Vani ke dalam ruangan operasi. Tolong pihak keluarga menunggu di depan saja, ya. Dilarang untuk ikut masuk ke dalam ruangan" kata dokter memperingatkan semua yang ada di dalam kamar Vani.
Suster segera memindahkan Vani ke brankar yang lain, dan membawanya ke ruang operasi khusus caesar yang berada tak jauh dari kamar perawatan Vani.
"Baiklah, bapak-bapak dan ibu bisa tunggu disini saja ya" kata suster yang langsung menutup ruangan operasi.
Jovan meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Belum pernah sebelumnya dia berada di posisi seperti ini saat Vani akan melahirkan.
"Ta, kamu kan dulu juga operasi saat melahirkan" kata Jovan.
"Iya, benar. Kenapa memangnya?" tanya Tita.
"Apa prosesnya lama, Ta?" tanya Jovan.
"Tidak juga Jo, tak sampai tiga jam biasanya sudah selesai. Tapi aku juga tidak tahu kalau dalam kondisi seperti Vani" kata Tita.
Satu jam berlalu, dan masih belum ada kejelasan dari dalam ruangan operasi. Tak ada dokter maupun suster tampak dari luar pintu yang lampunya masih menyala.
"Aku permisi pulang dulu ya, Jovan. Anakku tidak ada yang jagain, soalnya art ku pulang sebentar lagi" kata Tita yang harus meninggalkan dua pria yang sama-sama terlihat kusut.
"Iya, makasih sudah mau menjaga Vani ya Ta" kata Jovan.
"Iya, nggak masalah. Mari mas Yudha, saya pamit duluan" kata Tita, tak lupa dia berpamitan pada mantan terindah dari sahabatnya itu.
"Iya, hati-hati kamu ya" kata Yudha.
__ADS_1
Bukannya sengaja, hanya saja Tita tak bisa untuk tak membandingkan Jovan dan Yudha.
Menurutnya, memang mereka sama-sama berwajah tampan meski dengan aksen yang berbeda.
Yudha tampak lebih oriental sedangkan Jovan lebih ke arah timur tengah dengan sedikit jambangnya.
Dan beruntungnya Vani dicintai dengan begitu besar oleh keduanya.
Tapi aura Yudha lebih kuat dan menakutkan. Entahlah, berada di dekatnya membuat sedikit takut.
"Tapi dia terlihat manis di hadapan Vani" gumam Tita yang sudah berada diluar ruman sakit. Tita sudah mengorder ojol sejak tadi di dalam.
Masih menunggu, kedua pria yang mengaku bertanggungjawab atas kehamilan Vani itu masih saja gelisah di luar ruangan.
"Aku minta padamu Jovan, ikhlaskan anak itu agar bisa kubawa setelah lahir nanti" kata Yudha memecah keheningan.
Jovan yang daritadi duduk dengan menopang dagu tentu saja terkejut saat mendengarnya.
"Kau kira Vani akan setuju dengan permintaanmu?" tanya Jovan.
"Aku bisa saja membongkar semua rahasiamu, dan kau bukan hanya kehilangan dua bayi saja tapi juga seluruh keluargamu" kata Yudha masih dengan ancaman yang sama.
"Kau bilang mencintai Vani, itu semua hanyalah bualan saja rupanya ya pak Yudha" kata Jovan yang sudah siap membalas semua perkataan rival hatinya ini.
"Pikirkan apa jadinya jika nanti tiba-tiba kau membawa keduanya, apa yang akan terjadi pada Vani? Dia bisa saja menjadi gila, pak Yudha. Kau tak memikirkan itu semua?" tanya Jovan mulai tersulut emosi.
"Tidak ada seorangpun ibu di dunia ini yang mau memberikan anaknya pada siapapun, sekalipun mereka harus hidup dalam kemiskinan, tak mungkin mereka tega membiarkan anaknya dibawa orang lain" kata Jovan.
"Ternyata perbedaan usia tak membuat seseorang menjadi lebih dewasa. Kau selalu saja mementingkan egomu sendiri, kau tak pernah mau memikirkan perasaan orang lain" kata Jovan.
"Kau tahu apa tentang perasaan? Kau tak tahu jalan hidup masing-masing orang, jangan pernah menilai seseorang dari sudut pandangmu sendiri, bocah" kata Yudha yang tidak terima dengan perkataan Jovan.
"Jika kau tahu perasaan orang lain, saya pikir bukan hal yang baik untuk mengambil kebahagiaan seorang ibu dengan cara mengambil dengan paksa anak yang baru saja dilahirkannya" Jovan tak mau kalah dari Yudha, demi keutuhan keluarganya.
"Tapi anak itu juga anakku, aku berhak atas diri mereka" kata Yudha dengan penuh penekanan.
"Kalau sampai kau lakukan itu, aku tidak akan tinggal diam, Pak Yudha. Aku bisa saja menuntutmu ke pengadilan, atas tuduhan pelecehan" ancam Jovan.
"Aku pun bukan orang yang bodoh, aku tahu alur untuk menyeret orang ke meja hijau. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya keluargaku yang hancur. Tapi kau pun sama, bisnismu lama-lama juga akan hancur karena ketidakpercayaan masyarakat" kata Jovan.
"Dan apa yang akan terjadi pada kita? Kita sama-sama hancur. Jadi, sebaiknya pikirkan lagi dengan masak tentang apa yang ingin kau perbuat".
"Karena jika sudah dilakukan, penyesalan yang datang di akhir waktu tidak akan bisa mengubah apapun" kata Jovan.
Yudha terdiam, benar jika dia bisa saja merampas anak itu. Tapi apa yang Jovan katakan juga benar, mereka semua akan hancur dengan keegoisan.
Lelah berdiri sambil berpikir, Yudha juga mendudukkan diri di sebelah Jovan.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Merenungi dengan baik masalah yang sedang mereka hadapi.
Jovan masih juga teringat tentang Gina. Sampai selarut ini belum juga ada kabar darinya.
Tanpa pikir panjang, Jovan berusaha untuk menghubungi lagi istrinya itu. Dan semua yang Jovan lakukan tak lepas dari pandangan Yudha.
"Kenapa ponselnya masih belum aktif juga, ya?" gumam Jovan.
"Kau sedang menelpon istrimu, ya?" tanya Yudha yang langsung saja mendapat lirikan tajam dari Jovan.
"Bukan urusanmu" kata Jovan singkat saja.
Membuat Yudha mendecik benci.
"Kau tenang saja, istrimu yang satu itu pasti sudah tidak akan mengganggu hidupmu lagi" kata Yudha.
"Sebagai lelaki yang mencintai Vani, aku akan selalu melindunginya dari apapun yang bisa mengancam keselamatannya. Dan karena istri keduamu itu adalah sebuah ancaman bagi Vani, maka dengan senang hati aku membantumu untuk menjauhkan Vani darinya" kata Yudha.
Jovan mengernyit heran, tak begitu mengerti dengan ucapan Yudha.
"Maksudmu apa?" tanya Jovan, hatinya mulai khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Gina.
"Kau tak usah khawatir tentang wanita itu, dia sudah pergi. Dia ketakutan karena sudah berusaha mencelakai anakku yang sedang dikandung oleh Vani" santai sekali Yudha saat mengatakannya. Tak ada rasa penyesalan sama sekali.
"Pergi kemana? Kenapa kau bisa tahu" tanya Jovan yang mulai curiga.
"Pergi jauh, mungkin ke kota lain. Aku juga tak begitu paham. Tapi yang jelas dia sudah tidak akan mengganggu Vani lagi" kata Yudha.
Tak mungkin Gina lari begitu saja, bahkan Jovan sama sekali tak mengerti dengan maksud Yudha yang mengatakan jika Guna adalah sebuah ancaman.
.
__ADS_1
.
.