Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
bukan perpisahan


__ADS_3

"Keluarga ibu Vani" panggil suster setelah pintu operasi terbuka.


Yudha dan Jovan tidak begitu menyadari karena sibuk dengan perdebatannya. Dan mereka sama-sama menoleh saat suster memanggil.


"Saya, sus" kata Jovan.


"Saya, sus" kata Yudha.


Suster itu menatap bingung pada keduanya.


"Saya suaminya" kata Jovan.


Yudha diam, selalu kalah akan status menjengkelkan itu.


"Dokter memanggil bapak" kata suster memberi informasi.


"Boleh saya ikut, sus?" tanya Yudha.


"Silahkan" jawab suster itu.


Sekarang giliran Jovan yang melirik sebal, Yudha terlalu ikut campur.


Ya, meski Jovan sudah menerima jika Yudha adalah ayah biologis dari bayi kembarnya, tapi kan Jovan sudah bertekad untuk memberikan kasih sayang yang sama pada mereka.


"Dokter memanggil saya?" tanya Jovan setelah sampai di ruangan dokter.


"Iya pak, ada sedikit masalah" jawab dokter itu.


Terlihat sang dokter mengangguk pelan pada Yudha. Memang sebelumnya mereka sudah pernah bertemu. Dan itu membuat Jovan kembali merasa sebal.


"Jadi, dikarenakan bayi bapak dipaksa dilahirkan secara prematur. Menyebabkan berat badannya sangat dibawah rata-rata, dan karena itu mereka harus dirawat di NICU sampai beberapa minggu kedepan" kata dokter yang masih belum selesai dengan penjelasannya.


"Lalu dok?" tanya Jovan.


"Dan yang kami herankan adalah, tiba-tiba salah satu dari mereka mengalami gagal jantung sesaat sebelum operasi tadi. Ini menyebabkan jantungnya mengalami sedikit masalah. Dan kami menyarankan untu membawanya ke rumah sakit besar di ibu kota agar mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif".


"Meski rumah sakit ini adalah yang terbesar di kota Dingin ini, tapi peralatan kami masih belum mumpuni untuk menangani kasus seperti yang anak pak Jovan alami ini" kata dokter.


Bahu Jovan seketika merosot tajam, dia tidak menyangka jika banyak sekali masalah pada anak ini.


Sedangkan Yudha tentunya merasa sangat sedih, anaknya berada di antara hidup dan mati.


"Jadi, kapan sebaiknya saya harus mebawanya ke rumah sakit lain, dok?" tanya Jovan.


"Secepatnya kalau bisa, pak. Saya khawatir akan terjadi serangan jantung dadakan. Tapi, sekarang dia masih dalam keadaan yang relatif normal setelah kami tangani tadi" kata Dokter.


"Bagaimana dengan bayi yang lainnya, Dok?" tanya Jovan.


"Kembarannya berada dalam keadaan sehat, hanya saja berat badannya masih terlalu kecil untuk dikeluarkan dari ruang NICU. Mungkin beberapa minggu ke depan, kalau berat badannya sudah normal bisa langsung dibawa pulang" penjelasan dokter memberi sedikit kelegaan di hati kedua ayah itu.


"Lantas, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Jovan lagi.


Yudha menyimaknya dengan penuh perhatian, ada satu rencana yang terbesit dalam otaknya untuk menyelamatkan salah satu anaknya.


"Bu Vani masih dalam perawatan, tapi sejauh ini kondisinya baik. Semoga bisa lekas pulih jika mematuhi arahan dari kami" jawab dokter itu.


"Baiklah, terimakasih dokter. Nanti akan saya bicarakan dengan istri saya, kapan sebaiknya akan membawa salah satu anak kami ke rumah sakit di kota besar" kata Jovan.


"Iya, pak. Sebaiknya segera dipindahkan ya pak, karena semakin lama saya takut jika kondisinya akan semakin memburuk" kata dokter.


"Iya dok. Terimakasih, saya permisi dulu" kata Jovan berdiri, dan segera keluar dari ruangan itu setelah bersalaman dengan dokter.


"Hei, Jovan" panggil Yudha yang ternyata masih mengekor pada Jovan.


Mendengar namanya dipanggil, Jovan menoleh meski dengan perasaan malas.


"Apa? Kau tak tahu aku sedang bingung? Jangan ganggu aku" kata Jovan sedikit mendorong tubuh Yudha agar menjauh.


"Dasar bocah tengil, dengarkan aku sialan" umpat Yudha yang mendapat perlakuan seperti itu.


Seperti kakak yang sedang diperlakukan buruk oleh adiknya yang sedang merajuk.


"Biarkan aku membawa anakku yang sedang sakit itu ke rumah sakit di kota besar, dan aku janji padamu, aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi jika kau mengizinkan aku membawanya" kata Yudha, dia ingin membesarkan anaknya. Tidak apa-apa meski hanya bisa membawa satu dari mereka.


"Tidak perlu, aku akan mengurusnya sendiri. Kau urus saja urusanmu yang sangat padat dan penting itu" kata Jovan, sebagai lelaki dia tidak terima jika Yudha menganggapnya tidak mampu mengurus bayi-bayinya.


"Cg, kau jangan egois, jangan kau pikirkan dirimu sendiri" kata Yudha melunak, berusaha memberi pengertian pada bocah di hadapannya ini.


"Pikirkan Vani, dia masih lemah. Dia butuh banyak bantuan darimu untuk melakukan aktivitasnya".


"Pikirkan salah satu anak itu yang berat badannya kurang, dia juga harus dirawat di ruang NICU untuk beberapa minggu ke depan. Biayanya tidak murah, Jovan".


"Dan pikirkan nyawa dari bayi yang sedang sakit itu, jantungnya bermasalah. Jika kau tak segera membawanya, maka nyawanya tak akan tertolong" kata Yudha.

__ADS_1


Perkataan Yudha kali ini bisa masuk ke dalam otak dan hatinya.


"Benar juga apa yang dikatakannya, aku tidak bisa menghandle mereka semuanya. Aku butuh orang lain untuk membantuku" kata hati Jovan membuatnya berfikir keras.


Dia tidak boleh egois kali ini.


"Mungkinkan Yudha adalah perpanjangan tangan tuhan untuk melindungi anak-anaknya?" Jovan memandang Yudha penuh pertimbangan.


"Jangan kau lihat aku seperti itu, cepat ambil keputusan. Dan cepat katakan pada Vani keinginanku. Aku yakin dia pasti mengizinkan itu" kata Yudha.


"Baiklah, aku akan mencoba memberi pengertian pada Vani" kata Jovan.


Saat berada di depan pintu ruang operasi, masih belum ada tanda-tanda jika Vani telah selesai dirawat.


Mereka berdua harus menunggu lagi.


Hampir tiga jam menunggu, terlihat Vani sudah keluar dari ruang operasi. Dia didorong keluar menggunakan brankar dan akan di antarkan ke ruang ruang rawat.


Rupanya Yudha sudah menyuruh anak buahnya untuk mengurus biaya administrasi rumah sakit.


Yudha merasa harus bertanggung jawab penuh pada Vani. Karenanya dia bernasib seperti ini, maka diapun yang harus bertanggung jawab.


"Setelah Vani sadar nanti, tolong kamu segera katakan rencanaku yang akan membawa salah satu bayi itu ke kota besar" kata Yudha.


"Sekarang aku akan pulang dulu, dan saat aku datang lagi besok pagi, aku akan segera mengurus semuanya dan akan secepatnya akan aku bawa dia" kata Yudha sebelum pergi meninggalkan rumah sakit malam ini.


Jovan hanya diam, dia sedang merangkai kata untuk bisa menyampaikan semuanya tanpa membuat Vani bersedih terlalu dalam.


Kedua pria itu melangkah ke arah berbeda kali ini. Jovan yang akan menemani istrinya, sedangkan Yudha akan pergi untuk kembali esok hari.


Berada di dalam ruangan Vani, Jovan duduk di sebelah ranjang Vani. Matanya memanas, memandangi Vani yang masih tertidur pulas.


Jovan menggenggam tangan Vani penuh sayang. Mungkin karena kelelahan, dia tertidur dengan posisi masih duduk di dekat ranjang istrinya.


Saat hampir pagi, Vani tersadar. Dia tersenyum melihat Jovan yang berada di sisinya.


Badannya masih terasa ngilu, pertama kali baginya merasakan operasi Caesar untuk mengeluarkan kedua bayinya.


Ternyata kondisi pasca operasi lebih menyakitkan daripada saat melahirkan normal.


"Engmh" Vani menarik tangannya yang tak ada jarum infus dari genggaman Jovan.


Membuat Jovan terbangun.


"Kamu sudah bangun, bun?" tanya Jovan tersenyum, begitu besar pengorbanan Vani. Jovan menyadari itu semua.


"Mereka sudah lahir bun. Keduanya selamat, Alhamdulillah" kata Jovan.


"Tapi, ada sedikit masalah pada salah satunya" kata Jovan yang membuat Vani mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanya Vani cemas.


"Salah satu dari mereka mengalami kelainan jantung, dan dokter bilang, peralatan di rumah sakit ini tidak terlalu lengkap untuk menanganinya" kata Jovan memberi penjelasan pada Vani dengan hati-hati.


"Dan dia harus segera di larikan ke rumah sakit di kota besar yang mempunyai peralatan yang lebih lengkap" kata Jovan.


"Apa kamu setuju jika Yudha membawanya ke kota besar, bun? Demi keselamatannya" kata Jovan.


Tentu dalam hatinya, Vani melarang rencana Yudha. Ibu mana yang rela ditinggalkan anaknya, apalagi dia masih bayi.


Air mata Vani sudah tentu menganak sungai. Hatinya hancur mendengar itu semua.


"Kita sebagai orang tua tidak boleh egois, bun. Pikirkan keselamatan anak itu" kata Jovan.


"Nanti Yudha pasti akan menyayanginya, seperti dia yang terlihat sayang pada Vee. Yudha bilang, kalau sudah sehat nanti pasti dia akan membawa anak itu kembali pada saudaranya" kata Jovan yang masih berusaha membujuk Vani.


"Tapi aku belum melihat mereka, yah" kata Vani dengan tangisan yang menyesakkan.


"Besok kalau kamu sudah lebih baik, kita kunjungi mereka di ruang NICU ya bun. Aku juga belum mengadzani, karena memang belum boleh dikunjungi" kata Jovan.


Vani mengangguk, dia sedang mendalami semua perkataan Jovan.


★★★★★


"Breaking news pagi ini" suara reporter televisi terdengar pagi ini di kediaman Yudha.


"Telah ditemukan seorang wanita di dalam mobilnya yang terparkir di jalan sepi di tepi hutan. Wanita yang ditemukan dalam keadaan meninggal dengan kondisi yang mengenaskan itu terlihat terlilit ular besar yang sudah melahap beberapa bagian tubuhnya" Yudha menajamkan telinganya.


Senyum simpulnya terukir indah, "Mereka bekerja dengan sangat baik dan cepat" gumam Yudha yang sedang mengoleskan selai strawberry di atas lembaran roti tawar.


Ditemani secangkir kopi susu, Yudha masih menikmati sarapannya sambil mendengarkan berita di televisi.


"Seorang warga sipil yang mengaku menjadi orang pertama yang mengetahui kejadian itu langsung menghubungi ketua rt setempat".

__ADS_1


"Bersama beberapa warga, mereka menuju tempat penemuan wanita yang sedang ditelan ular. Beberapa dari mereka bahkan mengabadikan momen itu menggunakan video".


"Setelah ketua rt melaporkan ke pihak berwajib, beberapa polisi datang untuk menangani kasus itu dibantu oleh petugas dari perlindungan satwa liar".


"Tapi naas, nasib wanita itu tidak bisa lagi tertolong meski berhasil di keluarkan dari mulut sang ular" kata penyiar berita pagi dengan penuh semangat.


Kasus yang sangat jarang terjadi, seolah murni kecelakaan jika direkayasa oleh orang-orang yang profesional.


Dan Yudha sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya. Meski harus mengeluarkan dana yang lumayan banyak, tapi tak mempengaruhi kekayannya.


Segera dia menyelesaikan sarapannya, dia masih harus mengurus satu hal lagi.


Yudha sudah bertekad untuk membawa salah satu anaknya agar bisa dirawatnya sendiri. Dia yakin jika anaknya yang lain akan tumbuh dengan penuh kasih sayang di tangan Vani.


Langkah gontainya membawa ke dalam sebuah mobil mewah yang akan membawanya ke rumah sakit pagi ini.


"Ke rumah sakit, pak" perintah Yudha pada supirnya. Dia sedang tidak mood untuk menyetir mobil sendiri.


"Baik tuan" jawab supir itu.


Yudha sedang memikirkan beberapa alasan kuat agar Vani mau menyerahkan bayi itu padanya.


Setelah sampai di rumah sakit, segera dia akan membahas semua itu dengan Vani dan Jovan.


Entah mengapa, hatinya menuntun untuk melangkah langsung ke ruang NICU. Dan ternyata memang Jovan dan Vani sedang berada disana.


Melalui kaca kecil yang bisa melihat ke dalam ruangan, Yudha melihat jika Jovan sedang membisikkan sesuatu ke telinga bayinya.


Yudha yakin jika Jovan sedang mangadzani mereka.


Seketika hatinya terasa ngilu, seharusnya dialah yang melakukan itu. Seolah merasakan hukuman, Yudha tak bisa memaksa.


"Mas Yudha" gumam Vani yang melihat wajah Yudha di jendela.


Dibantu suster, Jovan meletakkan kembali anaknya ke dalam inkubator. Mereka masih tidak betah untuk merasakan hawa dingin.


Setelahnya, Jovan mendorong Vani keluar dari ruang NICU.


"Selamat pagi, Vani. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Yudha saat bertemu Vani yang duduk diatas kursi roda.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, mas" jawab Vani yang sudah menangis, dia tak bisa membayangkan jika Yudha benar-benar akan membawa salah satu anaknya.


"Kenapa menangis?" tanya Yudha yang reflek menghapus air mata di pipi Vani.


"Aku sedih jika harus berpisah dengan mereka" kata Vani yang semakin terisak.


"Hei, jangan menangis. Dengarkan aku ya" kata Yudha yang sudah berjongkok di hadapan Vani, sementara Jovan masih membatu di belakangnya setelah mendorong kursi roda Vani tadi.


"Aku tidak pernah berniat memisahkan kamu dengan mereka, aku hanya ingin menyelamatkan salah satu dari mereka yang butuh perawatan ekstra" kata Yudha yang dengan beraninya menggenggam tangan Vani di hadapan Jovan.


"Aku janji sama kamu, pasti aku akan merawatnya dengan baik nanti. Dan setelah dia sembuh, dan cukup kuat untuk bepergian. Aku pasti akan membawanya padamu, aku tidak akan memisahkan kamu dengannya" kata Yudha.


Dan Vani masih saja menangis tersedu diatas kursi rodanya.


"Pikirkan keselamatannya, sekarang bukan waktunya untuk menjadi orang yang egois, Van".


"Saat aku membawanya, tugas kamu adalah merawat kembarannya dengan baik. Agar saat mereka bertemu kelak, mereka masih bisa mengingat jika mereka adalah saudara kembar" kata Yudha.


"Bagaimana, kamu setuju kan kalau aku membawanya ke rumah sakit di kota besar?" tanya Yudha.


Dia butuh kepastian hari ini juga.


"Benar apa yang dia bilang, bun. Pikirkan keselamatannya dulu. Nanti setelah kamu pulih, dan betul-betul sehat. Kita akan mempertemukan mereka lagi" kata Jovan sambil mengelus pundak istrinya.


Mendengar ucapan dari kedua lelaki itu, membuat Vani sadar jika keegoisannya harus segera ditinggalkan.


Demi anaknya. Mereka berdua harus bisa terselamatkan dan bisa hidup dengan baik.


Nanti suatu saat, pasti Vani bisa bertemu dengan keduanya.


"Baiklah, tapi kami harus janji untuk merawatnya dengan baik ya, mas" kata Vani dengan linangan air mata.


"Janji untuk mempertemukan kami lagi setelah dia kembali sehat" kata Vani tergugu.


Sebenarnya Yudha tidak tega memisahkan mereka jika melihat Vani seperti ini, tapi demi keselamatan anaknya. Yudha akan melakukan apapun.


Impiannya menjadi seorang ayah sudah terkabul meski dengan jalan yang salah. Dan dia akan berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya.


"Terimakasih, Vani. Aku janji sama kamu, nanti jika dia sudah sehat, aku akan mempertemukan kalian" kata Yudha yang sudah bertekad akan membawa anaknya hari ini juga.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2