Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
dua garis


__ADS_3

"Kok badanku rasanya aneh ya" gumam Vani pagi ini, sepertinya dia sedikit pusing dan mual.


"Kenapa bun?" tanya Jovan di Sabtu pagi ini, jadwalnya mengunjungi Vani dan kedua anaknya.


"Nggak tahu juga nih, yah. Masuk angin mungkin" kata Vani memijit tengkuknya sendiri.


Jovan duduk dibelakang istrinya, mencari posisi yang nyaman untuk memijit Vani yang mengeluh pusing.


"Nanti beli obat ya, atau beli tespek saja?" tanya Jovan, sebenarnya hanya bercanda.


"Hah? Tespek?" tanya Vani sedikit terkesiap.


"Nggak usah kaget gitu lah, bun" kata Jovan berkomentar pada ekspresi terkejutnya Vani


"Bentar deh, kayaknya aku memang sudah telat menstruasi hampir tiga minggu loh, yah" kata Vani menoleh pada suaminya.


"Ya nggak apa-apa, bun. Banyak anak kan banyak rezeki" goda Jovan.


"Kalau punya bayi lagi, siapa yang mau antar jemput Varo dan Vee?" tanya Vani sebal, Jovan sangat santai menanggapi kekesalannya.


"Ya nanti aku belikan tespek beneran deh. Sekalian obat masuk angin, jadi kalau sudah di tes hasilnya negatif, bisa langsung minum obat masuk angin. Tapi kalau positif bisa langsung ke rumah sakit buat cek kandungan" kata Jovan yang kembali memijat tengkuk Vani.


"Beli sekarang saja deh, yah. Mumpung bangun tidur ini. Apotik sebelahnya minimarket itu kan bukannya dua puluh empat jam" kata Vani.


"Huft, iya... Aku berangkat sekarang deh, biar kamu cepat lega setelah tahu hasilnya" kata Jovan dengan pasrah menuruti keinginan Vani.


Entahlah, semenjak sahnya Gina menjadi istri sirinya, Jovan merasa sangat bersalah pada Vani. Membuatnya menuruti segala keinginan sang istri demi mengurangi rasa bersalah dihatinya.


"Makasih, yah" kata Vani dengan senyuman.


"Cium dulu" kata Jovan menggoda istrinya sepagi ini, membuat keduanya saling melempar senyum ceria untuk mengawali hari.


Jovan pergi setelah mendapat apa yang dia inginkan, dan memastikan Vee masih terlelap karena gadis kecil itu suka menangis kalau tidak diajak pergi.


Hanya butuh tiga puluh menit untuk membeli pesanan Vani di apotik depan. Vani segera mengambil pesanannya dan segera menuju ke kamar mandi setelah mengambil dua buah tespek dari tangan Jovan.


Jovan memainkan ponselnya sambil duduk diatas kasur sambil menunggu istrinya.


Jam lima tepat, Vani kembali lagi ke kamarnya dengan muka tertekuk masam.


"Bagaimana hasilnya? kok wajah kamu ditekuk gitu sih, bun?" tanya Jovan.

__ADS_1


"Beneran positif tahu, yah" kata Vani menyerahkan kedua tespek yang telah dipakainya barusan pada Jovan.


"Uwah, selamat ya istriku. Kamu hamil lagi, aku senang sekali mendengarnya" kata Jovan hendak memeluk Vani, tapi segera Vani elak.


"Jangan sentuh, aku sudah ambil wudhu. Kamu cepetan ke kamar mandi sana, aku tungguin buat solat berjamaah disini ya" kata Vani sedikit mendorong tubuh Jovan agar segera keluar kamar.


"Iya, baik Ratu permaisuriku" kata Jovan.


"Memangnya kamu punya selir? Tumben banget bilang permaisuri" celetuk Vani yang langsung membungkam bibir Jovan.


"Kenapa diam?" tanya Vani.


"Nggak ada, nggak apa-apa kok" kata Jovan berbalik badan dan segera pergi.


"Aneh banget" gumam Vani.


Jovan datang setelah beberapa lama berada di kamar mandi. Wajahnya masih dipenuhi air wudhu yang tidak dikeringkan olehnya.


Segera dia mengambil peci, dan berganti sarung dan baju taqwa. Selanjutnya akan menjadi imam dari istri tercintanya.


Suara merdu dari lantunan ayat suci yang dibaca Jovan subuh ini, membuat hati Vani sedikit terhibur.


Tepat pukul enam pagi, Vani menuju kamar Varo untuk membangunkannya agar bersiap untuk pergi ke sekolah. Sedangkan Vee biarlah menjadi urusan ayahnya.


"Varo, ayo bangun sayang. Mandi dulu sebelum berangkat sekolah" kata Vani membangunkan Varo.


Selesai dengan urusan kedua buah hatinya, Jovan dan Vani bersama-sama mengantarkan kedua anaknya pergi sekolah. Setelahnya, mereka mampir ke bidan langganannya untuk memeriksakan kehamilan Vani.


"Uwah, mbak Vani hamil lagi ya?" tanya Bu Yulis, bidan langganan Vani sejak hamil Varo dulu.


"Hehe, iya nih Bu bidan. Padahal sudah dihati-hati kok masih saja kebobolan" kata Vani.


"Nggak apa-apa kan bu, banyak anak kan banyak rezeki" kata Jovan.


Bidan itu terkekeh, Vani dan Jovan selalu saja ribut saat mengunjungi bidan itu kalau sudah membahas masalah kehamilan.


"Ya tidak apa-apa dong, kan ada suaminya" jawab bu bidan.


"Ayo silahkan tiduran disini, kita periksa keadaan calon dedek bayinya ya" kata bu bidan. Tapi sebelumnya masih memeriksa tensi dan denyut nadi Vani.


Bu bidan menyuruh Vani untuk membuka sedikit kaosnya agar bisa mengoleskan gel bening dan dingin di atas perut Vani.

__ADS_1


Sebuah alat menyerupai pencukur rambut elektrik diletakkan di atas perut Vani yang masih datar.


Terlihatlah sebuah gambar hitam putih dilayar monitor.


"Masih sangat kecil ukurannya, perkiraan masih berusia dua minggu. Tapi tunggu, ini ada dua titik kecil yang menyerupai kacang. Sepertinya mbak Vani sedang hamil anak kembar, loh" kata bu Yulis dengan fokus pada layar monitornya.


"Masak sih, Bu? Uwah, saya senang sekali kalau kamu bisa hamil anak kembar, bun" kata Jovan antusias mendengarnya.


"Keadaannya semua baik, semoga mbak Vani bisa menjaga kesehatan ya. Jangan lupa makan yang banyak karena ada dua janin didalam perutnya mbak Vani" kata Bu Yulis sambil membersihkan bekas gel dengan tisu, dan menutup kembali kaos yang Vani singkap.


Turun dari ranjang periksa, sikap Jovan jadi sangat perhatian dengan menuntun tangan Vani. Senyumnya juga terlihat tulus, Jovan sangat bahagia.


"Saya beri vitamin dan penguat kandungan saja ya mbak. Jangan melakukan pekerjaan terlalu berat. Istirahat yang cukup dan makan yang banyak dan bergizi. Semoga semuanya selalu diberi kesehatan" kata bu Yulis sambil menyiapkan obat-obatan yang diperlukan.


"Iya bu, terimakasih" kata Vani menerima sekantong obat dari tangan bu Yulis.


"Sekali lagi terimakasih bu, kami permisi dulu" kata Jovan berpamitan.


"Iya, sama-sama" jawab bidan itu.


"Aku senang sekali loh Van, kalau kamu benar-benar hamil anak kembar, bararti nanti akan ada dua bayi dalam beberapa bulan ke depan" kata Jovan yang masih berada diatas motornya.


Vani diam saja, sebenarnya dalam hatinya dia senang. Tapi dia juga sudah tidak berminat untuk hamil lagi.


Mengingat dua kali kehamilannya dulu, selalu saja ada keluhan yang dia rasakan. Semoga saja kali ini tidak.


Berkali-kali Vani menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Jangan cemberut dong sayang, ibu hamil itu nggak boleh sedih. Harus selalu happy, senang terus. Biar dedek bayinya juga happy ada di dalam perut kamu" kata Jovan sambil mengelus tangan Vani yang melingkar di perutnya.


"Iya, aku happy kok" jawab Vani singkat.


Jovan hanya menggelengkan kepalanya. Melihat istrinya yang masih saja cemberut, diapun melajukan motornya ke arah yang berbeda. Semoga saja bisa memberikan sedikit kebahagiaan pada ibu hamil yang satu ini.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2