Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
berlibur


__ADS_3

Rombongan Yudha tiba di hotel yang telah dipesan lebih lama dari perkiraan. Selama perjalanan, mereka sempat beberapa kali berhenti untuk makan dan melepas lelah.


Dari rest area terakhir, Vani tertidur di pundak Yudha sambil memangku Vee. Sedangkan Varo sudah tertidur duluan. Kursi depannya agak dimundurkan agar Varo merasa nyaman saat beristirahat.


"Van, bangun" kata Yudha sambil mengelus pelan pipi Vani yang sedang senderan di pundaknya.


Vani sedikit mengerjap, setelah berhasil menguasai pandangannya dia segera menarik dirinya.


"Pantas saja nyaman sekali, ternyata aku ketiduran di pundaknya" batin Vani saat menyadarinya.


"Kamu ileran tuh" kata Yudha menggoda Vani dan sukses membuat wanita itu gelagapan karena malu.


"Enggak kok" kata Vani setelah memeriksa sekitaran bibirnya.


"Bercanda" kata Yudha yang mendapat hadiah cubitan di perutnya.


"Aduh, sakit tahu" kata Yudha sambil memegangi bekas cubitan Vani.


"Rese banget jadi orang" gerutu Vani sambil merapikan hijabnya.


"Sini biar Vee aku yang gendong" kata Yudha setelah turun dari mobil.


"Mbak, kamu tolong angkat Varo yang sedang tidur ya. Jangan sampai kebangun, kasihan dia pasti capek" kata Yudha memerintahkan salah satu dari suster itu untuk menggendong Varo.


"Pak, tolong bantu bawa barang-barang kami masuk ya" kata Yudha lagi.


Mereka memasuki hotel yang ternyata masih milik keluarga Yudha.


Semua pekerja disana tersenyum ramah melihat kedatangan bos nya. Meskipun ada rasa penasaran karena setahu mereka bahwa bosnya masih belum punya anak. Dan istrinya tidak berhijab.


Tapi semua itu diluar kewenangannya, setiap karyawan hanya memastikan kenyamanan dan keamanan bosnya.


Yudha mengajak Vani dan anak-anaknya ke kamar VVIP dengan pelayanan maksimal. Ruang kamar yang luas dan nyaman, diisi dua bed dengan ukuran king size yang akan diisi oleh Varo dan Vee, dan satunya untuk Vani.


Sedangkan kedua susternya berada di kamar sebelahnya. Berjaga agar mudah dipanggil jika Vani membutuhkan bantuan.


"Kamu terlalu berlebihan mas, nggak usah pakai jasa suster loh aku masih sanggup ngawasin mereka berdua" kata Vani pelan, setelah memastikan Varo dan Vee tidur dengan nyaman.


"Kita kan besok seharian mau jalan-jalan, jadi kamu nggak boleh kecapekan. Biar besok bisa menikmati liburan dengan nyaman" kata Yudha.


"Aku ke kamar dulu ya, gerah nih, mau mandi" kata Yudha.


"Iya, aku juga mau mandi, terus istirahat" kata Vani


Yudha meninggalkan kamar Vani untuk segera beristirahat di kamarnya sendiri. Besok dia akan berlibur bersama. Berlibur dalam artian yang berbeda menurut sudut pandangnya.


★★★★★


Di kamarnya, suasana panas telah mendominasi kegiatan Gina dan Jovan.


Sebagian tubuh atas Gina bahkan sudah terekspos karena tangan nakal Jovan sudah bergerilya kemana-mana.


Jovan sedang asyik dengan kegiatannya di dada Gina. Sedangkan Gina sudah merem melek merasakan kenikmatan yang Jovan ciptakan.


Tak munafik jika Gina pernah berciuman agak panas dengan beberapa mantan pacarnya. Tapi tentu tidak sampai memberikan mahkotanya pada sembarang orang.


Gina sudah berhasil menjaganya hingga kini, suaminya yang akan mendapatkan mahkotanya.


Pandangan Jovan sudah sangat berkabut, gairahnya sudah tak tertahankan. Malam ini Gina merasa sangat puas karena keinginannya untuk mendapat sentuhan dari suaminya sudah terlaksana.

__ADS_1


Erangan nikmat keluar dari bibir keduanya, bercampur rasa bersalah di hati Jovan karena mengingat wajah istrinya di sela kegiatannya bersama Gina.


Jovan terkapar di atas tubuh istrinya, rasa bahagia sebenarnya ada karena ternyata Gina masih perawan.


Sedangkan Gina masih meringis kesakitan setelah merasakan hujaman di area intinya.


"Istirahatlah, maaf aku tidak bisa menahan gairahku" kata Jovan sambil mengelus rambut Gina.


"Terimakasih karena kamu sudah menjadi suami seutuhnya buat aku" kata Gina yang kini sudah memejamkan matanya, dia cukup kewalahan untuk mengimbangi permainan suaminya.


Jovan membiarkan istrinya tidur, dia tahu jika Gina pasti sangat kelelahan karena tingkahnya.


Diapun beristirahat disamping sang istri, memejamkan matanya meskipun tidak bisa tertidur.


Akhirnya dia memutuskan untuk memainkan ponselnya saja.


Beberapa jam berlalu, Jovan masih belum bisa memejamkan matanya. Rasa bersalah masih mendominasi dalan hatinya.


Haus karena pikiran buruknya, Jovan menghabiskan sisa teh yang tadi Gina sajikan untuknya.


Setelahnya, kembali berkutat dengan ponselnya untuk berselancar di dunia maya.


Tangan Gina mendarat di dada bidangnya saat wanita itu berubah posisi tidur. Tubuh polos yang terbalut selimut tebal itu menempel sempurna pada sisi tubuh Jovan.


Membangunkan gairah yang tadi sudah tersalurkan. Apalagi sepertinya efek obat dalam teh itu kembali terasa.


Dengan hati-hati, Jovan memeluk tubuh istrinya. Merasakan bendanya terasa mengeras dibawah sana.


Gina membuka matanya saat merasa kesulitan bernapas karena pelukan Jovan yang cukup erat.


Melihat Gina terbangun, Jovan kembali melahap bibir manis sang istri. Sedikit merasa terkejut, tapi Gina suka juga merasakan rangsangan yang Jovan berikan.


Rasa sakit dalam inti tubuh Gina belum hilang sempurna saat Jovan memaksa memasukinya lagi. Tapi seiring permainan suaminya, Gina sudah merasa terbiasa. Bahkan rasa sakit itu sudah hilang. Terganti dengan nikmat yang hanya mereka berdua yang tahu.


Gina membiarkan Jovan bermain tanpa pengaman. Karena sebelumnya, dia sudah meminum pil penunda kehamilan.


Mereka berdua bahkan melakukannya lebih dari dua kali. Malam ini Jovan terlalu bergairah, dan hanya Gina yang tahu apa penyebabnya.


Bisa dipastikan jika esok pagi, Gina tidak akan bisa beraktifitas normal.


Pertama kali baginya, dan langsung bermain berkali-kali. Jadi, pasti dia akan banyak menghabiskan waktu untuk rebahan saja.


Jovan baru bisa tertidur nyenyak saat hampir subuh. Untung saja ini hari Minggu, jadi dia bisa istirahat dengan nyenyak bersama istrinya dirumah.


Pukul lima pagi, Gina terbangun dan senyum bahagia langsung terbit melihat pemandangan didepannya.


Jovan yang tertidur dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Seperti sedang memeluk guling.


Hembusan napasnya bahkan terasa di kepalanya.Gina semakin membenamkan diri di dada suaminya. Merasakan getaran kebahagiaan merasuk ke dalam seluruh ruang dalam hatinya.


Merasa ada pergerakan di dadanya, Jovan berkata lirih sambil tetap menutup matanya.


"Masih ngantuk bunda, tidur lagi sebentar saja ya" kata Jovan yang belum menyadari jika bukanlah Vani yang ada dalam pelukannya, melainkan Gina.


"Ini aku, Jo. Kenapa isi kepalamu itu cuma Vani saja sih?" kata Gina sedikit tidak terima.


Mendengar ucapan Gina, membuat mata Jovan terbuka. Dia menundukkan kepalanya untuk memandangi wajah Gina pagi itu.


"Oh, maafin aku ya. Aku kira tadi Vani" kata Jovan tanpa perduli pada perasaan Gina.

__ADS_1


"Jam berapa sih?" tanya Jovan.


"Jam lima" jawab Gina yang sudah cemberut.


Jovan mengurai pelukannya, kemudian duduk di sisi ranjang. Dia melihat ke arah Gina yang masih cemberut.


"Maaf ya, sekarang aku mau mandi dulu. Habis itu kita solat bareng ya" ajak Jovan berharap Gina tidak manyun lagi.


Gina hanya mengangguk dan membiarkan Jovan pergi ke kamar mandi. Sementara dia masih tiduran, merasakan intinya yang sepertinya masih berkedut dan itu agak sakit.


★★★★★


Sementara di kota Jogjakarta, Vani sudah siap setelah bangun dari tadi subuh. Membangunkan Varo dan Vee akan sedikit menguras emosi


Apalagi kemarin setelah melakukan perjalanan jauh, pasti tidurnya kan sedikit lebih lama dari biasanya.


"Ayo bangun Varo, kamu susah banget sih disuruh duduk. Mau jalan-jalan apa enggak nih?" teriak Vani.


Malah Vee yang mudah dibangunkan setelah mengingat bahwa mereka sedang liburan bersama Yudha.


Kedua suster yang Yudha bawa terdengar mengetuk pintu sat Vani akan membawa Vee ke kamar mandi.


"Permisi bu, kami akan membantu memandikan Varo dan Vee. Ibu bisa menyiapkan yang lain" kata salah satu daru mereka.


"Nama mbak ini siapa?" tanya Vani yang merasa tidak enak karena tidak terbiasa menggunakan jasa suster untuk mengurus anaknya.


"Saya Hesti, bu. Dan itu Lina" kata Hesti.


"Oh, iya. Tolong mandiin mereka pakai air hangat ya suster" kata Vani sungkan.


"Iya bu. Jangan sungkan untuk menyuruh kami selama itu masih menjadi tugas kami dalam menjaga anak-anak ibu" kata Hesti.


"Iya, terimakasih ya" kata Vani menyerahkan Vee ke dalam gendongan Hesti. Dan Varo akan ditangani oleh Lina.


Yudha datang setelah mereka bertiga telah siap dan berganti pakaian.


"Uwah, kalian sudah siap jalan-jalan ya?" tanya Yudha.


"Iya, pa. Ayo berangkat sekarang" ajak Vee dengan semangat.


"Kita sarapan dulu dong sayang, baru deh jalan-jalan" kata Yudha mengajak Vani dan rombongannya menuju ke restoran untuk menikmati sarapan bersama.


Restoran itu sangat nyaman, dan tentunya menu yang dijual pun harganya tidak cocok di kantong Vani.


Yudha mengajak Vani, Varo dan Vee semeja dengannya. Dan membiarkan kedua suster dan supirnya untuk duduk di meja berbeda tapi masih dalam satu kawasan restoran yang sama dengannya.


"Nanti kita ke candi Borobudur dulu atau mau kemana dulu nih?" tanya Yudha di sela kegiatan makannya.


"Ke pantai ya, pa" ajak Vee.


"Masih terlalu pagi, Vee. Kita ke candi dulu deh mas. Ke pantainya nanti sore saja setelah jalan-jalan" kata Vani memberi usul.


Tentu saja Yudha mengabulkan keinginan Vani. Seharian ini dia akan membuat Vani kelelahan karena senang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2