Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Gerak-gerik Gina terbaca Akbar?


__ADS_3

Tidak sampai setengah jam Gina menunggu kedatangan Jovan. Wanita itu sudah rapi dan wangi tentunya.


Menunggu sambil memainkan hand phone di ruang tamu sempit di rumah dinasnya.


Suara mesin motor terdengar berhenti di halaman luar rumah dinas mungil itu.


Senyum tipis terlukis di wajah cantik Gina. Segera ia memasukkan hapenya ke dalam tas selempang kecil dan menggantungkannya di bahu.


Lalu beranjak keluar menemui lelaki yang akhir-akhir ini terasa semakin dekat dengannya.


"Hai Jo, aku sudah nungguin daritadi" katanya dengan senyuman termanis.


"oh iya, tadi sempat ada urusan bentar sama teman kantorku. Lama ya? maaf deh" kata Jovan sambil memberikan helm cadangan pada sahabatnya itu.


"iya nggak apa-apa. Yang penting sudah sampai sini kan. Kita mau makan apa nih?" tanya Gina.


"Sate aja gimana? kamu nggak lagi diet kan?" kata Jovan sambil mengamati tubuh Gina.


"Boleh aja sih. Aku nggak pernah diet ya asal kamu tahu"


"oke deh, sip! Ayo berangkat"


Segera mereka menuju tukang sate langganan Jovan.


Tak berapa lama mereka telah sampai dan segera menuju ke gerobak sate yang disebelahnya telah diberi terpal dan bangku bongkar pasang.


Gina duduk di bangku dekat pintu, lalu Jovan memesan makanannya. Sepertinya Jovan sering kesini, terlihat dia sedang mengobrol santai sambil bercanda dengan bapak penjualnya.


Tak lama, diapun menghampiri Gina dan duduk di hadapannya.


"Aku pesenin sate sama nasi, terus mau minum apa?" tanya Jovan.


"teh hangat aja Jo" jawab Gina.


"bang, sama teh anget dua ya minumnya" kata Jovan sedikit berteriak agar penjualnya mendengar, dan dijawab acungan jempol oleh abang-abangnya.


"Oiyah, tentang rencana investasi kamu sudah ada planningnya belum?" tanya Gina mengawali misinya.


"Belum nih, masih wacana aja. Masih sibuk mau nyari perusahaan yang oke" jawab Jovan.


"Aku sih ada kenalan yang perusahannya sedang berkembang gitu, kayaknya oke juga kalau kamu tertarik sama dia. Kebetulan yang punya itu kenalan aku." kata Gina.


"Hengmh... Aku sih percaya aja sama kamu. Tapi beneran bagus nih prospek perusahaannya?" lanjut Jovan.

__ADS_1


"Kalau aku lihat sih bagus, soalnya usaha dia si bidang kuliner kekinian gitu. Nah sekarang lagi merambah ke produksi frozen food gitu. Coba deh nanti kamu bicara secara profesional sama dia kalau ada waktu"


"Orang mana ini kalau boleh tahu?" tanya Jovan.


"Kalau dia aslinya orang Jawa Tengah, cuma usahanya ada di Kota Dingin. Kamu bisa deh ngobrol sama dia kalau ada waktu pas pulang. Gimana?"


"Oke sih, kamu kasih nomer aku ke dia ya. Nanti kalau ada waktu senggang aku tanya sama orangnya langsung"


Dan pesanan merekapun telah sampai, keduanya mulai makan dalam diam. Sesekali Gina mencuri pandang pada pujaan hatinya yang sedang fokus pada makanannya.


Terlihat dia wanita itu sangat bahagia. Satu level dari misinya telah tercapai. Masih butuh proses yang panjang untuk melanjutkan misinya hingga sukses.


Dan Gina tidak sabar menantikan semua keinginannya bisa terwujud.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang senantiasa mengawasi gerak-geriknya. Dan semua percakapan yang telah keduanya lakukan telah sampai dalam laporan kerja yang harus orang misterius itu lakukan.


Orang itu adalah suruhan Akbar yang mendapat perintah dari atasannya.


Dan kabar itu otomatis telah terkirim pada sang asisten. Akbar sungguh sangat bekerja keras dalam setiap perintah atasannya, yakni Yudha.


Pengabdiannya tidak perlu diragukan lagi. Kecerdasan dan ketelitian selalu menjadi andalan pada setiap tugas yang diterimanya.


Kembali pada Gina yang sedang berbunga-bunga. Acara makan malamnya kali ini terasa sangat cepat berlalu.


Jadilah dia mengajak Jovan mampir ke suatu taman yang letaknya dekat dengan rumah dinas Gina.


Mereka duduk berdua sambil mengobrol santai. Jovan tidak pernah berfikir yang aneh-aneh dengan sahabatnya yang satu ini.


Dia hanya menganggap pertemuannya kali ini hanyalah pertemuan dua sahabat yang telah lama saling mengenal.


Tidak ada yang istimewa bagi Jovan karena memang pada dasarnya dia adalah orang yang sangat cuek.


Dan entah bagaimana bisa Vani mendapatkan hati dingin dan secuek hati Jovan. Tapi dia adalah pria yang ramah dan supel untuk dijadikan teman dan tempat berbagi resah hati.


Beda halnya dengan Gina yang merasa kini sedang terbang diawang-awang dengan banyak bunga bertebaran.


Pukul sepuluh malam Gina baru saja sampai di rumah dinasnya, setelah membersihkan diri, sekarang diapun bersiap pergi ke pulau kapuk.


Sambil memainkan ponselnya, dia merebahkan diri dan melihat hasil foto candid yang diambilnya saat di taman bersama Jovan tadi.


Betapa bahagia hatinya saat ini. Tidak sabar rasanya untuk segera memiliki lelaki dengan wajah yang cool ini.


******

__ADS_1


Di tempat lain, Akbar yang mendapatkan informasi mengenai bertemunya Jovan dan Gina masih belum bisa melaporkan hal tersebut pada Yudha.


Dia akan menunggu sampai informasi yang dia dapatkan lebih komplit dengan data pribadi Jovan dan juga segala hal yang dianggap penting tentang diri pria tersebut.


Sebenarnya Akbar sendiri merasa bingung, mengapa Yudha sampai repot-repot untuk mencari data diri dari seorang pria yang dia anggap biasa saja.


Ya, mungkin memang kalau wajahnya bisa dibilang sebelas dua belas lah dengan bosnya itu. Sama-sama tampan, tapi berbeda nasib.


Yudha bergelimang harta dengan masa lalu yang agak menyedihkan, dan sekarang sudah berumur tapi belum dikaruniai anak. Dan istrinya adalah wanita yang sangat cantik dengan pekerjaan yang bagus.


Sedangkan Jovan adalah pria biasa saja, untuk memiliki uang dia harus bekerja ekstra bahkan meninggalkan keluarganya untuk bekerja di luar kota, tapi dia memiliki keluarga yang hangat dengan sepasang pitra putri yang lucu, meskipun istrinya terlihat biasa saja.


Diantara keduanya, entah kehidupan seperti apa yang diinginkan banyak orang.


Akbar masih belum tahu apa motif Yudha untuk menggali informasi tentang diri Jovan. Orang kaya memang suka berbuat seenak hatinya.


Dia jadi khawatir kalau bosnya itu akan melakukan hal yang buruk pada pria bernama Jovan ini.


Akbar sangat perduli pada Yudha, dikarenakan dulu saat dia kehilangan arah dan tujuan hidup karena orang tuanya yang meninggal secara bersamaan dan tiba-tiba, Yudha adalah penolongnya.


Orang tua Akbar meninggal karena kecelakaan yang diketahui adalah sebuah kesengajaan. Tapi dia tidak punya bukti dan cukup uang untuk memenjarakan pelakunya.


Disaat keterpurukannya, Yudha menemukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah menenggak banyak minuman beralkohol dan tidak sengaja berbuat onar.


Orang tua Akbar berprofesi sebagai sopir pribadi, lalu saat mendapati majikan perempuannya berselingkuh dengan laki-laki lain, majikannya itu sangat takut kalau supirnya itu akan buka mulut pada suaminya.


Lantas dia dan kekasih gelapnya itu melakukan pembunuhan pada ayahnya. Dan semua dilakukan dengan sangat rapi hingga tidak ada bukti yang menguatkan.


Tapi Akbar tahu semua melalui buku harian ayahnya. Dan setelah dicari kebenarannya, majikan ayahnya itu adalah mama tiri Yudha yang juga sangat dibenci oleh Yudha.


Entah jalur takdir berjalan seperti apa, keduanya malah semakin dekat layaknya kakak beradik.


Keterpurukan Akbar waktu itu membuatnya mengenal sosok lain Yudha yang sebenarnya hangat dan perhatian.


Akbar yang cerdas bisa mengenyam pendidikan dengan baik juga karena Yudha.


Maka saat dia tahu Yudha dihukum dengan cara diasingkan ke rumah neneknya tanpa fasilitas dari papanya, membuatnya semakin merasa harus bisa membantu Yudha.


Saat Yudha kembali ke ibu kota, dan Akbar bisa kembali di sisinya, saat itulah Yudha merasa hanya Akbar orang kepercayaannya. Dan mengangkatnya menjadi asisten pribadinya.


Semua hal tentang Yudha, Akbar mengetahuinya. Hanya satu cerita yang belum Yudha bagi bersama Akbar, yakni perihal Vani.


Yudha merasa jika masalah hatinya yang masih tertinggal di kota Dingin saat itu bukanlah hal yang harus Akbar ketahui.

__ADS_1


__ADS_2