Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
mereka sudah beraksi


__ADS_3

"Aaaahhh" teriak Vani saat seseorang dengan sengaja menendang perutnya pagi ini, saat dia sedang bersiap untuk mengantarkan anaknya ke sekolah.


Beruntung dia sempat melindungi perutnya dengan kedua tangannya tadi, jadi tendangan pria itu tak sampai fatal meski Vani sempat jatuh terduduk.


Jovan yang terkejut langsung saja menuruni motornya dan segera berlari ke arah istrinya yang masih duduk diatas tanah sambil merintih memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Bunda, kamu kenapa bisa sampai jatuh begini?" tanya Jovan sangat panik.


Vee dan Varo juga segera menghampiri bundanya yang kesakitan.


"Bundaa" teriak Vee yang sudah menangis.


"Ada yang nendang aku tadi yah, tapi orangnya sudah pergi" kata Vani yang masih memegangi perutnya.


Jovan membantu Vani bangun, Vani masih meringis menahan sakit. Segera Jovan menggendong istrinya masuk kembali ke dalam rumah.


Dia menurunkan Vani diatas ranjang di kamarnya, membiarkan Vani mencari posisi yang nyaman.


"Kok bisa jatuh sih, bun?" tanya Jovan khawatir.


"Tadi ada dua orang boncengan pakai motor, waktu aku nungguin kamu ngeluarin motor dari dalam rumah, salah satu dari mereka nendang perut aku waktu sudah dekat" kata Vani bercerita.


"Untung saja tadi aku sempat nutupin perutku, yah. Jadi, tendangannya nggak terlalu keras, tapi aku kadi jatuh" kata Vani.


"Nanti kita langsung ke rumah sakit ya, alu anyar anak-anak ke sekolah dulu sebentar" kata Jovan.


Jovan berfikir akan lebih aman jika kedua anaknya di sekolah sementara dia akan mengantar Vani memeriksakan kandungannya.


"Iya, yah. Lagian nggak terlalu sakit kok, seperti mereka nggak apa-apa" kata Vani sambil mengelusi perutnya. Sudah terasa kembali gerakan sikecil dari dalam sana.


"Iya, aku percaya mereka anak yang kuat" kata Jovan tersenyum.


"Kamu tunggu dirumah ya, aku pergi sebentar" kata Jovan.


"Iya, kamu hati-hati ya" kata Vani.


Setelah menenangkan Vee yang masih menangis, akhirnya Jovan bisa membawa kedua anaknya ke sekolah dengan selamat.


Tak butuh waktu lama untuk Jovan mengantarkan kedua buah hatinya ke sekolah. Tak sampai lima belas menit, pria itu sudah kembali ke rumahnya dengan terburu-buru.


"Kamu ngebut ya?" tanya Vani yang melihat jam dinding, Jovan hanya pergi dalam waktu lima belas menit saja.


"Aku khawatir sama kamu, bun. Ayo kita ke rumah sakit, ya. Mau naik motor atau pesan taxi online saja?" tanya Jovan.


"Pakai motor saja, yah. Biar nggak terlalu lama nunggu" kata Vani.


"Tapi kami yakin bisa? Aku takut kamu kesakitan nanti" kata Jovan tak tega melihat kondisi istrinya.


"Nggak apa-apa, sudah baikan kok. Cuma aku khawatir saja sama kondisi mereka kalau nggak diperiksa lebih lanjut" kata Vani.


"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang" kata Jovan membantu istrinya beranjak dari tempat tidur.


Mereka berdua pergi ke rumah sakit mengendari sepeda motor. Rumah sakit yang sama, saat Yudha membawanya dalam kondisi pingsan waktu itu.


"Silahkan masuk bu Vani" kata Dokter Malik yang dulu juga pernah menangani Vani.


Dokter itu sedikit heran, karena bukan Yudha yang mengantarkan Vani kali ini.


"Oh, bu Vani sama suaminya ya sekarang? Waktu itu kan diantar siapa, ehm .. Pak Yudha, ya?" tanya dokter itu, membuat Jovan merasa aneh.


"Memangnya kamu pernah kesini sebelumya, bun?" tanya Jovan.


"Iya yah, waktu itu aku pingsan karena terlalu capek. Kebetulan mas Yudha yang bawa aku kesini, soalnya Vee yang menghubungi dia" Vani menjelaskan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Sekarang keluhannya apa, bu?" tanya Dokter Malik.


"Tadi ada orang yang tiba-tiba menendang perut saya, dok. Saya takut ada apa-apa sama anak saya, jadi saya periksakan saja biar nggak kepikiran" kata Vani.


"Kok bisa ada yang menendang perut ibu itu bagaimana ceritanya, bu?" tanya dokter itu heran.


"Saya juga nggak tahu, dok. Kejadiannya tiba-tiba sekali, pagi tadi sewaktu saya mau mengantar anak-anak saya ke sekolah. Ada dua orang laki-laki yang mengendarai sepeda motor, dan orang yang menumpang yang menendang perut saya".


"Untung saja tadi saya sempat melindungi dengan tangan, tapi setelah itu saya jadi terjatuh" Vani menceritakan kronologi pada sang dokter.


"Baiklah kalau begitu, mari saya periksa dulu. Silahkan ibu naik ke ranjang ya" kata dokter.


Sudah ada seorang suster yang membantu Vani menaiki ranjang. Setelah Vani berbaring dengan nyaman, maka suster itu menyingkap gamis yabg Vani kenakan.


Sebelum melipat sampai memperlihatkan perutnya, suster sudah menutupi tubuh bagian bawah Vani menggunakan selimut.


"Apa ibu sudah merasakan gerakan bayinya setelah kejadian itu, bu?" tanya Dokter.


"Sudah, dok. Setelah rasa sakitnya hilang tadi, bayinya terasa bergerak" jawab Vani.


"Oke. Suster tolong periksa tekanan darah dan denyut nadinya ya" perintah dokter itu.


"Baik, dok" jawab suster yang juga telah selesai mengoleskan gel dingin ke atas permukaan perut Vani.


Membiarkan dokter melihat kondisi bayinya melalui layar monitor.


"Normal, dok" kata suster setelah melakukan tugasnya. Suster itu tak lupa menuliskan hasil pemeriksaannya di buku kehamilan dan laporan dokter.


"Bayinya sehat, bu. Alhamdulillah mereka terlihat baik-baik saja. Detak jantungnya juga normal, mereka terlihat sehat" kata dokter dengan senyumnya.


"Mereka sangat lincah. Ibu harus ekstra hati-hati dalam menjaga mereka, ya. Apalagi dari orang-orang jahat. Tega sekali orang-orang yang mau mencelakai wanita hamil" kata dokter itu lagi.


"Saya juga tidak habis fikir, dok. Siapa juga yang punya niatan buruk pada istri saya" kata Jovan yang tak menyadari jika kecelakaan yang Vani alami adalah rencana dari istrinya yang lain.


Kembali suster membantu Vani merapikan pakaiannya setelah membersihkan sisa-sisa gel yang ada dipermukaan perut buncit Vani.


Jovan menuntun Vani untuk duduk di hadapan dokter, di sebelahnya.


"Saya resepkan obat penguat kandungan ya, bu Vani. Juga vitamin. Jangan lupa makan yang teratur, pilih makanan yang bergizi. Jangan takut gemuk, ya" kata dokter.


"Saya lihat berat badan bu Vani tidak meningkat terlalu tajam. Apa di kehamilan yang dulu juga seperti itu, bu?" tanya dokter.


"Iya, dok. Setiap hamil, saya tidak begitu gemuk. Tapi anak dalam kandungan saya beratnya tetap normal, bahkan anak pertama saya keluar dengan berat hampir empat kilo" kata Vani.


"Uwah, beruntung sekali ibu Vani ini ya. Biasanya banyak wanita hamil akan mengalami kegemukan, setelah itu sedikit kesulitan dalam menurunkan berat badannya" kata dokter.


"Iya, dok" jawab Vani singkat.


"Yasudah kalau begitu, kami permisi dulu dok" Pamit Jovan setelah dokter menyerahkan secarik kertas berisikan resep obat dan vitamin yang harus mereka tebus di apotik rumah sakit.


"Iya, silahkan pak" kata dokter Malik mempersilahkan mereka pergi.


Masih belum ada pasien lain sepeninggal Jovan dan Vani. Dokter Malik berinisiatif untuk menanyakan kecelakaan yang Vani alami pada Mela.


Dokter Malik menghubungi Mela melalui telepon paralel di dalam ruangannya.


"Iya halo, ada apa dok?" tanya Mela melalui pesawat telepon.


"Dokter Mela sibuk?" tanya Dokter Malik, takut wanita itu sedang menangani pasien.


"Enggak kok, dok. Kebetulan lagi sepi, ada apa?" tanya Mela.


"Tadi Bu Vani kesini, apa beliau menghubungi dokter Mela sebelumnya?" tanya Dokter Malik.

__ADS_1


"Enggak tuh, dok. Memangnya kenapa?" tanya Mela heran. Lagipula Vani juga tidak mungkin menghubunginya karena hubungan mereka berdua sebatas kenal dengan Yudha sebagai perantara.


"Begini, dok. Bu Vani bilang ada yang berusaha menendang perutnya tadi pagi, beruntung kondisi janinnya baik-baik saja. Mungkin Bu Vani bercerita sama dokter Mela?" tanya dokter Malik.


"Tidak, dok. Bu Vani nggak cerita apa-apa sama saya" kata Mela.


"Tolong sampaikan untuk lebih berhati-hati ke depannya. Tinggal sedikit lagi waktu lahirannya, sayang sekali kalau harus dilahirkan secara prematur" sebenarnya dokter Malik sedikit khawatir karena Vani yang sedang jamil janin kembar.


"Iya, dok. Nanti saya sampaikan sama bu Vani. Terimakasih atas infonya ya, dokter Malik" kata Mela sebelum menutup panggilannya.


Mela cukup terkejut dengan berita ini. Tak tinggal diam, diapun segera meneruskan berita itu pada Yudha yang sudah pasti akan sangat khawatir pada darah daging keturunannya yang sedang dititipkan pada rahim istri orang itu.


Dan benar dugaan Mela. Ekspresi yang Yudha berikan sangat berlebihan menurutnya.


★★★★★


"Sialaan!!!" umpat Yudha setelah mendengar kabar dari Mela mengenai keadaan Vani.


Dan yang lebih sialnya, Yudha tidak bisa langsung menemui Vani untuk menanyakan keadaannya karena masih ada Jovan disana.


"Ada apa lagi, pak?" tanya Akbar yang kebetulan memang ada janji untuk mempertemukan Yudha dengan beberapa bodyguard yang sudah dia janjikan.


"Mereka sudah beraksi, Bar. Keselamatan Vani terancam. Tadi pagi sudah ada yang berusaha mencelakainya" kata Yudha frustasi, dia menyugar rambutnya dengan perasaan tak karuan.


"Maksud bapak?" tanya Akbar yang belum mengerti.


"Vani tadi pagi ke rumah sakit, dia bilang ada yang berusaha mencelakainya dengan menendang perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau buka orang suruhan wanita itu, Bar" kata Yudha.


Yudha sudah sangat khawatir, impiannya untuk bisa mempunyai keturunan sudah di depan mata. Meskipun caranya salah, tapi anak-anak dalam kandungan Vani tidak bersalah.


Mereka pantas dilahirkan dengan selamat ke dunia ini. Dan Yudha sedang mengusahakannya.


"Baiklah pak, segera akan saya suruh orang-orang ini untuk menjaga bu Vani tanpa beliau sadari. Tanpa menggangu aktivitasnya" kata Akbar.


"Segerakan, Bar. Keselamatan Vani sudah terancam. Dan awas saja perempuan itu, aku sendiri yang akan menghukumnya dengan kedua tanganku saat ada bukti-bukti yang memojokkannya" kata Yudha penuh emosi.


"Biar kami yang mengurusnya, pak. Jangan kotori tangan bapak dengan masalah sepele seperti ini" kata Akbar.


"Sepele katamu?" tanya Yudha penuh ketegasan.


"Keselamatan anak-anakku kamu bilang sepele?" tanya Yudha, masih dipenuhi rasa emosi.


"Saat target yang perempuan itu tuju bukanlah Vani, aku masih bisa mentolerir. Tapi kalau sudah menyentuh Vani, apalagi janin dalam kandungannya, maka aku sendiri yang akan turun tangan, Bar. Awas saja nanti" geram Yudha.


Dia tak menyangka ada wanita sejahat Gina yang memakai topeng malaikat. Dan bodohnya Jovan yang tidak menyadari itu semua.


"Dan untuk bocah tengik itu, jatahnya juga akan segera datang. Semua permasalahan ini muncul karena kebodohannya" kata Yudha yang terus saja tak bisa melihat sisi baik dari seorang Jovan.


"Segera utus orang-orang yang sudah kamu rekrut. Pastikan keselamatan Vani yang utama. Kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada Vani dan kandungannya, maka kamu yang harus bertanggung jawab, Bar" kata Yudha.


"Baik, pak. Segera saya suruh mereka melindungi bu Vani" kata Akbar patuh, segera dia mengkoordinir anggotanya untuk segera melindungi Vani.


Dan, ya. Siang ini juga para body guard itu sudah siap di lapangan. Bekerja dengan pembagian shift untuk memudahkan pemantauan.


Sesayang itu Yudha pada Vani, hanya keadaan yang tak mengizinkan mereka berdua bersama.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2