
"masih jauh nggak sih mas perjalanannya?" tanya Vani menghilangkan kecanggungan.
"nggak kok, tuh sebelah tempat cuci mobil itu."
Benar saja, beberapa meter didepannya memang terlihat ada tempat pencucian mobil dan motor, lalu disebelahnya ada sebuah minimarket yang diterasnya ada beberap kursi untuk tempat duduk pelanggannya.
Mobil melaju ke tempat pencucian mobil, dan berhenti disana. "ayo turun" ajak Yudha
Vani mengikuti gerakan Yudha turun dari mobil.
Terlihat Yudha berbincang dengan seorang pria disana. Sepertinya pekerja di tempat pencucian mobil ini. Mereka terlihat akrab. Lalu si pria sedikit menolah pada Vani dan mengangguk sambil tersenyum ramah. Vani melakukan gerakan serupa.
"ayo ikut aku" kata Yudha.
Minimarket dan tempat cucian mobil ini sebenarnya satu paket. Teras minimarket yang diisi meja dan kursi adalah tempat menunggu yang nyaman bagi para pelanggan yang kendaraannya sedang dicuci.
Mereka berdua masuk ke dalam minimarket itu. Ada seorang wanita di meja kasir, dan seorang laki-laki yang sedang menata barang. Mereka berdua mengangguk hormat pada Yudha.
Semakin ke dalam, ada sebuah tangga menuju ke lantai dua dibalik pintu yang bertuliskan "selain karyawan dilarang masuk"
di sebelah tangga ada pintu yang Vani yakin dalamnya adalah gudang tempat stok barang.
Setelah sampai di lantai dua, ada sebuah ruangan yang dijadikan kantor di sebelah kiri. Ditengahnya ada pintu kecil yang sepertinya adalah kamar mandi, dan disebelah kanan ada mushola kecil.
Setelah mushola, ada pintu menuju balkon kecil. Disana tersedia meja dan kursi santai. Ada cangkir kopi yang belum dibereskan di atas mejanya.
Yudha menuju kantor, mengajak Vani ikut serta.
Ternyata di dalam kantor itu ada seorang laki-laki dibalik meja kerja.
"eh Mas Yudha sama siapa?" tanya laki-laki itu menengok dibelakang punggung Yudha.
"Ini Vani, temanku. Aku mau dia bisa ikut kerja di minimarket ini. Atur jadwalnya agar hari Rabu bisa langsung kerja."kata Yudha.
"apa katamu lah bos. Toh kamu juga yang punya tempat" kata laki-laki itu
Yudha sontak membelalakkan matanya pada orang itu, mengisyaratkan agar mulutnya dikondisikan.
"Dia Ilham, sepupu dari ibuku. Kamu bisa tanya sama dia nanti kalau ada yang nggak ngerti ya" kata Yudha menjelaskan pada Vani.
"nggak ada serahin surat lamaran gitu mas Yud?"
"nggak usah, Rabu kamu langsung kesini aja. Pagi jam sembilan ya. Kamu kan sudah nganterin anak kamu jam segitu" kata Yudha dalam mode serius kali ini.
"iya baik"
"hai mbak, saya Ilham. Nama kamu siapa?"
"Saya Vani, pak Ilham. Senang berkenalan dengan anda. Mohon bimbingannya juga ya"kata Vani sambil mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Ilham.
"udah jangan lama-lama" Yudha menepis tangan Ilham dan Vani.
"apaan sih mas" kata mereka kompak.
Yudha hanya melengos.
"sudah, ayo pergi. Aku mau kasih kamu seragam. Ikut aku" kata Yudha
"iya. Permisi pak Ilham, saya pamit dulu"
"iya" jawab Ilham.
Keluar ruang kantor, Yudha mengajak Vani ke gudang di lantai satu. Didalam gudang itu ada pantry kecil, juga ada ruang loker karyawan.
Ruang loker itu hanya sebuah ruangan 3x4 meter yang dibagian dindingnya ada lemari dengan beberapa laci kecil yang terkunci.
Yudha membuka salah satu laci yang kuncinya masih bergelantung dipintunya. Setelah membukanya, dia mengambil tiga buah kaos seragam dengan warna yang sama.
"ini seragam kamu dan ini kunci lokernya ya. Jangan sampai hilang" kata Yudha.
"Baik pak bos. Kamu kenapa jadi dingin kayak es batu gitu sih mas"
Eh .. kebiasaan Yudha kalau sama karyawannya kan jarang senyum. Lupa dia kalau karyawatinya kali ini orang yang spesial. Terlalu menghayati peran sebagai bos jadi lupa diri dia.
"Masak sih? perasaan kamu aja kali" jawabnya kali ini disertai senyum pepsodent.
"ya nggak usah senyum-senyum nggak jelas gitu mas. Ngeri aku lihatnya"kata Vani.
Seketika senyum itu langsung sirna, kembali ke mode cool.
__ADS_1
"yasudah kalau gitu, aku pulang aja ya mas. Nggak ada acara interview dulu kan ya?"
"kenapa buru-buru sih? kan masih jam sepuluh ini. Kamu jam berapa jemput anak kamu?"
"Jam setengah dua belas nanti"
"kita ngopi dulu yuk. Mau nggak?
"engmh... boleh deh. Ayuk"
Akhirnya mereka disini, duduk berhadapan di sebuah cafe kecil di dekat minimarket. Bahkan mereka berjalan kaki tadi.
"mas, kamu bajunya formal sekali. Dilihatin tuh sama pengunjung yang lain" kata Vani.
Yudha celingukan "biarin aja sih. Ngapain juga dengerin apa kata orang" Tapi sambil membuka jasnya, dan hanya mengenakan hem warna putih uang sedang digulung lengannya hingga siku.
"nah gitu lebih baik" kata Vani.
Yudha mengangkat tangan memanggil pelayan,
"mau pesan apa pak?" tanya pelayan ramah.
"capuccino sama cocholate cake, kamu apa Van?"
"aku strawbery milk shake aja mbak, sama donat toping oreo satu sama yang toping chocolate strawberry satu ya mbak" kata Vani.
Setelah mencatat dan memastikan pesanan, pelayan itu pergi untuk menyiapkan makana dan minumannya.
"yakin kamu abisin pesanan kamu?" tanya Yudha
"ngobrol tuh butuh tenaga mas, jadi ya pasti abis lah"
"itu makanan berat loh Van, emang nggak kekenyangan nanti?"
"ikhlas nggak sih beliinnya?" kata Vani sebal.
"ya ikhlas sih, tapi beneran abis yaa"
"tenang aja mas..."
Beberapa menit berlalu, pesanan mereka sudah sampai.
Yudha mendesah, cepat atau lambat pasti Vani memang akan bertanya tentang masa lalu mereka ini.
"gaul juga kamu tau istilah kayak gitu segala, haha"
"harus dong, biar nggak jadi emak-emak kudet lah. Udah nggak usah ngeles-ngeles mulu, udah kayak driver ojol di jalan macet aja suka ngeles".
"Sebenarnya dulu aku sudah siap-siap buat jemput kamu. Tapi tiba-tiba papaku datang, jemput aku nyuruh pulang tanpa sempat ngasih kabar ke kamu dulu" Kata Yudha mengawali ceritanya.
Akhirnya dia menceritakan dari awal papanya datang menjemputnya, hingga mengharuskan Yudha menikah dengan wanita yang sudah dijodohkan dengannya.
Vani juga serius mendengarkan, sesekali manggut-manggut seolah setuju dengan cerita Yudha.
"Jadi gitu, sebenarnya nggak ada niatan aku buat menghilang dari kamu" kata Yudha mengakhiri ceritanya.
"Jadi sebenarnya apa alasan utamanya buat mas Yudha sampai nggak mau dijodohin? Dari yang aku lihat kayaknya istri mas kan cantik banget, secara kan dia model. Apa jangan-jangan mas Yudha kelainan yaa sampai nggak mau sama barang mulus kayak istrinya mas Yudha itu?"
"enak saja ngatain orang kelainan. Memang kelainan apa?" tanya Yudha pura-pura geram.
"haha.. iya maaf. Jadi apa alasan mendasarnya mas? Masih penasaran aku"
"Alasanku dulu itu ya kamu Vani..."
"Oiyah... Uwah... aku terkejut!!" kata Vani pura-pura bodoh, dan itu sukses membuat Yudha menjadi semakin geram.
Melihat tatapan sinis dari Yudha, segera Vani meengambil minumannya, dan mulai meminum menggunakan sedotan.
Tapi sial dia malah keselek, jadi batuk deh.
"uhukk...uhukk...uhuk..." Vani langsung menepuk-nepuk dadanya pelan agar terasa lebih lega.
"hahaha... makanya nggak usah buru-buru minumnya, lagian siapa sih yang mau minta" Yudha malah menertawakanya.
Vani mendelik ke arah Yudha, setelah batuknya reda, segeera dia mencomot donat yang daritadi sudah menggugah seleranya, Vani sangat suka donat.
Menghabiskan separuh donat di tangannya, Vani masih kesal dan menjadikan wajahnya cemberut saja.
"makan tuh pelan-pelan, aku nggak minta kok. Sampai belepotan gini" kata Yudha menghapus jejak coklat di sudut bibir Vani.
__ADS_1
Kaget dengan perlakuan Yudha, Vani memundurkan kepalanya.
"abisnya kamu nyebelin"
"tapi bener, jujur dulu aku sayang sama kamu Van. Aku memang pecundang karena nggak mampu berjuang buat bahagiain perasaan aku sendiri. Aku terlalu pasrah sama aturan papaku"
"dan jujur juga, mas Yudha juga sudah sukses buat aku nggak bisa move on dari kamu lebih dari dua tahun" kata Vani sambil menerawang untuk mengingat masa lalunya.
"bagaimana sulitnya aku lupain kamu mas, setelah kamu tiba-tiba ngilang dengan perasaan yang sudah ada. Aku masih berharap kamu hadir, buat jadi penyemangatku lagi. Tapi tiba-tiba aku dengar kamu sudah nikah. Aku benar-benar kecewa sama diri aku sendiri yang begitu mudahnya luluh sama semua perhatian semu dari kamu" kata Vani meluapkan perasaannya yang tertunda sejak sebelas tahun yang lalu.
Vani menundukkan kepalanya, berharap air matanya tidak akan tumpah saat ini. Gengsi kalau harus cengeng setelah pura-pura kuat daridulu.
"maafin aku ya, aku memang bodoh" kata Yudha.
"sudahlah mas, nggak usah kita bahas lagi tentang masa lalu kita. Sekarang kita sudah punya rumah tangga masing-masing, biarlah kita mengalah dengan kenyataan, mungkin memang kita ditakdirkan hanya untuk menjadi teman yang bisa saling menguatkan" kata Vani berusaha tersenyum.
"iya, kamu benar. Sekarang kita teman yaaa.. kamu ,jangan fikirkan perkataanku tadi. Tetaplah jadi pribadi yang ceria"
"sudah, kamu makan lagi yaa... sayang kan kalau dibuang"
"iya, sedih lebih butuh extra energi untuk dihadapi" kata Vani sambil mencomot donat yang sudah digigit separuhnya tadi.
Beberapa lama mereka terdiam dan menjadi canggung. Hingga Yudha memberanikan diri untuk membuka suara.
"Dengan suamimu, bagaimana kamu bisa kenalan dan sampai menikah dengannya?" kata Yudha sebenarnya hanya basa-basi.
Vani tersenyum, setelah meminum sedikit strawberry milk shakenya, dia berkata "aku mencintai dia setelah rasa benci berlalu. Benar kata orang kalau cinta dan benci itu hanya dilapisi tirai yang sangat tipis"
Yudha hanya diam sambil mendengarkan kisah percintaan Vani setelah bisa melepaskan perasaan darinya.
"dia mahasiswa yang urakan yang selanjutnya menjadi pelanggan tetap di minimarkat yang dulu aku sempat kerja."
"oiyah? pasti seru cerita kalian, jadi kamu juga sempat kuliah dulu?" tanya Yudha berusaha tegar.
"nggak mas, nasip nggak berpihak sama aku buat kuliah. aku cuma penjaga minimarket aja."
"jadi dulu Jovan itu datang ke toko, terus mecahin parfum, harganya lumayan mahal. Malah nggak mau tanggung jawab, terus singkat cerita malah aku harus ganti, tapi untungnya bosku ngebolehin buat nyicil gantiinya"
"cowok nggak tanggung jawab kayak gitu tapi kamu bisa suka?" tanya Yudha mencibir.
"ish.. dengerin dulu. Jadi sebenarnya waktu itu dia lagi patah hati, nggak jadi nikah gara-gara calonnya selingkuh. Terus karena merasa bersalah, tiap hari dia ke tempat kerjaku buat minta maaf.
nggak segampang itu kan maafin orang nyebelin kayak dia"
"tiap hari ada saja tingkahnya buat minta maaf. Sampai akhirnya ya aku maafin dan kita jadi dekat"
"bukan gara-gara jadi pelampiasan saja kamunya?" tanya Yudha.
"awalnya aku kira juga gitu. Tapi lama-lama aku yakin karena dia nolak pacaran dan lebih milih nikah aja meskipun harus LDR setelahnya"
"segampang itu kamu mau nikah sama dia? pasti kamu cuma dibuat pelampiasan aja. Gampang banget kamu buka hati buat pria semacam itu sih?" kata Yudha emosi, kenapa Vani sangat mudah luluh pada pria seperti Jovan.
"apaan sih mas? kamu tahu nggak, aku butuh waktu lebih dari dua tahun buat kembali menyehatkan hati aku yang sakit gara-gara ditinggal nikah sama seseorang yang aku rasa juga punya perasaan yang sama ke aku. Tapi nyatanya malah orang yang lebih dewasa yang dengan mudahnya mainin hati gadis yang baru tau tentang cinta" kata Vani juga penuh emosi.
Yudha menyadari kalau saat ini Vani sedang menyindirnya. Dia sadar jika dirinyalah yang brengsek.
"huft..." Yudha membuang kasar napasnya.
"maafin aku Van, Maafin aku di masa lalu yang nggak bisa perjuangin cintaku sama kamu, dan ternyata kamu memang juga cinta sama aku"
Vani diam saja, dia sadar kalau kini semua telah berlalu. Tidak baik juga membuka kenangan lama saat ada hari yang sama-sama harus dijaga.
"sudahlah mas, semua juga sudah berlalu. Sekarang kita harus berusaha menjaga hati pasangan kita masing-masing. Apalagi aku yang sudah berbuntut dua kan?" kata Vani berusaha bijak tak lupa senyum.
"Kamu tetap seperti dulu Van, selalu baik dalam memandang nasib. Aku mungkin akan tetap susah buat lupain kamu"
"Atau perlu kita nggak usah ketemu aja mas biar kehidupan kita berjalan normal seperti sebelumnya?"
"nggak Van, jangan lagi kita jauh. Memikirkan itu saja membuatku sedih lagi. Biarlah seperti ini, aku akan jadi papa buat anak-anak kamu selama ayahnya sedang jauh dari kalian. Aku akan berusaha berdamai dengan keadaan" kata Yudha mantap.
"kamu jangan minta aku buat nikahin kamu ya mas, hahaha... nggak lucu sama sekali" kata Vani ngeri.
"jadi kamu berharap nikah lagi sama aku? Kalau aku sih nggak keberatan sama sekali loh"
"nggak usah aneh-aneh mas. Udah diem aja makan sama minum tuh dihabisin, kalau nggak nanti makanannya nangis loh" kata Vani menirukan ucapan Youtuber saat bersama anaknya.
"hahaha, iya.." kata Yudha mulai ceria kembali.
Tak terasa saat hati sedang bahagia, maka waktu akan terasa cepat berlalu.
__ADS_1
Begitupun yang dirasa oleh dua insan yang tak lagi abg ini. Menikmati waktu bersama seperti apa yang diharapkan di masa lalu berdua. Meski dengan keadaan yang berbeda, sudah terselip sedikit kebahagiaan di hati keduanya.