
Sudah hampir tengah hari, Jovan terbangun dan mendapati dirinya tertidur di tempat yang asing. Dia merasa lapar, saat dilihatnya jam dinding, ternyata memang sudah pukul sebelas. Pantas saja dia lapar.
"Dimana ini?" tanyanya pada diri sendiri, dia duduk dan menyibak selimut yang menutupinya.
Ingatannya kembali, dia sedang dirumah Gina. Semalam dia sudah menikahi sahabat wanitanya itu. Sedikit sesal menghinggap karena dia merasa telah mengkhianati Vani. Dia akan menghubungi istrinya sekarang juga.
"Dimana ponselku?" kata Jovan yang tak mendapati ponselnya berada dimanapun.
"Cari apa?" tanya Gina yang baru saja dari dapur, rupanya dia sedang membuat makanan untuk Jovan.
"Dimana ponselku?" tanya Jovan.
"Semalam kamu taruh di atas nakas kan? Masak lupa sih?" tanya Gina manja, dia sedang mencari perhatian suaminya.
"Oh iya, aku lupa" kata Jovan melangkahkan kakinya menuju kamar.
Dia duduk ditepi ranjang, melihat ponselnya memang ada disana. Dan saat melihatnya, ternyata dalam keadaan mati.
"Mungkin lowbat, aku lupa mencharge sejak kemarin" kata Jovan berusaha menghidupkan kembali ponselnya.
"Bisa" katanya lirih saat ponselnya menyala.
Beberapa saat menunggu, Jovan melihat ada begitu banyak panggilan masuk dan juga wa dari Vani.
"Tumben dia menelpon sebanyak ini?" batin Jovan.
Dia terkejut mendapati kenyataan bahwa Vee tengah berada di rumah sakit. "Vani pasti sangat khawatir, bagaimana dia bisa membawa Vee sendiri?" gumam Jovan segera berdiri, dia akan pulang secepatnya.
"Mau kemana sayang?" tanya Gina yang melihat Jovan memakai Jaketnya, padahal dia sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Pulang, Vee sedang berada dirumah sakit" kata Jovan yang kini tengah memakai sepatunya.
"Makanlah dulu, aku sudah menyiapkan semua ini untukmu Jo" kata Gina yang merasa kecewa.
"Vee sedang sakit, aku sebagai ayahnya bahkan enak-enakan disini. Ayah macam apa aku?" kata Jovan tak memperdulikan Gina.
"Oke, aku akan ceritakan semua pada Vani jika kamu tidak mau untuk sekedar makan bersamaku kali ini" ancam Gina yang sukses membuat Jovan berhenti melangkah, dengan perasaan marah dia kembali dan duduk dimeja makan untuk menemani Gina.
"Bagus, memang seharusnya kamu itu makan dulu. Baru boleh pergi, aku kan audah capek-capek masak buat kamu. Kadi, kamu harus hargai dong masakan aku" kata Gina mengambilkan makanan ke atas piring Jovan.
"Kamu mematikan hp aku ya?" tanya Jovan setelah mendapat makanannya.
"Buat apa? Aku nggak ngelakuin itu kok" jawab Gina setenang mungkin, dia tidak mau membuat Jovan marah dihari pertamanya sebagai suami.
"Batrainya masih banyak, tapi saat aku melihatnya malah dalam kondisi mati" kata Jovan masih menuduh.
__ADS_1
"Ya aku nggak tahu sayang, sudahlah. Kamu makan dulu saja ya, katanya anak kamu sakit" kata Gina yang tak ingin memperpanjang masalah.
Jovan terdiam, dia menyelesaikan makannya dengan cepat. Dia sudah sangat khawatir pada putrinya yang sangat manja itu. Suara manja Vee saat memanggilnya seperti terdengar ditelinganya, membuat Jovan semakin merasa takut terjadi sesuatu pada Vee.
"Aku pergi dulu" kata Jovan setelah menenggak air dari gelasnya, bahkan Gina belum separuh menghabiskan makanannya.
"Hati-hati sayang" kata Gina mencium tangan Jovan, perlakuan tidak biasa itu membuat Jovan harus mulai terbiasa mulai sekarang.
Dengan cepat, Jovan menyambar helm yang ada di kursi ruang tamu. Dia segera menghidupkan motornya dan mengendarai kuda besi itu dengan kecepatan maksimal, dia sudah sangat merindukan putrinya.
★★★★★
Vee sudah ditangani, dia sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat. Vani menolak saat Yudha meminta Vee dirawat diruang VIP.
"Ruangan biasa saja mas, biayanya mahal kalau diruang VIP" kata Vani setengah berbisik saat suster menawarkan ruang perawatan untuk Vee.
"Kamu nggak usah mikirin biayanya" kata Yudha meyakinkan Vani.
Sebenarnya Vani ingin yang terbaik untuk putrinya, tapi dia juga tidak ingin mempunyai hutang budi terlalu banyak pada pria yang dulu pernah menguasai hatinya itu. Vani takut di hari nanti akan ada pengungkitan tentang balas budi, masa depan tidak ada yang tahu kan?
"Baiklah, bawa Vee ke kamar kelas satu saja suster" kata Yudha akhirnya mengalah, tapi tetap tidak membiarkan Vee di ruang biasa. Vani mengangguk kali ini.
Vee tersadar beberapa saat setelah memasuki ruangan. "Ayah dimana bun?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut anak kecil itu adalah keberadaan ayahnya.
"Ayah masih kerja nak, kata ayah kamu disuruh tidur dulu. Istirahat dulu ya, nanti ayah pulang kok" kata Vani.
"Dokter bilang kamu alergi makanan Vee. Memangnya kemarin bundamu ini memberimu makanan apa?" tanya Yudha pada Vee, yang sebenarnya ditujukan pada Vani.
"Kayaknya kemarin kamu makan udang ya Vee, kamu sih ngotot minta dibeliin nasi goreng seafood" kata Vani yang merasa tidak terima saat Yudha menyalahkannya.
"Memangnya ada anak sekecil Vee yang tahu macam-macam nasi goreng. Kamu pasti yang memaksa Vee untuk mencoba ya?" tanya Yudha.
"Enggak kok mas, dia tuh sekarang lagi senang lihat vlog mukbang gitu mas. Mungkin kemarin dia lihat orang lagi makan seafood, makanya dia minta juga" kata Vani.
"Benar yang bundamu bilang Vee?" tanya Yudha.
"Iya pa, Vee kepingin makan kayak orang yang makan udang gede banget pa. Bunda malah bawain nasi goreng yang ada udang kecil-kecilnya pa" kata Vee.
"Lain kali kamu jangan makan udang lagi ya Vee. Alergi kamu parah banget kalau kena udang" kata Yudha.
"Tapi rasanya enak pa" kata Vee, Membuat Yudha hanya visa menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis kecil yang lucu itu.
"Sebentar, ayah kamu telpon Vee. Aku angkat telpon dulu ya mas" izin Vani, Yudha mengangguk dan kembali bercengkrama dengan Vee.
..."*Assalamualaikum yah"...
__ADS_1
......"Waalaikumsalam, kamu dimana bun?" ......
..."Rumah sakit umum, diruang anggrek 1"...
..."Aku sudah didepan, bagaiman keadaan Vee?"...
......"Sudah lebih baik"......
..."Alhamdulillah, sebentar lagi aku sampai. Aku tutup dulu telponnya ya. Assalamualaikum'...
..."Waalaikumsalam*"...
Vani sebenarnya masih merasa jengkel pada suaminya, karena sejak semalam ponselnya tidak aktif. Tapi demi buah hatinya, seorang ibu bahkan rela menggenggam bara api asalkan anaknya bahagia. Diapun kembali ke kamar Vee.
"Ayah mau datang ya bun?" tanya Vee.
"Iya sayang, sebentar lagi pasti sampai" jawab Vani.
Yudha masih belum ingin pergi, dia ingin menyampaikan sesuatu pada bocah ingusan yang hampir membuat nyawa Vee tidak tertolong.
"Assalamualaikum" kata Jovan saat baru sampai, dia sedikit tidak suka melihat keberadaan Yudha disana.
"Waalaikumsalam" jawab Vani, Yudha dan Vee kompak. Semakin membuat hati Jovan mendidih.
"Maafin ayah ya nak. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Jovan menciumi wajah Vee.
"Geli yah. Aku sudah nggak apa-apa kok yah" kata Vee terkekeh merasa kegelian dengan tingkah laku ayahnya.
"Dari mana saja kamu yan? kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" tanya Vani.
"Lupa mencharge semalam, maaf ya" kata Jovan.
"Bisa kita bicara sebenarnya?" tanya Yudha pada Jovan, dia sudah sangat ingin menghajar pria ini sekarang.
"Tentu, mau bicara dimana?" tanya Jovan.
"Kita ke kantin rumah sakit saja sebentar" kata Yudha yang diangguki oleh Jovan.
"Sebentar ya bun" kata Jovan berpamitan, sebenarnya Vani merasa tidak enak untuk membiarkan kedua pria itu berbicara berdua saja. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Vee sendiri.
Yudha berjalan keluar ruangan meninggalkan Jovan dibelakangnya. Jovan masih sempat mencium wajah Vee lagi sebelum menemui Yudha.
.
.
__ADS_1
.