
Mata Vani mengerjap pelan, tengah malam buta, rupanya dia merasa ingin ke kamar mandi.
Merasakan berat di telapak tangannya, Vani membuka mata.
"Dimana aku?" gumam Vani mengamati seluruh ruangan.
Dinding putih dengan lampu yang sangat terang ditengahnya. Ada TV besar yang menempel di dinding.
Menoleh ke samping, Ada seseorang yang sedang tertidur di sebelahnya.
"Siapa ini?" masih bergumam, Vani tidak enak hati untuk membangunkannya.
Hanya rambutnya yang terlihat, karena orang ini tidur dengan menenggelamkan kepalanya diranjang.
Ada jas yang tergeletak di sofa, jas biru dongker yang warnanya senada dengan yang orang ini kenakan.
"Mas Yudha bukan sih?" tanya Vani lirih. Masih enggan untuk membangunkan.
Menarik pelan tangannya yang digenggam erat oleh Yudha.
Membuat Yudha sedikit terganggu, dan membuka matanya pelan.
"Ehm, kamu sudah bangun?" tanya Yudha dengan muka bantalnya.
"Mas Yudha ngapain disini? Kok aku disini sih mas?" tanya Vani.
"Kamu tadi pingsan, Van. Siang tadi Vee yang telpon aku tahu" kata Yudha tersenyum, gadis sekecil Vee sudah bisa menelpon Yudha dalam keadaan genting.
"Oh, iya. Aku ingat, tadi tiba-tiba aku pusing banget" kata Vani mengeluh.
"Terus dimana sekarang anak-anakku?" tanya Vani.
"Kamu tenang saja, Aku sudah menyuruh Akbar untuk menemani Varo dan Vee. Mungkin mereka ada di rumahmu, atau mungkin di apartemen Akbar" kata Yudha.
"Besok kan mereka masih harus sekolah, mas" kata Vani.
"Iya, besok biar Akbar yang mengantar dan menjemput mereka dari sekolahnya. Kamu istirahat saja dulu" kata Yudha.
Vani merasa tidak enak pada Yudha, lagi-lagi pria ini yang harus menolongnya.
"Kamu tadi kenapa tiba-tiba terbangun?" tanya Yudha.
"Oh, ehm... Aku mau ke kamar mandi, mas" kata Vani malu, bingung akan bagaimana minta tolong pada Yudha.
"Aku antar ya" kata Yudha tersenyum, melihat semburat merah di pipi Vani yang malu.
Perlahan Vani menuruni ranjang, Yudha memegangi tiang infus dan membawanya ke kamar mandi bersama Vani.
"Sudah mas, aku masuk dulu. Kamu tinggalin saja ya" kata Vani.
Yudha mengangguk, dan berjalan ke arah sofa. Mendudukkan dirinya, berjaga-jaga jika nanti Vani meminta bantuannya lagi.
Melihat ke arah jam dinding, ternyata masih jam tiga pagi. Pantas saja dia masih sangat mengantuk, tadi dia baru bisa memejamkan matanya hampir tengah malam.
Tak lama berselang, Vani sudah selesai dengan kegiatannya. Handle pintu kamar mandi mulai bergerak. Vani menyembul dari dalam toilet setelah pintu itu terbuka lebar.
Yudha segera menghampiri, membawakan lagi selang infus yang sedang Vani dorong.
"Maafin aku ya mas. Lagi-lagi aku merepotkanmu" kata Vani setelah berhasil kembali ke atas ranjangnya.
Yudha duduk ditempatnya yang tadi, melihat sayang pada Vani yang masih saja tertunduk.
__ADS_1
"Aku masih sama seperti yang dulu, Van. Bedanya sekarang sudah nggak ada lagi yang menghalangi keinginanku" perkataan Yudha sedikit membuat hati Vani merasa tidak tenang.
"Apapun yang kamu minta, pasti aku beri. Selama aku bisa , pasti akan aku lakukan. Sebagai bentuk penyesalanku sama kamu, dulu" kata Yudha tulus di saat yang tidak tepat.
"Kita hanya bagian dari masa lalu yang tidak sengaja dipertemukan kembali. Tidak baik sepertinya kalau kita paksakan keinginan kita, sedangkan sudah ada amanah untuk kita masing-masing harus jalankan, mas" berat untuk Vani sebenarnya jauh dari pria ini.
"Aku yakin masih ada namaku dihatimu, Van. Tidakkah kamu mau sedikit saja berjuang untuk kita bisa bersama?" serius, Yudha sudah sangat lama ingin berbicara seperti ini.
"Meskipun masih ada, bukan hal yang baik untuk kita paksakan, mas. Aku sudah berkeluarga, bahkan sudah ada dua anak, sebentar lagi akan melahirkan lagi anak kembar".
"Aku sudah memilih Jovan untuk menjadi imamku. Selama ini dia sudah sangat tulus mau menerimaku apa adanya. Tidak mungkin aku berpisah sama dia" kata Vani, berharap Yudha mau untuk menghindar darinya.
"Mungkin memang kita tidak berjodoh, mas. Sekeras apapun kita berusaha, kalau takdir tak berkehendak kita bersama. Maka kita tidak akan pernah bisa bersama".
"Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha ikhlas menerimanya. Pasti yang tuhan beri adalah yang terbaik. Kita harus yakini itu" senyum Vani di bibir pucatnya membuat Yudha meleleh.
Yudha menunduk, terpikir olehnya untuk memberitahu tentang pernikahan Jovan dengan Gina dibelakang Vani.
Tapi pasti akan membuat wanita itu bersedih, dan tidak baik untuk calon anaknya.
Sedangkan Vani, sebenarnya dalam hatinya dia merasa sangat bahagia jika berada disamping pria ini.
Entah mengapa, rasanya bahkan lebih bahagia saat bisa bersama Yudha daripada bersama Jovan yang notabene adalah ayah dari calon anaknya.
"Aku sangat sayang sama kamu, Van" lirih Yudha, tapi Vani pura-pura tidak mendengarnya.
"Aku ngantuk, mas" kata Vani.
Yudha berdiri, membantu Vani merebahkan dirinya diatas ranjang.
Setelah menyelimutinya, Yudha memilih untuk membaringkan dirinya diatas sofa. Dia juga akan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Sepertinya tak lama Yudha memejamkan mata, telinganya sudah mendengar adanya aktivitas dari kamar mandi.
Terlihat Vani keluar dari dalam toilet, dengan wajah yang basah.
"Habis ngapain, kok nggak bangunin aku?" tanya Yudha, tangannya tergerak untuk membantu membawakan tiang infus.
"Tadi kebelet pipis, sekalian ambil wudhu mas. Subuhnya sudah mau lewat" kata Vani.
"Tapi disini nggak ada mukena ya? Biar aku ke mushola saja deh" kata Vani yang hendak melangkahkan kakinya.
"Solat disini saja ya. Biar aku carikan mukenanya" kata Yudha melarang Vani keluar kamar.
Vani menurut, memang dia hanya mengetes seberapa pekanya pria itu.
Yudha keluar ruangan, mencari letak mushola rumah sakit. Masih sangat pagi, terasa dingin menerpa kulit.
Saat berjalan menyusuri sepinya koridor rumah sakit, disini juga hati Yudha merasa sepi.
Seharusnya diusianya kini, seperti halnya Vani. Diapun bisa menghabiskan waktu luangnya diluar jam kerja dengan keluarga kecilnya.
Dia, Bella, dan anaknya.
Tapi itu hanyalah angannya saja. Padahal, meski pernikahan mereka bukan atas dasar cinta, Yudha bisa belajar menyayangi istrinya seperti halnya Vani yang sudah melupakannya, dan menyayangi Jovan dengan sepenuh hatinya.
Yudha mendesah, bimbang dengan tujuan hidupnya kini.
Dia jadi berfikir, apabila nantinya hasil tes DNA yang dia lakukan nanti akan memberinya hasil yang tak diharapkan, bagaimana dia akan menjalani hidupnya?
Rumah tangganya dengan Bella sudah diambang kehancuran. Dan angan-angannya yang menginginkan anak dalam kandungan Vani adalah anaknya juga hanya sebatas khayalan, bagaimana jadinya dia?
__ADS_1
"Tidak, pasti anak dalam kandungan Vani itu adalah anakku. Jika itu sudah terbukti, apapun rintangannya nanti, aku akan mengusahakan agar anak itu ada bersamaku" tekad Yudha untuk membesarkan anaknya sudah bulat.
Sadar dengan lamunannya yang terlalu lama, Yudha segera mencari keberadaan mushola. Dan mengambilkan mukena seperti yang Vani mau.
"Ini mukenanya, Van" Yudha berujar sambil mengulurkan mukena yang dipinjamnya dari mushola rumah sakit.
"Kok lama? Nyasar ya kamu?" ledek Vani, sedikit ingin mengurai kegugupannya.
"Enak saja, nggak lah. Cuma lagi menikmati suasana pagi saja. Biasanya kan aku bangunnya siang" kata Yudha.
"Gara-gara aku ya kamu harus bangun pagi-pagi" jadi merasa bersalah kan Vani.
"Nggak lah, sebenarnya aku tuh pingin bangun pagi, tapi nggak ada yang bangunin. Jadi, ya siang terus jadinya" kata Yudha.
"Kan ada alarm di ponsel kamu mas, itu cuma alasan kamu aja" Vani berujar sambil memakai mukenanya.
"Solatnya bagaimana kalau kamu pakai selang infus gitu?" tanya Yudha.
"Bisa sambil duduk, kan. Nggak ada yang memberatkan kok sebenarnya, cuma kitanya saja yang suka malas sama kewajiban kita" kata Vani.
Yudha malah tersindir dengan ucapan Vani, padahal tidak ada niatan Vani untuk itu.
"Iya, memang aku jarang solat" kata Yudha.
"Loh, aku nggak nyindir kamu loh mas. Beneran deh" sudah selesai Vani dengan urusan mukenanya.
Yudha menatap dalam pada wanita pujaannya itu. Tak salah sebenarnya menyukai wanita soleha seperti Vani.
Yang salah adalah keadaan. Mengapa baru dipertemukan kembali saat wanita itu sudah berkeluarga, dan memiliki anak?
Yudha sangat menyayangkan hal itu.
★★★★★
"Bundaa...." Vee berteriak senang saat Akbar membawanya ke rumah sakit sepulang sekolah siang ini.
Vani sudah bersiap untuk pulang, dokter sudah memperbolehkan Vani pulang sore ini.
"Papa Yudha kemana, bun?" tanya Vee yang tak mendapati papa tipu-tipunya itu di ruangan bundanya.
"Papa Yudha lagi kerja" kata Vani yang sudah memangku Vee dalam dekapannya.
"Pak Akbar nggak ke kantor juga?" tanya Vani heran, Vani kira anak-anaknya akan diantarkan oleh orang suruhan, ternyata Akbar sendiri yang datang.
"Nggak bu, pak Yudha nyuruh saya ngantar anak-anak bu Vani langsung ke sini. Sekarang pak Yudha sedang ada beberapa meeting penting" Akbar menjelaskan.
"Jad, nanti saya pulang sama pak Akbar?" tanya Vani.
"Pak Yudha bilang sih mau mengantar bu Vani sendiri nanti kalau meetingnya sudah selesai" jawab Akbar.
"Jadi, saya harus nunggu disini? Padahal saya sudah boleh pulang loh pak Akbar. Bagaimana kalau sekarang saja pak Akbar yang anterin saya pulang?" tanya Vani.
Akbar bergeming, perintah bosnya tidak seperti itu. Dia terlalu takut jika Yudha akan mengamuk jika menuruti keinginan Vani.
"Nanti saya tanyakan pak Yudha dulu ya, bu. Sekarang bu Vani istirahat saja dulu. Atau ibu butuh sesuatu? Biar saya belikan" kata Akbar.
"Nggak ada pak. Yasudah kita tunggu pak Yudha saja deh" pasrah Vani membuat kelegaan di hati Akbar.
.
.
__ADS_1
.