
Keluarga adalah rumah.
Tempat berlabuhnya hati yang letih
Orang tua adalah atapnya,
ayah sebagai pengayom, pemberi contoh terbaik yang akan ditiru oleh anaknya.
ayah bisa menjadi teman bermain, bisa menjadi lawan berdebat, bisa menjadi pemberi nasihat, dan terutama mereka menyayangimu.
ibu adalah teman terbaik bagi anak-anaknya.
chef terhandal bagi anggota keluarganya.
ditangan ibu, semua rahasia terdalam dari seluruh anggota keluarga tersimpan rapi dan tidak ada sedikitpun rasa khawatir untuk bocor.
suami adalah partner hidup, penguat hati, penuntun arah, partner paling kompak dan saling melengkapi.
letih dan lelahnya saat bekerja menjadi berkah.
dipundaknya terdapat beban berat untuk berusaha membahagiakan keluarga.
istri adalah sandaran hidup, tulang bengkok yang selalu mengingat kesalahan terkecil dari anggota keluarganya,
seperti siaran berita yang jarang didengarkan, suaranya selalu memekakkan telinga untuk selalu mengingatkan hal-hal yang remeh tapi penting.
dan akan terasa sangat rindu saat mereka merajuk dan terdiam.
anak-anak adalah tumpuan masa depan.
ditangannya, para orang tua menyimpan sejuta harapan agar menjadi yang terbaik dimasa depan.
penghibur saat hati dan raga ini lelah, penyemangat saat mentari mulai merangkak naik dan memaksa para orang tua untuk bekerja.
*****
Semalam Yudha tidur dengan sangat nyenyak. Sudah lama dia tidak merasa semudah itu untuk mengawali tidur hingga terjaga dengan hati yang gembira.
Selepas mengantar pujaan hatinya yang telah dimiliki orang, Yudha bergegas kembali pulang dan tertidur dengan lelapnya.
Pagi ini dia dihadapkan kembali dengan keadaan meja makan yang sepi. Hanya dia seorang yang duduk untuk menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh art nya.
Meja makan besar dengan delapan kursi itu nyatanya hanya terpakai satu, hanya ada dia sendiri yang duduk diatasnya
Hatinya kembali sunyi setelah merasa sedikit ramai semalam, dengan celotehan riang anak kecil dan suara manja khas wanita yang telah menjadi ibu.
Membandingkan kehidupannya sendiri yang bergelimang harta tapi jauh dari orang tua, bahkan saat papanya masih hidup.
Mamanya yang telah pergi meninggalkannya sendiri hingga kehilangan arah dan terjebak pada pergaulan bebas.
Dan mendapatkan pengganti ibu sambung yang sungguh tidak dapat disebut sebagai seorang ibu.
Mempunyai istri yang dia tahu sangat mencintainya, tapi tidak bisa meninggalkan karirnya. Sehingga hidup berjauhan meskipun selalu memberi kabar.
Dan tidak ada anak kecil yang bisa menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Ya!!
Yudha berada di titik terapuh dalam hidupnya.
Semua harta tentunya tidak bisa membeli kebahagiaan dihati.
Malah bila dibandingkan dengan kehidupan sederhana milik seorang Vani, dia menjadi sedikit iri.
Vani memiliki orang tua yang sayang dan peduli padanya. Suami yang mencintainya meskipun harus bekerja di tempat yang jauh.
Memiliki anak yang cerdas, lucu dan tentunya menambah warna dihidupnya yang dikelilingi cinta.
__ADS_1
Yudha merasa memang saat menjadi 'orang biasa' dulu saat papanya menghukumnya, malah dia merasa mendapat kebahagiaan yang tidak terbeli dengan uang.
Hidup bebas tanpa aturan sialan, bisa mencintai dan berdekatan dengan pujaan hatinya.
Dan kini dia merasa satu hal yang sangat disayangkannya sejak dulu, Yudha tidak mau berusaha untuk mendapatkan cintanya.
Mungkin jika dulu dia mau sedikit berusaha, maka sekarang hatinya tidak sehampa ini.
Suasana melow menghampiri hati Yudha sepagi ini. Mendadak hatinya menjadi sedih setelah semalaman merasa sangat bahagia.
Hingga satu notif dihapenya membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan dari Akbar, bahwasanya Jovan sudah menginvestasikan uangnya pada rekan Gina.
Yudha kini merasa apa perlunya dia melakukan semua ini? Toh dengan perjuangannya saat ini, tidak akan memungkinkan untuk mendapatkan Vani kembali.
Tapi dia tidak akan tega jika seandainya senyuman manis Vani akan hilang saat nanti mengetahui jika suaminya mencuranginya.
Dengan sedikit perdebatan antara hati dan logikanya, akhirnya dia memutuskan untuk tetap mengawasi Jovan demi menjaga senyuman manis dibibir Vani tetap ada.
Setelah selesai dengan sarapannya, Yudha beranjak akan pergi ke kantornya hari ini. Dengan perasaan sendu sedari tadi, menyebabkan dia sedikit oleng dan tidak konsentrasi hari ini.
Sembari melamun, dibelakang kemudi bundarnya dia melajukan mobilnya tanpa arah. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya kali ini.
Alih-alih pergi ke kantor, dia malah menuju tempat tinggal Vani. Ingin melihat kegiatan pagi wanita pencuri hatinya itu.
Agak sedikit jauh dia memarkirkan mobilnya agar tak ada yang melihat keberadaannya. Memandang ke arah rumah berpagar biru dengan hati hampa.
Si empunya rumah telah siap dengan motornya dan dua anak yang duduk di depan dan di belakangnya untuk bersiap pergi ke sekolah.
Sepertinya mereka agak tergesa karena beberapa kali terdengar suara Vani yang sedikit keras untuk memerintah anaknya supaya lekas.
"Ayo Varooo.... cepetan pakai sepatunya, nanti gerbang sekolahnya keburu ditutup... Vee cepetan ambil tasnya" terdengar suara Vani keras sambil mengeluarkan sepeda motornya.
Yudha melihat semua itu dengan senyum tipis dan hati iri. Sepertinya akan sangat bahagia jika dia bisa berada diposisi Jovan yang menjadi suami Vani.
Dia pastikan akan selalu ada disamping wanita berhijab biru itu untuk menemani segala aktivitasnya. Dan menjamin keselamatannya. Disertai celotehan anak yang pasti akan sangat seru jika setiap hari bisa mendengarnya.
Pelukan hangat dengan tawa gembira saat dia pulang kerja dengan buah tangan sederhana.
Terlihat mereka sudah siap dan segera akan berangkat. Karena tergesa, Vani juga tidak mengamati keadaan sekitarnya yang ternyata ada Yudha yang sedang mengamatinya dari tempat yang agak jauh.
Yudha masih mengekor mereka yang sedang mengendarai motor bututnya.
Saat akan menyebrang jalan, tiba-tiba ada pengendara lain yang menyerobot jalannya saat Vani bersiap menyebrang, dan menyebabkan motornya sedikit oleng dan mereka jatuh di jalanan, menyebabkan lalu lintas sedikit macet.
Yudha kaget, segera mendekat dan memarkirkan mobilnya di dekat tempat kejadian.
Segera keluar dan sedikit berlari menuju tempat Vani terjatuh.
Terlihat beberapa orang juga membantu mereka. Motor Vani sudah ditepikan, dan ketiga pengendaranya sudah terduduk di pinggir jalan.
Vee menangis dipelukan sang bunda, Varo berdiri tegak disisi bundanya dan diam tanpa ekspresi berarti.
Varo melihat kedatangan Yudha, "Papa Yudha ada disini?" tanyanya dan membuat Vani menggerakkan kepalanya mencari keberadaan Yudha, Vee masih menangis.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Yudha panik.
"Kita nggak apa-apa kok mas, cuma kaget aja. Nggak ada luka serius, kan tadi juga jalannya pelan".
Yudha berjalan mendekat dan menggendong Vee, mengambilnya dari pelukan bundanya. Vee juga tidak menolaknya, terlihat dia nyaman berada digendongan Yudha.
"Tangan kamu luka sayang" kata Yudha memperhatikan siku Vee yang berdarah.
Vani menjadi panik karena tidak menyadari itu. Tangan Varo berada dalam genggaman Vani.
Dan orang yang menabrak mereka tadi audah kabur entah kemana. Dasar tidak bertanggung jawab.
"Pak, tolong antarkan motor itu ke bengkel sebelah sana ya, nanti kuncinya titipkan saja sama yang punya bengkel, sore nanti saya ambil kalau semua sudah selesai" kata Yudha sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah kepada bapak-bapak yang ada di dekat motor Vani.
__ADS_1
Beruntung ada bengkel motor di dekat kecelakaan itu terjadi. Tentu saja bapak itu menerima dengan senang hati karena dirasa tidak ada kerusakan berarti dan pastinya sisa uang itu akan menjadi miliknya.
"Baik pak" ucap bapak berbaju orange itu segera mendorong motor Vani ke arah bengkel.
Orang-orang segera beringsut membubarkan diri satu persatu. Dan kondisi jalan sudah kembali lancar.
"Kita kerumah sakit dulu ya, kasihan Vee, takut terjadi apa-apa dengan tangannya" kata Yudha mendapat anggukan kepala dari Vani.
Merekapun menuju mobil mewah Yudha. Sisa orang-orang di jalan memandang kepergian mereka. Beberapa orang tang mengenal Vani bertanya-tanya, siapa pria tampan dan kaya yang menolong mereka? Sampai anaknya memanggilnya dengan sebutan papa? Karena setahu mereka, ayah Varo sedang bekerja diluar kota.
***
Didalam mobil, Vee masih sesenggukan dengan tangisnya yang mulai mereda. Lukanya tidak begitu serius, tapi Yudha tetap memaksa mereka ke rumah sakit.
"Mas Yudha kenapa bisa ada disana?" tanya Vani.
Yudha sedikit kelabakan, "Tadi kebetulan lewat saja disana, terus ngelihat kamu tiba-tiba jatuh yasudah aku datang deh" ucap Yudha berbohong.
"Benar begitu? kayak aneh aja kamu lewat sana, kan muter jalannya" Kata Vani.
"Ya terserah aku dong, kalau seandainya aku nggak lewa tadi kan nggak ada yang nolongin kamu" kata Yudha.
"Yaudah.. iya, makasih ya sudah datang nolongin kita. Baju kamu sampai kotor kena darah dari tangannya Vee itu"
"Udah nggak apa-apa, nanti aku bisa ganti di kantor, jas aku banyak, kamu nggak usah khawatir" Yudha masih bisa sombong.
"Iya tuan kaya raya" kata Vani sambil tersenyum.
Yudha senang bisa melihat senyuman itu. Seperti mentari pagi menghangatkan hatinya yang sendu, rasa sedih itu berkurang dengan adanya Vani dan anak-anaknya.
Membuat Yudha merasa nyaman dan merasa menjadi papa yang utuh dengan istri dan anak orang lain. Sial!!! Menyadari hal itu membuat hatinya kembali bersedih.
"Kamu jangan lupa ijin ke sekolah anak-anak lho, biar mereka nggak dikira bolos sekolahnya" kata Yudha mengingatkan Vani.
"Oh iya, kamu benar mas. Bentar aku telpon dulu"
******
Sesampainya dirumah sakit, Vee segera ditangani oleh perawat dan dokter jaga di ugd. Memang tidak ada luka serius, tapi Vee harus mendapat dua jahitan di sikunya. Membuat tangisan kembali terdengar meskipun proses penjahitan kulit itu sudah selesai.
Vani terlihat pucat dan duduk di kursi tunggu, masih setia didampingi Varo. Sementara Yudha menemani Vee di dalam ruang tindakan dengan para perawat dan dokter.
Sayup-sayup terdengar beberapa perawat wanita masih sempat mengomentari ketampanan Yudha yang hakiki. Banyak pujian terlontar dari mulut para perawat yang terdengar di telinga Vani yang memejamkan matanya.
"*Pantesan anaknya ganteng, papanya keren banget sih"
"papa ideal banget, nemenin putrinya sabar banget di dalem tadi aku lihat putrinya nangis sambil pukul-pukul papanya padahal"
"aduuhhh.... meskipun agak gondrong tapi kelihatan rapi banget yaa, berkelas, tipeku banget deh yang kayak gitu*"
Dan masih banyak pujian dari para kaum hawa melihat ketampanan pria yang dulu sangat dicintai juga oleh Vani.
*****
Beberapa jam berlalu, Yudha sudah keluar dari ruang tindakan. Vee masih tidak mau turun dari gendongan Yudha.
Yudha berjalan ke arah Vani yang menunggu. Dan dia menjadi sedikit panik karena teringat bahwa Vani pobhia jika melihat darah.
Terlihat wajah Vani pucat dan matanya terpejam. Kembali Yudha memanggil para perawat untuk menangani Vani.
Vani yang tersadar menolak untuk dirawat dan hanya meminta minum untuk meredakan rasa mualnya.
************
Tolong pembaca yang budiman untuk memberi like dalam cerita ini yaa...
Please .. jadilah reader yang budiman...
__ADS_1
biar semangat kami para othor meningkat
Terimakasih