
Jovan dan Vani tiba bersamaan di rumahnya. Mereka bertemu di gang depan dan bersama masuk menuju rumah.
Vani dengan sumringah ingin segera memberitahukan pada suaminya mengenai masalah uang.
Sedangkan Jovan yang masih bingung ingin mendapat support dari istrinya.
"Yah, aku mau ngomong sesuatu sama kamu". kata Vani saat mereka bersama duduk di teras rumahnya.
"Apa bun?" tanya Jovan lesu.
"Tadi aku bilang sama bosku, kalau aku butuh uang untuk membayar hutang. Dan aku meminjam pada bosku itu pa, ternyata beliau setuju meminjami sebanyak seratus juta itu pa" kata Vani bersemangat.
"Bagaimana bos kamu bisa langsung setuju bun? uang segitu kan banyak sekali" kata Jovan.
"Dia kan kaya raya yah. Uang seratus juta hanya seperti sepuluh juta saja bagi mereka. Jadi, ayah mau kan menerima uang pinjaman itu?" kata Vani.
"Bagaimana cara kita membayarnya bun?" tanya Jovan.
"Aku sudah bilang sama bosku supaya bayarnya bisa potong gaji, atau bisa juga kan ayah nambahin tiap bulannya biar cepat lunas? Yang penting masalah ini bisa cepat selesai aja dulu yah" kata Vani.
Jovan malu pada diri sendiri, dia malah membuat istrinya ikut menanggung masalah yang sedang dihadapinya.
Melihat suaminya hanya terdiam, Vani sadar jika suaminya itu merasa tidak enak padanya.
"Sudahlah yah, kita kan suami istri. Sudah seharusnya kita saling bantu tiap ada masalah. Selama kita menjalani bersama, pasti akan menjadi mudah kan?" Kata Vani meyakinkan suaminya.
Jovan tersenyum, begitu beruntung mempunyai istri pengertian seperti itu. Diapun memeluk sayang pada istrinya.
"Makasih ya bun. Ayah janji pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan kalian kedepannya" kata Jovan.
"Iya yah, selama kita selalu terbuka dalam setiap hal. Jangan lagi ayah melakukan sesuatu yang besar tanpa kita diskusikan dulu ya yah" kata Vani masih dalam dekapan Jovan.
"Makasih sudah mau maafin ayah. Selanjutnya, semoga semua masalah ini bisa segera selesai ya bun" kata Jovan. Vani mangangguk masih dalam dekapan suaminya.
"Oiyah yah, besok sepertinya ayah harus mulai masuk kerja ya. Kan nggak enak juga kalau kelamaan liburnya" kata Vani sambil mengurai pelukan.
"iya, ayah rasa juga seperti itu".
"Besok akan kubicarakan lagi dengan bosku ya yah. Semoga uangnya bisa segera dicairkan. Aku sih percaya bosku itu tidak akan main-main dengan ucapannya" kata Vani.
"Iya bun, sekarang bantu aku berkemas ya" kata Jovan.
Merekapun memasuki rumah dan bersiap untuk mengemasi keperluan Jovan di tempat kerjanya.
************
Keesokan harinya, setelah pagi-pagi sekali vani melepas kepergian suaminya untuk bekerja, dia sendiri bersiap untuk rutinitas hariannya.
Membangunkan si kecil untuk pergi sekolah, dan dirinya sendiri akan bekerja nantinya.
"Ayo sayang, bangun" kata Vani membangunkan anaknya.
__ADS_1
"Iya bun" Vee yang rajin langsung berusaha duduk mengumpulkan energi.
Sedangkan untuk membangunkan Varo, dibutuhkan waktu lebih lama sampai anak laki-laki itu terbangun.
Setelah mempersiapkan semuanya, mereka sarapan bersama. Dengan menu roti isi daging kesukaan Vee.
"Ayah sudah berangkat ya Bun?" tanya Vee.
"Sudah sayang, ayah sudah berangkat sejak pagi tadi" kata Vani.
"Yaahh... padahal kan masih kangen ya kak?" tanyanya pada Varo.
"Iya, ayah kapan sih libur panjang bun? kita pingin jalan-jalan bareng" kata Varo.
"Semoga saja bisa secepatnya ya, kalian yang sabar ya" kata Vani membelai rambut kedua anaknya.
"Yasudah, cepat habiskan makannya. Kita segera berangkat sekolah" kata Vani.
"Iya bun" jawab keduanya kompak.
Seperti biasanya, setelah mengantar anak-anaknya sekolah, Vani juga harus berangkat setelahnya.
Dia menghibungi Yudha untuk bertemu, dan pria itu menyanggupi. Jadi hari ini Vani berangkat agak lebih awal.
"Vani pamit ya bu" kata Vani menyalami punggung tangan ibunya.
"Tumben agak pagian?" tanya ibunya.
"Waalaikumsalam, hati-hati" kata ibunya.
Beberapa saat berlalu, dia sampai di tempat kerjanya. Ternyata Yudha masih belum datang. Satu notif pesan datang di ponselnya.
..."Aku sedikit terlambat, jalanan sedang macet"...
^^^Yudha^^^
..."oke"...
Vani
Jadilah Vani menunggu kedatangan bosnya. Sambil berbenah toko agar nanti sudah siap saat alan memulai bekerja.
Sampai jam delapan Yudha baru sampai. Dia memohon maaf atas keterlambatannya, dan mengajak Vani berbicara di ruangannya.
"Oke, jadi apa keputusan kamu?" tanya Yudha langsung pada pokoknya, tanpa basa-basi.
"Aku sudah diskusikan dengan suamiku sih mas, terus dia bilang setuju untuk meminjam sama bosku. Kamu nggak berubah pikiran dengan yang sudah kita sepakati kan?" tanya Vani.
"Hahaha, tentu saja tidak Vani... Aku bisa kirim sekarang juga kalau kamu tidak percaya" kata Yudha.
"Bukannya gitu mas, kan ini urgent banget. Dan kamu harapan aku biar bisa lepas dari jeratan hukum nantinya" kata Vani.
__ADS_1
"Iya aku ngerti, jadi aku transfer saja atau bagaimana?" tanyanya.
"Hadeh, kenapa nggak kepikiran ya. Kalau transfer sepertinya nggak cukup satu hari kan mas? Secara atm kami ada limitnya, nggak kayak atmnya mas Yudha yang tanpa batas" kawab Vani membuat Yudha tergelak.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Vani heran.
"Yasudah, biar aku suruh orang untuk mengantar uangnya ke suami kamu ya?" tanya Yudha.
"Hah?"
"Jangan deh mas, itu akan membuatku semakin merepotkanmu" kata Vani.
"Tidak apa-apa. Katakan saja dimana alamatnya, biar nanti diantar saja" kata Yudha memaksa.
Sebenarnya ada alasan lain sampai Yudha rela mengantar uang untuk rival hatinya. Jangan sampai diketahui Vani tentunya.
"Baiklah, aku tanyakan Jovan dulu" kata Vani sambil mengirim chat pada suaminya untuk menanyakan alamat suaminya di kota pesisir.
ting!!
Satu notif pesan berisi alamat tempat tinggal Jovan sudah didapat.
Vani memberitahukan pada Yudha.
"Oke, nanti siang pasti suami kamu sudah mendapatkan uangnya" kata Yudha.
"Makasih ya mas, aku nggak tahu lagi kalau nggak ada kamu bakalan seperti apa jadinya" Vani merasa tidak enak karena selalu merepotkan Yudha.
"No, it's ok. Anggap saja demi anak-anak" kata Yudha sambil tersenyum manis.
Vani menyadari masih ada getaran bahagia dengan segala kebaikan Yudha. Dan senyuman yang tidak pernah berubah, selalu memberi kenyamanan tersendiri di hati kecil Vani.
"Andai takdir menyatukan kita, mungkin kita akan bahagia, atau mungkin malah akan menderita karena ketidaksetujuan keluarga kamu mas" Vani membatin dengan senyumannya.
"Andai kita bersama, mungkin aku akan merasa ketenangan hati dengan buah cinta kita Van. Atau malah akan lebih menderita karena campur tangan keluargaku" suara hati Yudha.
"Mas"
"Van"
Ucap mereka bersamaan, lalu sama-sama canggung.
"Apaan sih kayak abg, mas Yudha aja dulu mau ngomong apa?" tanya Vani.
"Nggak deh, kamu aja dulu mau bicara apa?" tanya Yudha.
"Kan ladies first" lanjutnya.
"Nggak apa-apa sih mas, aku cuma mau bilang makasih atas semua bantuan kamu ke aku. Aku nggak tahu harus dengan apa caranya berterima kasih" kata Vani.
"Iya sama-sama. Aku pasti selalu ada buat kamu, jika memang kita tidak akan pernah bersama, setidaknya biarkan aku merasa menjadi papa dengan menganggap anak-anakmu seperti anakku sendiri. Jadi, jangan pernah halangi aku untuk menyayangi mereka" kata Yudha.
__ADS_1
Mata Vani berkaca-kaca karena merasa terharu atas ketulusan hati Yudha. Sedikit saja lagi, pasti air matanya akan lolos dari kelopak matanya.