
Yudha kembali setelah Vani dan Dewi selesai malaksanakan solat dhuhur. Vee sangat manja pada Yudha, dia selalu minta gendong olehnya sedangkan Varo si pendiam itu sangat irit bicara.
"Assalamualaikum bunda, Vee sudah kembali" kata Vee dengan suara cemprengnya.
"Waalaikumsalam, uwah sudah datang ya" sambut Vani.
"Ini, saya bawakan makan siang buat kalian berdua. Makanlah dulu, biar saya jagakan tokonya" kata Yudha.
"Eh, jangan pak. Biar saya gantian saja makannya sama mbak Vani. Takutnya nanti bapak kerepotan kalau tiba-tiba tokonya ramai" kata Dewi.
"Kamu meragukan saya?" tanya Yudha.
"Bukannya gitu mas, memang kan kondisi ramainya toko tidak bisa ditebak. Biasanya setelah makan siang, banyak yang datang untuk sekedar membeli camilan. Kamu yakin mau jagain toko?" tanya Vani.
"Yakin dong, kamu jangan meremehkan kemampuan saya ya" kata Yudha.
"Yasudah, terserah kamu saja. Yuk Dew, kita makan bersama" kata Vani mengajak Dewi ke gudang, tempat biasanya karyawan makan dan Sholat. Ada tempat khusus juga disana, meskipun agak sempit.
Vani dan Dewi memasuki gudang, kemudian menutupnya kembali. Varo ada bersama Vani, sedangkan Vee selalu lengket dengan Yudha, bocah kecil itu mau menemani papa Yudha katanya.
Belum sepuluh menit Vani dan Dewi masuk, memang benar-benar ada beberapa customer datang secara tiba-tiba dan bersamaan. Yudha sempat kaget juga karena suasana mendadak ramai.
Setelah beberapa lama memilih barang, mereka mulai antri untuk membayar di kasir. Suasana kian riuh, banyak yang tidak sabaran.
"Semuanya 23.000 rupiah, bu" kata Yudha.
"Memangnya saya sudah seperti ibu-ibu ya mas? Yang benar saja dong" kata seorang wanita yang tidak terima dipanggil ibu.
"Oh iya, maaf mbak" kata Yudha berusaha sabar.
"Masnya aneh, pakai setelan jas malah cuma jadi kasir" ucap customer wanita lainnya.
Yudha hanya diam, lalu membuka jasnya dan diletakkan di senderan kursinya.
"Mas ganteng, kok aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya sih. Kalau tahu ada kasir seganteng kamu, aku pasti bakalan tiap hari kesini" ucap seorang wanita dengan pakaian minim dan seksi, dengan suara yang dibuat mendayu-dayu, dia menggoda Yudha secara terang-terangan.
Yudha hanya tersenyum ramah.
"Totalnya 2500 rupiah" kata Yudha pada seorang pria yang membeli es krim. Pria itu membayar dengan uang seratus ribuan.
"Ada uang pas pak" tanya Yudha.
__ADS_1
"Tidak ada" jawab pria itu.
"Kalau begitu lima ribu saja" kata Yudha lagi.
"Tidak ada" jawab pria itu lagi.
"Anda cuma mau tukar uang ya?" tanya Yudha.
Tentu pria itu tidak terima, "Kalau nggak boleh beli yasudah, saya kembalikan" kata pria itu marah.
"Ambil saja gratis buat orang ruwet semacam kamu" bentak Yudha.
Tapi orang itu malah tertawa riang, dia membawa es krimnya dan juga uangnya. Tanpa kata pria itu pergi.
"Dasar orang aneh" kata Yudha.
Cukup lama dia bergelut dengan aneka ragam customer, kini dia jadi merasa salut pada Vani dan Dewi yang bisa dengan sabar meladeni beraneka macam orang setiap harinya.
Pria itu duduk di kursi kasir, bersender dan memejamkan matanya. Cukup merepotkan!
Tak lama Vani sudah kembali bersama Dewi dan juga Varo. Wanita itu menghampiri Yudha yang terpejam setelah melayani banyak customer.
"Enggak kok, cuma merem aja" jawab Yudha.
"Vee kemana mas?" tanya Vani lagi.
Yudha terkejut, dia menoleh ke kanan dan kiri. Daritadi memang dia merasa aneh, tidak ada suara cerewet Vee yang biasanya tidak mau diam.
"Hah, kemana ya?" tanya Yudha lebih pada diri sendiri.
"Ya Allah mas, Vee hilang ya?" tanya Vani panik, membuat Yudha ikut merasa panik juga.
"Maaf, tadi cukup banyak yang datang. Aku terlalu fokus pada pelanggan, sampai tidak begitu memperhatikannya" kata Yudha.
"Mas Yudha ini gimana sih, tadi kan sudah kita tawarkan untuk gantian jaga saja. Kamu malah maunya jaga sendiri. Aku nggak meragukan kemampuan kamu, cuma sekarang Vee malah hilang. Terus gimana dong?" tanya Vani sedikit marah, air matanya mulai tumpah. Ibu mana yang tidak panik saat mengetahui anaknya hilang.
"Iya, maafin aku ya. Sekarang aku cari dia keluar, kamu mau ikut atau tunggu disini?" Yudha menawari Vani.
"Aku ikut saja" jawab Vani.
"Varo, kamu disini dulu ya nak sama tante Dewi. Jangan kemana-mana" kata Vani pada putranya, dia hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dew, titip Varo sebentar ya, aku mau nyari Vee. Tolong jangan sampai hilang juga ya" kata Vani menyindir Yudha uang merasa sangat bersalah
Vani berlalu, meninggalkan Yudha yang merasa serba salah. Wanita itu mencari di sekitaran toko, sedangkan Yudha mencari ke lantai atas terlebih dahulu.
Setelah yakin bahwa Vee tidak ada di dalam toko, Yudha bergerak keluar. Pria itu mencari hingga ke jalan raya.
Dia melihat Vani berjalan ke sebelah kanan, diapun berinisiatif ke sebelah kiri. Pria itu berjalan menyusuri jalan raya yang cukup ramai.
"Bagaimana jika tiba-tiba Vee berlari menyebrang jalan, atau terjatuh ke selokan yang dalam, atau malah dibawa oleh orang asing?" benak Yudha berfikiran yang tidak-tidak.
Tapi pria itu terus berusaha mencari hingga memasuki gang di sekitaran sana. Berharap Vee tidak pergi terlalu jauh.
Sekitar setengah jam dia menyusuri gang kedua, dia melihat ada sebuah gazebo di pertigaan jalan. Gazebo yang biasa digunakan untuk ronda rupanya.
Ternyata ada seorang laki-laki tua dengan pakaian lusuh, memakai ikat kepala dari sorban. Dengan tongkat kayu ditangannya. Sedang duduk santai bersama gadis kecil yabg terlihat antusias mendengar penuturan sang pria tua.
Yudha mengucek matanya berulang kali, dia tidak salah lihat. Gadis kecil itu adalah Vee, anak yang sedang dicarinya.
Dengan terburu-buru, Yudha menghampiri Vee dan orang tua itu. Dia langsung duduk bersama keduanya setelah sampai. Napasnya sampai ngos-ngosan, efek usia mungkin yang membuatnya tidak cukup kuat untuk berjalan terlalu cepat.
"Papa Yudha kesini juga?" tanya Vee ceria seperti biasanya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Yudha.
"Aku lagi dengar kakek cerita" kata Vee.
"Kakek, lanjut ya yang tadi" Vee meminta orang tua itu untuk bercerita lagi.
"Nanti kapan-kapan kita bertemu lagi. Kamu jangan bandel ya, dengarkan kata orang tua kamu" kata kakek itu sambil mengelus rambut curly milik Vee.
"Iya kakek, janji nanti ketemu lagi ya" kata bocah itu dengan senyum tulus.
"Kamu jaga anak ini dengan baik, saya lihat ada kemampuan unik dari dalam dirinya. Bicaranya akan didengarkan, intuisinya selalu mendekati benar. Jaga dengan baik anak ini, tuntun ke arah yang benar. Masa depannya baik, namun banyak sekali halangannya" kata kakek itu
Yudha hanya mengangguk, dia bukan tipe orang yang percaya tahyul semacam itu.
.
.
.
__ADS_1