Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
kecelakaan


__ADS_3

"Hati-hati ya pak, ibu, nginap berapa hari itu ziarahnya?" tanya Vani. Bapak dan ibunya akan melakukan perjalanan ziarah ke makam-makam wali, biasalah, bapaknya Vani itu sangat aktif di kegiatan organisasi keagamaan.


"Satu minggu nduk, kamu jaga cucu-cucunya ibu dengan baik ya. Jagain juga calon cucu kembarnya, doakan kami selamat sampai pulang nanti ya" kata ibu Vani sambil mengelus perut Vani yang sudah sangat buncit, padahal usia kandungannya masih enam bulan.


"Pasti dong bu, pasti Vani doakan ibu dan bapak. Vani juga pasti jagain anak-anak, ibu yang khusus ya kalau berdoa nanti. Vani nitip brem ya bu kalau mampir di Madiun" kata Vani yang tiba-tiba ingin merasakan kelumeran makanan khas Madiun yang terbuat dari bahan dasar tape itu.


"Belum apa-apa sudah ngidam nih, kalian lagi ingin makan brem ya?" tanya ibu Vani pada perut Vani, seolah buncitnya perut itu bisa mendengar ucapan neneknya.


Tiba-tiba perut Vani bergerak, "Uwah, mereka bergerak, bu. Sepertinya mereka benar-benar ingin makan brem, hehehe" kata Vani dengan gelak tawa kebahagiaan.


"Iya, nanti eyang uti bawakan brem ya buat kalian" kata ibu Vani yang masih saja mengelus permukaan perut buncit yang berisi janin kembar itu.


Vani mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, lali beralih mencium punggung tangan bapaknya.


"Bapak juga hati-hati ya, jaga diri baik-baik, jagain ibu juga" kata Vani mengiringi kepergian kedua orangtuanya.


"Iya, nduk. Nanti kami video call ya" kata bapak Vani yang beberapa bulan yang lalu mendapatkan hadiah ponsel baru dari Yudha.


"Iya pak, Varo dam Vee pasti juga ingin pergi kalau bapak sama ibu nanti melakukan video call" kata Vani membayangkan cemberutnya Vee yang tidak diajak kakek dan neneknya jalan-jalan.


"Yasudah, busnya sudah menunggu di depan gang sepertinya. Kami berangkat dulu ya, nduk. Assalamualaikum" kata Ibu Vani.


Kedua orang tua yang masih terlihat romantis di usia senjanya itu berangkat menggunakan bus untuk ziarah kubur, seperti yang sering dilakukan oleh warga sekitar tempat tinggal Vani yang memang masih kental suasana agamisnya.


Vani kembali memasuki rumahnya setelah memastikan kedua orang tuanya tak terlihat dari pandangannya.


Jam masih menunjukkan pukul lima pagi, masih terlalu dini untuk membangunkan anak-anaknya untuk bersekolah.


Jadilah dia melakukan pekerjaan rumah agar nanti siang dia rebahan dan bersantai.


★★★★★


"Tinggal ngelipat baju kak, bantuin bunda mau nggak?" tanya Vani pada anak pertamanya, dia sedang membawa tumpukan baju kering yang baru saja diambil dari jemuran untuk ditaruh didepan televisi.


"Boleh bun" kata Varo yang ikut duduk dikarpet didepan TV.


"Sambil lihat TV ya, Bun" kata Varo yang telah menghidupkan TV, entah mau melihat acara apa, hanya ingin menghilangkan suasana sepi dirumah itu.


"Sebuah bus yang sedang mengangkut rombongan para peziarah dari kota Dingin dikabarkan telah mengalami kecelakaan maut di ruas tol yang menuju Surabaya" Kata seorang penyiar berita breaking news yang kebetulan dilihat oleh Vani.


Vani sangat terkejut, 'Kota Dingin kan disini, mungkin nggak sih kalau busnya yang membawa ayah?" tanya Vani dalam hati.


Pikirannya mulai dipenuhi oleh hal-hal yang buruk. Tapi dia tetap berusaha tenang dan melanjutkan mendengat berita yang sedang dilihatnya.


"Bus yang mengangkut lebih dari Empat puluh orang itu telah menabrak pembatas jalan. Dikabarkan kecelakaan terjadi akibat sopir yang mengantuk. Karena sampai berita ini diturunkan, sang sopirpun ditemukan tewas mengenaskan terjepit badan depan bus".


"Kecelakaan terjadi sore ini, pukul 16.30 WIB. Bus Mentari Jaya, yang mengangkut para peziarah sebelnya sudah menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum berangkat, dan pihak travel bisa memastikan jika bus berada dalam kondisi yang prima"


"Jadi, bisa dipastikan jika kecelakaan terjadi karena sopir yang mengantuk. Tapi untuk lebih jelasnya, bisa kita tunggu pengumuman resminya dari pihak kepolisian yang masih terus menyelidiki kasus ini"

__ADS_1


"Sedangkan untuk para korban, bisa dilihat update terbarunya di situs resmi kepolisian. Atau bisa langsung mendatangi rumah sakit umum Kota Surabaya. Terimakasih" kata Penyiar berita mengakhiri informasinya.


Seketika Vani merasa lemas, itu adalah bus yang orang tuanya tumpangi kemarin saat mengikuti ziarah.


"Bunda kenapa nangis?" tanya Varo bingung.


"Boleh minta tolong ambilin hape bunda di kamar, nak?" tanya Vani dengan isakan, dia mulai ketakutan.


"Iya, bun" kata Varo.


Hanya sekejap menunggu, Varo telah datang dengan hape Vani.


"Ini, bun" kata Varo.


"Terimakasih, nak" kata Vani setelah mendapatkan ponselnya.


Segera dia menghubungi Jovan, dia ingin suaminya tahu kabar ini dan mencari informasi.


Tapi beberapa kali melakukan panggilan, teleponnya tidak juga diangkat.


Dalam keadaan bingung, malah Vani terpikirkan Yudha. Pasti laki-laki itu bisa membantunya.


Vani mendial panggilan untuk Yudha, dan langsung diterima.


"Ada apa, Van?"


tanya Yudha, pria itu khawatir karena mendengat isakan dari panggilan Vani.


tanya Vani.


"Tentu, ada apa?"


tanya Yudha.


"Barusan aku lihat berita di TV, ada kecelakaan dari bus jurusan Surabaya. Dari namanya, sepertinya itu bus yang ditumpangi oleh orang tuaku"


Vani menjeda ucapannya karena harus menahan isak tangis.


"Aku sudah berusaha menghubungi Jovan agar mencari informasi, tapi hapenya nggak bisa dihubungi, mas.. Hiks. hiks..."


Vani menangis di sela ucapannya.


"Tenang ya, kamu harus tenang. Ingat, kamu sedang hamil. Jangan sampai terjadi sesuatu sama kehamilan kamu. Biar aku yang cari informasinya buat kamu. Kamu tenang, aku ke rumah kami sekarang juga"


kata Yudha yang lebih khawatir pada kehamilan Vani, yang diperkirakan adalah anaknya.


"Iya, mas. Makasih ya"


Vani mengakhiri panggilannya dengan masih menangis. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bunda kenapa sih?" tanya Varo tang melihat bundanya masih terisak.


Vani hanya menggeleng, tak tahu bagaimana caranya mengatakan hal itu pada Varo. Untung saja Vee sedang tidur, jadi masih sedikit aman karena anak itu sangat suka bertanya.


Tiga puluh menit berlalu, Yudha benar-benar datang untuk menemani Vani dirumahnya. Dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada kehamilan Vani, yang sukses membuatnya semakin kurus karena diperkirakan Yudha mengalami sindrom kehamilan simpatik.


"Mas Yudha, gimana? Sudah dapat kabar?" tanya Vani yang langsung menyergap Yudha tanpa mempersilahkannya untuk masuk terlebih dahulu.


"Akbar masih mencari tahu. Kamu tenang ya, sekarang kita berdoa semoga itu bukan bis yang membawa rombongan orang tua kamu" kata Yudha menenangkan Vani.


Vani masih menangis, dia berdiri sambil menuntun tangan Varo berdiri di sampingnya.


"Ayo masuk dulu" kata Yudha yang kasihan melihat Vani terus berdiri.


Yudha berjalan sambil merangkul pundak Vani yang terus saja naik turun karena isakannya.


"Mas, bagaimana kalau orang tuaku jadi korbannya juga?" tanya Vani disela tangisannya.


"Sudah, kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak ya. Tenang, berdoa saja sebanyak mungkin" kata Yudha yang terus saja memantau ponselnya yang belum juga mendapat kabar dari Akbar.


Hampir tiga puluh menit berlalu, akhirnya Akbar memberi kabar juga.


Melalui email, dia mengirim nama-nama korban kecelakaan bus yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Vani menangis histeris saat mendapati kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan.


Sementara ponsel Jovan tak kunjung bisa dihubungi karena dia sedang sibuk mendapatkan servis dari istri keduanya.


Gina memang sengaja melakukan itu agar Vani bertambah sedih karena tidak ada orang terdekatnya untuk melalui saat-saat menyedihkan seperti ini dalam hidupnya.


Dia belum tahu saja jika ada orang lain yang masih mau menghibur Vani, menyiapkan bahunya untuk tempat Vani bersandar disaat terpuruk seperti ini.


★★★★★


Jovan baru mengecek ponselnya esok hari, saat Vani sudah berhasil memulangkan jasad kedua orang tuanya dengan cepat atas bantuan Yudha.


Betapa terkejutnya pria itu saat mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dari Vani, dan yang paling mengejutkannya adalah berita bahwa kedua mertuanya menjadi korban kecelakaan.


Lagi, dia merasa menjadi pria tak berguna karena lagi-lagi Yudha yang berada disisi istrinya dan membantunya sampai sejauh ini.


"Kamu kenapa nggak kasih tahu aku kalau ada telepon sih, Gin?" tanya Jovan geram karena sejak kemarin istrinya itu mengambil alih ponselnya dengan dalih tidak mau diganggu.


"Mana aku tahu, sayang. Kan ada di dalam nakas" kata Gina mengelak.


Segera Jovan pergi, dia akan pulang ke rumahnya setelah mendapat izin dari atasannya nanti.


Dia sangat bingung kali ini, apa yang akan dia jadikan alasan untuk Vani karena sejak kemarin dia tidak mengabaikan pesan darinya


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2