
Setelah berpikir berkali-kali, Vani akhirnya menceritakan hal yang sebenarnya telah Yudha ketahui sebelumnya mengenai kegagalan Jovan, dan tentunya masalah lain yang sedang menunggu datang untuk Vani dan keluarganya. Tapi untuk hal itu, Yudha masih belum menceritakannya pada Vani.
Biarlah nanti Vani akan berlari padanya saat rencana Gila Gina itu terjadi, dan Vani akan menganggap Yudha sebagai pelindung sebenarnya bagi Vani. Dan Yudha tidak sabar menantikan hal itu terjadi.
"Jadi menurut kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yudha setelah Vani bercerita tentang masalah keluarganya.
"Aku juga masih belum tahu mas, aku kaaihan lihat Jovan terpuruk seperti itu. Bukan salahnya jika memang harus ada kegagalan. Tapi dengan nominal sebegitu besar, darimana kami bisa mendapatkannya secepat waktu yang ditentukan. Aku kasihan sama anak-anak kalau sampai ayahnya masuk bui" kata Vani dengan mata berkaca-kaca.
Kelemahan Yudha yang baru adalah melihat kesedihan mendalam di mata Vani yang biasanya berbinar. Apapun akan Yudha lakukan, tapi setelah Vani memintanya.
"Boleh nggak aku minta pertolongan mas Yudha?" akhirnya kata tolong itu terlontar dari mulut Vani, tentunya Yudha sudah sangat menantikannya.
"Apa?" jawabnya singkat.
"Aku sebenarnya boleh nggak pinjam uang dari mas Yudha, nanti aku boleh nyicil gitu bayarnya. Boleh deh kerja tanpa bayaran biar bisa cepat lunas" kata Vani lirih sambil menunduk.
"Tapi kalau mas Yudha keberatan nggak apa-apa kok, memang nggak seharusnya aku ngerepotin mas Yudha dari masalah yang kami hadapi" kata Vani cepat karena melihat Yudha yang hanya diam tanpa tanggalan sebelumnya.
"Kamu ini apaan sih Van. Tentu aku pasti bantuin apa saja masalah yang berhubungan sama kamu" jawab Yudha tulus.
Vani mendongak karena ucapan Yudha. Tidak percaya bahwa pria itu akan menyetujui permintaannya secepat ini. Vani kira akan membutuhkan banyak waktu untuk meminta bantuan darinya.
"Mas Yudha serius" tanya Vani lagi.
"Kamu lihat ada kebohongan dariku?" tanya Yudha mantap.
Dan memang tidak ada kebohongan dari mata Yudha, pria itu terlihat tulus.
"Aku pasti akan bekerja dengan giat agar bisa segera melunasi hutang itu mas. Pasti" kata Vani dengan sedikit senyuman.
"Ya, tentu. Tapi sepertinya akan lebih baik jika kamu diskusikan dulu dengan suamimu. Dan jika dia menyetujui, maka secepatnya hubungi aku. Pasti aku bantu kamu semampuku" kata Yudha.
"Terimakasih mas, atas semua yang selama ini kamu lakukan. Aku sangat beruntung bisa bertemu kamu lagi" kata Vani tulus.
"Iya, nanti kamu hubungi aku lagi. Kamu jangan lupa kalau sekarang aku laya raya, bukan Yudha yang dulu dekil, hitam dan kumel lagi" kata Yudha dengan tawa renyahnya.
Tawa yang tetap tampan di usianya yang sudah lebih dari 40 tahun. Tawa dari bibir yang sama seperti saat Vani melihatnya dulu. Bedanya, sekarang Vani hanya sesekali saja melihat tawa renyah penuh ejekan itu datang dibibir Yudha.
Sesaat Vani menyesal, menyalahkan takdir yang memisahkan mereka berdua dengan alasan klise. Alasan status sosial yang benar-benar menjadi momok bagi para pasangan beda alam sepertinya dan Yudha.
__ADS_1
Tapi kini menyesal bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang istri sekaligus ibu dari dua anak seperti Vani.
Takdir tidak siapapun tahu, sekeras dan segigih apapun kita perjuangkan, jika memang bukanlah takdir kita, maka tidak akan pernah kita bisa menggenggamnya.
Berusaha ikhlas dan menerima dengan lapang dada, akan membuat hidup berjalan dengan lebih baik dan lebih bahagia.
Sesaat rasa itu muncul lagi, dia tetaplah dia. Yudha yang tidak bisa Vani miliki bahkan dipertemuan mereka yang kedua ini.
Dia tetaplah dia, Yudha yang masih berusaha melindungi Vani dengan caranya sendiri. Satu pelajaran yang Vani dapatkan, sejauh dan selama apapun berpisah, rasa cinta dan sayang di dalam hati seseorang yang setia pasti tetap sama, takkan berubah.
Dan itu yang terjadi pada Yudha, raganya memang milik orang lain, tapi hatinya tetap terpaut indah untuk Vani. Wanita yang juga sudah dimiliki pria lain.
Hidup kadang tak adil oleh pemikiran manusia, tapi percayalah semua itu adalah yang terbaik menurut tuhanmu. Suatu saat nanti pasti kau akan mengetahui hikmah dibalik semua peristiwa yang kau rasa menyakitkan.
Percayalah tuhan selalu menguji hambanya selama nafas masih ada.
***********
Vani pulang dengan wajah yang sudah tidak semuram pagi tadi. Ada harapan untuk penyelesaian dari semua masalah yang sedang dihadapi suaminya.
"Assalamualaikum, bunda pulang" Vani uluk salam dan segera mencari keberadaan suaminya.
"Ayah kemana kak?"
"Tadi keluar bun, abis jemput aku sama adek dari sekolah, terus berangkat lagi. Nggak tahu kemana" kata Varo menjelaskan.
"kemana ya ayah?" Vani membatin.
"Yasudah, bunda mandi dulu kak. Kakak sudah makan?" tanya Vani.
"Sudah Bun, uti yang bikinin makanan tadi siang" jawabnya.
Vani mengangguk sambil berjalan kedalam rumahnya, sambil menggandeng tangan Varo yang berjalan disampingnya.
*******************
Sementara Jovan ternyata sedang menemui Gina di Cafe langganan mereka dulu, sampai sekarang sebenarnya.
Wanita itu mengaku cemas dengan keadaan Jovan, dan memaksa ingin bertemu setelah mengaku bahwa dia sampai rela ijin untuk bisa menemui Jovan di kota Dingin ini.
__ADS_1
Dengan berat hati, Jovan tidak bisa menolak permintaan orang yang mengaku sahabatnya itu, yang malah memintanya menjadi istri keduanya dengan iming-iming akan memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan oleh Jovan.
Pria beranak dua itu sampai tak habis pikir dengan kelakuan wanita yang sedang duduk santai dihadapannya ini.
Apa yang menyebabkan sahabat baiknya ini bisa dengan tidak tahu malunya sampai mengatakan ingin menjadi istri keduanya?
Ya! Disinilah Jovan kali ini.
Duduk berdua berhadapan dengan Gina yang menghubunginya beberapa saat yang lalu.
Sampai setengah jam berlalu, tidak ada satu katapun terlontar dari bibir Jovan untuk memulai percakapan dengan Gina. Sudah terlalu jengah dengan masalahnya sendiri, malah wanita satu ini menambah masalah saja.
"Mau sampai kapan kamu cuma diam saja Jo?" tanta Gina memulai percakapan.
"cg!! mau kamu sebenarnya apa Gin?" tanya Jovan tegas.
Dijawab seperti itu sebenarnya Gina tahu bahwa dia sedang bad mood. Tapi urat malunya sudah terlanjur putus alih-alih berkedok cinta.
"Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku sudah menaruh rasa buat kamu sudah dari dulu Jo, sejak kita sama-sama masih SMA. Tapi kamu terlalu buta untuk menganggap aku ada".
Jovan sudah terlalu jengah dengan ucapan cinta yang dua hari ini sering dikatakan oleh Gina.
"Rasa cinta tidak bisa dipaksakan Gin. Sekeras apapun kamu berusaha, tidak akan pernah mengubah perasaan orang lain untuk menerima kamu" Jovan akhirnya menanggapi.
"Apa sih kurangnya aku daripada mbak Vani, Jo? Aku lebih cantik, lebih kaya, lebih muda daripada dia. Kenapa kamu nggak pernah sedikitpun menerima rasaku ini?" tanya Gina.
"Muda atau tua itupun juga panggilan hati Gina. Sudah berapa kali harus aku katakan kalau cinta tidak bisa dipaksakan?" jawab Jovan.
"Oke, fine. Setidaknya biarkan aku merasakan memilikimu meskipun tidak hatimu, aku tidak masalah. Kamu bisa dapatkan uang dari aku, aku bisa memiliki ragamu. Aku rasa itu adalah barter yang sempurna untuk kita." Gina menanggapi dengan masih santai.
'Kamu memang sudah gila, kamu bukannya cinta Gina, kamu hanya terobsesi. Coba kamu pikirkan untuk bisa membedakan. Kamu itu seorang guru, tidak pantas jika sampai melakukan hal seperti itu pada sesama wanita. Kau akan menyakiti hati Vani" jawab Jovan dengan jengah.
"Kamu tidak harus menjawab saat ini juga Jo. Masih ada beberapa hari lagi untuk kamu bisa berpikir untuk menerima tawaranku"
"Sepertinya keputusanku masih akan sama"
"Kita lihat saja nanti, Jo. Dan disaat itu datang, aku masih tetap memegang nomor ponsel yang sama, kau bisa menghubungiku untuk menerima tawaranku".
Jovan semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Gina. "Aku kira pembicaraan kita sudah selesai. Aku permisi" kata Jovan sambil berlalu meninggalkan Gina seorang diri didalam cafe. itu.
__ADS_1
Dengan pikiran yang tambah berkecamuk, Jovan mengendarai motornya menuju rumahnya, berharap bisa mengurangi sedikit bebannya dengan bertukar pikiran bersama sang istri. Dan memang hari sudah semakin sore, pastinya Vani sudah pulang kerja.