Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Galau


__ADS_3

Gina sangat terkejut saat tahu bahwa Jovan bisa mengganti uang yang telah investasikan oleh dua orang temannya. Sungguh hal itu di luar rencananya.


"Tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Mikir Gina, pakai otak kami kali ini" kata Gina sambil mondar-mandir di rumah dinasnya yang sempit.


Wanita dewasa itu menjadi uring-uringan setelah dikabari oleh pujaan hatinya lewat ponsel bahwa dia telah mengganti semua uang temannya.


Bahkan pria itu memutuskan untuk menjaga jarak dengannya setelah kejadian buruk itu menimpa.


Pupus sudah harapannya untuk bisa bersatu dengan Jovan. Tapi bukan Gina namanya jika harus menyerah begitu saja.


Terbesit rencana jahat lain yang terpikir oleh otak kotornya. Mungkin dengan cara ini dia visa bersatu dengan Jovan. Seutas senyum jahat tersungging di wajah cantik Gina.


***********


Sementara siang itu, saat sebuah paket datang ke alamat yang ditujukan kepada Jovan Aprilio, pria itu sedang beruntung masih berada di messnya setelah menyelesaikan briefing dengan bawahannya.


Seseorang mengantarkan sebuah kotak yang dilapisi dengan kertas berwarna coklat. Segera Jovan membawa paketnya menuju ke dalam messnya, untuk mengetahui isinya.


Jovan tersenyum mendapati uang tunai yang sangat banyak berada di dalam paket itu, tapi senyum itu lantas hilang setelah membaca sepucuk surat yang datang bersama dengan banyaknya uang.


...'Untuk Jovan....


...kupinjamkan uang ini kepadamu karena seseorang yang sang sangat berarti bagiku yang telah memintanya....


...Mungkin kau tidak tahu bahwa ada seseorang yang sejak dahulu telah mendahuluimu untuk mengisi sebuah nama di hati seorang wanita yang kini malah menjadi istrimu....


...Dan saat dengan bodohnya kau menyakiti hatinya bukan hanya karena harta, tapi juga karena wanita lain yang sedang ada di dekatmu, dia masih sangat menyanjungmu....


...Aku sakit hati melihat dia lebih mengutamakanmu. Tapi aku lebih sakit hati jika suaminya yang menyakitinya....


...Ini adalah urusan kita, jadi jangan kau masukkan nama Vani dalam ruang lingkup kita. Selesaikan masalah uang ini secepatnya. Berikan pada istrimu saat kau telah bisa melunasinya....


...Aryudha...


Jovan meremas kertas di hadapannya, meskipun berat, tapi memang lebih baik menggunakan uang ini terlebih dahulu untuk mengganti uang rekannya yang telah dia paksa untuk ikut investasi yang ternyata bodong ini.

__ADS_1


Tidak tahu nantinya dia akan mengembalikan uang itu dengan cara seperti apa.


"Brengsek, jadi benar kalau yang Varo dan Vee panggil papa itu adalah mantannya Vani. Dan sekarang di saat aku sedang terpuruk seperti ini, Vani malah meminta bantuan padanya" batin Jovan meradang.


"Aku harus segera mengembalikan uang ini, tapi bagaimana caranya? uang ini sangat banyak. Tapi kalau tetap memakainya tanpa memikirkan waktu untuk mengembalikan, bisa-bisa keluargaku dihancurkan oleh laki-laki brengsek itu" pikir Jovan.


"Atau mungkin aku harus menerima tawaran dari Gina? Toh meskipun dia menjadi istriku, aku tetap setia pada Vani, aku tidak pernah meninggalkan anak-anakku? Haaahhhh" Jovan stress memikirkan itu, dia menarik rambutnya kasar untuk mengurangi rasa bingungnya.


**************


Disisi lain, Yudha masih terus mengintai pergerakan Jovan. Entah apa yang dicarinya, tapi dia merasa tidak bisa tinggal diam. Pasti bocah itu sedang merencanakan sesuatu, begitulah pikiran buruk Yudha pada Jovan. Jadi dia tetap meminta Akbar untuk selalu mengawasinya.


"Aku merasa rindu pada Vera, anak kecil itu sangat menggemaskan. Apa aku pergi ke sekolahnya nanti siang ya? lalu aku akan membawanya ke tempat kerja Vani. Pasti dia akan sangat senang" kata Yudha sambil memainkan bolpoin di sela-sela jarinya.


"iya, akan aku lakukan itu. Lagipula di kantor sedang lengang, tidak ada meeting hari ini". Yudha lantas mengambil ponselnya untuk menghubungi Akbar.


"Halo Bar" kata Yudha setelah sambungan telponnya diterima.


"Iya pak"


"Siang ini aku makan diluar, mungkin tidak akan kembali ke kantor. Tolong kamu handle semua pekerjaan hari ini ya. Tidak ada meeting kan?" tanya Yudha


Yudha menutup panggilan telponnya. Melihat jam tangan mewah yang melingkar di lengan kirinya, masih ada waktu sekitar satu jam untuk menjemput Vera.


Dia bergegas, takut jalanan macet karena waktu makan siang.


Yudha mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju sekolah Varo dan Vera. Sebelumnya dia mampir ke minimarket untuk membeli beberapa snack agar mempermudahnya saat meminta Vee okut dengannya.


Tiba di pelataran sekolah, ternyata masih kurang 20 menit waktu mereka pulang. Yudha menunggu sambil memainkan ponselnya duduk di balik kemudi.


Tapi dia merasa kepanasan, jadi dia keluar untuk bersandar di badan mobil depannya sambil memakai kaca mata hitam. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata para ibu-ibu muda disana.


"Itu ayahnya siapa sih? belum pernah lihat sebelumnya ya?" tanya seorang ibu pada temannya, tapi terdengar di telinga Yudha.


"Nggak tahu juga, pakai mobil mewah lagi. Haduh gayanya cool banget ya" kata ibu-ibu yang lain.

__ADS_1


"Paling ayah barunya anak yang sekolah disini tuh, kan nggak pernah lihat sebelumnya ya" sambung lainnya.


Sebenarnya Yudha jengah mendengar obrolan mereka yang sengaja dikeraskan untuk bisa didengarkan oleh Yudha.


Akhirnya bel berbunyi, anak murid dari sekolah itu berhamburan keluar mencari jemputan masing-masing.


"Papa yudha? kenapa disini?" tanya Vee yang melihat Yudha.


"Eh iya, mau jemput kamu sama kakak kamu. Dimana Varo?" tanya Yudha sambil menggendong Vera.


"Vee nggak tahu, tadi keluarnya nggak sama kakak" kata Vee celingukan mencari kakaknya.


"Maaf pak, siapa anda? Saya Yoga yang biasanya menjemput Varo dan Vee" kata Yoga, saudara Vani, ternyata Varo sudah bersamanya.


"Oh iya maaf tidak mengabari sebelumnya. Saya Yudha, atasan Vani. Saya mau membawa Varo dan Vee ke bundanya" kata Yudha.


"Apa sudah diizinkan sama mbak Vani pak? saya hanya takut dimarahi kalau sampai membiarkan mereka dibawa oleh bapak" kata Yoga.


"Nggak apa-apa om Yoga, Vee mau ke bunda sama papa Yudha ya. Boleh ya om? nanti om Vera kasih permen deh" kata Vera.


" Om takut mbah utinya Vee marah sama om kalau kamu pergi sama orang asing Vee" kata Yoga


"Om Yoga nggak usah takut, nanti mbah uti biar Vee marahin balik kalau sampai nakal sama om Yoga ya" kata Vera masih dalam gendongan Yudha.


"Yasudah, kamu nggak usah khawatir. Nanti kamu bisa hubungi Vani saat kamu sampai di rumah ya" kata Yudha sambil menyalami Yoga dengan beberapa lembar uang berwarna merah.


Tentu saja Yoga senang, uang jajannya bertambah. Diapun pamit pergi dan meninggalkan Varo dan Vee bersama Yudha.


"Asyiiikkk .. jalan-jalan ya pa?" tanya Vera.


"Kamu nggak mau temui bunda dulu?" tanya Yudha.


"Nggak mau, kalau sama bunda pasti nggak dibolehin ini itu" kata Vera sambil mengerucutkan bibir imutnya


Yudha yang gemas langsung menciumi pipi Vera hingga anak kecil itu tertawa kegelian.

__ADS_1


Melihat pemandangan seperti itu, ibu-ibu disana masih saja memandangi Yudha dengan tatapan heran, takjub, ada juga yang terang-terangan tidak suka. Ya, biasalah manusia. Melihat manusia lain senang dia sedih, melihat manusia lain sedih dia malah senang.


Aneh!


__ADS_2