
Hari ini adalah akhir pekan, hari dimana Jovan biasa pulang sekali dalam seminggu.
Biasanya dia akan datang sore atau malam, tergantung kerjaannya segera selesai atau belum.
Ternyata Sabtu ini dia sudah sampai rumah sore sebelum maghrib.
"Assalamualaikum... Ayah pulang" kata Jovan riang sambil membawa martabak manis kesukaan anak-anak nya.
"Waalaikumsalam... uwah . ayah sudah pulang. Bawa apa yah?" tanya si bungsu riang menyambut kedatangan ayahnya sambil mengambil tangan ayahnya untuk dicium punggung tangannya.
"Martabak manis kesukaan anak-anak ayah dong. Tanpa kacang, tanpa keju, dibanyakin coklatnya" kata Jovan.
"ayah sudah pulang ya? tumben sore gini sudah nyampek yah?"tanya Vani setelah mencium pinggung tangan suaminya dan mengambil tas ransel yang pasti berisi pakaian kotor.
"iya, tadi kerjaannya cepet kelar, jadi bisa cepat pulang" jawab Jovan sambil ingin memeluk Vani.
"apaan sih yah.. malu tuh ada anak-anak" kata Vani ingin menghindar, tapi malah dipeluk lebih erat oleh Jovan.
"kangen aku bund" kata Jovan sambil melepas pelukannya, dan menaik turunkan alis tebalnya untuk menggoda Vani.
"ih.. ayah nih" kata Vani malu.
Jovan senang menggoda istrinya itu. Pasalnya, meskipun sudah lebih dari tujuh tahun berumah tangga, dan sudah dikaruniai dua anak yang menggemaskan, Vani tetap malu-malu saat digoda seperti itu.
Meskipun Jovan bukanlah lelaki yang romantis, tapi dari perbuatannya bisa dipastikan kalau dia sangat menyayangi keluarganya.
Bisa dilihat dari keseharian mereka, meskipun berhubungan LDR dan bisa bertemu seminggu sekali, tapi keduanya jarang sekali menghubungi meski lewat hape.
Bisa satu minggu full keduanya tidak berkirim kabar. Bagi Jovan, siang hari yang sudah disibukkan dengan pekerjaan, kadang tidak sempat untuk sekedar menghubungi ataupun membalas pesan dari istrinya.
Sedangkan bagi Vani, dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang sibuk bekerja hanya untuk urusan sepele. Biarlah rindu semakin menggunung, nanti kalau audah berjumpa biar meledak-ledak.
Setelah diangkat sebagai supervisor di bidang marketing, beberapa bulan yang lalu, Jovan harus rela meninggalkan istri dan anak-anaknya bersama mertuanya.
Karena tidak mungkin meninggalkan istrinya bersama ibunya sendiri karena di rumah ibunya sudah ada kakaknya bersama keluarganya. Jovan tidak ingin membuat Vani sungkan, lebih baik bersama ibu Vani sendiri agar wanita itu bisa nyaman selama ditinggal kerja oleh Jovan.
__ADS_1
Setelah menaruh pakaian kotor di mesin cuci untuk dicuci besok saja, Vani menghampiri suami dan kedua anaknya di ruang tv.
"Bagiin bunda dong" kata Vani pada anak-anaknya sambil duduk disamping Jovan.
"nih bund, boleh" kata si bungsu.
"ibu sama bapak kemana bun?" tanya Jovan.
"lagi pengajian di mushola, ada ustadz dari pondok al-Huda katanya" jawab Vani.
Jovan hanya manggut-manggut dengan jawaban itu.
Sambil melihat tayangan berita, mereka melahap martabak yang dibawa Jovan.
Lalu tayangan di tv meliput seorang pengusaha yang muda yang sedang menjadi narasumber di acara yang bertema 'tokoh yang menginspirasi'.
Ternyata ada Yudha disana, terlihat gagah dengan balutan jas berwarna navy. Sedang serius saat diwawancarai oleh seorang presenter wanita.
Jovan terlihat serius saat melihat berita itu. Vani jadi ikutan menyimak.
"Sebagai seorang pengusaha muda, pencapaian apa yang telah anda gapai di tahun ini pak Yudha?" tanya si presenter.
"Mengapa anda bisa mantap pada hotel yang sudah hampir gulung tikar seperti itu pak?" lanjut si presenter.
"Karena letaknya strategis, dekat stasiun kereta, dan berada di pusat kota. Dekat dengan segala fasum yang berpengaruh pada kemudahan dan kenyamanan customer saat membutuhkan transportasi umum" jawabnya santai.
"Apa ada lagi pencapaian anda selain itu?" lanjutnya.
"Ada beberapa saham yang telah kami beli dari e-commerce ternama yang sedang naik daun, saya yakin 80% penduduk negeri ini telah menginstal aplikasi tersebut" jawab Yudha.
Selanjutnya Vani tidak begitu menyimak obrolan mereka di tv, karena ia ingat bahwa The Empire Hotel adalah Hotel mewah yang dulu sempat akan membawanya ke tindak asusila, dan di sanalah dia bertemu dengan Yudha tanpa sengaja.
Tanpa Vani ketahui bahwa Yudhalah pemilik bangunan megah itu. Sambil berfikir dia manggut-manggut saat mengingat betapa orang-orang di sana menghormatinya.
Saat ditanya, Yudha hanya mengaku sebagai karyawan saja. Ternyata aslinya Yudha semenakjubkan itu?
__ADS_1
"kenapa bun?" Jovan bertanya pada istrinya yang terlihat melamun.
"nggak apa-apa yah, cuma kayak familiar sama The Empire Hotel itu. Ternyata ada di kota kita ya, hehe" jawab Vani tanpa mau menceritakan kisah dibalik kata familiar itu.
Bukannya apa-apa, Vani tidak ingin suaminya itu cemas dan malah memboyong keluarga kecilnya ke kota tempat ia bekerja.
"iya. Ayah juga nggak nyangka yang punya masih semuda itu ya?" kata Jovan.
Dan Vani hanya meng'iya'kan ucapan suaminya itu.
"Dibalik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada dukungan seorang wanita super. Benarkan pak Yudha? Bagaimana tanggapan keluarga, terutama istri anda dengan segala pencapaian anda ini?" tanya si reporter mulai membahas masalah pribadi narasumbernya.
"Tentu saja istri saya sangat mendukung segala keputusan saya yang di rasa baik dan prospeknya bagus untuk ke depannya" jawab Yudha.
"Lantas, adakah investasi yang telah anda lakukan untuk anak-anak anda nantinya?" tanya reporter itu.
"Nanti kalau sudah ada anak diantara kami, akan saya fikirkan masalah itu" jawab Yudha.
"Jadi, belum ada buah hati diantara anda dan istri ya pak? kalau begitu, kami doakan semoga segera terwujud adanya malaikat kecil di keluarga anda agar anda bisa semakin semangat berkarya agar memotivasik kami semua" kata reporter itu diakhiri doa yang baik.
"iya" hanya itu jawaban dari mulut Yudha.Dan selanjutnya, jeda iklan telah mendominasi.
Varo yang merasa pernah mendengar nama Yudha malah curi-curi pandang pada bundanya. Bukankah nama itu yang Varo lihat di hape bundanya beberapa hari yang lalu, mungkinkan orang yang di tv itu orang yang sama dengannya?
Tapi dia hanya diam saja sejauh ini, tanpa ingin bertanya dulu pada sang bunda. Biarlah menjadi urusan orang dewasa, pikirnya.
***
Disisi lain, Yudha yang saat itu menjadi narasumber dari sebuah acara di tv merasa risih saat diungkit perihal rumah tangganya.
Acara itu disiarkan secara live, jadi dia tidak bisa meminta untuk pihak tv agar mengedit bagian terakhir dari sesi wawancara itu.
Yudha tidak ingin publik tau perihal istrinya yang belum mau memiliki anak di usia mereka yang sudah sangat matang hanya demi karir.
Dia selalu tidak suka saat ada yang bertanya tentang keturunan. Hatinya sedikit tercubit dengan hal itu.
__ADS_1
Dia jadi teringat Vani, gadia yang sekarang telah menjadi wanita itu saja mengaku bahwa telah dikaruniai dua anak yang sudah usia sekolah.
Malah dirinya yang sudah sedewasa ini masih belum ada rencana ke arah itu. Mengingat itu, sikapnya jadi berbah dingin.