Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
dusta


__ADS_3

"Bunda nangis?" tanya Varo yang ternyata keluar dari wahana mandi bola, dia menghampiri bundanya karena merasa haus.


"Enggak sayang, tadi bunda kelilipan. makanya keluar air mata" kata Vani mengelak.


"Kamu udahan mainnya?" tanya Yudha.


"Aku haus, om. Mau minta minum sama bunda" kata Varo yang masih mengamati raut wajah bundanya.


Varo itu terlalu peka untuk dibohongi, anak itu hanya bisa diam sambil mengamati interkasi bundanya dan Yudha.


Lelaki yang Varo anggap terlalu sering mengunjungi mereka.


"Nih, kamu minum dulu. Mau istirahat atau lanjut main lagi?" tanya Vani, setelah Varo meminum hampir separuh dari isi air mineral yang Vani berikan.


"Main lagi, bun" kata Varo yang sudah berlari ke wahana permainan lainnya.


"Pokoknya kamu jangan sampai sedih ya, Van. Kami harus selalu happy, masalah apapun itu, selesaikan nanti saja setelah kamu melahirkan. Biar bayi kamu nggak jadi anak yang suka cemberut nanti kalau sudah lahir" kata Yudha, berusaha menguatkan hati Vani.


"Iya, mas. Makasih ya, kamu sudah mau untuk selalu meluangkan waktu buat aku dan anak-anakku. Banyak banget aku berhutang budi sama kamu" kata Vani.


"Nggak usah dipikirkan, aku ikhlas memberi semuanya buat kamu. Karena rasa sakit yang duku aku beri, nggak mungkin bisa terbayar meski aku melakukan apapun buat kamu" lagi, Yudha selalu mengatakan tentang masa lalu mereka berdua.


"Hari Sabtu besok, aku akan pastikan sama Jovan. Aku masih nggak bisa tenang, mas. Mungkin nggak sih kalau dia itu nggak setia?" kembali mata Vani memanas dengan kejadian yang menimpanya kemarin.


Yudha masih saja menemani Vani, berusaha menenangkannya. Hingga jam sepuluh malam, mereka bertiga baru sampai dirumah Vani.


★★★★★


"Tumben nggak bawa baju kotor yah?" tanya Vani, tak biasanya Jovan datang hanya membawa tas kecil untuk barang-barang berharga saja.


"Iya, aku sudah cuci sendiri bun disana. Kasihan kan kamu lagi hamil gitu, capek nanti kalau masih harus nyuciin bajuku" kata Jovan yang baru beberapa saat lalu sampai dirumahnya.


Sebenarnya, baju-baju Jovan sudah diurus oleh Gina disana. Dulu sebelum bersama Gina, baku kotornya selalu dibawa pulang untuk dicuci. Karena untuk dicucikan ke laundri pun Jovan tak punya banyak waktu.


"Oh, yasudah kalau gitu" jawab Vani singkat.


Niatnya untuk segera menanyakan tentang Gina yang bersamanya waktu itu, tapi harus tertunda karena kedua anaknya yang masih mau bermanja pada ayahnya.


"Kenapa sih bun? Kok kayak ada yang dipikirkan gitu?" tanya Jovan, karena tak biasanya Vani irit bicara seperti itu.


"Nggak apa-apa, agak capek aja. Bawaannya ngantuk terus" kata Vani mencari alasan.


"Aku buatin makanan dulu, ya. Kamu mau makan apa?" tanya Vani, dia masih sedikit tidak suka berdekatan dengan Jovan. Karena Vani masih merasa jika ada yang Jovan sembunyikan darinya.


"Nggak usah bun, kita pesan makanan saja. Kamu nggak usah capek-capek, ya" kata Jovan, melarang istrinya karena dia tak mau Vani terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Kamu duduk aja disini, sama kita" kata Jovan.


"Aku ke kamar saka deh, mau istirahat" Vani beranjak dari tempatnya, menuju ke kamarnya.


Jovan hanya bisa diam, dia tahu jika istrinya masih kepikiran dengan Gina yang tiba-tiba muncul saat mereka melakukan video call waktu itu.


"Ayah jangan ketemu sama tante Gina, karena bunda nggak suka" tiba-tiba Varo bersikap memusuhi juga pada Jovan, lelaki kecil itu bahkan mengikuti kelakuan bundanya. Dia meninggalkan Vee bersama ayahnya berdua saja di tuang tengah.


"Mereka kenapa sih, Vee?" Jovan menanyakan pada si kecil Vee.


Tentu gadis kecil itu hanya mengendikkan bahu sebagai jawabannya. Mana dia tahu perasaan orang dewasa. Yang Vee tahu kan hanya bermain.


Vee duduk di pangkuan ayahnya, bermain game di ponsel sang ayah. Karena selama ini Varo selalu menyabotase hape bundanya. Jarang sekalian berbagi dengan sang adik.


Sedangkan Jovan sedang serius dengan layar televisi, menyimak acara berita.


Merasa tak ada pergerakan, Jovan melirik anak yang ada dalam pangkuannya.


"Kamu ketiduran ya Vee?" senyum Jovan melihat tingkah lucu sang anak.


Jovan menggendong anaknya ke dalam kamar, lalu mengecek semua pintu untuk memastikan jika sudah terkunci rapat.


Diapun akan segera tidur.


"Kamu masih mau bilang kalau perempuan kemarin itu istri tetangga kamu, yah?" tanya Vani.


Rupanya Vani sengaja menunggu suaminya di kamar sejak tadi. Dan akan meluruskan masalahnya setelah kedua anaknya sudah tidur.


"Kamu belum tidur, bun?" tanya Jovan yang sudah berbaring diatas ranjang.

__ADS_1


"Aku sengaja nunggu kamu daritadi. Mau tanya soal perempuan yang waktu itu" kata Vani.


"Memang dia istrinya tetanggaku, bun. Kamu kenapa sih? Curigaan mulu belakangan ini sama aku" kata Jovan tidak terima dengan tuduhan istrinya.


"Tapi aku yakin banget kalau itu suaranya Gina, apalagi dia sempat kelihatan waktu itu. Kamu ngapain ajak Gina ke tempat kamu, yah?" tanya Vani setengah berbisik, takut Vee terbangun oleh suaranya.


"Gina? Yang benar saja kamu bun. Ngapain aku ngajak dia ke tempatku? Kamu jangan ngaco deh bun. Kenapa sih nggak percayaan banget sama aku?" tanya Jovan mulai emosi.


Vani sedikit terkejut, tak pernah sebelumnya Jovan bersikap kasar padanya. Semarah-marahnya Jovan selama ini, tak pernah sekalipun dia membentak istrinya.


Wanita hamil memang terlalu sensitif, di bentak begitu saja sudah membuatnya menjadi lembek.


Mata Vani mulai memanas, dia sedikit terisak. Mulai menangis dalam diam.


"Haduh, salah lagi aku" gumam Jovan dalam hati saat mengetahui istrinya terisak, bahunya naik turun dengan suara tertahan.


Merasa bersalah, Jovan bangkit dan menghampiri istrinya. Dia akan berusaha menenangkan hati wanitanya yang sedang hamil.


"Maafin aku ya, bun. Beneran deh, aku tuh nggak macam-macam kok meski jauh dari kamu. Kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh ya. Jangan sedih lagi ya" kata Jovan mengelus sayang pada Vani.


Tapi yang terjadi, malah Vani semakin menangis. Membuatnya semakin bingung harus bagaimana.


"Sudah dong, bun. Kamu mau aku melakukan apa biar kamu percaya sama aku?" tanya Jovan tak berputus asa.


"Aku nggak tahu. Aku cuma ngerasa kamu lagi bohongin aku, yah. Banyak hal nggak biasa yang kamu lakukan belakangnya ini" kata Vani yang masih terisak. Dia tidur membelakangi suaminya yang sedang duduk di tepian ranjang.


"Itu semua cuma perasaan kamu saja. Mungkin pengaruh kehamilan kamu, jadi bawaannya sensitif terus dan curigaan" kata Jovan.


"Aku ngerti kalau harus ekstra sabar kali ini. Demi kalian" kata Jovan.


Semua perkataan Jovan tak lantas membuatnya merasa lebih baik. Karena Vani masih saja merasa jika Jovan berbohong.


Tak ingin semakin memperdalam perdebatan mereka berdua. Vani memutuskan untuk tidur, memejamkan matanya agar tak lagi diganggu oleh Jovan.


Sementara itu di kota Pesisir,


Gina selalu saja merasa tersisihkan jika akhir pekan menjelang. Dimana rutinitas Jovan yang harus mengunjungi istri tuanya. Menemani kedua anak dan juga istrinya yang sedang hamil.


"Kamu selalu mendapatkan semua perhatian Jovan, Vani!" gumam Gina penuh amarah.


"Aku nggak akan pernah membiarkan kamu tertawa diatas penderitaanku. Awas saja, kamu harus siap-siap buat masa depanmu yang tak akan pernah lagi melihat cerahnya matahari" kata Gina.


"Kalian temui aku besok pagi, ditempat biasanya"


kembali Gina memanggil anak buahnya untuk memerintahkan sesuatu.


"Siap, bos. Selama transferan lancar, pekerjaan aman"


kata preman-preman sewaan Gina yang sudah beberapa lama ini selalu menjadi langganannya.


Senyum licik Gina terukir mengerikan. Seringai tajam terbentuk karena keinginannya sekali lagi akan terlaksana.


Gina sudah tidak sabar untuk membuat Vani juga merasa tersisihkan.


★★★★★


"Ada apa bos panggil kami lagi?" tanya bos preman sewaan Gina.


Mereka bertiga sudah berkumpul untuk membahas rencana yang akan Gina lancarkan.


"Kalian lihat baik-baik foto wanita ini" kata Gina pada kedua preman sewaannya.


"Kenapa sama orang ini, bos? Sepertinya, wanita ini anak dari orang yang kemarin bos suruh habisi ya?" tanya bos preman itu.


"Darimana kamu tahu?" tanya Gina.


"Aku lihat waktu dia ambil mayat orang tuanya di rumah sakit. Uwah, backingannya berat bos. Bos-bos preman kenal semua, bahkan sekarang nasib kami cukup sulit. Banyak yang curiga sama kami berdua" kata si bos preman.


"Pokoknya kalian harus bermain rapi kali ini. Setelah itu, aku bakalan kasih uang yang banyak buat kalian pindah ke luar kota. Yang jauh, dan ingat satu hal" Gina menekankan permintaannya.


"Jangan bawa-bawa namaku kalau sampai kalian tertangkap. Terutama jika polisi yang menciduk kalian. Paham?" tanya Gina menegaskan.


"Siap bos, asalkan bayarannya sesuai. Kami nggak akan pernah bocor" jawab preman itu.


"Oke, Aku percaya sama kalian berdua. Ini uang mukanya, sisanya kalau sudah beres" kata Gina.

__ADS_1


"Jadi, tugas kami kali ini apa bos?" tanya bis preman itu.


"Celakai dia, namanya Vani. Dia sedang hamil besar. Jangan sampai kalian bunuh dia, kalau bisa celakai saja kandungannya. Aku sangat muak dengan semua orang yang mengagungkan kandungannya itu" kata Gina dengan dendam yang besar pada Vani.


"Oh, siap bos. Jalan untuk mencelakai dia sesuai keinginam bos atau terserah kami?" tanya Bos preman itu lagi.


"Terserah kalian, pokoknya jangan sampai ketahuan. Apalagi sampai menyebutkan namaku. Awas saja kalian kalau sampai itu terjadi" kata Gina penuh emosi.


Pikirannya sudah dipenuhi amarah pada orang yang salah. Niat awalnya hanya untuk bosa bersama Jovan, apapun kondisinya.


Tapi semakin kesini, Gina semakin rakus. Rasa cintanya telah membutakan mata hatinya. Bahkan dia tak takut mencelakai wanita lain yang sedang bertaruh dengan dua nyawa di tubuhnya.


"Siap bos, transferannya sudah masuk. Jumlahnya oke buat operasional. Sisanya saya harap bisa lima kali lipat daripada ini, untuk modal kami hidup di luar kota, bos" kata preman.


"Lakukan dulu tugas kalian. Sudah, pergi kalian sekarang juga" Gina mengusir kedua preman suruhannya.


Tanpa dia sadari, mata-mata yang Akbar suruh untuk membuntuti Gina kemanapun dia pergi juga sudah mendengar semua rencana mereka.


Orang suruhan Akbar segera pergi ke tempat aman. Dan diapun segera melaporkan semuanya pada bosnya, yaitu Akbar.


Segera saja, kabar itu sampai di telinga Yudha. Tentu saja hal itu membuat Yudha sangat emosi.


Jovan harus segera diberi pelajaran, apalagi ini menyangkut keselamatan calon anaknya.


"Aku harua bagaimana, Bar?" Yudha mendadak bodoh, hatinya terbawa suasana. Membuat kemampuan otaknya sedikit melemah.


"Kita beri bodyguard buat bu Vani saja pak, bagaimana?" saran Akbar.


"Saya rasa cuma itu yang terbaik untuk saat ini, demi keselamatan bu Vani dan calon anak pak Yudha" kata Akbar lagi.


"Tapi dia tidak akan mau, Bar. Lagipula, dia bisa semakin curiga dan bisa-bisa dia malah menjauh dariku. Pasti aku akan semakin cemas" kata Yudha.


"Tanpa sepengetahuan bu Vani tentunya, pak. Kita taruh beberapa bodyguard di sekeliling bu Vani untuk menjaganya" kata Akbar.


Cukup lama berfikir, memang itu adalah jalan terbaik menurut Yudha kali ini.


"Baiklah, segera cari orang-orang yang mumpuni. Aku tidak mau sampai calon anakku celaka" kata Yudha, dia cukup cemas kali ini. Karena Vani adalah targetnya.


Yudha sadar jika Gina adalah orang yang nekat dan licik. Apalagi setelah kematian kedua orang tua Vani. Semua itu adalah tamparan keras untuk Yudha.


"Segera carikan yang terbaik, Bar. Karena kamu tahu kalau aku tak bisa langsung menjaga Vani dengan kedua tanganku sendiri" kata Yudha yang semakin mencemaskan hari esok untuk calon anaknya.


"Siap, pak. Besok pasti sudah bisa bapak temui calon bodyguard untuk bu Vani" kata Akbar.


Entah apa jadinya Yudha tanpa Akbar. Asistennya yang bisa dihandalkan untuk segala jenis pekerjaan.


Bahkan kali ini, untuk menjaga Vani pun Yudha harus menyuruh Akbar.


"Baiklah pak, saya permisi pulang dulu. Mungkin besok siang saya akan bawakan orang-orangnya" pamit Akbar.


Mereka berdua sedang bekerja di week end ini. Masih belum ada waktu senggang untuk bersantai. Apalagi akhir-akhir ini Yudha sering sekali meninggalkan kantor di hari kerja.


Lembur Akbar harus dilakukan, mau tak mau harus mau.


"Sialan" umpat Yudha meremas rambutnya.


Dia frustasi memikirkan keselamatan calon anaknya. Fokusnya kali ini adalah mereka, dua janin dalam perut Vani.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada kedua anakku. Maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisimu, Gina" seringai mengerikan Yudha tampilkan dengan melihat bayangannya sendiri dari cermin di ruang kerjanya.


Tapi preman-preman suruhan Gina pun juga bergerak cepat. Mereka berdua segera bertolak dari kota Pesisir menuju kota Dingin untuk segera menjalankan tugasnya.


Lagi pula, mereka berdua juga sedang mempertaruhkan keselamatan nyawa mereka sendiri.


Jarak kedua kota itu tidaklah jauh, dengan menggunakan sepeda motor, mereka berdua hanya membutuhkan waktu tak lebih dari tiga jam untuk bisa sampai ke tujuannya.


"Huft, capek banget bos" keluh preman kroco, anak buah bos preman sewaan Gina.


"Langsung kita sikat sekarang apa besok bos?" tanyanya lagi.


"Besok pagi-pagi sekali kita lakukan. Sekarang kita istirahat dulu, pulihkan tenaga kita" jawab bis preman.


"Iya bos, sekalian kita bahas rencana kita untuk esok hari" kata preman kroco.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2