
Yudha mengajak rombongannya untuk mengunjungi candi Borobudur terlebih dahulu. Pukul setengah sepuluh mereka baru memasuki kawasan candi.
Seperti anak kecil pada umumnya, Vee dan Varo terlihat sangat bahagia. Mereka berlarian kesana-kemari, tentunya diikuti oleh baby sitter yang telah Yudha sewa untuk menjaga mereka.
"Ada untungnya juga ya mas kamu nyewa suster buat jagain mereka. Kalau aku sendiri pasti sudah kewalahan banget" kata Vani yang berjalan di samping Yudha.
Yudha hanya tersenyum mendengar keluhan Vani. Bahkan mereka berdua sudah tidak tahu lagi ada dimana Varo dan Vee saat ini.
Menaiki tangga candi yang tersusun rapi sebenarnya membuat Vani sedikit kewalahan.
"Capek?" tanya Yudha.
"Iya, duduk dulu ya. Aku nggak kuat kayaknya kalau harus jalan ke puncaknya" kata Vani setelah mendapat tempat duduk yang nyaman.
"Kita tunggu mereka disini saja" kata Yudha. Vani mengangguk saja, karena memang dia sudah merasa lemas.
Suasana di atas candi cukup ramai karena memang di hari Minggu biasanya akan banyak pengunjung yang datang.
Yudha menelisik penampilan Vani saat ini. Wanita itu tetap terlihat mempesona di mata Yudha. Sederhana memang, tapi entah kenapa terasa 'sreg' saja di hatinya.
Kadang untuk bisa mencintai seseorang memang tak butuh alasan. Karena hanya hati kita yang tahu.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Vani yang merasa diperhatikan oleh Yudha.
"Nggak ada ya, kamu ke GR-an" sanggah Yudha.
Vani hanya mencebik mendengar penuturan Yudha yang sebenarnya daritadi memang sedang memandanginya.
"Nih, minum" Yudha menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya tadi di bawah.
Setelah berterima kasih, Vani menenggak air itu hingga separuhnya. Mendapati ada sisa air di sudut bibir Vani, Yudha merasa gemas saja. Reflek jempolnya mengelap bibir basah itu, sejenak mata mereka berdua bertemu pandang saat Vani yang juga reflek memegang tangan Yudha yang tiba-tiba menyentuh bibirnya.
"Eh, maaf" kata Vani melepaskan genggaman tangannya.
Yudha hanya tersenyum, seandainya dulu dia sedikit membangkang, mungkin kebahagiaannya adalah bersama Vani.
Kembali tersadar, Yudha hanya mengangguk. "Minum yang benar dong, airnya sampai tumpah" kata Yudha.
"Masak sih?" tanya Vani, dia sampai mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas slempangnya. Dan mengamati penampilannya.
"Iya, kamu benar mas. Hehe" kata Vani yang masih menelisik wajahnya dari pantulan cermin.
Yudha hanya bisa memandangi perilaku Vani, "Apa aku salah bucin pada istri orang? Seandainya waktu bisa kuputar kembali, pasti aku sangat bahagia bisa menjalani sisa hidup bersama wanita yang aku cintai" batin Yudha yang masih memperhatikan Vani.
"Jangan lama-lama lihatinnya, nanti jatuh cinta loh" goda Vani yang daritadi melirik pada Yudha yang terlihat melamun sambil melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu cantik ya" kalimat singkat dari Yudha yang membuat jantung Vani sedikit berdetak tak karuan.
"Tahan Vani ... Ini hanya godaan, ingat kamu sudah jadi ibu dari dua anak" kata batin Vani yang selalu mengingatkan tentang statusnya.
"Semua perempuan cantik mas, kalau laki-laki itu tampan. Yang setengah-setengah itu baru abstrak" jawab Vani yang tak ingin terlalu larut dalam obrolan Yudha.
"Iya, kamu benar. Kamu selalu benar" kata Yudha yang tahu jika Vani mulai menjaga jarak.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Vani yang tak ingin membahas lebih lanjut masalah perasaan mereka berdua.
"Aku juga kurang tahu, biar supir saja yang mengarahkan. Dia lebih paham tujuan wisata di kota ini" jawab Yudha sedikit kesal.
"Oh, ok" kata Vani. Dan terciptalah suasana canggung diantara keduanya.
Lima belas menit berlalu, mereka berdua masih terjebak dalam kebisuan. Vani sibuk dengan ponselnya, melihat apakah ada pesan dari suaminya. Karena sejak kemarin mereka belum berkirim pesan untuk sekedar menanyakan kabar.
Vani berinisiatif mengirim pesan duluan pada Jovan saat itu.
"Masih sibuk yah?" ~ Vani (Sent)
Cukup lama berlalu, masih belum ada balasan dari Jovan. Vani mengartikan jika Jovan sedang sibuk jika pesannya tidak dibalas.
Sedangkan disana, sepasang suami-istri yang masih kelelahan karena aktivitas semalamnya terlihat masih tertidur.
Di sisi lain, Vani masih berfikiran positif pada suaminya yang dia kenal sebagai lelaki yang setia dan bertanggung jawab.
Yudha hanya mengamati tingkah laku Vani tanpa ingin membuka suaranya. Dia tahu apa yang Vani pikirkan. Dan Yudha tidak suka saat Vani masih memikirkan Jovan karena Yudha tahu jika Jovan sedang bersama istri barunya.
Terdengar suara tangisan anak kecil yang berjalan mendekat ke arah Vani dan Yudha yang sedang duduk. Keduanya kompak menoleh saat mendengar namanya disebut.
"Bunda.... huuu.." Vee menangis dalam gendongan suster. Lututnya lecet dan sedikit berdarah.
"Loh, kenapa ini mbak?" tanya Vani yang mengambil Vee dari gendongan susternya.
"Maaf bu, tadi terjatuh saat lari-larian" kata suster itu menunduk, takut majikannya marah.
"Oh, kamu jangan lari dong Vee. Jalan saja kan bisa, jadinya jatuh kan" kata Vani yang kembali duduk dan meletakkan Vee dalan pangkuannya.
Dia melihat kondisi lutut Vee yang sebenarnya tidak terlalu parah.
"Kamu kerja yang benar dong. Masak ngurus satu anak saja nggak becus sampai jatuh seperti ini" bentak Yudha pada suster itu. Sebenarnya Yudha butuh pelampiasan untuk menyalurkan emosinya saat melihat Vee memikirkan pria lain, padahal pria itu suaminya sendiri.
Suster itu semakin menunduk katakutan, Yudha memang menyeramkan kalau sudah marah. Vani jadi terkejut saat Yudha berteriak, hingga Vee semakin mengeratkan pelukannya pada sang bunda.
"Sudah dong mas, ini kan hanya luka kecil. Nggak perlu sampai marah seperti itu. Lihat, Vee jadi takut sama kamu" kata Vani menengahi, kasihan juga melihat suster itu ketakutan.
__ADS_1
Yudha mengusap wajahnya dengan kasar, dia tersulut emosi. Sadar jika pelampiasannya salah, diapun meminta maaf.
"Huft, maaf" kata Yudha yang sudah agak tenang. Dia duduk disamping Vani dan melihat kondisi Vee.
"Maaf ya sayang, kamu takut ya sama papa Yudha?" tanya Yudha sambil mengelus rambut Vee yang masih menangis tanpa suara di pangkuan Vani.
Vani mengambil plester di tasnya, dia selalu menyiapkan plester karena memang Vee sering terjatuh saat bermain. Bocah itu sangat aktif, suka berlarian kesana kemari, dan akhirnya pasti mengalami luka lecet seperti ini.
"Sudah... Kan sudah dipasangi plester, sudah sembuh dong. Vee kan anak kuat, jadi nggak boleh nangis lagi" kata Vani sambil meniup lutut Vee yang terluka.
"Sini papa gendong" kata Yudha yang mengambil Vee dari Vani. Bocah itu sudah tidak menangis lagi.
"Hubungi teman kamu, suruh segera kesini. Kita mau ke tempat lain" kata Yudha memerintah suster itu untuk memanggil Varo dan susternya.
"Baik, pak" kata suster itu. Dia berjalan sedikit menjauh untuk menelpon temannya.
"Kamu jangan marahin susternya kayak gitu dong mas, kan kasihan dia ketakutan. Apalagi dilihatin banyak orang loh, nanti ada yang merekam terus di upload, kamu jadi viral loh" kata Vani mengingat Yudha.
"Coba saja kalau ada yang berani, nanti aku ratakan irang seperti itu dengan tanah" jawab Yudha.
"Ngeri sekali ucapan kamu" kata Vani berlagak ketakutan.
"Sudah nggak sakit, Vee?" tanya Yudha. Vee hanya menggeleng mendengarnya, dia masih sedikit takut pada Yudha setelah membentak susternya tadi.
"Maafin Vee ya pa, tadi Vee lari-larian terus jatuh. Jangan dimarahi ya" kata Vee lirih.
"Iya, maafin papa juga ya. Kamu takut ya?" tanya Yudha.
"Sudah mau pulang, bun?" tanya Varo yang baru datang dengan susternya.
"Mau ke tempat lain, kita turun yuk" kata Vani.
"Kita foto dulu ya sebelum turun, tolong fotoin kita ya sus" kata Yudha memberikan ponselnya pada suster Hesti agar mengambil gambarnya bersama Vani.
Suster Hesti mengambil beberapa gambar dari tuannya, dengan latar candi yang megah dan dalam beberapa pose yang berbeda.
Suster Hesti mengarahkan gaya mereka berempat tanpa sungkan, dan terbukti jika hasil jepretannya lumayan juga. Yudha tersenyum senang melihat hasilnya.
Segera mereka menuju ke bawah, untuk berkunjung ke tempat wisata lain di kota ini. Sebelumnya, Yudha tidak lupa untuk membelikan oleh-oleh sesuai pilihan Vani.
.
.
.
__ADS_1