Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Jogja


__ADS_3

Sudah dari pagi Vee mengomel saja, dia selalu mengingatkan bundanya tiap satu jam sekali untuk bersiap-siap karena nanti jam sepuluh Yudha akan datang menjemput.


"Mau bawa mainan ini, bun" kata Vee, lagi-lagi ingin membawa barang bawaan. Padahal tasnya sudah sangat penuh.


"Vee, kita cuma mau main. Bukannya mau pindah rumah" kata Vani gemas melihat tingkah anak gadisnya itu.


"Tapi kasihan kalau itu nggak dibawa" kata Vee masih merengek.


"Nanti kita cari mainan disana saja ya" kata Vani yang langsung ditanggapi dengan gembira oleh bocah kecil itu.


"Berisik sekali" gumam Varo yang sibuk dengan ponsel bundanya. Waktu luangnya selalu digunakan untuk melihat video dari yutub.


Yudha tiba pada jam sepuluh lebih lima belas menit. Itu sudah membuat bibir Vee manyun karena tidak sabaran menunggu papa tipu-tipunya.


"Papa lama sekali sih?" gerutu Vee saat Yudha datang.


"Macet sayang" kata Yudha dengan senyum manisnya.


"Mas, beneran mau menginap?" tanya Vani masih keberatan.


Semalam saat Yudha menelponnya, pria itu bilang akan mengajak Vee liburan ke luar kota. Bahkan Yudha sudah menyewa dua kamar hotel untuk tempat beristirahat selama mereka disana.


"Iya, semalam kan sudah setuju" kata Yudha. Jangan ditanya lagi dimana Vee, tentu sudah bergelayut manja dalam gendongan Yudha.


"Mau kemana sih?" tanya Vani.


"Kita mau ke Jogja, Vee sudah pernah ke Jogja apa belum nih?" tanya Yudha.


"Belum pa, mau main apa disana pa?" tanya Vee.


"Banyak dong, nanti kita lihat candi Borobudur ya" kata Yudha. Vee tentu mengangguk senang.


"Mau nyetir sendiri kamu mas?" tanya Vani sambil mempersiapkan barang-barang yang mau dibawanya.


"Enggak lah, capek kalau nyetir sendiri. Pakai supir nanti" jawab Yudha.


Ibu Vani datang menemui mereka, sedikit tidak suka saat melepas anaknya pergi dengan lelaki lain. Tapi melihat Vee yang tersenyum senang, tentu membuat hati seorang nenek tidak tega untuk melarang.


"Kalian hati-hati ya, jaga diri baik-baik. Ingat, kalian sudah sama-sama dewasa dan punya tanggung jawab yang berbeda" kata ibu Vani memberi nasehat pada anaknya.


"Iya bu. Ibu jangan khawatir ya, saya pasti akan menjaga mereka dengan baik" kata Yudha.


"Bukan masalah menjaga diri saja, tapi juga jaga hati kalian" kata ibu Vani yang sebenarnya tahu kisah lama mereka berdua. Hanya saja beliau tidak pernah membahasnya dengan Vani.


Vani dan Yudha saling melirik mendengar ucapan ibunya. Rasa bersalah sempat timbul di hati Yudha. Tapi tertelan dengan egonya, kali ini dia tidak akan berpikir ulang untuk menemukan kebahagiaannya.


Biarkan saja yang lainnya, dia hanya ingin sedikit egois dengan tidak mendengarkan orang lain.


Kadang memang rasa egois akan hadir saat hati ini sudah merasa tidak sanggup untuk menampung segala masalah yang datang bertubi-tubi.


Hal itu yang sekarang Yudha rasakan, dari dulu keinginannya hanya satu, yaitu bisa bahagia bersama Vani.


Tapi seolah semesta tak mengizinkan, rasa cintanya tertutup oleh tabir tak kasat mata. Memberi jarak untuknya agar bisa bersama Vani.


Mungkin memang mereka tidak berjodoh, tapi jika keinginan sudah diubun-ubun, biarlah segala upaya dilakukan meski tahu jika itu adalah sebuah kesalahan.


"Ibu nggak usah khawatir, kita tahu batasannya kok. Lagian ada anak-anak, juga ada yang lainnya kan nanti" kata Vani.


"Iya, ibu percaya sama kamu, nak. Kalian hati-hati ya. Kapan pulangnya?" tanya Ibu.


"Besok malam mungkin bu. Kan Senin mereka sudah sekolah. Saya juga harus ke kantor hari Senin" kata Yudha.


Ibu Vani hanya bisa mengangguk, dia juga membantu Vani memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil Yudha.


"Kami berangkat ya, bu. Ibu dirumah jaga kesehatan" kata Vani berpamitan.

__ADS_1


"Iya, kamu juga" kata ibunya.


Vani mencium punggung tangan ibunya, ternyata Yudha juga melakukan hal yang sama.


Dalam hati, sebenarnya ibu Vani suka pada pribadi Yudha yang menyayangi Vani dan anak-anaknya. Tapi itu sudah tidak berlaku lagi karena mereka sudah sama-sama berkeluarga.


Meskipun beliau tidak tahu bagaimana kondisi keluarga anak-anaknya yang sudah penuh dengan skandal.


Pancaran kebahagiaan sangat terlihat dari mata Vee. Dia terus saja lengket pada Yudha, bahkan sekarang duduk di pangkuannya sambil menyetir. Yudha enjoy saja dengan perlakuan bocah itu.


Cukup lama berkendara, mereka masih harus berhenti untuk ganti dengan mobil yang lebih besar.


Yudha masih mampir ke rumahnya, akan ada yang ikut bersama mereka di perjalanan kali ini.


"Kok berhenti mas?" tanya Vani memandangi rumah di depannya. Dia ingat dulu pernah sekali mampir ke rumah ini saat nenek Yudha masih hidup.


"Iya, kita ganti mobil ya. Biar semua bisa masuk, kan kita mau perjalanan jauh" kata Yudha.


Vani hanya diam, menuruti keinginan Yudha yang masih masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu ingat pernah aku ajak kesini dulu kan, Van?" tanya Yudha yang terus saja melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah bergaya Eropa klasik itu.


"Iya, ingat. Ada nenek kamu kan dulu. Kemana beliau sekarang?" tanya Vani.


"Nenek sudah meninggal. Sebentar ya, kamu duduk dulu. Aku mau panggil supir" kata Yudha.


Vani duduk bersama berdua bersama Varo karena Vee maunya terus digendong oleh Yudha.


Varo masih asyik dengan ponselnya, membuat Vani merasa kesepian saja. Karena ingin mengurangi rasa bosan, Vani melihat-lihat ruang tamu itu.


Banyak foto lama disana, ada juga foto Yudha saat masih kecil hingga tumbuh dewasa. Vani tertawa kecil melihat perubahan Yudha dari masa ke masa.


Mungkin memang kalau orang kaya selalu mengabadikan momen seperti itu.


"Ngapain ketawa sendiri?" tanya Yudha yang mendapati Vani sedang memandangi foto masa kecilnya.


"Dari kecil aku itu sudah tampan, kamu sendiri tahu itu kan" kata Yudha.


"Kamu ke kepedean" cibir Vani.


"Ayo berangkat, semuanya sudah siap" kata Yudha mengajak Vani dan Varo.


Vani melihat ada mobil yang lebih besar dari yang mereka kendarai tadi. Ada seorang supir dan dua orang berpakaian warna ping yang sedang berdiri si dekat mobil itu.


"Kok ada mbak-mbak itu mas?" tanya Vani.


"Iya, buat jagain Varo dan Vee selama berada disana. Biar lebih aman saja, Van" kata Yudha meyakinkan Vani karena wanita itu menatapnya dengan pandangan aneh.


"Kamu nggak lagi merencanakan sesuatu kan, mas?" tanya Vani sedikit tidak percaya.


"Kamu itu yang berpikiran terlalu jauh, sudah ayo berangkat. Keburu siang nanti" kata Yudha.


"Kalian berdua duduk dibelakang, ya" kata Yudha menyuruh kedua baby sitter itu untuk masuk terlebih dahulu. Baru Yudha dan Vani berada di tengah, dan supir itu duduk sendirian di depan.


Tapi Bukan Varo namanya kalau langsung setuju. Bocah laki-laki itu malah meminta duduk di depan, disamping supir.


"Kenapa nggak di tengah saja sih, Varo? Sama bunda, ya?" bujuk Vani yang tak diindahkan oleh Varo.


"Varo maunya di depan, bun" kata Varo.


"Biarin saja kenapa sih, Van. Kamu itu kok sukanya memaksakan kehendak" kata Yudha yang mendapat acungan jempol dari Varo, bahkan ada senyum di wajahnya.


Vani hanya mencebik, tapi tak melarang Varo juga. Dia mengalah untuk duduk di tengah bersama Yudha dan Vee.


Semua sudah siap, perlahan mobil itu keluar dari pekarangan rumah Yudha. Mereka sedang menikmati perjalanan itu.

__ADS_1


Dalam hati Yudha sangat bahagia bisa bersama dengan Vani seperti ini.


★★★★★


Seharian ini Gina bertingkah manja pada suaminya, Jovan. Mereka telah menghabiskan waktu bersama seharian.


Pagi tadi mereka keluar rumah pukul delapan pagi sekalian sarapan diluar. Lalu dengan terpaksa Jovan harus menuruti keinginan Gina untuk menemani shoping hingga siang hari.


Setelah makan siang di sebuah mall ternama di kota Pesisir, mereka memutuskan untuk nonton di bioskop yang masih satu atap dengan bangunan mall itu.


Keluar dari gedung bioskop ternyata hari sudah sore, Jovan memutuskan untuk pulang saja. Dia sudah cukup penat karena menuruti keinginan istri keduanya seharian ini.


"Jangan cemberut terus dong sayang" kata Gina yang telah melingkarkan lengannya di tangan Jovan yang sedang sibuk dengan kemudi. Gina ngotot minta jalan-jalan dengan mengendarai mobilnya.


"Nggak kok" kata Jovan memaksakan senyumnya.


"Nggak tapi cemberut. Eh, iya. Mampir apotik ya, aku mau beli obat sebentar" kata Gina.


"Iya" jawab Jovan singkat.


Mereka memasuki rumah setelah adzan Maghrib berkumandang. Tadi masih mampir untuk membeli jajanan sekalian solat ashar dan istirahat di sebuah rest area yang dilengkapi cafe uang nyaman.


Sore ini sedikit berbeda, Jovan menjadi imam dari istri keduanya yang dulu adalah sahabatnya. Gina merasa sangat bahagia bisa berjamaah dengan Jovan yang selama ini hanya ada dalam angannya saja.


"Aku buatin teh hangat ya?" tanya Gina setelah melepas mukenanya.


"Boleh" jawab Jovan yang memang sedang ingin bersantai.


"Kamu rebahan saja di kasur, nanti aku antar kesini tehnya" kata Gina yang diangguki saja oleh suaminya.


Jovan rebahan sambil memainkan ponselnya diatas ranjang. Seharian dia tidak mengabari istri dan anaknya, ada rindu dihatinya.


Tapi chattingnya tidak terbalas, sepertinya ponsel Vani sedang mati.


Dan benar saja, ponselnya dalam keadaan off saat dia berusaha menelpon.


Gina datang membawa dua cangkir teh dan beberapa camilan untuk mereka bersantai.


"Ayo diminum, mumpung masih hangat" kata Gina mengambilkan secangkir teh hangat.


"Makasih ya" kata Jovan sambil meminum tehnya separuh, dan menaruhnya diatas nakas.


Gina sangat senang melihat Jovan minum teh itu. Tadi dia sudah menambahkan obat perangsang ke dalm teh Jovan. Obat yang dia beli dari apotik di perjalanan tadi.


"Sini aku pijitin" kata Gina yang sudah naik ke atas kasurnya.


Dia duduk dibelakang Jovan dan mulai memijit pundak suaminya.


Lama kelamaan Jovan merasa jika setiap sentuhan yang Gina berikan terasa sangat sensual.


Gairahnya sudah meninggi di setiap sentuhan tangan istrinya. Janji dalam hatinya untuk tetap setia pada Vani Ternyata tak sanggup diingatnya, karena setiap sentuhan yang Gina berikan sangat membuatnya frustasi.


Ada yang harus tersalurkan, dan Jovan tak bisa menahannya lebih lama lagi.


Jovan menangkap telapak tangan Gina yang menekan pundaknya. Lalu dia berbalik badan dan menatap wajah cantik Gina.


Bibir yang disapu lipstik warna pink itu terasa sangat menggoda. Gina tahu apa yang akan terjadi.


Perlahan Gina memajukan wajahnya, dan kini kedua bibir itu menyatu. Saling melahap dan mencecap.


Gina tersenyum di sela ciumannya, impiannya selama ini adalah bersama dengan pria idamannya ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2