Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
ancaman


__ADS_3

"Masnya ajari istri dengan benar ya, orang kok semaunya sendiri. Kalau saya jadi mbak yang tadi, mungkin sudah saya masukkan istri masnya ini ke got, biar sekalian minum air comberan" kata ibu penjual ayam itu dengan geram.


Orang-orang perlahan pergi dengan sumpah serapah untuk Bella. Tapi wanita itu masih berlagak sok tersakiti.


Yudha melepas pelukan Bella, wajahnya sudah berantakan. Make upnya luntur menyisakan pemandangan mengerikan.


"Kamu ngapain sih?" tanya Yudha.


"Aku cuma mau tahu seperti apa wanita ****** yang sudah menguasai hati suamiku" kata Bella marah.


"Memang selalu aku yang salah di matamu mas. Tidakkah kamu mau sedikit saja mengerti perasaanku?" tanya Bella semakin menangis.


Bella benar, Yudha terlalu egois memang. Dia sudah beristri, tapi masih memperdulikan istri orang.


"Ayo kita kembali" kata Yudha menggandeng tangan Bella untuk kembali ke kantornya saja, dan membiarkan Bella istirahat. Dia yakin wanita manjanya ini pasti masih syok.


"Kamu jangan ceritakan masalah yang tadi sama ayah kamu ya, Varo. Nanti ayah kamu marah, terus berantem sama om Yudha kan bahaya. Janji ya?" kata Vani mewanti-wanti Varo agar tutup mulut.


"Iya, bun" kata Varo.


Sampai dirumahnya, Vani mendapati Vee dan ayahnya yang tertidur. Vani membiarkan saja karena merasa kasihan pada suaminya yang pasti lelah. Dia akan menemani Varo makan ayam favoritnya.


"Tadi hape kamu bunyi, Van. Ibu angkat saja, katanya dari kurir mau kirim makanan, memangnya kamu pesan apa?" tanya ibu Vani mengembalikan ponsel.


"Nggak pesan apa-apa kok bu, kurir apa memangnya?" tanya Vani.


"Nggak tahu juga ibu. Kayaknya sebentar lagi sampai, memangnya kamu beli dimana tadi ayamnya? kok lama sekali?" tanya ibunya.


Vani menatap Varo, memberinya kode untuk diam. Dan Varo yang mengerti menurut saja. "Orang dewasa memang aneh" pikir bocah itu.


"Tadi muter-muter dulu, bu. Cari angin, biar Varo senang" kata Vani.


Tak lama, pintu rumahnya diketuk. Rupanya kurir yang ibunya maksud sudah datang. Vani kaget melihat bawaannya yang cukup banyak.


"Atas nama bu Vani, benar alamatnya disini ya?" tanya kurir itu.


"Iya benar. Ini berapa semuanya mas?" tanya Vani masih tidak percaya.


"Semuanya sudah dibayar bu. Ini barangnya, ini kartu ucapannya" kata kurir itu menyerahkan pesanan.


"Oh, iya. Makasih ya mas" kata Vani.


"Iya, saya permisi dulu bu" kata kurir itu pergi.


Vani bingung melihat banyaknya makanan yang datang. Dia teringat kartu ucapannya, segera dia membukanya.

__ADS_1


..."*Maaf"...


......"Aryudha*"......


Hanya itu isi dari kartu ucapannya. Rupanya dari Yudha, dia membelikan begitu banyak ayam Krispy untuk Varo.


"Uwah, bunda beliin Varo banyak ayam krispy ya?" tanya Varo senang.


Vani hanya tersenyum, diapun sebenarnya senang melihat Varo yang bahagia. Tapi pasti sebentar lagi Jovan yang akan marah kalau tahu itu semua dari Yudha.


Vani membagikan makanan itu ke tetangga sekitarnya juga, dan menyisakan seperlunya untuk keluarganya dirumah. Kalau sudah begini kan Jovan tidak akan marah. Untuk selanjutnya, dia akan berterimakasih sekaligus memberi sedikit wejangan pada Yudha.


★★★★★


Vani sudah masuk kerja hari ini, kondisi Vee sudah lebih baik. Jovan juga masih dirumah, jadi sudah tidak alasan untuknya absen lagi.


"Mbak, kemarin habis ngapain sama bu bos?" tanya Dewi kepo saat baru saja bertemu dengan Vani.


"Kamu kepo sekali, Dew?" tanya Vani mencibir.


"Ihh .. ayo dong mbak, cerita sama aku, gimana bisa bu bos sampai make upnya luntur semua kayak gitu?" tanya Dewi.


"Masak sih?" tanya Vani.


"Iya mbak, kemarin datang kesini sudah mengerikan, kayak mak...." Dewi menggantung kalimatnya, takut ada yang mendengar. Dan untungnya, dia tutup mulut disaat yang tepat. Dua sejoli yang mereka bicarakan terlihat akan masuk ke toko.


"Hei, wanita ******. Ngapain kamu ke toko saya?" tanya Bella yang langsung melabrak Vani lagi.


"Jaga mulut kamu ya" kata Vani geram. Dewi sudah ketakutan.


"Bel, aku nggak suka kamu seenaknya seperti ini" kata Yudha berusaha menengahi.


"Kamu jadikan dia karyawan disini mas? Biar apa? Biar kamu bisa selalu dekat sama dia? Kamu keterlaluan mas, jadi ini yang kamu lakukan saat aku jauh ya? Kalian pasti sudah sering tidur bersama kan?" teriak Bella saat mengetahui Vani memakai seragam yang sama seperti Dewi.


"Jadi kamu pemilik toko ini ya mas?" kini giliran Vani yang bertanya. Yudha jadi bingung sendiri.


"Bel, ini nggak seperti yang kamu bayangkan" kata Yudha.


"Kalau aku tahu ini toko punya kamu, pasti aku nggak akan mau kerja disini. Dan asal kamu tahu ya nyonya Aryudha yang terhormat, mulut kamu terlalu rendah untuk ukuran orang yang katanya berpendidikan" kata Vani yang kembali memakai jaketnya.


"Kamu mau kemana Van?" tanya Yudha yang mengejar Vani.


"Mau kemana kamu mas?" tanya Bella yang memegangi lengan Yudha.


"Urus dulu masalah keluarga kamu ya mas. Tolong ajari istri kamu itu untuk menjaga bicaranya" kata Vani tegas, dia akan keluar saja dari kerjaannya. Yudha ingin mengejar Vani, tapi tangannya ditahan oleh Bella.

__ADS_1


Yudha mengajak Bella naik ke atas, tidak enak kalau pertengkarannya didengar Dewi. Sedangkan Dewi yang kini merasa apes, dia harus jaga toko sendirian lagi hari ini.


"Kamu mau menjelaskan apalagi mas?" tanya Bella dengan air mata yang masih mengalir.


"Aku tidak punya niatan apapun dengan Vani. Saat dia mencari pekerjaan, kebetulan memang disini sedang butuh karyawan, dan dia punya basic pernah kerja di toko. Jadi kenapa harus susah-susah mencari orang lain lagi?" kata Yudha.


"Alasan kamu mas. Bilang saja kalau kamu yang senang kalau bisa dekat dengannya lagi" kata Bella.


"Terserah kamu saja Bel" kata Yudha.


"Kamu nggak pernah mau mengerti perasaanku, mas. Aku dari dulu selalu mencintaimu dengan tulus. Tapi apa? Kamu balas selingkuh sama wanita ****** itu? Apa sih kurangnya aku mas? Aku lebih cantik, aku lebih kaya, kenapa hati kamu selalu dipenuhi oleh wanita ****** itu?" teriak Bella.


Yudha memandang Bella sinis. "Kamu yakin aku yang bermain di belakang kamu?" kata Yudha pelan, namum tegas.


"Maksud kamu apa?" tanya Bella yang mulai khawatir.


Yudha mengambil sebuah map dari rak buku. Map merah yang agak tipis itu berisi beberapa foto yang tak asing dimata Bella.


Beberapa orang pria tergambar di foto itu. Yudha mengeluarkan beberapa lembar foto dan menyerahkan pada Bella.


"Dibelakang foto itu sudah ada biodatanya. Ada foto lain yang memperlihatkan kalau kamu sering keluar masuk hotel dengan orang yang berbeda" kata Yudha.


"Menurut kamu sebagai orang dewasa, apa yang dilakukan dua orang dewasa didalam kamar hotel?" tanya Yudha.


Bella membulatkan matanya, dia tidak menyangka jika Yudha selama ini memata-matai. Dia pikir Yudha tidak pernah peduli dengan apa yang dia lakukan.


"Sekarang coba kamu jelaskan padaku. Siapa orang-orang ini? Beberapa diantaranya aku tahu, ada model pria, ada artis, ada juga pejabat" kata Yudha tenang, tapi malah membuat Bella merasa panas dingin.


"Jadi selama ini kamu mengintai kegiatanku mas?" tanya Bella.


"Tidak akan pernah aku lakukan itu kalau kamu mau mendengarkanku Bel. Aku hanya ingin kamu mau menjadi seorang ibu, aku merindukan adanya anak diantara kita. Tapi kamu tidak pernah mau. Kamu lebih memilih karir kamu daripada rumah tangga kita" kata Yudha.


"Jadi, ini alasan kamu mendekatinya? kamu ingin kembali dengannya, iya?" tanya Bella.


"Kamu jangan terus menyalahkan Vani. Aku hanya merasa senang bisa dekat dengan anaknya, aku merasa bisa menjadi seorang ayah dengan keberadaan anak-anaknya yang mau memanggilku papa" kata Yudha.


"Aku benci sama kamu mas. Kamu memang mengerikan" kata Bella.


"Terserah kamu saja. Kalau kamu macam-macam, aku bisa pastikan karir kamu yang sempurna ini akan hancur, dan asal kamu tahu, semua aset atas nama kamu sudah atas namaku, dan kamu sendiri yang menandatangani semuanya. Jadi, jika kamu macam-macam, aku bisa pastikan kalau nanti kamu hanya akan menjadi gembel dijalanan" ancam Yudha.


Bella tersadar kali ini, rasa cintanya yang begitu besar untuk Yudha telah membutakan matanya. Dia selalu menuruti keinginan Yudha, bahkan dia dengan sendirinya telah memberikan seluruh aset miliknya pada laki-laki pemilik hatinya ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2