Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
kejujuran


__ADS_3

Jovan baru saja keluar dari ruang rawat Vani, dia akan mencari sarapan di kantin rumah sakit setelah menitipkan istrinya pada suster yang menjaganya di dalam ruangan.


"Permisi, dengan bapak Jovan?" tanya seorang dokter cantik yang Jovan tidak kenali.


"Iya, saya sendiri. Maaf, dokter mengenal saya?" tanya Jovan.


Mela akan mencari info dari Jovan saja agar lebih mudah.


Yudha selalu merepotkannya. Jadi, dia menyempatkan diri mencari keberadaan Vani pagi ini sebelum bekerja.


"Saya dokter Mela, saya mengenal istri pak Jovan. Saya dengar bu Vani terkena musibah?" tanya Mela berhati-hati.


"Iya, darimana dokter tahu?" tanya Jovan.


"Maaf, saya tadi mendengar bisik-bisik dari beberapa suster yang mengatakan kalau ada ibu hamil yang tak sengaja keracunan. Dan ibu itu sedang hamil anak kembar" kata Mela


"Entahlah, setiap mendengar wanita yang sedang hamil anak kembar selalu saja pikiran saya pada Bu Vani" kata Mela tersenyum.


"Waktu saya tanya nama ibu hamil tersebut, ternyata benar itu Bu Vani. Makanya saya langsung kesini setelah mencari tahu ruangannya" kata Mela.


"Oh, iya dok. Istri saya baru saja keracunan. Terimakasih dokter sudah perhatian pada istri saya" kata Jovan.


"Jadi, bagaimana keadaan Bu Vani sekarang, pak? Boleh saya menjenguknya?" tanya Mela.


"Boleh, dok. Mari silahkan masuk" kata Jovan yang kembali memasuki ruangan istrinya.


"Pagi dokter Mela" sapa suster yang tadi Jovan tinggalkan bersama Vani.


"Pagi, sus" kata Mela menjawab sapaan susternya.


"Istri saya sudah lebih baik, dok. Alhamdulillah racunnya tidak sampai fatal mengenai kedua anak saya. Mereka baik-baik saja di dalam perut istri saya" kata Jovan memberi sedikit penjelasan sesuai petunjuk dokter kandungan yang tadi dia dengar.


"Racun apa yang terminum oleh bu Vani, pak Jovan? Dan kenapa bisa kejadian seperti itu?" tanya Mela yang heran mendengar jika Vani sampai termakan racun.


"Saya tidak begitu faham nama racunnya, dok. Tapi dari penjelasan yang saya dengar dari dokter, racunnya memang untuk menggugurkan kandungan" kata Jovan yang jadi ikut heran, tak terfikirkan olehnya siapa yang tega menjahati Vani.


"Tapi untung saja pertolongannya datang tepat waktu, dok. Mereka masih bisa diselamatkan" kata Jovan.


Mela menilai jika Jovan adalah lelaki yang baik dan lugu. Mungkin pergaulannya tak seluas Yudha.


Dan yang Mela tahu, memang jarak usia Jovan dan Yudha terpaut cukup jauh. Hampir tiga belas tahun. Pantas saja jika pengalaman Jovan masih tak seluas Yudha.


"Saya doakan semoga bu Vani bisa segera pulih ya, pak Jovan. Kesabaran seorang suami sedang diuji kali ini" kata Vani memberi semangat pada Jovan.


"Terimakasih banyak, dok. Apa perlu saya bangunkan istri saya agar dokter bisa ngobrol dengan lebih leluasa?" tanya Jovan.


"Tidak usah pak Jovan, pasti bu Vani baru saja diberi obat penenang. Biarkan dia istirahat. Lagian saya juga sudah harus pergi, sudah waktunya saya bekerja" kata Mela berpamitan, dia juga harua bekerja setelah melapor pada Yudha, temannya yang kurang ajar itu.


"Baiklah kalau begitu, dok. Terimakasih sekali lagi karena dokter sudah menyempatkan diri datang menjenguk istri saya" kata Jovan menyalami Mela sebelum dokter itu pergi.


Mela keluar dari ruang rawat Vani, berjalan ke ruang kerjanya sendiri sambil mengabari Yudha.


Langkah Jovan sudah mantap kali ini. Dia akan ke kantin sebelum menghabiskan waktu dengan istrinya yang sedang dirawat.


★★★★★


Yudha melihat Jovan berdiri dari tempat duduknya, rupanya dia sudah selesai dengan sarapannya. Dan terlihat Jovan akan pergi, mungkin dia akan langsung ke ruangan Vani.


"Selamat pagi, Jovan" sapa Yudha dengan tampang datarnya, sebenarnya dia sangat muak melihat wajah Jovan.


"Selamat pagi juga, pak Yudha" kata Jovan menjawab sapaan Yudha dengan tampang tak kalah datar.

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar?" tanya Yudha.


"Saya tidak punya banyak waktu, karena istri saya sedang sendirian di kamarnya" kata Jovan dengan menekankan kata 'istri' agar Yudha tak sering-sering mengganggunya lagi.


"Saya tahu, saya hanya butuh sedikit waktu kamu yang sangat sibuk dengan dua istri" kata Yudha.


Terlihat ekspresi terkejut dari Jovan meski hanya sekejap. Jovan bisa kembali menetralkan ekspresinya.


"Baiklah, silahkan duduk" kata Jovan yang kembali menduduki bangkunya.


Yudha duduk dihadapannya sambil menyilangkan kaki dan ditemani dua orang body guard dibelakangnya. Sepertinya hanya untuk menggeretak Jovan saja.


"Saya mau menegaskan pada kamu sekali lagi, tinggalkan Gina atau saya akan bertindak dengan cara saya sendiri" to the poin saja, Yudha tidak suka melihat wajah Jovan.


"Maksud anda apa? Saya tidak mengerti" kata Jovan.


"Saya tahu kalau kamu diam-diam sudah menikah lagi dengan wanita sialan itu. Wanita yang sudah sering kali membuat Vani bersedih, bahkan kali ini dia berani-beraninya ingin mencelakai Vani dan kandungannya " geram Yudha karena Jovan bertampang sok polos.


Jovan tertegun, sejauh apa yang Yudha ketahui tentang dirinya. Dan apa urusannya dengan semua ini?


Vani adalah istrinya, janin dalam kandungannya juga anaknya. Lantas kenapa Yudha seperhatian itu.


"Saya rasa pak Yudha terlalu ikut campur urusan rumah tangga saya. Urusan saya menikah lagi, itu adalah urusan saya. Bukan urusanmu" kata Jovan yang merasa tidak terima.


"Semua yang membuat Vani merasa sedih dan kecewa akan menjadi urusan saya. Karena asal kamu tahu, Jovan. Anak dalam kandungan Vani itu adalah anakku" akhirnya Yudha memberitahukan pada Jovan tentang kandungan Vani.


"Anda jangan bercanda. Candaan anda berada di waktu yang tidak tepat, pak Yudha yang terhormat" kata Jovan dengan senyum smirknya, sangat menjengkelkan di mata Yudha.


"Saya tidak bercanda, dan saya punya buktinya. Dan itu bukanlah kesalahan Vani, karena memang dia tidak tahu apa-apa sampai sekarang" kata Yudha yang memperlihatkan surat hasil tes DNA yang Yudha lakukan beberapa waktu yang lalu.


"Tidak mungkin, semua ini hanya candaan anda saja, kan" kata Jovan yang terlihat sangat kecewa setelah melihat hasil dari surat itu.


"Tidak, saya memang bersalah. Saya melakukan hal itu tanpa sepengetahuan Vani. Saya membiusnya waktu itu" kata Yudha.


Tentunya semua itu ditangkis oleh body guard yang Yudha bawa.


"Apa bedanya saya sama kamu? Vani hanya melakukan itu satu kali denganku, tapi kamu? Kamu bahkan sudah berkali-kali mengkhianati Vani" kata Yudha masih dengan suara datar dan tenang, memerintahkan kedua body guardnya untuk menurunkan tangannya.


Dan Jovan kembali duduk di kursinya dengan penuh rasa kecewa.


"Aku tahu, saat kematian orang tua Vani. Bahkan kamu sedang bermesraan dengan istri muda mu yang bernama Gina itu kan?" kata Yudha yang sukses membuat Jovan bungkam.


Jovan terdiam, dia menunduk dengan wajah sangat kecewa. Entah kecewa pada Vani atau pada dirinya sendiri.


"Asal kamu tahu, Jovan suaminya Vani" kata Yudha menjeda ucapannya, membuat Jovan kembali mendongak untuk menatap lawan bicaranya.


"Orang yang sudah mencelakai kedua orang tua Vani hingga menyebabkan mereka meninggal, bahkan bukan hanya kedua orang tua Vani saja yang menjadi korbannya. Semua penumpang di dalam bus itu banyak yang menjadi korban".


"Orang itu adalah istri mudamu, Gina" kata Yudha.


"Anda jangan main-main, mana mungkin Gina yang melakukan itu semua? Dia adalah wanita yang baik" Jovan masih saja membela Gina yang membuat amarah Yudha semakin meledak.


Yudha menggelengkan kepalanya, dia tersenyum tak percaya jika Jovan selugu itu.


"Bisa saja, Jovan. Dia punya kekuasaan, dia punya orang-orang yang bekerja dibelakangnya. Dia punya banyak uang untuk melakukan hal semudah itu".


"Dan lagi, dia tidak terima karena kamu lebih mementingkan Vani daripada Gina" kata Yudha menjelaskan dengan tenang.


Jovan masih tidak percaya, lebih tepatnya tidak ingin mempercayai perkataan Yudha meskipun itu terdengar benar juga.


"Saya masih tidak percaya dengan semua omong kosong anda, pak Yudha" kata Jovan dengan mata terpejam.

__ADS_1


Bak petir di siang bolong, Jovan rasanya telah dijatuhkan ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Dadanya terasa sesak, dia terlalu kecewa akan dua hal yang didengarnya pagi ini.


"Mungkinkah Vani benar-benar tidak tahu, atau itu hanya akal-akalan Yudha agar aku tidak meninggalkan Vani?" kata Jovan dalam hatinya yang dilanda rasa bimbang yang teramat dalam.


"Dan untuk Gina, bagaimana mungkin dia tega melakukan itu semua pada Vani? o


Itu tidak mungkin" kata Jovan dengan mata terpejam erat.


"Dan yang ingin saya tekankan disini, untuk anak dalam kandungan Vani. Itu murni kesalahanku, jangan pernah tanyakan tentang hal itu padanya. Karena memang dia tidak tahu apa-apa".


"Kalau sampai Vani membenciku karena kamu yang membocorkan hal ini, maka akupun akan mengatakan jika kau pun telah mengkhianatinya dengan diam-diam menikahi Gina, sahabat kecilmu itu, Jovan" kata Yudha.


"Dan diantara kita berdua, tidak akan ada yang bisa mendapatkan hati Vani lagi. Kita berdua akan dibencinya, bahkan mungkin seumur hidup kita, Vani akan melarang kita bertemu dengan anak-anak kita" Yudha menjelaskan lagi pada Jovan.


Jovan masih membatu ditempatnya, dia bahkan tak tahu lagi harus bagaimana.


Jovan sangat mencintai Vani, dan apakah dengan satu saja kesalahannya maka Jovan akan membenci wanita yang sudah hampir sepuluh tahun ini menemaninya dan mau menerima segala kekurangannya?


Bahkan kesalahan Jovan jauh lebih banyak pada Vani, dia sudah mengkhianati istrinya.


Jovan masih bingung harus bagaimana dan seperti apa dia akan bersikap pada anak itu jika sudah lahir nanti.


"Saya janji padamu sebagai seorang laki-laki, Jovan, bahwa saya akan pergi dari kehidupan kalian setelah semua urusanku disini selesai dan melihat anak-anakku lahir dengan selamat ke dunia ini" meski dengan berat hati Yudha harus menyampaikan ini.


"Dan saya minta padamu, izinkan aku membawa anakku" kata Yudha.


Jovan mendongak, "Tidak, aku tidak mungkin membiarkanmu membawa kedua anak itu. Akupun sudah lama menantikan kehadiran mereka. Dan lagi, Vani tidak akan mengizinkanmu membawanya. Dia tidak akan mau dipisahkan dengan anaknya" kata Jovan.


"Benar juga apa yang dia katakan" batin Yudha.


"Tapi akupun berhak untuk membawa mereka, aku ayahnya" kata Yudha yang masih menginginkan putri kembarnya.


"Itu tidak mungkin, akan sangat sulit" kata Jovan berdiri, dia meninggalkan Yudha yang masih merenung di bangku kantin rumah sakit bersama kedua bodyguardnya.


Jovan tak kalah galau, hatinya bercabang. Satu sisi marah karena Vani yang tak bisa menjaga kehormatannya. Dan di sisi lain dia masih sangat mencintai wanita itu.


Jovan tak menampik bahwa diapun salah, kesalahannyapun sangat besar. Bahkan terlampau besar untuk bisa dimaafkan.


Langkah gontainya membawa kembali ke ruangan dimana Vani terbaring lemah. Pria menyedihkan itu membuka perlahan pintu kamar.


Memasuki ruangan dengan nyaris tanpa suara. Tak ingin membuat Vani terganggu tidurnya.


Jovan mendudukkan dirinya di samping ranjang Vani. Memandangi wajah teduh istrinya yang sedang terbaring lemah.


Dia tidak menyangka jika banyak kesedihan, kemalangan, dan kecelakaan yang terjadi pada wanita itu tak lain karena ulahnya sendiri.


Secara tidak langsung, Jovanlah yang telah menyebabkan itu semua. Dan sekarang, dia tidak tahu harus bagaimana.


"Kemana Gina? Kenapa sejak kemarin dia tidak menghubungiku?" gumam Jovan, tangannya tergerak untuk mengambil ponsel dan menghubungi istri mudanya itu.


"Nggak diangkat" kata Jovan lirih.


Ada sedikit kekhawatiran di hati Jovan akan keselamatan wanita itu. Karena Yudha adalah orang yang terlalu nekat yang pernah Jovan temui selama hidupnya.


Dia tega mencari kenikmatan dari Vani yang sedang tak sadarkan diri. Padahal Jovan tahu bahwa Yudha juga punya perasaan yang sama dengannya, menyimpan rasa cinta yang mendalam pada Vani.


Entah hubungan macam apa yang Yudha inginkan dari keluarganya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2