
Yudha meringkuk diatas ranjangnya. Keringat dingin menyatu dengan gumaman yang tidak sengaja keluar dari mulutnya.
Susahnya hidup sendiri itu ketika tubuh sedang tidak baik-baik saja, maka tidak akan ada yang merawatmu. Sekaya apapun kamu, sebanyak apapun hartamu, kesepian alan perlahan menggerogoti jiwamu jika kau bertahan dengan kesendirian.
Tok.. Tok.. Tok..
"Den, Aden... Sudah siang" kata bibik membangunkan Yudha yang tak berdaya.
Sedikit membuka matanya, rasanya sangat berat. Seolah kelopak matanya di lem dengan kuatnya.
Menggapai gawainya, Yudha mengecek jam yang ditunjukkan.
"Sudah jam delapan" gumamnya.
Dia menghubungi seseorang.
"Iya, bos?"
tanya Akbar yang sudah stay di kantornya.
"Hubungi Mela, aku sedang tidak enak badan. Kamu tolong handle pekerjaan kantor hari ini ya"
kata Yudha yang masih memejamkan matanya, perutnya terasa bergejolak.
"Bapak sakit? Sepertinya kemarin masih sehat-sehat saja?"
tanya Akbar.
"Iya, Cepat panggil Mela. Perutku sangat mual"
kata Yudha.
"Baik pak"
Yudha mematikan sambungan teleponnya, kini dia kembali menutup matanya.
Sebenarnya dia tidak merasa pusing, hanya saja perutnya seperti orang habis mabuk alkohol.
Ya ampun, rasanya dia seperti sedang berada diatas perahu yang diombang-ambingkan ombak.
"Den, apa sarapannya mau dibawakan ke kamar saja?" tanya bibik.
"Boleh, bik. Tolong dibawakan kesini saja ya" kata Yudha tanpa membuka matanya.
Tak lama kemudian, bibik datang lagi dengan senampan makanan. Ada bubur ayam dan teh hangat.
"Ini den sarapannya" kata bibik membantu Yudha untuk duduk dan menyiapkan meja kecil dipangkuannya.
"Terimakasih bik" kata Yudha.
Belum sempat Yudha menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, tapi aroma dari bawang goreng yang menjadi taburan di mangkuk buburnya sudah membuat rasa mualnya semakin menggila.
Segera Yudha bangkit dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dia muntah di wastafel.
__ADS_1
Cukup lama dia memuntahkan isi dalam perutnya, hingga hanya tersisa cairan kuning saja yang dikeluarkannya.
Tapi belum juga membuatnya lega. Rasa mual itu tetap terasa sangat menyiksa.
Setelah selesai membersihkan diri, Yudha kembali ke ranjangnya. Rupanya si bibik masih setia menungguinya.
"Aden sakit ya? Mau bibik antar ke rumah sakit den?" tanya Bibik khawatir.
"Nggak perlu bik, saya sudah menyuruh Akbar untuk memanggilkan Mela kesini" jawab Yudha.
Bibik mengerti, Mela adalah teman Yudha yang berprofesi sebagai dokter. Salah satu teman baik Yudha yang bibik tahu.
"Permisi den, ada bu Mela" kata satpam mengantarkan orang yang sedang Yudha bahas dengan bibiknya.
"Suruh dia masuk" kata Yudha yang sudah kembali berbaring di ranjangnya.
"Bisa sakit juga ya kamu, Yud?" kata Mela yang melihat Yudha tak berdaya.
"Lakukan saja tugas kamu, nggak usah repot-repot berkomentar" kata Yudha.
"Hehe, kamu itu lucu sekali. Sudah sakit masih saja cerewet" kata Mela.
"Keluhannya apa?" tanya Mela sambil meriksa Yudha dengan tensimeter dan stetoskopnya.
"Sejak tadi pagi rasanya perutku mual sekali. Bau bawang goreng saja sudah membuatku sangat tidak nyaman" keluh Yudha.
"Tapi semuanya baik-baik saja, tekanan darah dan suara dari dalam dirimu juga tidak mengatakan ada masalah dengan tubuh kamu" kata Mela.
"Baik, baik tuan besar. Akan aku lakukan perintahmu" kata Mela yang melakukan pemeriksaan ulang terhadap Yudha.
Dan hasilnya tetap, semuanya baik-baik saja.
Mela memikirkan sesuatu, sebelum menyuruh bibik untuk keluar tanpa membuatnya merasa tersinggung.
"Bik, bisa tolong bawakan air hangat dan juga kompresan kesini?" tanya Mela.
"Tentu, dokter. Sebentar ya" kata bibik berlalu pergi.
Setelahnya, Mela menatap Yudha intens. Seolah sedang mengulitinya hidup-hidup.
Merasa hening, Yudha sedikit melirik pada Mela. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yudha.
"Apa beberapa minggu yang lalu kamu pernah melakukan suatu hubungan layaknya suami istri dengan seorang wanita?" tanya Mela penuh selidik.
Yudha sedikit berfikir, selama ini dia sudah tidak pernah 'jajan' diluar sejak menjumpai Vani lagi.
Tapi dia jadi ingat kalau tiga minggu yang lalu dia sudah memperkosa Vani kan?
"Mungkinkah dia?" batin Yudha.
"Sudah ingat siapa wanita yang kamu jadikan korban, Yud?" tanya Mela.
"Ingat, dan sialnya, dia itu--" kata Yudha memotong pembicaraannya.
__ADS_1
"Mungkin nggak sih bisa hamil meskipun hanya melakukannya satu kali saja?" tanya Yudha.
"Bisa saja bego, kalau si wanita sedang dalam masa subur dan kalian melakukan tanpa pengaman" kata Mela jengah dengan sikap Yudha yang suka semena-mena pada wanita.
"Tuhan.... aku sudah sangat berdosa" kata Yudha lirih, dia terlihat sangat frustasi.
"Kenapa?" tanya Mela yang melihat Yudha mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sebenarnya aku sakit apa sih?" tanya Yudha.
"Sepertinya kamu kena sindrome couvade atau biasa disebut kehamilan simpatik. Tandanya ya seperti itu, kamu merasakan gejala awal pada ibu hamil. Misalnya mual, muntah, kaki terasa kram dan lainnya" kata Mela menjelaskan.
"Darimana kamu tahu?" tanya Yudha.
"Kamu lula kalau aku seorang dokter? Lagipula suamiku juga mengalami hal yang sama denganmu saat aku hamil dulu" kata Mela memarahi Yudha.
"Jadi, siapa wanita yang telah kau hamili, Yud? Tidak mungkin istrimu, kan? Dia sedang di luar negri" kata Mela penuh selidik.
"Itu tidak penting untukmu. Tapi kapan aku visa sembuh? Aku sangat tersiksa jika terus seperti ini" keluh Yudha.
"Cg, beruntung wanita itu. Dia yang hamil, tapi kamu yang tersiksa. Jadi bagaimana caranya kamu nanti bertanggung jawab?" tanya Mela.
Yudha menahan obrolannya dengan Mela saat bibik datang membawakan pesannya.
"Ini non, mau diletakkan dimana? Atau perlu saya bantu sesuatu?" tanya bibik.
"Nggak usah bik. Biar nanti jadi urusanku sendiri. Bibik bisa mengerjakan tugas bibik lagi" kata Mela mencari alasan karena sepertinya Yudha sudah mau buka mulut.
"Oke, sekarang coba kamu jelaskan sama saya, apa yang sudah terjadi?" tanya Mela.
"Nanti kalau sudah waktunya kamu pasti tahu. Sekarang berikan aku obat agar bisa cepat sembuh" kata Yudha.
"Ok, baiklah jika memang itu maumu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Yud. Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu perbuat" kata Mela sambil memberikan vitamin dan pereda mual untuk Yudha.
"Jadi seperti ini memang rasa tersiksanya wanita hamil, kamu sudah mengalaminya sendiri, bukan? Aku harap kedepannya kamu akan lebih menghargai perasaan wanita. Entah itu perasaan istrimu ataupun wanita lain yang sudah menjadi korban nafsumu" kata Mela sebelum pergi meninggalkan Yudha.
"Kenapa diam saja?" tanya Mela yang tak mendengar sahutan apapun dari mulut Yudha. Pria itu sedang bingung rupanya.
"Aku pergi dulu ya, saat kamu merasa mual, minum obat yang putih, minum juga sebelum kamu mau makan. Dan vitaminnya diminum satu kali saja dalam sehari" kata Mela yang meninggalkan Yudha dikamarnya.
Seperginya Mela, Yudha jadi mengingat Vani. "Benarkah dia hamil? Jika benar dia hamil, benarkah anak dalam kandungannya itu anakku?" batin Yudha bertanya penuh kebimbangan.
Tapi sisi lain dalam hatinya menghangat, dia akan mempunyai anaknya sendiri dari orang yang sangat dia cintai. Meskipun fara yang dia lakukan salah, tapi dia akan memperjuangkan hak atas anaknya kelak.
"Besok aku akan pastikan kehamilan Vani, sekarang aku harus bisa lebih sehat" batin Yudha penuh keyakinan.
Mengingat jika akan mempunyai seorang anak, dunianya menjadi lebih cerah.
.
.
.
__ADS_1