
Bella masih senderan manja di dada Dave, setelah olahraga ringan siang ini. Mereka berdua masih menikmati kebersamaan sebelum Bella beraktivitas seperti biasa esok hari.
"Pemikiran kamu tentang pernikahan bagaimana, Dave?" tanya Bella dengan tangan mengelus dada bidang Dave yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Membuat mata Dave terpejam menahan gairah yang baru saja usai disalurkan.
"Aku nggak suka terikat, mungkin aku nggak akan pernah menikah, honey" kata Dave.
"Good, stay with me. Tetaplah bersamaku" kata Bella manja.
"Ya, tentu. As long as you want" kata Dave.
"Saya lihat suami kamu itu tampan, kenapa kamu selingkuh darinya?" tanya Dave penasaran.
"Hubungan kami tak semulus itu. Menikah karena perjodohan sangat tidak menyenangkan. Meskipun dengan orang yang aku cintai" kata Bella.
"So, you love him?" tanya Dave.
"Sangat, aku sangat mencintainya. Tapi cinta membuatku bodoh, dia selalu mempermainkanku" kata Bella.
"You too, babe. Kamu juga mempermainkannya" kata Dave terkekeh.
"Iya, kita impas" kata Bella tersenyum. Selanjutnya mereka saling berpagut lagi, saling mendekap lagi. Melakukannya lagi sampai benar-benar letih.
Hari menjelang malam saat Bella merasa sangat lapar. Berperang dengan hasrat nafsu membuat energinya terkuras habis. Saat dia membuka mata, terlihat wajah tampan Dave menyambut netranya.
"Dave, bangunlah.. Aku lapar sekali" kata Bella sambil mengelus wajah Dave yang terlelap.
Merasa ada pergerakan di wajahnya, Dave membuka mata. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah senyum manis dari wajah cantik Bella.
Mereka masih berpelukan, seolah tidak ada yang mau saling melepaskan.
"Aku lapar, Dave" kata Bella yang kemudian duduk sambil memegangi selimut abu-abu sampai sebatas dadanya.
Dave duduk dibelakang tubuh Bella, menggerayangi tengkuk belakangnya dengan menggunakan bibir. Jenggot halus yang tumbuh di wajah Dave membuat Bella bergidik geli, tapi matanya terpejam menikmati.
"Stop, Dave. I'm so hungry. I need to eat, but I don't wanna eat you anymore" kata Bella sambil menyunggingkan senyumnya.
"Let's take a shower together" kata Dave sambil menggendong tubuh Bella ala bridal style.
"Aah" teriak Bella tertahan, dia kaget karena Dave yang tiba-tiba menggendongnya.
Mereka berdua mandi dalam arti sebenarnya setelah setengah jam bergulat dengan mandi dalam artian lain.
Satu jam setelahnya, mereka benar-benar keluar dari apartemen Bella dan bersiap mencari makan malamnya.
__ADS_1
Restoran mahal dengan nuansa romantis menjadi pilihan bagi keduanya untuk makan malam ini.
Tentu saja Bella sebagai donaturnya selama berlibur di Thailand. Dave mana ada uang sebanyak itu untuk mentraktir Bella.
Bella tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Baginya, selama dia bisa merasakan bahagia, uang bukanlah hal yang sulit.
Keesokan harinya, setelah seharian bergulat dengan lampu flash dari kamera, dan saat telinganya sudah terasa tuli karena mendengar arahan dari fotografer, Bella kembali ke apartemennya masih bersama dengan Dave.
Kedua manusia yang sedang diliputi rasa cinta yang semu itu langsung saling melahap bibir masing-masing setelah berhasil membuka pintu apartemen Bella.
Di ruang tamu, Bella dan Dave saling memulai fore play yang memabukkan. Rasa kelelahan karena seharian bekerja tidak terasa olehnya saat bisa bergumul dengan Dave seperti ini.
Keduanya terengah karena pasokan oksigen yang menipis di paru-parunya. Mereka melepas ciuman untuk bernafas sejenak.
Bella masih mengalungkan kedua tangannya di leher Dave, sementara Dave menggenggam pinggang ramping Bella dengan posesif.
Terdengar suara tepuk tangan dari sofa di seberang mereka.
Keduanya tersentak kaget, mana mungkin ada orang lain di apartemen ini?
Hanya Bella yang tahu kode akses untuk bisa masuk ke dalamnya. Tapi, tunggu.
Bukan hanya Bella yang tahu kodenya, ada seseorang lagi yang tahu. Yaitu, Yudha. Suaminya.
Segera kedua orang yang barusan bergumul itu duduk tegap, seperti siswa cupu yang dipanggil ke ruang BP. Terasa sangat hawa horor disana.
Dave tersenyum sinis melihat ke arah Yudha. "Mengganggu saja" pikirnya.
"You are so amazing Bella" kata pertama yang diucapkan Yudha membuat Bella semakin menunduk.
"It's ok. Lanjutkan saja, anggap saja saya tidak ada disini" kata Yudha dengan angkuh.
"Mau kamu apa mas?" tanya Bella setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Tidak ada. Hanya ingin mengunjungi kediaman istri yang sedang merajuk" jawab Yudha santai.
Bella mendongak setelah mendengar penuturan Yudha. Sebenarnya dia akan tersentuh dengan perkataan Yudha jika tidak sedang dalam posisi seperti ini.
"Tapi sepertinya istri saya sedang tidak membutuhkan kehadiran suaminya" kata Yudha seolah bersedih.
"Cg, berhentilah berdrama" kata Dave tersenyum sinis.
"Bella... Bella ... Kau ini, kemarin menghina wanita lain sebagai ******. Dan ternyata, sekarang apa yang kau lakukan?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Aku tidak akan berbuat seperti ini kalau kamu nggak duluan melakukan itu, mas" sentak Bella.
"Memangnya aku melakukan apa?" tanya Yudha.
"Berhentilah bersikap sok suci. Kalian tidak mungkin bersikap biasa saja. Kalian juga sama-sama dewasa. Nggak mungkin tidak terjadi apa-apa" kata Bella dengan menunjuk Yudha.
"Vani itu tidak seperti kamu. Untuk menyentuh tangannya saja aku dilarang, apalagi menyentuh lainnya" kata Yudha.
"Tidak mungkin. Kau pembual" kata Bella.
"Terserah kamu saja. Lakukan sesukamu, akupun sama" kata Yudha kemudian berdiri.
"Mau kemana kamu mas?" tanya Bella yang ikut berdiri, Dave sendiri sudah muak dengan drama pasangan suami istri itu.
"Pergi, tidak ada gunanya aku disini. Kami kan sudah mendapat kehangatan darinya" sindir Yudha pada Dave.
Yudha melangkahkan kakinya ke arah pintu setelah mengatakan hal itu. Dave sendiri menjadi sedikit geram dengan tingkah Yudha yang merasa benar sendiri.
Dave berdiri, melangkah menuju ke arah Yudha yang sudah di ambang pintu, bahkan tangannya sudah bersiap memegang handle saat Dave menerjang untuk menghajar Yudha.
"Jangan Dave" teriak Bella mengagetkan Yudha, pria itu menoleh untuk melihat keadaan dibelakangnya.
Yudha belum siap menghadapi serangan dari Dave. Wajahnya terkena pukulan, tepat di sudut bibirnya kini terasa sakit dan kebas.
Dengan ibu jarinya, Yudha mengusap lembut ujung bibirnya. Ternyata ada sedikit darah yang keluar dari sana.
Merasa harga dirinya terinjak, emosi Yudha meninggi. Apalagi melihat seringai mengejek dari wajah Dave.
Tangan Yudha terangkat, dengan sekali pukulan sekuat tenaga yang diarahkan ke hidung Dave ternyata tepat sasaran. Bisa dipastikan jika tulang hidung Dave retak, atau bahkan mungkin sudah patah karena tinju yang Yudha berikan sekuat tenaga.
"Auwh..." jerit Dave memegang hidungnya yang mulai mimisan. Bella bingung harus menolong siapa, beberapa saat dia mematung.
"Ouch .. ini sangat sakit" kata Dave yang kedua tangannya sudah menutup hidungnya.
Akhirnya Bella lebih memilih untuk menolong Dave. Sekali lagi, Yudha merasa harga dirinya terinjak oleh pemandangan itu.
Yudha tersenyum, akhirnya dia harus tega untuk melakukan sesuatu, hanya satu saja kesempatan untuk membahagiakan hatinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.
Akhirnya diapun memilih pergi meninggalkan sang istri dengan selingkuhannya. Malam ini Yudha memutuskan untuk bermalam di hotel saja untuk istirahat. Besok dia akan kembali ke kotanya.
.
.
__ADS_1
.