Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
satu kali saja


__ADS_3

Selepas isyak, Yudha dan rombongannya kembali ke hotel untuk beristirahat.


Varo dan Vee sudah tertidur daritadi saat di mobil. Yudha memerintahkan para suster untuk membawa keduanya ke kamar agar bisa tidur dengan nyaman.


"Banyak banget belanjaannya" kata Yudha melihat bagasi mobilnya penuh dengan kantong belanjaan.


"Maaf ya mas, aku khilaf. Kamu nggak akan bangkrut cuma karena beli oleh-oleh ini kan?" cengir Vani tanpa dosa.


"Mau kamu beli sama tokonya juga aku masih sanggup, Van" jawab Yudha sambil menurunkan kantong-kantong plastik dan juga bag paper dari bagasi.


"Mau dong dibelikan monas" canda Vani yang melihat Yudha seperti kelelahan.


Yudha menoleh, seutas senyuman menghiasi wajah tampannya. Hati Vani jadi meleleh kan...


"Aku buatin saja, ya. Nggak akan boleh dibeli kalau monas" kata Yudha menanggapi candaan Vani.


"Becanda mas. Dah Yuk, masuk. Capek aku, mau rebahan" kata Vani sambil menenteng beberapa kantong, dan yang lainnya dibawakan Yudha dan pak supir.


"Temani aku ngopi sebentar ya, besok kan kita harus sudah kembali" kata Yudha dengan tatapan memohon saat Vani melihatnya.


"Boleh deh, tapi aku mau mandi dulu ya. Gerah, bau asem" kata Vani.


"Iya, nanti aku jemput ke kamar kamu ya" kata Yudha. Vani hanya mengangguk.


Tiba dikamarnya, Yudha melihat kedua anak Vani sudah terlelap ditemani susternya masing-masing.


"Kamu bawa baju ganti saja, terus mandi di kamarku. Biar mereka dijaga suster" kata Yudha setelah meletakkan belanjaan Vani di sudut ruangan.


"Iya, deh. Tunggu sebentar ya aku ambil baju ganti dulu" kata Vani.


Yudha mengangguk dan menunggu sambil melihat ponselnya, mengecek email untuk memastikan pekerjaannya baik-baik saja.


"Mbak, aku titip mereka ya. Tolong dijaga baik-baik" kata Vani setelah mendapat pakaiannya.


"Iya, Bu" jawab suster Hesti.


"Sudah?" tanya Yudha.


"Iya, ayo" ajak Vani.


Mereka berdua menuju kamar Yudha yang berada tepat disamping kamarnya sendiri.


"Kamu mandi dulu ya, aku mau hubungi Akbar dulu. Ada yang harus aku kerjakan sebentar" kata Yudha, sepertinya dia sedang ingin menelpon seseorang.


"Iya" kata Vani memasuki kamar mandi. Sedangkan Yudha melangkah menuju balkon untuk menghubungi asisten kepercayaannya. Kamar Yudha dan Vani dilengkapi balkon yang bisa melihat ke luar hotel.


Cukup lama Vani merilekskan tubuhnya, nyaman sekali berendam air hangat dengan aromaterapi yang menenangkan.


Sampai Yudha selesai dengan teleponnya, Vani masih belum keluar juga.


Lelah menunggu, Yudha memutuskan untuk menghubungi pihak restoran. Dia akan memesan kopi dan camilan untuk dibawakan ke dalam kamarnya saja.


Menikmati secangkir kopi dan camilan, ditemani wanita pujaannya sudah menjadi bayangan yang Yudha impikan sejak kemarin. Dan malam ini dia akan mewujudkannya.


"Sudah selesai?" tanya Yudha saat mendapati Vani sudah berada di depannya, duduk berhadapan dengannya.


"Sudah, kamu mau mandi juga?" tanya Vani.


"Iya, kamu tunggu sebentar ya. Oh iya, nanti ada akan yang datang untuk mengirim makanan. Kamu terima dulu ya, kamu masih suka vanilla late kan?" tanya Yudha.


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Vani.


"Aku sudah pesankan itu buat kamu" kata Yudha sebelum beranjak pergi.

__ADS_1


"Oh, iya" jawab Vani singkat.


Yudha segera melakukan ritual mandinya, dia ingin tampil segar untuk menikmati malam panjangnya bersama Vani. Hal yang sangat sulit dilakukan jika tidak ada kegiatan berlibur seperti ini.


Vani memeriksa ponselnya, menatap layar yang menyala untuk mengecek apakah suaminya memberi kabar.


Ternyata kosong, Jovan tidak mengabari seharian ini.


"Tumben sekali. Biasanya dia akan menanyakan anak-anak. Mungkin dia terlalu sibuk" gumam Vani yang kemudian beralih melihat galeri foto dalam hapenya.


Dia senyum-senyum sendiri melihat hasil fotonya seharian ini. Senang sekali rasanya bisa membuat anaknya bahagia, meski sebenarnya, dia juga ingin ada Jovan disampingnya.


Tapi kan dia tidak boleh egois, Jovan pergi untuk urusan pekerjaan. Semua itu juga demi dia sendiri dan juga anak-anaknya. Vani berusaha memahami itu.


Tiga puluh menit berlalu, Yudha masih asyik dengan ritualnya di kamar mandi saat terdengar ketukan dari pintu.


"Pasti pesanannya sudah datang" gumam Vani beranjak dari balkon untuk membuka pintu.


"Selamat malam bu, kami datang untuk mengantarkan pesanan pak Yudha" kata pelayan hotel ramah.


"Iya mbak, tolong dibawakan ke balkon ya" kata Vani mengikuti arah langkan pelayan.


"Kami permisi dulu ya bu, silahkan dinikmati" kata pelayan hotel setelah menaruh pesanan diatas meja.


"Iya mbak, terimakasih ya" kata Vani mempersilahkan pelayan pergi, dia kembali duduk di sofa yang ada di balkon sambil menunggu Yudha yang masih awet berada di kamar mandi.


"Sudah sampai makanannya ya?" tanya Yudha menghampiri Vani yang sibuk dengan ponselnya.


Vani mendongak, melihat ke arah sumber suara.


Yudha datang dengan rambut yang masih basah, ada beberapa bulir air yang masih berjatuhan dari rambutnya.


Kaos oblong berwarna hitam dengan celana kolor sebatas lutut dikenakan dengan sandal hotel yang tipis.


"Malah bengong, mikirin apa sih?" tanya Yudha yang malah duduk disamping Vani.


"Eh, enggak kok. Duduk disana kan bisa, ngapain harus sempit-sempitan gini sih?" keluh Vani sedikit tidak nyaman.


Semoga malaikat baik masih bisa mengingatkan otaknya agar tetap waras untuk menghadapi jelmaan sempurna di hadapannya ini.


"Enakan gini Van, kenapa harus jauh-jauh sih" kata Yudha menggoda Vani.


"Lihat apa sih?" tanya Yudha mengalihkan perhatian Vani.


Dia sudah merebut ponsel Vani yang masih menampilkan galeri foto saat seharian berkunjung ke tempat wisata.


"Oh, aku juga ada lho. Kamu mau lihat?" tanya Yudha mulai menghidupkan layar ponselnya.


"Eh, tunggu dulu. Kamu kok pajang foto aku jadi wallpaper di hape kamu sih, mas?" tanya Vani yang merebut ponsel Yudha.


Dia mengamati fotonya yang menjadi wallpaper disana. Sementara Yudha hanya tersenyum.


"Kamu masih menjadi pemilik hati ini, Van" kata Yudha menatap dalam pada manik kecoklatan Vani.


Vani kalah, dia tidak tahan untuk bertatapan terlalu lama dengan Yudha. Orang yang sampai saat ini masih menggetarkan hatinya. Vani mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah ponsel Yudha saja.


"Ini kan foto aku waktu masih perawan ya, hahaha" kata Vani mengusir rasa canggung yang tercipta diantara mereka. Memang foto itu adalah dirinya dimasa lalu, bahkan foto itu diambil tanpa sepengetahuannya. Seperti foto cabdid, tapi memang bagus sih hasilnya untuk dijadikan sebagai wallpaper.


"Kamu dapat darimana coba?" tanya Vani yang melihat Yudha masih diam dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mas, malah ngelamun" kata Vani menepuk lengan Yudha yang masih terdiam.


"Aku sendiri yang fotoin kamu dulu, kamu nggak lupa kan aku kerja sebagai apa dulu ditempat om aku" kata Yudha.

__ADS_1


"Iya, kamu sering ketemu sama cewek cantik di pelaminan, ya?" canda Vani.


"Aku fotoin kamu itu pas sehari sebelum aku pergi" kata Yudha mengingat momen paling menyedihkan dalam hidupnya.


"Sudah, nggak isah diingat masa lalu. Ehm, minum dulu yuk" kata Vani berusaha mencairkan suasana.


"Iya" jawab Yudha yang juga mengambil secangkir kopi miliknya yang masih utuh, dia sedikit menyeruput.


"Kok rasa minuman aku sedikit aneh ya mas?" tanya Vani yang merasa minumannya tidak seperti biasanya.


"Masak sih? Punya aku biasa saja kok. Coba deh kalau nggak percaya" kata Yudha menyodorkan cangkir kopinya.


Vani mencecapnya sedikit, karena memang dia tidak terlalu suka dengan kopi hitam.


"Iya, punya kamu biasa saja. Tapi beneran punyaku agak aneh" kata Vani.


"Apa mungkin memang resep disini yang rasanya seperti itu ya?" gerutu Vani.


"Kalau kamu nggak suka ya dibuang saja, pesan yang lainnya" saran Yudha.


"Enggak deh mas, ini saja nggak apa-apa. Masih bisa ditolerir kok rasanya" kata Vani meminum lagi vanila latenya.


"Kamu nggak pernah curiga gitu sama suami kamu? Sama hubungan LDR kalian?" tanya Yudha.


"Nggak, aku percaya sama dia. Nggak mungkin dia berkhianat sama keluarga kecil kami, mas" jawab Vani yakin, sebenarnya tidak juga sih. Karena akhir-akhir ini Jovan sedikit aneh.


Vani meminum lagi minumannya untuk mengurangi rasa cemas yang tiba-tiba datang.


"Aku juga awalnya yakin sama Bella, tapi nyatanya aku menemukan dia sedang bercinta dengan kekasih gelapnya saat aku berkunjung ke apartemen Bella tanpa mengabarinya terlebih dahulu, waktu itu" kata Yudha menceritakan tentang hubungan rumah tangganya.


"Oh iya, tapi memang aku pernah lho ketemu sama istri kamu dengan pria bule gitu" kata Vani.


"Kapan?" tanya Yudha yang sebenarnya sudah tahu pria yang Vani maksud.


"Beberapa hari yang lalu sih. Hooaamm" kata Vani sambil menguap.


"Kok aku jadi ngantuk banget ya mas" kata Vani yang malah menghabiskan minumannya.


"Temani aku sebentar lagi ya, please" kata Yudha memohon.


"Hem, iya" kata Vani yang benar-benar sudah tidak bisa menahan kantuk. Tapi dia juga tidak enak kalau harus meninggalkan Yudha sendiri. Seharian ini dia sudah bersikap sangat manis.


"Kamu lihat deh foto yang ini, Vee lucu banget ya" kata Yudha memperlihatkan foto di galeri hapenya.


"Yang mana? Oh, iya. Itu lucu banget" kata Vani.


Yudha menggeser foto-foto di hapenya dengan senyum yang terus mengembang. Tapi rupanya Vani sudah sangat tidak tahan dengan rasa kantuknya. Vani tertidur di pundak Yudha.


Karena Vani yang tiba-tiba tertidur, membuatnya hampir saja terjatuh jika saja Yudha tidak segera menangkapnya.


"Van, ketiduran ya?" tanya Yudha yang melihat Vani sudah merapatkan matanya seperti orang pingsan. Seutas senyum kembali terukir di wajah Yudha, tampan dan licik.


Kebaikan di hatinya tergeser karena ego yang selama ini telah ditekan sekuat tenaganya. Tapi kini keegoisannya mencuat, hingga tak mampu lagi logikanya berpikir jernih.


Dia hanya menginginkan satu kebahagiaan saja, satu kali saja dia ingin berbuat semau hatinya.


Hanya satu kali saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2