
Sampai di rumah, ke dua bocil itu masih enggan untuk turun dari mobil. Mereka masih suka berdiam diri di dalamnya, padahal tidak kurang dari satu jam lagi Yudha harus ikut dalam pertemuan dengan para petinggi.
"ayo turun nak, om Yudha ada perlu sebentar lagi"
"enggak mau bun, kita masih betah didalam sini ya kan kak?" kata si kecil.
"iya, kita ikut ya om" kata Varo, seperinya bocah itu sudah sepenuhnya luluh pada perhatian Yudha
"nggak bisa gitu dong kak, ini kerjaan orang dewasa. Anak-anak mana boleh ikut. Sudah jangan rewel, ayo kita turun"
"ehm .. lain kali om ajak jalan-jalan deh, tapi nggak sekarang. Soalnya lagi ada perlu penting nih, gimana?" Yudha membujuk.
"oke deh om, boleh. Janji ya?" kata Vee.
"iya janji, tapi panggil papa dong, jangan panggil om ya" kata Yudha membujuk
"oke om, eh papa Yudha" kata Vee.
"mas apa-apaan sih, masak harus manggil papa gitu?" Vani protes
"udah nggak apa-apa, lagian aku juga seneng kok mereka panggil aku gitu. Yaudah aku mau berangkat nih Van. Takut telat nggak enak sama yang lainnya"
"ayo kita turun sayang... Salim dulu sama om Yudha ya" kata Vani
"papa" Yudha meralat
"kita pulang dulu pa, ati-ati ya, jangan lupa janjinya ya... dada papa" kata Vee semangat sambil mencium punggung tangan Yudha, sedangkan Varo hanya mengikuti gerakan adiknya tanpa bersuara.
"makasih mas, aku turun dulu ya, sampai ketemu nanti"
"jangan lupa hari Rabu mulai masuk kerjanya ya"
"oke"
Vani, Varo dan Vee turun dari mobil Yudha. Mereka berdiri di depan rumah sampai mobil itu pergi menjauh. Setelahnya, baru mereka masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum eyang uti" kata Vee semangat
"waalaikumsalam, uwah... cucu eyang baru pulang nih, banyak banget jajannya"
"iya eyang, kita ditraktir sama papa Yudha" kata Vee
"siapa itu papa Yudha?"
__ADS_1
"temannya bunda" jawab Vee
"bener Van? siapa itu Yudha?" tanya bu Martha menegaskan
"iya benar bu, itu temannya Vani. Tadi abis lihat tempat kerja Vani yang baru, sekalian ngabterin anak-anak pulang sekolah tadi"
"kayak pernah dengar nama itu, teman lama kamu ya?"
"iya" jawab Vani singkat
"yasudah, ayo ganti baju dulu, nanti dihabiskan lagi itu makanannya, memangnya muat tuh perut buat ngabisin makanan sebanyak itu yaa?" kata bu Martha
"iya eyang, habis kok. Iya kan kak?" kata Vee.
"iya, ayo ganti dulu dek. Bantuin kita yah bun" kata Varo.
"oke, kita ke kamar sekarang. Makanannya ditaruh dulu ya"
Setelah berganti baju santai, Vani menemani kedua anaknya di teras rumahnya. Sambil menikmati makanan yang tadi sudah dibelinya.
Bu Martha juga terlihat senang menikmati waktu bersama cucunya.
"benar kamu mau kerja Van?"
"terus kamu kerja mau naik apa? memangnya tempat kerjanya dimana sih?"
"deket kok bu, di kelurahan sebelah, setelah pasar itu loh"
"iya memang jaraknya dekat kalau kesitu, tapi kan harus naik dua jalur angkot, belum lagi kamu harus jalan kaki dulu sebelum oper ke angkot selanjutnya kan? lebih baik ya pakai motor aja lebih cepet, biar anak-anak tetap si Yoga aja yang jemput sekolahnya"
"betul juga sih bu, nanti aku ngomong deh sama Yoga. Sekalian mau bahas ongkosnya dia juga"
"terus itu kenapa anak kamu bisa panggil papa sama teman kamu itu Van?"
"oohh... Itu memang maunya mas Yudha bu, katanya dia pengen di panggil papa karena memang pingin punya anak, tapi istrinya masih belum mau mikir anak bu, padahal usia mereka sudah nggak muda lagi loh"
"memangnya kenapa?"
"ya karena istrinya mas Yudha itu kan kerjaannya jadi model bu, masih terikat kontrak kerja katanya."
"kalau menurut ibu sih bukan karena masalah dia jadi model deh Van, kamu lihat sendiri itu di tivi kan banyak artis atau model yang sudah punya anak, mereka masih bisa kerja kok. Malah ada juga yang ngajakin sekeluarga jadi bintang iklan bareng, iya kan?"
"bener sih, memangnya kenapa menurut ibu?"
__ADS_1
"ya memang istrinya itu nggak mau punya anak, takut bentuk tubuhnya berubah, takut gendut, nggak mau nyusuin, banyak kok artis terutama model yang kayak gitu"
"iya juga sih bu, tapi ya biarin ajalah Bu. Ngapain juga kita repot ngurusin urusan orang. Mau dia punya anak atau enggak kan bukan urusan kita bu. Jadi ya biarin aja"
"iya benar kamu. Terus Jovan sudah kamu kabari tentang ini? Jangan sampai dia nggak tau loh"
"Kemarin sih aku sudah bilang kalau hari ini mau lihat tempat kerja, tapi belum bilang kalau Rabu sudah mulai kerja bu. Nanti deh aku telfon kalau mas Jovan sudah pulang kerja"
"ngomong-ngomong, bapak kemana bu? dari pagi tadi kok aku nggak lihat bapak sih?"
"iya, bapak kamu lagi pergi. Ada rapat organisasi dari kemarin, katanya hari ini mau ada acara di gedung walikota. Banyak pengusaha juga yang diundang katanya. Itu loh, acara amal tahunan"
"oohh... bapak jadi panitia gitu bu?"
"bukan juga sih, bapak jadi kader pilihan yang diutus menghadiri acara itu juga, kan bapakmu anggota penasehat organisasi. Ada sekitar lima orang yang ditunjuk untuk mewakili, bapakmu itu salah satunya"
"oohh... jadi orang penting gitu ya bu, hehehe"
"hahaha, iya nduk... Biar berguna bapakmu"
"yasudah bu, aku mau solat dhuhur dulu deh, itu sudah adzan"
"ibu juga, terus mau masak buat makan siang"
"ayo deh bu, nanti aku bantuin deh masaknya"
"iya, ayo Varo sama Vee masuk dulu yuk. Jangan di luar sendirian, takut diculik"
"yaaahhh... eyang, baru juga keluar sudah disuruh masuk aja sih" Vee keberatan
"sudah, ayo solat dulu. Abis itu makan, baru deh boleh main lagi"
"sudah kenyang eyang, nggak mau makan lagi" kata Varo
"makanya jangan jajan banyak-banyak, jadi nggak makan siang kan" kata Vani mengomel.
Merekapun masuk ke dalam rumah untuk solat dhuhur. Vani terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan wudhu.
Beberapa saat setelah dia selesai dari kamar mandi, dan bersiap untuk mengajak anak-anaknya solat, malah keduanya sudah terlelap di sofa ruang tengah dengan tivi yang masih menyala menampilkan acara si kembar yang botak, apalagi kalau bukan Upin Dan Ipin.
'pasti mereka kekenyangan gara-gara kebanyakan jajan tuh sampai ketiduran disini' gumam Vani sambil menyelimuti kedua buah hatinya.
Lalu dia sendiri melanjutkan kegiatannya untuk solat dan memasak makan siang.
__ADS_1