
Detik berganti menit, menjadi jam, berganti hari, bertukar minggu, begitu seterusnya hingga sebuah kejadian hanya menjadi kenangan.
Entah pahit ataupun manis, yang akan kita nikmati saat melamun di masa depan.
Tak terasa hampir satu minggu ini Vani dengan rajinnya selalu bekerja di car wash and enjoy market, yang sebenarnya milik Yudha tapi Vani tidak tahu.
Yang Vani tahu tempat ini adalah milik kerabat Yudha. Entahlah, yang penting Vani merasa senang bekerja disini. Karena dulu sebelum menikah, dia sempat bekerja di sebuah minimarkat juga. Jadi ada pengalaman yang membuatnya merasa nyaman.
Siang ini toko tidak terlalu ramai, sehingga banyak waktu yang dihabiskan untuk bersantai. Berbeda dengan keadaan di kantor Yudha yang selalu ramai, apalagi di awal pekan seperti sekarang ini.
Begitupun ditempat kerja Jovan, kunjungan ke tempat baru untuk pembangunan pabrik cabang perusahaan tempatnya bekerja mengharuskan Jovan ikut serta dalam pemantauan area. Sibuk sudah pasti, kedua lelaki itu sama-sama sibuk.
Berbeda dengan Vani yang malah merasa gabut karena sudah melakukan semua pekerjaannya. Membersihkan area toko, menata barang di etalase, mengecek masa kadaluarsa, dan semua kegiatan rutin sudah dilakukan, tapi terasa selesai terlalu cepat.
Hingga bersantai adalah hal yang tepat dilakukan bersama Dewi, kawan satu shiftnya itu sangat klop untuk diajak serius maupun santai.
Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih sedikit, masih lama untuk istirahat. Vani dan Dewi sama-sama sedang duduk di bangku kasir. Menyandarkan kepala diatas meja, sambil ngobrol dan memakan camilan.
Sedang asyik berbincang dengan mulut mengunyah, tiba-tiba ada notif di hape Vani. Sebuah pesan WA
Vani bingung setelah membaca pesan dari Yudha :
"kamu dibayar bukan untuk bersantai"✓
"suka-suka aku dong, bukan mas Yudha juga kan bosnya" emoji meledek ✓
"*bisa kok aku laporin om aku, biar dimarahi kamu"✓
"memangnya mas Yudha tahu darimana aku lagi nyantai"✓*
setelah membalas pesan itu, Vani celingukan, mencari adakah cctv. Pasalnya Vani sedang berdua dengan Dewi, bagaimana Yudha bisa tahu?
"kenapa sih mbak kayak orang bingung?"tanya Dewi.
"ini pak Yudha wa aku, kenapa dia bisa tahu kalau kita lagi nyantai ya? padahal kan dia nggak disini?" jawab Vani
"jadi mbak pikir ada cctv gitu yaa?" tanya Dewi ikutan celingukan mencari kamera pengintai itu.
"sudah tahu kalau ada cctv?✓
pesan dari Yudha.
"tuh bener Dew, ada cctv. Gawat nih, bubar yuk kita cari kesibukan"
Yudha senyum-senyum sendiri dengan tingkah kedua karyawannya itu. Saat ini sebenarnya Yudha sedang rapat dengan beberapa petinggi perusahaannya. Karena sedang bosan, maka dia berinisiatif untuk mengecek minimarketnya, sekalian melepas rindu dengan hanya melihat wajah Vani dari layar ponselnya.
Sudah hampir satu minggu ini Yudha tidak menemui Vani. Sengaja dia melakukan itu agar tidak terlalu besar rasa cintanya bersemi kembali pada wanita sederhana itu.
Tapi rindu berkata lain, Yudha tidak tahan untuk tidak menyapa pujaan hatinya itu. Dia tahu semua ini salah, tapi hatinya tidak mampu untuk berkata tidak pada kesempatan baik untuk bisa dekat dengan Vani.
"Tapi aku bingung mau ngapain lagi mbak, tokonya lagi sepi sih. Semua juga udah kelar" kata Dewi saat berpapasan dengan Vani di etalase minuman dingin.
"Aku juga sih Dew, yaudah kita disini aja ngadem" kata Vani yang diiyakan Dewi.
Merekapun kembali ngobrol asyik dengan pindah posisi dari meja kasir ke deretan rak minuman.
"nanti bisa tolong antarkan makan siang? kayaknya kamu lagi nyantai banget sih?"✓
"ribet banget sih tinggal minta dianterin makanan masih sempat ngeledek" kata Vani pelan sambil mengamati ponselnya.
"kenapa mbak?" tanya Dewi
"pak Yudha minta dianterin makanan ke kantornya siang ini. Nanti aku keluar dulu ya Dew, kamu nggak apa-apa kan kalau ditinggal sebentar?" tanya Vani
"iya nggak apa-apa mbak, lagi sepi juga. Ada mas-mas yang lainnya juga di sebelah. Mbak nggak usah khawatir" ucap Dewi
**
Setengah satu siang, setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim, Vani segera menunaikan tugas kenegaraan untuk mengantar makanan pada pak bos Aryudha.
Seperti yang dia ketahui, Yudha dulu sangat suka makan rujak bakso yang ada di sebuah gang kecil yang terletak di belakang sebuah kampus ternama.
Dan kali ini Vani ingin membelikan makanan itu untuk pak bos tersayangnya itu. Meskipun cuaca sedang terik-teriknya, tak menyurutkan keinginan Vani.
Butuh sekitar satu jam untuk bisa sampai di hotel tempat Yudha berada. Karena memang jarak yang ia tempuh memang agak jauh.
__ADS_1
Tak lupa Vani mengirim pesan pada Yudha agar menunggunya untuk mengirim makan siangnya.
Tepat pukul setengah dua siang dia dampai di lobi hotel The Empire. Setelah sampai di lobi, dia menanyakan keberadaan Yudha pada resepsionis.
"Permisi mbak, pak Yudha ada?"
"Maaf bu, apa sudah ada janji? Beliau memang ada di tempat, tapi tidak sembarang orang bisa seenaknya untuk bisa bertemu dengan beliau" kata resepsionis cantik itu dengan pandangan merendah, karena memang Vani dalam keadaan mengenaskan dengan pakaian biasanya dan jaket biru buluk kesayangannya.
"Sudah janji kok mbak, ini pak Yudha menyuruh saya mengantarkan makan siangnya." kata Vani mulai tidak sabar sambil menunjukkan kantong kresek berisi makanan pinggir jalan.
"Kalaupun pak Yudha ingin makan siang, biasanya langsung ke cafetaria atau menyuruh orang dalam saja untuk membelikan, tidak pernah ada DO makanan seperti yang ibu bilang" mbak resepsionis tetap tidak percaya.
"huft... yasudah saya telpon orangnya sendiri deh mbak. Biar pak Yudha saja yang kesini" ucap Vani kesal.
"coba saja bu, tidak usah mengada-ada" kata resepsionis itu makin sinis.
Vani berjalan agak menjauh dari meja resepsionis, lalu duduk di sofa tamu. Mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Yudha.
tuutt.... tuutt ...
"Halo"
"assalamualaikum, mas. Aku dibawah, di lobi. Bisa nggak mas Yudha turun ambil disini makanannya?"
"waalaikumsalam.. yaudah kamu langsung naik aja Vanii... Akutuh udah laper daritadi nungguin kamu sampai mau pingsan ini. Masih disuruh ngambil sendiri?"
"sudah jangan cerewet deh... Akutuh nggak boleh naik buat nemuin kamu sama mbak resepsionisnya."
"hengmh... gitu... yasudah, bentar ya" tiba-tiba Yudha menutup sambungan telponnya.
"apa-apaan sih main tutup saja. Terus ini nasib makanannya gimana dong?" kata Vani lirih memandangi nasib rujak baksonya
Tak lama kemudian, tiba-tiba mbak resepsionis yang tadi menemui Vani yang sedang asyik dengan layar ponselnya
"maaf ibu, sudah ditinggu pak Yudha di ruangannya. Silahkan ibu kesana atau mau saya antarkan bu?" kata resepsionis itu mendadak sopan
"eh... iya. Saya sendiri saja. Mbaknya kan sibuk kerja. Yasudah mbak, makasih ya. permisi"
Vani melangkah meninggalkan lobi, menghampiri Yudha untuk memberikan makan siang yang terlambat beberapa jam.
tok..tok ..tok..
"masuk" ucap seseorang dari dalam
Dengan agak ragu, Vani membuka pintu dan melongokkan kepalanya melihat ke dalam ruangan.
Saat manik matanya menatap Yudha, Vani memberikan senyum untuk mengantisipasi marahnya pak bos.
"assalamualaikum mas... Maaf ya lama"
"waalaikumsalam, ususku sampai lengket gara-gara nungguin kamu lama sekali"
Vani memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Yudha. Sambil terus melangkah ke dalam dan mengekor Yudha yang menyuruhnya duduk di sofa.
"kamu lama banget Vani... cacing di perutku sudah konser daritadi"
"apaan sih, lagian kenapa nggak langsung beli makanan di sini saja sih, tau sendiri jarak dari tempat aku kerja ke sini tuh sudah jauh, belum lagi buat beli makanan ini juga jauh, ditambah lagi antri buat pesanannya siap. Pasti butuh waktu lah"
"sudah, stop mengeluh. Memangnya kamu bawain aku apa?"
"nih .. spesial buat abang yang katanya lagi laper" kata Vani sambil membuka bungkusan makanannya.
"uwaahh... Rujak bakso ya. Sudah lama sekali nggak pernah makan ini aku. Makasih ya Adek Vani" ucap Yudha antusias dengan makanannya.
"iya...iya .. Dimana mangkoknya?biar aku ambilin mas"
"tuh dekat wastafel"
Vani menyiapkan makanan Yudha sekaligus mengambilkan air untuknya. Biar nggak keselek. Kan kalau keselek makanan pedas tuh repot, jadi harus disiapkan beserta airnya juga.
Yudha sangat senang Vani membawakan makanan spesial untuknya. Dulu dia sangat suka makanan itu, dia sering mengajak Vani makan siang di warung penjual rujak bakso favoritnya.
Meskipun Vani tidak pernah ikut suka dengan makanan yang menurutnya aneh tersebut.
Selesai makan, Yudha masih tidak mengizinkan Vani kembali ke toko. Yudha masih ingin lebih lama dengan wanita itu.
__ADS_1
"Sebentar Van, disini saja dulu ya. Kamu kan nyantai tuh. Daripada makan gaji buta kan lebih baik temani aku ngobrol disini"
"Tapi aku juga nggak digaji cuma buat nemenin kamu ngobrol pak Yudha"
"cg.. sudahlah.. nggak apa-apa. Aku kangen sama kamu. Jangan buru-buru pergi dong"
"mas Yudha nih kenapa sih. Lagi kumat apa gimana?"
"Tega banget ngatain aku kumat. Ya kan kumat gara-gara kangen kamu"
"sstthh!!" Vani mensyaratkan Yudha diam dengan menunjuk mulutnya sendiri.
"kalau ada yang dengar bisa salah paham tau" kata Vani.
"Tapi memang aku beneran kangen sama kamu Van. Sudah lama kan nggak ketemu, masak kamu nggak kangen juga sama aku?"
"Kalau kamu ngomongnya delapan tahun yang lalu pasti aku jawabnya kangen pake banget mas, sayangnya kamu ngomong kangennya sekarang. Kalau sekarang kangen aku ya sama suami aku dong" ucap Vani santai.
Ucapan Vani sedikit melukai hati Yudha, tapi dia sadar memang semua sudah berubah. Dan semua adalah salahnya sendiri yang takut memperjuangkan cintanya.
"Kamu sekarang lebih tegas ya, nggak kayak dulu suka malu-malu kambing"
"kucing, bukan anjing"
"kan aku bilang kambing Van, bukan anjing. Kayaknya hijab kamu ketebelan kainnya ya, pendengarannya jadi terganggu"
"hahaha .. ya kan dulu aku masih bau kencur mas, ngomong taunya cuma masalah seputaran tata cara booking tiket dan hotel. Sekarang sudah banyak pengalaman, terutama bicara sama orang, hengmh... kerja di bidang penjualan bikin kita tahu banyak watak orang"
"hebat dong kamu sekarang, memangnya menurut kamu, aku orangnya gimana?"
"kamu yang sekarang apa kamu yang dulu nih?" tanya Vani heran tiba-tiba Yudha bertanya seperti itu
"dulu sama sekarang deh"
"hengmh... oke.. oke..
kalau kamu dulu tuh gondrongnya nggak keurus mas, ganteng kamu ketutup sama jaket hitam buluk kesayangan kamu yang dipake kemanapun.hehehehe"
"masak sih aku dulu nggak ganteng? kalau sekarang kelihatan dong gantengnya?" kata Yudha menggoda Vani.
"huft pede anda pak .. Kalau orang sudah kaya kan memang kelihatannya beda mas .. Orang jelek aja jadi ganteng kalau ada duit, bener kan?"
"terus kamu anggap sekarang aku jelek gitu?" kata Yudha sebal.
"haha... ya enggak juga sih. Aku kan bilang kalau orang sudah kaya itu jadi beda, bukannya bilang kamu jelek"
"Lagian kenapa juga ada orang ngasih hukuman aneh-aneh, kayak papanya mas Yudha itu"
"Ya seenggaknya dengan hukuman kayak gitu kan aku jadi tahu kalau ada orang yang bener suka, sayang, bahkan mungkin cinta sama aku dengan tulus Van, nggak cuma karena harta aku aja. Dan aku ngerasa kamu orang yang tulus kayak gitu sama aku"
"Seandainya memang kenyataannya seperti itu mas, itu dulu, cuma masa lalu. Nggak mungkin bisa terulang meskipun cuma mimpi. Kadang kita memang diharuskan merasa sakit untuk mengetahui syukurnya nikmat"
Yudha terdiam dengan kata-kata Vani. Benar dia terlalu berharap saat ini. Berharap bisa menggapai cinta masa lalunya yang pada kenyataannya sekarang sudah tidak mungkin bisa digapainya.
"Jujur aku dari dulu bahkan sampai sekarang masih cinta sama kamu Van. Maaf kalaupun aku telat mengungkapkan sama kamu, seenggaknya aku bisa lega bisa bicara tentang perasaan aku ke kamu" kata Yudha mulai serius.
Lama keduanya terdiam dengan pengakuan Yudha yang tiba-tiba itu. Suasana mendadak canggung.
"Akupun sama punya perasaan seperti kamu mas. Tapi untuk sekarang semua sudah nggak mungkin. Rasa cinta aku sepenuhnya harus aku berikan sama suami aku, begitupun rasa cinta mas Yudha harus pada istri mas Yudha.
Jahat sekali kita kalau harus memaksakan keinginan kita dan harus melukai perasaan banyak orang" kata Vani mantap.
"Sebenarnya aku sangat ingin berlaku egois untuk meraih kebahagiaanku sendiri Van, tapi setelah aku bertemu anak-anak kamu, aku nggak tega kalau mereka harus merasakan penderitaan menjadi anak tiri sepertiku"
"Makasih mas Yudha sudah mau memikirkan kebahagiaan anakku. Aku harap mas Yudha juga segera bisa bahagia dengan adanya anak diantara kalian"
"Aku mohon jangan menjauhi aku setelah kamu tahu kalau cintaku masih ada buat kamu Van. Karena aku nggak akan sanggup untuk terluka lagi. Biarkan aku menganggap anakmu sebagai anakku sendiri."
"Nggak akan ada yang melarangmu mas, suamiku juga tidak akan keberatan. Karena meskipun usianya lebih muda, tapi pemikirannya lebih dewasa daripada aku"
"dia lebih muda? kamu nikah dama bocah?" kata Yudha meledek untuk mencairkan suasana.
" enak aja bocah. Tapi bocah itu mau loh berjuang untuk cintanya, daripada orang yang ngaku lebih dewasa malah mundur alon-alon" kata Vani balas meledek Yudha.
Merekapun bercanda dan mengobrol hingga tak terasa sudah jam empat sore, Vanipun berpamitan untuk kembali ke toko membantu Dewi menata dan setelahnya menutup toko.
__ADS_1
Sebenarnya Yudha ingin mengantar Vani, tapi segera ditolak karena Vani membawa motor dan harus mengantarkan anaknya sekolah besok.