Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
awal yang mulus


__ADS_3

Siang itu, saat Vani sedang menjemput Varo dan Vee. Lagi-lagi sudah ada Yudha yang nangkring tampan diatas badan mobil depannya.


Sadar nggak sih kalau dia sedang diperhatikan sama ibu-ibu muda disana?


Tatapan mendamba seolah terbaca dari mimik wajah kepanasan di siang yang terik itu.


Vani menghentikan laju motornya tepat di dekat Yudha yang sedang senderan sambil memainkan ponselnya.


Kacamata hitam bertengger indah di atas hidung mancungnya. Memang pemandangan yang sempurna, mungkin seperti ini jelmaan malaikat.


Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, dengan parfum maskulin yang tercium dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Tin... Tin...


Vani mengklakson pria tampan di sebelahnya.


Merasa terganggu, Yudha menoleh pada sumber suara. Ternyata orang yang ditunggunya sudah tiba.


Lupa dengan kegiatannya, Yudha malah tersenyum mendapati wajah manis sang pujaan hati.


"Ngapain?" kata pertama yang keluar dari mulut Vani menghilangkan senyum tampannya.


"Kamu nggak happy banget sih lihat aku disini" jawab Yudha yang tidak nyambung dengan pertanyaan Vani.


Jengkel, Vani turun dari motornya. Dia menghampiri Yudha, tentu saja tingkahnya dipandang tidak suka oleh ibu muda yang daritadi sudah mengagumi sosok Yudha.


"Kamu ngapain panas-panasan disini? Nggak ada kerjaan ya pak?" ledek Vani.


"Aku kangen sama Vee, mau kasih hadiah. Kamu sendiri ngapain?" balas Yudha.


"Kayaknya otak kamu sedikit error gara-gara efek sinar matahari deh mas. Berteduh sana".


"Kalau aku ya jelas lah mau jemput anakku pulang sekolah" kata Vani sedikit nyolot.


"Ya nggak usah nge gas juga kali Van. Aku kan sudah janji mau kasih Vee hadiah. Tadi kebetulan lewat dekat sini, yasudah sekalian saja mampir" kata Yudha.


"Benar begitu? Kok agak aneh ya, kantor kamu kan lumayan jauh dari sini mas" kata Vani.


"Suka-suka aku dong" kata Yudha menampilkan senyum terbaiknya. Dulu, Vani selalu meleleh tiap melihat senyum itu. Tapi kini sudah tidak boleh lagi, meski masih ada juga sedikit rasa yang tertinggal.


"Cg, terserah kamu lah mas" kata Vani yang sudah malas berdebat.


Setelah bel berdenting keras, para murid sudah bersiap untuk keluar gedung sekolah. Menjumpai orang tua mereka yang sudah menjemput.


"Papa Yudhaaa..." teriak Vee girang bukan main.


Bukankah Vani adalah bundanya, kenapa malah menyapa Yudha duluan?


Sedangkan Varo, seperti biasanya dia selalu saja bersikap santai. Tentu bundanya yang menjadi tujuan utamanya saat itu.


"Papa kangen banget sama kamu Vee" kata Yudha yang selalu mencium gemas pipi Vee yang chuby.


"Papa mau jemput Vee lagi ya?" tanya Vee yang berada dalam gendongan Yudha.


"Papa cuma mau kasih hadiah spesial buat kamu. Maaf ya hari ini papa sedikit sibuk, jadi nggak bisa main sama kamu" kata Yudha sambil mencubit ringan ujung hidung Vee.

__ADS_1


"Yaahh ... padahal Vee maunya sama papa loh" kata Vee yang malah melingkarkan tangannya di leher Yudha.


"Lain kali ya sayang, kita mainnya. Sebentar lagi papa mau ketemu sama klien dulu. Ehm... Bagaimana kalau Sabtu depan kita jalan-jalan?" tanya Yudha.


"Benar pa? Iya Vee mau" kata Vee menganggukkan kepala tanda setuju.


"Mas?" sergah Vani.


"Kenapa? Kamu juga mau ikut? Bunda diajak atau tidak nih Vee?" tanya Yudha pada gadis cilik itu.


"Diajak dong papa, kasihan kalau ditinggal nanti nangis" kata Vee yang semakin kompak mengerjai Vani.


"Iya, iya. Kita jalan-jalan nanti ya. Sekarang kita pulang dulu yuk Vee. Sudah siang nih, panas banget" kata Vani membujuk Vee supaya mau pulang.


"Sebentar hadiahnya biar papa ambilkan di dalam mobil" kata Yudha menuju mobilnya. Dia membawa sesuatu setelah menutup kembali pintu mobil bagian belakangnya yang tadi dia buka.


"Ini buat Vee, yang ini buat Varo" kata Yudha memberikan masing-masing dari mereka sebuah paper bag yang masih tersegel rapi.


"Uwah, apa ini pa?" tanya Vee senang.


"Oleh-oleh dari negri Thailand" jawab Yudha singkat.


"Berarti mas Yudha baru saja mengunjungi ataukah mengantarkan Bella ke sana ya?" tanya Vani dalam hatinya.


"Papa ada perjalanan bisnis kesana Vee, kamu jangan cemburuan gitu dong" kata Yudha menyindir Vani yang terdiam setelah dia mengucapkan negri gajah itu.


"Siapa juga yang nanya" balas Vani yang merasa tersindir.


"Papa harus segera berangkat nih Vee. Maafin papa nggak bisa ajak kamu jalan-jalan hari ini ya" kata Yudha yang menurunkan Vee dari gendongannya.


"Sabtu depan kita jalan-jalan ya Vee. Ingatkan bundamu, karena dia itu sedikit pelupa" bisik Yudha yang terdengar juga sampai ke telinga Vani.


"Kita usahakan ya papa Yudha, soalnya kalau week end kan ayah pulang" kata Vani menirukan suara cempreng khas anak kecil.


"Hahahaha... Iya, oke. Pasti kamu dapat ijin, asalkan bilang jalan-jalannya dengan rombongan dari sekolah" kata Yudha yang sempat menertawakan suara Vani.


"Itu namanya berbohong, mas" kata Vani.


"Tidak apa-apa Van. Asalkan tidak keseringan" jawab Yudha.


"Yasudah deh, papa berangkat ya Vee. Ayo salim sama papa" kata Yudha yang dipatuhi kedua anak Vani.


"Aku duluan ya Van. Kamu hati-hati kalau bawa motor" kata Yudha mengingatkan.


"Iya, makasih hadiahnya ya mas" kata Vani yang juga sedang menghidupkan mesin motornya. Dia sudah siap pulang setelah meyakini jika kedua anaknya telah aman di posisinya.


"Dah papa Yudha" kata Vee melambaikan salah satu tangannya, sedang tangan lainnya sibuk membawa paper bag dari Yudha.


Senyum Yudha perlahan sirna seiring perginya Vani. Segera dia menuju ke dalam mobilnya karena memang akan menghadiri sebuah meeting dengan kliennya beberapa menit lagi.


Moodnya yang sedang bagus pasti akan memberikan hasil akhir yang memuaskan dari meetingnya siang ini.


Tak butuh waktu yang lama untuk bisa sampai di lokasi. Sudah ada Akbar yang berdiri untuk menyambut sang atasan yang terlihat bahagia.


★★★★★

__ADS_1


Tiba dirumahnya dengan selamat, Vani baru menyadari jika ini sudah hari Kamis. Tentunya harus segera menghubungi Jovan agar bisa mendapatkan ijin untuk keluar bersama Vee dan Yudha.


Bimbang untuk menghubungi lewat telpon atau chatting, Vani takut jika Jovan masih sibuk bekerja.


"Daripada kelupaan, mendingan chatt saja deh. Kalau nanti dia sudah nggak sibuk kan bisa dibalas" gumam Vani yang sedang bersantai di kursi terasnya.


Vani:


"Lagi sibuk yah?"


^^^Jovan:^^^


^^^"Nggak bun, ada apa?"^^^


"Tumben langsung dibalas?" batin Vani merasa heran. Biasanya Jovan membalas pesannya agak lama.


Tidak tahu saja kalau sekarang Jovan sedang makan siang bersama istri keduanya, Gina.


Vani:


"Sabtu besok aku mau jalan sama anak-anak. Boleh?"


^^^Jovan:^^^


^^^"Iya, aku juga mau ngabarin ke kamu kalau week end ini nggak bisa pulang. Lagi lembur bun. Ada kerjaan mendadak"^^^


Vani:


"Oh, gitu. Jadi pulangnya Minggu depan ya?"


^^^Jovan:^^^


^^^"Iya, nggak apa-apa ya? Aku transfer deh uang buat jajan kalian pas main. Maafin aku ya"^^^


Vani:


"Eh, boleh banget tuh yah. Tahu sendiri Vee kalau sudah main, pasti banyak maunya. Hehe"


^^^Jovan:^^^


^^^"Iya, aku ngerti kok. Maafin aku ya, Minggu depan aku pulang. Kamu hati-hati ya"^^^


Vani:


"Iya yah. Kamu juga. Makasih ya"


Vani mengakhiri sesi obrolan via chatt dengan suaminya. Mendapat ijin dengan mudah ditambah dengan tambahan uang saku sebenarnya sudah sedikit mencurigakan.


Tapi segera Vani elakkan saja tudingan tidak bermutu seperti itu pada Jovan. Suaminya itu adalah lelaki penyabar yang paling setia menurut penilaian Vani.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2