
Kenapa ngelamun mas? Itu makanan diubek-ubek aja, dimakan dong keburu dingin ntar"ucap Vani heran karena Yudha cuma bengong saja.
"Hmm... Iya. Lagi mikir aja nih" mikirin kamu, sambung Yudha dalam hati.
"Mikirin apa mas? Kerjaan ya? Pasti kerjaannya mas Yudha jadi terbengkalai ya gara-gara bantuin aku? Yaudah mas Yudha langsung balik kerja aja nggak apa-apa, biar aku pulang sendiri aja, bisa pakai ojol kok" kata Vani merasa bersalah.
"Nggak kok. Bukan apa-apa. Udah nggak apa-apa, itung-itung buat bayar hutangku dulu ya, terakhir ketemu dulu kan aku udah janji mau anterin kamu pulang kerja waktu itu, malah aku ingkari janji aku." Ucap Yudha.
"Hmm .. dulu.. uwah.. mas Yudha hebat masih ingat kejadian waktu itu." Kata Vani kaget.
"Tau nggak mas, malam itu aku nungguin kamu ditepi jalan kayak biasanya, sampai jamuran aku nungguin, tapi kamu nggak nongol-nongol. Sampai hampir 2 jam aku tunggu, tiba-tiba ada orang iseng nakutin aku tau nggak sih. Untung aja ada mas Andre, itu tetangga ruko tempat kita kerja dulu, yang orangnya kerja di bengkel.
Hengmh, masih untung aku ditolongin mas Andre. Kalau enggak, udah nggak tau lagi bakalan sampai rumah modelnya kayak gimana tuh aku" cerocos Vani mengingat masa lalunya.
"Tapi nggak apa-apa juga sih, dengan begitu aku jadi kenal sama mas Andre juga. Untung orangnya baik, sayang aja dia balik kampung ke Aceh. Jadi nggak bisa ketemu lagi deh" lanjutnya.
Yudha yang awalnya merasa bersalah karena kejadian dulu malah tidak jadi iba.
Sambil memicingkan mata dia berkata "awalnya aku merasa bersalah banget loh Van karena nggak jadi nganterin kamu dulu itu, sampai kamu mau celaka. Tapi setelah tau kelanjutan kisahnya kok kayaknya kamu nggak apa-apa banget ya? Ditolongin sama cowok keren gitu ya?" Kata Yudha mendengus.
"Apaan sih mas. Memang kisah selanjutnya aku jadi dekat sama mas Andre itu, tapi aku nggak mau tuh punya hubungan lebih sama dia" kata Vani.
"Memangnya kenapa? Why? Kenapa kamu nggak mau sama orang itu?" Tanya Yudha penuh selidik.
"Memangnya apa lagi? Ya gara-gara kamu lah!" Ucap Vani gemas keceplosan.
"Hah? Gara-gara aku? Memangnya aku kenapa?" Tanya Yudha mesem.
"Oohh.. itu ... Bukan, bukan itu maksud aku. Maksudnya ya memang bukan kamu. Aduh.. gimana sih ini .. ya udahlah.. udah kejadian juga. Bukan masalah apa-apa kok tadi itu" kata Vani salah tingkah.
"Sebenarnya mas Yudha kemana sih waktu itu. Itu kan terakhir kali kita janjian ya mas, terus abis itu udah deh, nggak ada lagi kabar apapun dari kamu, terus kamu kayak ngilang gitu. Terus aku denger kabar kalau mas Yudha nikah ya nggak lama setelah itu?" Tanya Vani mengutarakan segala tanya di hatinya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Bernafas berat, menimbang apa yang mau diutarakan. Berat memberi tahu, jadi Yudha memutuskan untuk mengakhiri percakapannya.
"Sudahlah, nanti kalau ada waktu aku ceritain sama kamu. Sekarang mendingan aku anterin kamu pulang, daripada kamu dicariin sama orang rumah yaa".
Huh, masih belum terjawab segala tanya dalam hatinya.
"Eh, bener juga sih. Ini udah sore banget. Nggak biasanya aku ninggalin anakku selama ini. Jadi kangen.. ngomong-ngomong mas Yudha sudah punya anak berapa nih mas?" Tanya Vani sambil tersenyum.
"Aku belum punya anak. Istriku masih belum mau berurusan dengan anak kecil, dia masih suka dengan karirnya, malah sekarang sering ke luar kota bahkan ke luar negri demi karirnya" ucap Yudha sendu.
"Memangnya istri mas Yudha kerja? Kerja apa mas, kan sudah nikah lamaaaaa banget, kok masih nggak kepirikan anak sih?"tanya Vani.
"Dia model, setelah kontrak tiga tahunnya ini berakhir dia sudah janji mau program hamil. Ya memang sudah waktunya kami memikirkan anak" kata Yudha.
__ADS_1
Oooohh... Hanya itu yang Vani ucapkan. Tidak ingin tahu lebih karena memang bukan urusannya.
_________
Waktu menunjukkan pukul Tiga sore saat Vani sampai di rumahnya.
"Assalamualaikum.... Bunda pulang... Mana nih krucil-krucilnya bunda?"kata Vani.
"Waalaikumsalam... Baru pulang Van? Anak-anak kan kalau jam segini sudah pergi mengaji Van. Tadi diantar sama om nya" kata ibu Vani.
"Oh iya sih bu.. lupa. Yasudah aku mau mandi dulu ya bu, sama mau sholat ashar." Kata Vani setelah mencium punggung tangan ibunya.
"Itu kenapa kaki jadi pincang gitu? Habis cari kerja apa cari masalah sih kamu ini?" Kata ibu Marwah, ibunya Vani.
"Oh.. tadi ada kesandung dikit bu. Nggak cari masalah kok. Ibu tenang aja." Kata Vani sambil meneruskan langkah ke kamarnya.
*****
Yudha pov, flash back
Waktu berjalan semestinya setelah kejadian itu. Baik Vani maupun Yudha tidak ada yang saling menanyakan kabar meskipun lewat gawai.
Sebenarnya Yudha agak syok karena tiba-tiba bertemu dengan Vani. Apalagi dengan kejadian diawal pertemuan nya kali ini benar-benar membuatnya lebih syok, bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, malah bertemu dengan berciuman... Dulu saja mereka selalu bisa mengendalikan diri.
Karena yang sebenarnya, dia sangat menyayangi Vani sejak dulu. Bahkan sejak mereka pertama kali berjumpa, sudah ada getaran aneh dalam diri Yudha.
Saat itu Yudha masih sangat ingat, dia masih berusia 28 tahun dengan status cucu terkena hukuman dari papanya karena membangkang dan sampai harus berurusan dengan narkotika.
Sedangkan Vani adalah gadis abg yang masih berusia 18 tahun fresh graduate yang sudah bekerja.
Di usianya yang masih belia, Vani sudah giat bekerja, bahkan Yudha tahu dia sering lembur demi mendapat sedikit bonus. Katanya Vani ingin melanjutkan kuliah dengan biayanya sendiri.
Dari situ Yudha tahu betapa beruntungnya dia karena bisa hidup enak tanpa memikirkan biaya apapun, maka jadilah ia anak yang seenaknya sendiri. Sampai harus rela berdiam diri selama satu tahun di rehabilitasi demi bisa lepas dari ketagihannya dengan barang haram sejenis narkoba.
Vani yang semangat dikerasnya hidup, masih bisa ceria dan tidak lupa agamanya. Sedangkan Yudha yang beruntung malah menyusahkan orang-orang disekitarnya.
Dia malu, dia kagum akan sosok kecil Vani.
Dari sini dia bertekad memperbaiki diri. Dan menjadi semakin dekat dengan Vani.
Tapi takdir berkata lain. Keluarganya tetap memaksanya menikah dengan orang lain disaat hatinya sudah nyaman dengan sosok Vani.
Menjadikan Vani sebagai ancaman agar Yudha tidak bisa mengelak.
Mengancam nyawa seseorang demi kelangsungan kerajaan bisnis orang tuanya. Yudha sangat membenci itu.
__ADS_1
Tapi dia juga tidak bisa menganggap remeh ancaman keluarganya. Mereka bersungguh-sungguh akan mencelakai Vani, bahkan seluruh keluarga Vani bila Yudha tidak mematuhi aturan keluarganya.
Malam itu, terkahir kalinya Yudha melihat wajah yang telah mengusik hatinya. Dia ingin memberikan sedikit kejutan pada Vani.
Seperti biasanya, mereka janjian. Yudha akan mengantarkan Vani pulang, melewati jalan yang agak memutar demi bisa agak berlama-lama berboncengan motor vixion kesayangannya.
Ngobrol apa saja diatas motor, kadang sampai setengah berteriak saat tidak kedengaran.
Yudha yang tidak suka membawa jas hujan juga sering membawa Vani kehujanan di atas motornya.
Berteduh di emperan apa saja saat hujan turun sangat deras.
Dari situ dia juga tahu bahwa Vani bukanlah wanita yang mudah tergoda. Karena disaat sepi berdua, dalam keadaan yang sangat mendukungpun Vani tetap bisa menjaga dirinya dengan sangat baik.
Tidak pernah kelepasan berbuat hal bodoh seperti abg pada umumnya.
Padahal Yudha sebenarnya sangat tahu bahwa Vani juga mempunya perasaan yang spesial untuknya. Dari manalagi sumber beritanya?
Tentu saja Denis. Pria seumuran Yudha itu adalah kawan baiknya. Jadi segala info tentang Vani diketahui darinya.
Yudha meminta Denis mendekati Vina agar dia bisa tahu segala tentang Vani. Dan cara itu sangat efektit membuat hubungan Yudha dan Vani menjadi lebih dekat meskipun bukan menjadi kekasih.
Karena Yudha masih dikekang oleh peraturan keluarganya.
Yudha yang frustasi tetap nekat mendekati Vani tanpa mau membuat status lebih daripada teman karena keluarganya.
Dia tersiksa karena hanya bisa berharap tanpa bisa memiliki.
Tapi dia sangat memanfaatkan waktu kala itu.
Selalu bersedia mengantarkan Vina pulang kerja. Karena hanya di saat-saat seperti itu dia bisa bersama Vani.
Saling mendamba tanpa bisa meraih. Sakit tidak berdarah, tapi itu semua dia lakukan demi keselamatan Vani.
Tapi dimalam naas itu.
Yudha telah bersiap dengan motor kesayangannya. Setelah mengelap dan membersihkan setiap detil dari motornya, dia sudah siap akan berangkat ke tempat janjian, menunggu Vani di seberang jalan dekat taman.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Setengah jam lagi Vani pulang. Lima belas menit lagi Yudha akan berangkat.
Dengan wajah sumringah dia bersiap mengambil jaket, dua helm, dompet, dan menyemprotkan parfum ke kaos hitam kesukaannya.
Keluar dari ruang kerjanya Yudha sangat kaget karena papanya sudah berdiri di depan rukonya dengan setelan jas mahalnya.
Yudha bergeming, memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Karena setelah mamanya meninggal, papanya menikah dengan wanita lain dan menitipkan Yudha pada neneknya karena ketidak cocokan dengan ibu sambungnya.
__ADS_1
Otomatis hubungan mereka renggang, bertemu hanya untuk mengancam. Itu yang sering papanya lakukan. Bekerja setiap waktu, bahkan Yudha tahu dengan kegilaan kerja dari papanya, ibu tirinya pernah berselingkuh. Tapi itu bukan urusannya.