
Keesokan harinya,Jovan mengecek saldo atm nya. Nominal yang sangat besar mampir di sana. Senyum Jovan mengembang, merasa sebentar lagi permasalahannya dengan Yudha akan segera selesai.
Pria itu menghubungi Gina,
..."*Hallo Gina"...
..."Iya, sayang. Kenapa?"...
..."Kamu mentransfer terlalu banyak sepertinya"...
......"Tidak apa-apa sayang, aku ikhlas memberikannya padamu. Karena aku sayang sama kamu"......
..."Terserah kamu saja. Terimakasih karena sudah membantuku"...
..."Ok, sayang. I Love You*"...
Jovan memutus sambungan teleponnya tanpa menjawab perkataan cinta dari Gina. Sejak awal memang tidak ada perasaan apapun darinya untuk sahabatnya itu.
Pria itu kembali menghubungi seseorang melalui pesan WA.
"Hari ini juga saya kembalikan uang anda"
isi pesan Jovan untuk Yudha.
Yudha yang sedang membaca file perusahaannya merasa sedikit terganggu dengan isi pesan itu. Dia kembali mencari asistennya, Akbar.
..."Suruh Akbar ke ruangan saya"...
Yudha memerintahkan sekretarisnya untuk menemui Akbar.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar ketukan pintu, Yudha mempersilahkan orang itu masuk.
"Bapak memanggil saya?" tanya Akbar.
"Darimana Jovan bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?" tanya Yudha langsung pada inti permasalahannya.
"Kabar yang saya dapatkan dari orang suruhan saya bahwa pak Jovan mendapat uang dari ibu Gina pak. Dan sepertinya mereka akan segera melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat ini" kata Akbar memberitahukan kepada Yudha apa yang telah dia ketahui.
"Menarik. Jadi kamu masih tetap menaruh orang kamu di sekitar mereka kan Akbar?" tanya Yudha.
"Masih pak. Semuanya masih aman" kata Akbar.
"Baiklah, kita tinggu apa yang akan kamu lakukan Jovan, si bocah tengik" kata Yudha mengumpati Jovan yang dia rasa adalah rival terburuknya.
Malam harinya, Jovan benar-benar telah mentransfer sejumlah uang yang dulu pernah dia pinjam dari Yudha melalui Vani, istrinya.
Bahkan dia mengabarkan jika dia telah membayar hutang-hutangnya melalui pesan WA.
★★★★★
__ADS_1
Dua hari setelahnya, Gina telah mempersiapkan segala kebutuhannya untuk melangsungkan pernikahan dengan Jovan.
Pernikahan itu dilakukan secara sederhana di rumah dinas Gina. Hanya orang tua Gina, dan beberapa guru yang akan diundangnya.
Gina sebelumnya telah menceritakan bahwa pernikahan ini dilakukan atas kemauan mereka berdua. Tidak masalah jika nantinya akan menjadi sebuah rahasia.
Dan satu hal yang orang tua Gina lakukan yakni, selalu menyetujui keinginan anaknya. Mereka tidak perduli jika kelakuan anaknya akan menyakiti orang lain.
"Sayang, aku sudah memberitahu orang tuaku jika kita akan menikah. Kapan waktu yang tepat menurutmu untuk kita melakukan akad?" tanya Gina, saat ini mereka berdua sedang menikmati makan malam bersama.
"Terserah kamu saja" jawab Jovan yang sebenarnya sangat berat melakukan ini semua.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau lusa? Kita nikahnya malam hari saja sayang" kata Gina.
Jovan hanya mengangguk lesu, dia tidak percaya jika dia sendiri yang memilih keputusan semacam ini.
"Acaranya tidak usah yang meriah ya, yang penting sah secara agama. Aku senang sekali meskipun sekarang aku hanya bisa membayangkannya saja" kata Gina.
Jovan hanya menanggapi ocehan Gina dengan senyum masam. Sejujurnya dia sangat ragu, seandainya bukan karena Yudha, dia tidak akan pernah melakukan hal ini.
Esok hari adalah jadwalnya pulang ke rumah, menemui anak dan istri tercintanya. Jovan merasa enggan untuk datang, tapi dia juga rindu pada keluarganya.
Dia dilema.
★★★★★
Malam ini Jovan sampai di rumahnya agak larut malam, tidak seperti biasanya. Dia menunggu agar anak-anaknya terlelap agar tidak semakin besar rasa bersalah dalam hatinya karena pengkhianatan yang akan dia lakukan.
Dengan langkah mengendap, dia memasuki kamarnya setelah meletakkan tasnya di depan kamar mandi.
"Kenapa baru sampai yah?" tanya Vani yang memang mudah sekali terjaga dari tidurnya.
"Iya, tadi mampir ke rumah teman dulu bun" kata Jovan.
"Kamu lanjut tidur saja ya, maaf kalau aku mengganggu tidurmu ya bun" kata Jovan.
"Iya" kata Vani melanjutkan tidurnya, dia tersenyum singkat sebelum Jovan meninggalkan kamarnya.
Jovan duduk si teras rumahnya meskipun terlalu dini untuk beraktivitas. Pria itu menyulut sebatang rokok, sebelumnya dia telah membuat sendiri secangkir kopi untuk menikmati malam galaunya.
"Masih pantaskah aku melarang Vani untuk berdekatan dengan Yudha? Sedangkan aku sendiri mengkhianatinya dengan menikahi wanita lain" batin Jovan mengadu pada hembusan angin yang mengandung embun pagi.
Pikirannya berkeliling entah kemana, Jovan sangat merasa bersalah pada wanitanya. Dia tahu bahwa Vani akan menjaga keutuhan rumah tangganya meskipun sudah jelas Yudha meminjamkan uang itu dengan maksud tertentu.
Jovan sedikit tidak terima jika anak-anaknya sampai memanggil Yudha dengan sebutan papa.
Kegembiraan kedua anaknya yang sedang Yudha manjakan di siang itu, memicu harga dirinya sebagai seorang lelaki yang mengepalai rumah tangganya terkesan rendah. Seolah dia tak mampu melakukan itu.
Meskipun itu semua hanyalah perkiraan terburuk dari hatinya, tapi memang gara-gara hal sepele itu yang membuatnya yakin untuk menerima bantuan dari Gina tanpa sepengetahuan Vani.
Dan dalam waktu dekat, bisa dipastikan jika Gina akan benar-benar menjadi istri keduanya. Entah apa yang akan dilaluinya kelak, Jovan hanya berharap yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Hingga pagi menjelang, pria itu masih belum bisa terlelap.
__ADS_1
"Yah, ayah nggak anter Vee sekolah ya?" kata Vee membangunkan ayahnya yang baru bisa terlelap sejam yang lalu.
"Sama bunda saja ya sayang, ayah sepertinya nggak enak badan" kata Jovan memberi alasan sekedarnya agar anaknya berhenti mengganggu tidurnya.
Vee memanyunkan bibirnya, setahunya jika ayah pulang pasti akan mengantarkan dia pergi sekolah.
"Bunda, ayah nggak mau antar Vee" kata bocah itu mengadu pada bundanya.
"Iya nak, sama bunda saja ya. Ayah kan lagi nggak enak badan. Nanti pulangnya biar ayah yang jemput, oke?" kata Vani memberi opsi pada Vee agar berhenti ngambek.
"Iya deh, Vee sama bunda ya. Ayo kak, kita berangkat" ajak Vee pada Varo yang masih belum selesai memakai sepatu.
Varo hanya menatap sekilas dengan pandangan malas pada adiknya yang super cerewet itu.
"Yah, nanti jemput anak-anak ya. Jangan lupa" kata Vani memperingatkan suaminya.
"Iya bun" jawab Jovan dengan mata masih tertutup.
Vani merasa bahwa ada yang suaminya sembunyikan darinya. Tapi dia tidak pernah memaksa agar suaminya mau bercerita. Pasti nanti jika sudah merasa mendapatkan waktu yang tepat, suaminya akan menceritakan permasalahan yang sedang dia hadapi
Pagi itu seperti biasanya, Vani mengantarkan kedua anaknya pergi sekolah.
"Bunda, berhenti sebentar ya. Ada kakek disana" kata Vee saat berada ditengah perjalanan.
"Mana nak?" tanya Vani.
"Itu, duduk disana" kata Vee menunjuk seorang lelaki tua bersorban yang sedang duduk di pinggir jalan.
Vani menghentikan laju kendaraannya, minggir sebentar untuk menemui orang tua yang dimaksud Vee.
Vee turun dengan riang menuju sang kakek yang tersenyum kepadanya.
"Kakek disini ngapain?" tanya Vee.
"Tidak ada, hanya duduk saja" kata Kakek itu.
"Vee mau sekolah kek, nanti ketemu lagi ya" kata Vee.
"Iya, kamu sekolah dulu nanti kita ketemu lagi" kata kakek itu.
"Persiapkan diri kamu nak, sebesar apapun masalahnya, cari inti terbaik dari maksudnya. Cobalah tambah kesabaranmu" kata kakek itu saat melihat ke arah Vani.
Vani hanya tersenyum mendapati wejangan dari si kakek tua. Setelah mereka berpamitan, Vani segera melajukan motornya lagi untuk mengantar kedua anaknya ke sekolah.
.
.
.
.
__ADS_1