
Setelah kejadian semalam yang menyebabkan Jovan gagal nge-fly, menyebabkan moodnya pagi ini sedikit buruk.Diapun memutuskan tidur lagi sehabis solat subuh tadi.
Sekitar jam 8 pagi, dia dibangunkan oleh anak-anaknya untuk sarapan.
Dengan malas, diapun mengikuti acara sarapan dengan khidmat.
"Nanti main ke rumah uti (ibunya Jovan) yuk" kata Jovan pada anaknya setelah sarapan.
"uwah... asyik, mau yah" kata si bungsu semangat.
"yaudah, sarapannya abisin dulu. Terus siap-siap ya... Jangan lupa bawa baju ganti ya bun" lanjut Jovan dan hanya di iyakan oleh istrinya.
Seperti kebiasaan sebelumnya, di hari Minggu adalah hari berkumpul bagi seluruh keluarga di rumah sederhana milik keluarga Jovan.
Hari ini, dari ke lima saudaranya, hanya dua orang yang tidak bisa berkumpul. Yaitu dua adik terakhir Jovan, karena mereka sedang ada acara camping bersama di sekolahnya.
Jovan adalah anak ke dua, semua saudaranya laki-laki. Dan tinggal dua adik kembarnya yang masih duduk di sma.
Siang hari saat berkumpul bersama keluarganya di ruang keluarga, dan anak-anak mereka sedang asyik bermain sendiri, ponsel Vani berdering yang kebetulan sedang dimainkan oleh Vani.
Tertera nama Yudha di layar itu. Seketika pandangannya menatap sang suami yang ternyata sedang asyik main game online dengan adiknya.
Vani mengernyit mendapati nama Yudha menelpon, "tumben banget telpon" batin Vani sembari mengusap ikon hijau untuk menerima panggilan.
"assalamualaikum, iya mas. ada apa?" salam Vani.
"waalaikumsalam. to the poin banget sih. Lagi sibuk ya kamu?" tanya Yudha
"nggak juga sih, lagi nyantai bareng ini di rumah mertua aku" kata Vani berharap Yudha mengerti dan segera mengakhiri percakapannya.
"ouh, lagi ngumpul keluarga ya. Ganggu dong aku?" tanya Yudha.
"jelas" batin Vani.
"nggak kok, kamu ada apa tumben telpon?" tanya Vani.
"sebenernya aku mau ngasih tau kamu kalau ada lowongan kerja di minimarket gitu. Nggak jauh juga dari rumahmu, tapi ini tokonya masih baru. Mendingan kita ketemu gimana? Biar enak ngobrolnya?" tanya Yudha.
Vani jadi ingat bahwa Yudha adalah pemilik The Empire Hotel yang terkenal itu. Dia jadi penasaran ingin menanyakan langsung, dan kebetulan sang empunya sedang mengajak ketemu.
"eh, boleh banget tuh. Besok gimana? kamu bisanya jam berapa?" tanya Vani.
"Besok aku jemput ya? sekalian nganterin anak kamu sekolah?" tanya Yudha.
"kamu niat banget, itu kan masih pagi banget. Agak siang aja nggak apa-apa, takutnya kamu sibuk" kata Vani.
__ADS_1
"Sekalian cari sarapan Van, siang sampai sore aku sibuknya" jawab Yudha
"Yaudah deh, terserah mas aja."jawab Vani pasrah
"iyaudah, kamu lanjutin aja acara keluarga kamu, assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab Vani sambil menutup panggilan telponnya.
"siapa bun?" tanya Jovan yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Vani.
"eh, kaget. Bukannya tadi mbak Inggrid yah yang duduk disitu yah? kok tiba-tiba kamu sih?" tanya Vani
"terus kamu maunya orang yang telpon kamu yang duduk di sebelah kamu?" tanya Jovan menyelidik. Pasalnya dari pagi moodnya sudah tidak bagus, malah sekarang istrinya sedang janjian sama orang lain, bikin tambah kesal saja.
"apa sih yah. Orang tadi itu temenku, dia mau nawarin kerjaan, siapa tau kan cocok. Pengen kerja lagi akutuh" jawab Vani
"Kita udah pernah bahas ini bun, aku memang nggak ngelarang kamu kerja, tapi jangan sampai lupa sama anak-anak ya" kata Jovan sambil meneruskan game di hapenya.
"iya mas... kita sudah sering bahas ini, dan kamu tau alasan apa yang bikin aku ngotot pengen kerja" jawab Vani.
"mas?" batin Jovan sambil mengangkat sebelah alis tebalnya.
Sebuah kata keramat yang diucapkan Vani saat punya keinginan, dan pasti Jovan akan selalu luluh.
Selemah itu memang hatinya pada wanita ini.
Makan siang bersama di rumah keluarga Jovan adalah dengan lesehan bersama. Menggelar karpet besar di ruangan tv, dan semua keluarga duduk melingkari makanan yang sudah tersaji di tengah karpet.
Siang ini menunya urap sayur, ayam goreng laos, lele dan belut goreng, labu siam kuah santan, tempe tahu goreng, dan juga sambal beserta kerupuknya.
Ternyata mertuanya sudah sibuk dari pagi dengan kakak iparnya, karena memang saudara tertua Jovan, Aditya Anggara bersama istrinya, Inggrid Suganda tinggal di rumah ini dengan satu anaknya Karina Anggara yang saat ini sudah masuk SD.
Inggrid berasal dari keluarga yang cukup berada, orang tuanya bekerja sebagai salah satu pentolan di sebuah situs belanja online ternama. Sedangkan mas Adit dulunya hanya seorang kurir di akun belanja itu.
Sering mendapati mbak Inggrid menemui sang ayah, menyebabkan dua insan ini jatuh cinta. Dan akhirnya menikah.
Beruntung orang tua mbak Inggrid tidak memandang kasta masyarakat. Tapi memang setelah menikah, mas Adit dipindahtugaskan menjadi penanggung jawab gudang.
Setelah menikah mbak Inggrid hanya dirumah saja karena mas Adit ini orangnya posesif banget, sangat berbeda dengan Jovan yang membebaskan istrinya berteman dengan siapapun selama masih mengerti batasan dalam berteman.
Adik Jovan, si anak ke tiga juga baru saja menikah. Namanya Rudi Hariadi, dia dan istrinya Anggun Prisilia adalah sepasang mahasiswa tingkat akhir.
Di studinya yang memasuki semester tujuh, mereka memutuskan menikah, takut dosa bila lama-lama pacaran. Begitulah alasan mereka saat ditanya mengapa menikah muda.
Setahun setelah menikah, Anggun wisuda terlebih dahulu karena Rudi memilih cuti di masa akhir kuliahnya itu karena adanya beberapa job di usaha freelancenya di bidang desain interior rumah.
__ADS_1
Sedangkan sepasang adik kembar sebagai bungsu dari keluarga ini bernama Hamza Julio dan Hamzi Julio. Kerap dipanggil Za dan Zi, mereka masih duduk di bangku sma. Dan mereka masih di kegiatan sekolah, yaitu perjusami (perkemahan Jum'at, Sabtu, Minggu).
Rencananya nanti malam baru bisa pulang kembali ke rumah. Za dan Zi adalah anak terpintar daripada abang-abangnya. Mereka sangat kompak dan cerdas, terbukti mereka selalu mendapatkan beasiswa prestasi selama sekolah di tingkat smp dan smanya.
Tahun ini mereka masih berada di kelas dua sma. Merasa satu server dangan Vani, adik kembar Jovan ini paling dekat dengannya.
Mereka sering ngobrol dengan bahasa Inggris apabila sedang membahas sesuatu yang dirasa rahasia.
Vani lancar berbahasa asing itu karena dulu di sekolahnya, dia di masukkan di kelompok debat bahasa Inggris. Sempat menjadi runner-up di acara debat antar sma se-Jawa Bali waktu itu.
Tapi Vani tidak ditakdirkan bisa meneruskan studynya ke jenjang kuliah karena terbentur masalah ekonomi.
Ya, memang kadang takdir seperti itu. Tapi Vani tidak pernah menyalahkan takdir, karena baginya bisa sampai tamat SMA adalah anugrah mengingat bagaimana perjuangannya dulu saat masih sekolah.
Kembali ke acara makan siang bersama, si kecil Varo adalah anak yang sangat pemilih makanan. Dia suka nasi agak lembek dengan sedikit kuah, sangat jarang makan sendiri, dia lebih suka di suapi.
Berbeda dengan Vera, gadis kecil ini bukanlah pemilih makanan. Hanya saja tidak suka pedas sedikitpun. Dan lebih suka makan sendiri meskipun masih belepotan.Si adik lebih mandiri daripada abangnya.
Setelah menyiapkan makanan untuk anaknya, Vani menyiapkan makanan untuk suaminya.
"ayah mau makan apa?" tanya Vani pada Jovan yang masih sibuk dengan game online nya bersama Rudi.
"terserah bun"jawab Jovan singkat sambil terus mamainkan gamenya.
Sepiring makanan sudah tersaji di hadapan suaminya yang masih belum bisa jauh dari gadgetnya.
"Makan dulu yah" kata Vani.
"bentar, nanggung mau selesai ini" jawab Jovan.
Sepertinya keadaan yang sama menimpa Anggun, adik iparnya itu juga sedang sibuk mengurus suaminya yang asyik dengan hapenya
"sialan.... batreku habiiss" Jovan mengerang mendapati hapenya kehabisan batrai.
Dia ingat belum mencharge ponselnya itu sejak semalam karena tidur dengan Varo, dan meninggalkan ponselnya di kamarnya sendiri. Sedangkan setelah solat subuh, dia malah tidur lagi.
"yaahh .. Mas Jovan bikin aku sibuk ini, padahal tinggal dikit lagi tim kita bakalan menang nih" kata Rudi. Ternyata mereka sedang main mobile legend, pantas saja Jovan sampai kesal banget seperti itu.
"Hapemu mati Jo?" tanya mas Adit yang baru masuk dan duduk di samping istrinya, sedangkan tangannya juga sibuk dengan hape.
"iya, lupa di charge" jawab Jovan kesal sambil beranjak mencharger hapenya.
"yaudah makan aja dulu yah" kata Vani setelah Jovan duduk disisinya.
Diantara semua saudaranya, Jovan lebih dekat dengan Rudi. Mungkin jarak mereka yang hanya terpaut dua tahun dan sering bermain bersama waktu kecil, sedangkan mas Adit memang agak pendiam orangnya.
__ADS_1
Orang tua Jovan sendiri juga masih sibuk di usia mereka yang tidak lagi muda. Mereka memproduksi dan menjual sendiri frozen food berupa rolade ayam, sosis, nuget, dan juga sempol.
Disamping itu, mereka juga aktif di kegiatan masyarakat. Ayah mertuanya, pak Abdul Razak adalah seorang ketua RT, dan ibu mertuanya, bu Siti Ruqaiyah sangat aktif di kegiatan pkk dan semacamnya.