Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
sedikit lagi


__ADS_3

"Jadi, bagaimana prosedur untuk melakukan tes DNA?" tanya Yudha tidak sabaran.


"Pertama, kedua belah pihak harua tahu dan sama-sama setuju untuk melakukan tes" kata Mela.


"Itu sulit, Mel. Boleh nggak sih kalau aku melakukannya secara diam-diam?" tanya Yudha.


"Tentu tidak boleh, Yud. Kamu harus bisa menghargai privasi orang lain. Kalau Vani dan suaminya tidak mau melakukan tes itu, maka pihak rumah sakit tentu tidak akan mengizinkan jika tes itu hanya diinginkan oleh sepihak saja" kata Mela.


"Kamu bisa atur itu, lakukan saja. Atau nanti biar Akbar yang membantumu" kata Yudha enteng, seolah semua bisa sesuai dengan kehendaknya.


"Jangan seenaknya dong kamu, memangnya apa yang bisa Akbar lakukan?" tanya Mela.


"Kamu belum kenal siapa Akbar ya, dia bisa melakukan apapun sesuai perintahku. Loyalitasnya sudah tidak diragukan lagi. Kamu nanti bisa mengurus masala perizinan dengannya. Itu masalah gampang" kata Yudha.


Mela menghela napas panjang, berurusan dengan Yudha memang cukup meresahkan. Selain dia itu keras kepala, dia juga mempunya dukungan yang diam-diam sangat loyal padanya. Baik dari golongan bawah, seperti para mafia. Maupun dari golongan pemerintahan dan pihak keamanan.


Entah dia bisa mendapatkan semua kekuatan itu darimana. Yang Mela tahu, kekuatan di belakang Yudha sangat besar.


"Ok, baiklah. Soal perizinan anggap saja sudah selesai. Sekarang kita bicarakan prosesnya" kata Mela, Yudha mendengarkan dengan seksama penjelasan Mela kali ini.


"Sebenarnya bisa melakukan tes dari janin yang masih berada dalam kandungan, jadi sample bisa kita dapatkan dari air ketuban atau plasenta bayi, tapi resiko yang dihadapi cukup tinggi pada kelanjutan kehamilannya. Terutama untuk kesehatan janinnya" kata Mela.


"Ada opsi lain?" tanya Yudha.


"Ada, kita bisa melakukan tes melalui pengambilan darah dari pembuluh darah Vena milik sang ibu" kata Mela.


"Langkah yang kedua sepertinya lebih aman. Kita lakukan tes yang kedua saja. Selain itu, lebih mudah dan tidak beresiko. Karena sepertinya hanya membutuhkan kemauan dari Vani untuk memberikan sedikit darahnya intuk sample, iya kan?" tanya Yudha.


"Ya, kamu benar. Kamu tinggal cari cara untuk membujuk Vani agar mau di ambil sedikit darahnya untuk kita lakukan tes. Dan kita juga akan mengambil darahmu".


"Siapkan diri kamu untuk nanti saya sedot darahnya sampai habis" kata Mela.


"Ambil semuanya kalau perlu, yang penting aku yakin nanti kalau anak dalam kandungan Vani itu adalah anakku" kata Yudha.

__ADS_1


Mereka berdua makan dalam diam, menghabiskan makanannya dengan cara yang anggun.


"Aku heran sama kamu, Yud. Dari segi wajah, kamu lumayan lah ya. Ekonomi kamu juga luar biasa, kamu sangat sukses di semua sektor bisnis yang kamu lakoni" kata Mela sedikit menyanjung.


"Tapi kenapa kamu nggak bisa lupain istri orang? Move on dong, Yud... Bahkan kamu sudah diberi istri seorang model yang luar biasa. Kenapa kamu masih saja mengejar Vani? Seperti tidak ada wanita lain saja" kata Mela.


"Kamu tidak akan tahu rasanya mencintai dengan sepenuh hati, lalu dipaksa berpisah saat rasa cinta itu memenuhi ruang hatimu" kata Yudha sok puitis.


"Dan dipaksa menikahi wanita lain untuk kepentingan keluargamu" kata Yudha menjeda kalimatnya.


"Rasanya itu, seperti hidupmu tak berarti. Hanya disuruh untuk patuh pada aturan keluarga. Aku sudah muak dengan semua itu, Mel".


"Akupun juga ingin bahagia, tapi kebahagiaan itu terlambat untuk kusambut. Saat wanita yang aku cintai sudah memilih yang lain. Tapi aku sangat yakin, jika di dalam hati Vani juga pasti masih ada namaku" kata Yudha meyakini ucapannya.


"Lantas, apa yang membuat kamu sangat cinta sama Vani? Dia tidak lebih cantik dari Bella, tidak lebih kaya, tidak lebih berpendidikan juga" tanya Mela yang sangat heran, Yudha terlalu menyanjung wanita biasa seperti Vani.


"Vani itu apa adanya, sejak pertama aku mengenalnya, dia itu sangat semangat dalam menjalani hidupnya. Dia ceria, lugu, dan yang pasti dia menerimaku apa adanya saat aku berada dalam kondisi terendah dalam semua aspek kehidupanku".


"Dia juga tidak pernah pilih-pilih makanan, tidak ada istilah diet dalam hidupnya. Kecuali makanan yang membuatnya alergi tentunya. Tidak seperti Bella yang rela hanya memakan daun saat diet" kata Yudha membandingkan istrinya dengan Vani.


"Sampai seperti itu? Aku rasa aku sendiri tidak akan sanggup kalau pacarannya cuma lihat sungai, hahaha" tawa Mela hanya disambut cengiran kecil dibibir Yudha.


"Nah kan, hanya Vani yang bisa. Makanya aku sangat mengaguminya. Bukan secara fisik saja, tapi keseluruhan yang ada dalam dirinya, aku menyukainya" kata Yudha.


"Bucin kok sama istri orang" ledek Mela.


"Cg, sudahlah. Yang penting segera buatkan jadwal untukku bisa melakukan tes DNA itu. Jangan membuang-buang waktuku" kata Yudha sudah dalam mode menyebalkan.


"Iya, baik tuan besar. Akan segera hamba buatkan jadwal pemeriksaan" kata Mela meledek.


"Mungkin lusa sudah bisa kita lakukan. Nanti hasilnya kan keluar sekitar dua atau tiga minggu setelah tes dilakukan" kata Mela.


"Semoga hasilnya sesuai seperti apa yang aku inginkan" kata Yudha.

__ADS_1


"Baiklah, menurutku pembicaraan kita sudah selesai. Nanti kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi aku ya, Mel. Oh iya, satu lagi, jangan lakukan pemeriksaan di dari Sabtu dan Minggu, karena suami Vani pulang saat itu" kata Yudha.


"hahahaha.... Kamu mau menculik istri orang ya. Lagian juga kan labnya libur di hari itu, mungkin Senin depan saja ya kita lakukan tesnya" kata Mela.


"Ya, begitu lebih baik. Aku permisi dulu ya, sebentar lagi ada meeting intern di perusahaan. Kamu balik ke rumah sakit mau bareng sama aku?" ajak Yudha.


"Boleh deh, lumayan ngirit ongkos taksi" kata Mela terkekeh.


★★★★★


Sama seperti Yudha yang punya rencana khusus, Gina juga punya rencana agar bisa mengurangi kadar kebahagiaan di kehidupan Vani.


Seperti saat ini, dia sedang terlibat pembicaraan serius dengan beberapa anak buahnya yang dikhususkan untuk membuat Vani merasakan kesedihannya.


"Oke, lakukan cara itu saja. Kita habisi orang terdekatnya agar dia tahu rasanya kehilangan hati yang kita cintai" kata Gina dengan seringai licik dibibirnya.


"Siap bos. Kita akan melakukannya dengan sangat rapi. Bos tidak perlu khawatir, yang penting aliran dana jangan sampai telat, apalagi kurang" kata seorang amak buahnya yang bekepala gundul, dengan jambang dan kumis yang lebat.


"Kamu jangan KH masalah dana, selama ini apa pernah aku berbuat curang pada kalian?" tanya Gina.


"Siap bos, akan kami lakukan secepatnya. Bos tinggal duduk manis sambil bersenang-senang dengan suami barunya. Biar kita yang bertindak" kata anak buahnya lagi.


Seringai licik kembali Gina sunggingkan, sebenarnya dia wanita yang baik sebelum merasakan sakitnya patah hati.


Sekarang dia sedikit berubah, rasa sakit hati membuatnya buta mata. Melihat orang lain menderita membuatnya tertawa.


Sungguh wanita yang sedang sakit hati itu sangat berbahaya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2