Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
I'm not ok!


__ADS_3

Vani kaget setelah membuka pintu rumahnya malam itu. Pasalnya Jovan datang dengan tampang kusut, dan ini bukan hari Jum'at seperti hari biasanya Jovan pulang.


Jam Duabelas malam di hari Selasa, Jovan datang setelah hampir dua minggu tidak pulang.


Ada rasa lega dan juga cemas bercampur dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba itu.


"Assalamualaikum" kata Jovan lirih dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Waalaikumsalam, ayah nggak apa-apa kan? Aku cemas banget sama kamu yah, sudah dua minggu lebih ayah nggak pulang, jarang ngabarin juga" kata Vani menyambut kepulangan suaminya.


"Aku nggak baik-baik saja bun" kata Jovan lemas.


"Ayah bersih-bersih dulu ya ke kamar mandi, sudah makan apa belum? Biar aku buatkan makanan buat ayah" kata Vani mendadak cemas.


"Aku sudah makan bun. Mandi dulu saja" kata Jovan sambil melangkah menuju kamar mandi.


Vani juga menuju dapur untuk membuatkan suaminya itu kopi. Biasanya suaminya akan sulit tidur kalau sedang banyak fikiran.


Malam itu Vani menunggu suaminya di ruang tengah dengan hati was-was. Apa sebenarnya yang telah terjadi?


Dua puluh menit dilaluinya dengan cemas. Jovan yang datang dan duduk disampingnya malah langsung mendekap Vani kedalam pelukannya.


Vani mengerti jika ada beban yang masih belum bisa dibagi dengannya oleh sang suami. Jadi dia membiarkan suaminya itu merasa sedikit lebih baik didalam pelukannya.


Cukup lama Jovan terdiam dalam dekapan istrinya. Hingga sebuah pernyataan keluar dari mulut Jovan mengawali keluh kesahnya masih dengan memeluk sang istri.


"Investasiku gagal bun, orangnya pergi menghilang. Uangku dibawa kabur semua oleh orang itu" kata Jovan masih memeluk Vani.


Vani masih terdiam, mendengar ucapan suaminya, dia mengingat nominal uang yang suaminya gunakan untuk modal investasi itu sekitar limapuluh juta, angka yang sangat berarti bagi wanita sederhana seperti Vani.


Sebenarnya ibu dari Varo itu terkejut, tapi dia tahu bahwa masih ada hal lain yang menjadi ganjalan dihati suaminya.


"Lalu apa lagi yah?" tanya Vani.


Jovan melonggarkan pelukannya, lalu dengan gerakan pelan duduk dengan putus asa memegang kepalanya yang terasa semakin berat.


"Aku membawa orang lain untuk ikut investasi padanya, dan sialnya, untuk kejadian seperti ini, orang yang aku bawa untuk investasi harus menjadi tanggung jawabku atas uang yang sudah mereka percayakan" kata Jovan sambil meremas rambutnya.


Vani terkejut, "berapa banyak uang yang menjadi tanggung jawab kamu yah?".

__ADS_1


"Sekitar dua ratus juta bun, itu diluar auangku sendiri" kata Jovan.


"Dan sekarang aku harus secepatnya mengembalikan uang itu. Karena orang-orang yang aku ajak sudah tidak sabar untuk mendapatkan kembali uangnya, dan mengancam untuk memperkarakan semua ini pada polisi kalau aku tidak bisa mengembalikan uang mereka dalam waktu satu minggu kedepan" kata Jovan.


Vani leboh terkejut mendengar Jovan akan diperkarakan. Pasalnya dia adalah tulang punggung di keluarganya.


Bingung.


Itulah kata yang tepat untuk kedua pasangan yang sedang berdiskusi itu malam ini.


Sampai selesai cerita Jovan mengenai kaburnya sang pemilik perusahaan, dan tentunya di skip tentang Gina yang menjembatani pertemuan mereka. Vani masih syok dan lupa menyuruh Jovan untuk meminum kopinya hingga dingin.


Vani jadi ikut kalut mengetahui semua masalah Jovan. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu?


Bahkan untuk mencari pinjaman dua juta saja sudah sangat sulit, apalagi sampai dua ratua juta?


Mereka jadi sibuk dengan fikirannya masing-masing dan saling terdiam.


Jovan bingung dengan tawaran Gina untuk bisa membantunya tapi harus menikahinya meskipun tanpa sepengetahuan dari Vani. Tapi hati Jovan sungguh tak tega untuk mengkhianati istrinya.


Sedangkan Vani bingung kalau sampai Jovan harus masuk penjara, siapa yang akan menanggung hidupnya dan anak-anaknya?


Biarlah masalah ini dipikirkan lagi esok hari, pasti akan ada jalan keluar jika dipikirkan dengan kepala dingin. Begitulah menurut Vani.


Dan kali ini dia berpamitan pada suaminya yang masih terlihat kalut itu untuk pergi ke kamarnya.


"Aku ke kamar dulu yah, kamu juga butuh istirahat. Berpikir dengan kepala dingin besok setelah kita beristirahat" kata Vani menyuruh Jovan untuk tidur juga.


"Aku tidur disini saja Bun" kata Jovan membiarkan Vani tidur dikamarnya.


Sebenarnya Vani tidak benar-benar istirahat dengan benar setelah mengetahui masalah yang dihadapi suaminya. Terlihat lingkaran hitam dan mata yang mengantung karena Vani yang kurang istirahat.


Vani tetap berangkat kerja seperti hari-hari biasanya. Bedanya kini dia merasa sedikit mengantuk karena kurang istirahat.


"Mbak Vani nggak apa-apa? pucet banget mukanya?" Tanya Dewi, partner kerjanya.


"Nggak apa-apa Dew, cuma agak pusing aja kurang istirahat semalam" jawabnya.


Yudha yang memang ingin mengunjungi Toko sedikit terkejut melihat kondisi Vani yang benar-benar tampak tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Kamu kenapa Van?" tanya Yudha menghampiri Vani yang duduk dilantai sementara Dewi memegang kemoceng.


"Eh... Mas Yudha, hehe... Maaf ya, nggak lihat tadi datang. Aku nggak apa-apa kok mas" jawab Vani berusaha berdiri.


"Pucet banget muka kamu, sakit?" lanjutnya.


"Enggak mas, beneran deh. Cuma kurang tidur aja semalam. Aku nggak biasa begadang sih, jadi gini deh, keliyengan dikit" jawab Vani berusaha tersenyum.


"Udah nggak usah senyum-senyum gaje gitu. Ikut aku ke ruanganku di atas sekarang ya" kata Yudha.


Vani jadi merasa tidak enak, pasti akan kena tegor nih. Dewi hanya menyemangati partnernya itu dengan mengepalkan tangan dan mengangkat setinggi bahu.


Sambil mengangguk dan tersenyum kikuk, Vani berjalan mengekor pada bosnya. Sambil sesekali menoleh pada Dewi yang masih memberinya semangat.


Sampai di depan ruangannya, Yudha membuka pintu dan masuk. Menoleh ke belakang, Vani masih berdiri dengan muka penuh tanda tanya terbaca jelas.


"Masuk, ngapain disitu?" kata Yudha.


"Eh, iya mas" Vanipun masuk dan duduk dikurai berhadapan dengan Yudha yang sudah menduduki singgasananya.


"Kamu ada masalah?" tanya Yusha yang sebenarnya sudah tahu tentang semua masalah Vani, bahkan masalah yang mungkin akan ada di masa mendatangpun sudah diketahuinya.


"Nggak ada mas, cuma memang lagi kurang istirahat aja" kata Vani.


"Sudahlah Vani, kamu nggak ada bakat berbohong. Kamu bisa cerita sama aku kalau memang ada yang membebani pikiran kamu" kata Yudha.


Vani jadi ragu untuk bercerita atau tidak perihal masalah yang sedang suaminya hadapi. Atau mungkin dia bisa saja meminta bantuan Yudha untuk meminjamkannya uang?


Kan bisa diatur potong gaji untuk melunasinya kan? Tapi sampai kapan dirinya harus bekerja dengan gaji yang dipotong jika uang pinjamannya sebanyak itu?


Bisa-bisa sampai anak-anaknya lulus kuliah baru bisa lunas semua hutangnya. Vani jadi ragu untuk meminta pertolongan Yudha.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2