Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
rumah terakhir


__ADS_3

Bendera kuning dikibarkan di depan rumah Vani. Para tetangga sudah berdatangan untuk sekedar membantu memasang terop milik warga RT agar bisa menampung para pelayat yang berdatangan.


Sejak kemarin Yudha menemani Vani dan kedua anaknya yang sedang berduka.


Poin terpenting sebenarnya adalah tetap menjaga Vani dan kandungannya. Ya, meski Varo dan Vee juga penting bagi Yudha.


Bahkan Tita, sahabat satu-satunya Vani juga sudah berada disamping Vani sejak pagi tadi.


Bersama Hildan, anak Tita yang menjadi teman baik Vee di sekolahnya, dia datang untuk menguatkan hati sahabatnya.


"Suami kamu kemana?" pertanyaan yang semua orang berikan saat melihat bukanlah Jovan yang ada disamping Vani. Melainkan pria asing yang jarang sekali saudaranya temui.


Vani memperkenalkan Yudha sebagai saudara jauh dari orang tuanya. Sementara Jovan masih dalam perjalanan pulang.


Kedua orang tua Vani sudah dimandikan dan dikafani.


Pendarahan serius yang dialami oleh kedua orang tuanya yang menyebabkan nyawa mereka tidak tertolong.


Belum lagi beberapa bagian tulang yang mengalami cedera. Tangisan Vani tak terbendung saat membayangkan betapa sakitnya luka yang orang tuanya alami sebelum maut menjemput.


"Ya Allah, sakit yang kau berikan pada orang tuaku saat menjemput ajalnya, semoga menjadi pelebur dosa-dosanya agar kedua orang tua hamba bisa masuk ke dalam jannahmu, Aamiin".


Doa yang Vani panjatkan saat melihat jenazah kedua orang tuanya sudah siap untuk disolati.


Rembesan darah masih saja keluar, membuat putihnya kain kafan itu tergenang bercak darah.


Sudah segala cara dilakukan untuk menahan agar darah yang keluar tidak sampai mengenai kain kafan, tapi tidak bisa. Jadi, jalan terbaik adalah segera mengebumikan kedua jenazah agar tidak semakin banyak darah yang terlihat


"Mari bapak-bapak, segera kita solatkan jenazah ini" pak ustadz segera memimpin solat jenazah.


Yudha ikut menyolatkan, sebagai bentuk pengabdian terakhir pada kedua orang tua dari wanita yang telah dia nodai.


Berharap mendapat maaf dari keduanya atas apa yang telah dia lakukan pada Vani hingga membuatnya hamil tanpa tahu bahwa anak dalam kandungannya adalah buah cintanya.


Jovan datang tepat setelah kedua jenazah sudah disolatkan. Tatapan tajam Yudha seperti ingin mengirim Jovan untuk ikut menyusul mertuanya pergi.


Bukannya Yudha tidak tahu alasan Jovan tak menghiraukan semua pesan dan panggilan dari Vani sejak kemarin, hanya saja tidak mungkin untuk memberitahu Vani atas kelakuan suaminya diluar sana.

__ADS_1


"Lelahnya pikiran seorang ibu hamil akan berpengaruh juga pada janinnya. Pastikan kondisi kejiwaan ibu hamil selalu bahagia agar anak dalam kandungannya menjadi anak yang ceria" kutipan yang selalu Yudha ingat untuk membuat batin Vani selalu senang, agar calon anak kembarnya akan menjadi anak yang selalu ceria.


Tatapan heran dari semua pelayat dan sanak saudaranya membuat Jovan merasa tak enak hati.


Segera dia menghampiri sang istri yang masih saja menangis dalam pelukan mertuanya, ibu dari Jovan.


Vani tak memperdulikan kepulangan Jovan. Baru kali ini wanita itu merasa sangat kecewa pada suaminya.


"Maafin aku sayang, ponselku hilang sejak kemarin. Baru tadi pagi ada temanku yang mengembalikannya" Jovan berkata sambil terus menciumi tangan istrinya.


Varo ada disamping Yudha, ikut menyolatkan kakek dan neneknya. Sedangkan Vee masih sesenggukan menyebut nama eyang kakung dan eyang Utinya. Gadis kecil itu duduk di sebelah bundanya, bersama Hildan yang ikut menangis saat melihat air mata Vee tak kunjung berhenti.


"Ayah, kakung dan uti berdarah. Vee mau obati, biar mereka sembuh. Tapi kata orang-orang kakung dan uti sudah meninggal" ucapan yang disela dengan sesenggukan Vee semakin membuat Jovan merasa tak berguna.


"Maafin ayah ya nak, seharusnya ayah selalu ada disamping kalian" Jovan sangat menyesal dengan perbuatannya. Menyenangkan diri sendiri saat keluarganya sedang dirundung duka.


"Kamu darimana saja, nak?" tanya ibu Jovan yang sudah lebih dulu sampai dirumah duka.


"Ponsel Jovan hilang, bu. Baru tahu tadi pagi kabar meninggalnya kedua orang tua Vani. Tadi saat Jovan tahu, langsung saja Jovan pulang" masih dengan alasan yang sama Jovan mengelabuhi semua orang.


Vani sudah tidak perduli, dalam hati dia merasa janggal. Tidak pernah sebelumnya Jovan terpisah dari ponselnya.


Vani masih menunduk, air matanya masih saja menetes. Bibirnya tak berucap meski hanya sepatah kata untuk menyambut kedatangan sang suami.ada


"Cepetan kamu wudhu ya, masih beruntung kamu bisa ikut mengangkat keranda mertua kamu" ibunya memberi arahan pada sang anak yang terlihat sangat merasa bersalah.


"Iya bu" kata Jovan yang patuh pada ibunya.


Kedua jenazah diantar beriringan menuju tempat pembaringan terakhir. Adat di kota Dingin yang hanya memperbolehkan para pria yang mengantar jenazah, membuat Vani hanya bisa mengantar hingga di depan rumahnya.


Selanjutnya, giliran para pria yang diperbolehkan untuk mengurus jenazah hingga tertutup oleh tanah.


Yudha ikut mengangkat keranda ayah Vani. Sementara Jovan berada dibelakangnya, mengangkat keranda ibu Vani.


Banyak sekali pelayat yang ikut ke pemakaman. Karena memang kedua orang tua Vani terkenal ramah dan supel pada semua orang. Tak segan untuk membantu sesama.


Rasa kehilangan bisa dirasakan oleh semua warga sekitar.

__ADS_1


Jarak dari rumah Vani ke pemakaman tidak begitu jauh, jadi mereka mengantarkan jenazah dengan berjalan kaki.


Sementara dirumah duka, para wanita sedang sibuk memasak untuk menjamu peziarah yang nantinya akan kembali ke rumah duka setelah prosesi pemakaman selesai.


★★★★★


"Saya sering lihat mas-mas ganteng yang tadi ikut angkat kerandanya bapak, dia itu sepertinya bukan saudaranya bapak ataupun ibu. Mungkin nggak sih kalau dia itu ada main sama mbak Vani?"


bisikan para wanita yang sedang sibuk di dapur sudah mulai terdengar.


Memang ya, di semua kegiatan tak akan pernah luput dari yang namanya menggibah kalau para wanita sudah bersama.


"Masak sih mbak? Aku juga sering lihat sih, dulu sepertinya mbak Vani pernah kerja di tempatnya mas ganteng itu. Soale aku pernah pas nyuci motor, nggak sengaja yang jualin ya mbak Vani itu. Di toko sebelah cucian motor dekat pasar besar itu loh" wanita lain mulai berkomentar, menyemarakkan suasana.


"Iya, tapi masak iya kalau cuma sebagai atasan di pekerjaan bisa sampai sebegitu perhatiannya sampai ikut angkat keranda?" balas lainnya yang ikut gatal untuk menggunjing.


"Nggak salah, pasti deh mas ganteng itu simpanannya mbak Vani. Eh, salah.. Mbak Vani simpanannya mas ganteng itu.. hehehe" komentar wanita pertama diiringi tawa.


"Nggak mungkin deh kayaknya, keluarga mbak Vani kan aktif di kegiatan keagamaan. Mana mungkin sampai melakukan yang seperti itu" komentar yang lainnya.


"Iya benar, lebih baik itu kalau tangan lagi kerja, mulutnya nggak usah ikutan bicara ibu-ibu. Kalau yang dibicarakan itu nggak benar, jatuhnya fitnah lho. Jadinya ghibah, mendingan mulutnya dipakai seperlunya saja" telinga Tita yang sudah gatal mendengar pergunjingan para ibu-ibu yang membantu menyiapkan makanan, akhirnya tidak tahan untuk tidak berkomentar.


Ibu-ibu yang tadinya saling menggunjing akhirnya terdiam. Mereka tahu kalau Tita adalah sahabat baik Vani, karena keduanya kerap terlihat bersama.


Tita pergi meninggalkan ibu-ibu yang sudah anteng dengan kegiatannya.


Masih bersungut-sungut, dia kembali ke kamar Vani. Tempat sahabatnya yang sedang berduka.


"Sudah ya Van, jangan terlalu meratap. Nggak baik, ikhlaskan saja semuanya. Semoga orang tua kamu ditempatkan di surganya Allah" daritadi Tita sudah berulang kali mengingatkan sahabatnya, namum memang membiarkan semua berlalu dengan ikhlas itu sangat sulit.


"Kamu nggak ngerti perasaan aku, Ta" Vani masih sesenggukan saat mengatakannya.


"Kamu lupa kalau abahku juga sudah berpulang? Bahkan umiku maninggalkanku sewaktu aku masih balita. Memang sulit untuk ikhlas, tapi percayalah, orang tua kamu akan terbebani kalau kamu belum mengikhlaskan kepergian mereka" ucapan Tita sepertinya masuk ke hati Vani, wanita itu mulai mengusap air mata di pipinya.


Lantas melihat ke arah sahabatnya yang selalu ada untuknya. Dan merekapun berpelukan untuk saling menguatkan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2