
Acara makan siang telah berlalu. Setelah makan dan membantu ibu mertuanya membereskan peralatan makan, dibantu Inggrid juga tentunya. Vani mengajak ke dua anaknya beristirahat di kamar Jovan.
Rumah sederhana ini mempunyai tiga kamar di lantai satu, dan tiga kamar juga di lantai dua.
Kamar Jovan ada di lantai dua berdekatan dengan kamar Rudi dan si kembar. Sedangkan mas Adit kamarnya di lantai satu, juga kamar orang tuanya dan satu untuk kamar tamu.
Saat Vani menyuruh anak-anaknya untuk tidur siang, Jovan malah melarangnya. Dan mengajak ke dua anaknya pergi ke taman dekat rumahnya.
Taman bermain itu memang dikhususkan untuk anak-anak. Karena banyak sekali permainan seperti perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, juga para penjual jajanan yabg tertata rapi di tempat khusus pujasera.
Di pujasera juga ini orang tua Jovan punya satu kedai sederhana yang menjual hasil olahan frozen food mereka.
Tapi di hari Minggu, mereka malah menutup kedainya demi acara berkumpulnya anggota keluarga Jovan.
"ayo ikut ayah main ke taman" kata Jovan yang disambut antusias oleh kedua anaknya
"uwaahh. mau yah. Ayo berangkat sekarang" kata si bungsu.
"kita solat dhuhur dulu yuk, abis itu baru deh main ke taman" kata Jovan.
"Bunda diajak nggak nih?" tanya Vani.
"Bunda dirumah saja nggak apa-apa. Biar aku sama anak-anak saja yang main. Kamu istirahat, tidur, siapin diri buat nanti malam ya. Soalnya semalem gagal sih" kata Jovan.
"oo... jadi ayah ngajakin anak-anak main karena memang ada maunya nih?" tanya Vani.
"emang gitu bun, nanti kalau mereka tidur siang malah malemnya minta main, terus susah banget kan diajak pulang kalau sudah ke pasar malam gitu. Mendingan mainnya sekarang aja, jadi nanti malam mereka bisa langsung tidur. Lagian besok kan sekolah" jawab Jovan panjang lebar berharap istrinya mau menerima alasannya.
"baiklah...baiklah..." jawan Vani mengalah.
Seperti rencana awal Jovan siang ini. Jovan mengajak anak-anaknya berpamitan pada sang bunda. Ayah dua anak itu terlihat senang saat berpamitan pada Vani.
"pergi dulu bun, inget tidur jangan main hape terus. Inget siapin tenaga buat malam ini" Kata Jovan berbisik pada istrinya.
"apaan sih yah, udah sana pergi. Hati-hati, dijaga anaknya jangan sampai hilang" kata Vani malu-malu.
Vero dan Vera memang maunya nempel terus sama ayahnya kalau sedang di rumah seperti ini. Keberadaan bundanya seperti angin lalu, hanya dipanggil saat dibutuhkan misalnya mau makan, mau susu, ataupun mau bab.
Terutama Vera yang selalu ingin bersama ayahnya saat libur seperti ini.
__ADS_1
Memang ayah selalu terlihat seperti jagoan di mata anak-anak nya. Mereka sangat suka membanggakan sosok seorang ayah, meskipun ibu pasti lebih banyak memiliki waktu dengan anaknya, tetap pada ayah seorang anak akan merasa terlindungi.
Sekali ayah berkata dengan tegas, pasti anaknya langsung menurut. Berbeda dengan perkataan seorang ibu yang dinilai cerewet, anak pasti masih sering bandel.
***
Setelah kepergian suami dan anaknya, Vani memilih berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Membuka aplikasi novel online, yang akhir-akhir ini sangat diminati.
Membuka salah satu judul novel yang telah difavoritkannya, dan mulai membacanya. Sampai entah sampai berapa lama, Vani benar-benar ketiduran.
Disisi lain, Jovan bersama Varo dan Vero sedang asyik menikmati kebersamaan mereka saat seorang wanita mendekati mereka.
Wanita itu adalah Gina, teman Jovan mulai dari zaman sekolah dasar, bisa dibilang sahabat. Dan Vani sering cemburu pada wanita ini, karena di samping wanita ini masih sendiri di usianya yang sudah berjalan lebih dari 27 tahun, Gina juga sering menghubungi Jovan bila membutuhkan pertolongan.
Dan yang pasti, Gina lebih muda daripada Vani. Membuat bunda dari Varo itu jadi uring-uringan sendiri saat menyadari bila usia mereka terpaut tiga tahun, dan sering mengira cinta Jovan akan pudar seiring bertambahnya usianya.
Ditambah lagi bila mendapati Gina ingin meminta bantuan Jovan, yang sering menimbulkan percekcokan antara mereka.
Gina suka anak kecil, tapi dia tidak suka mengurus anak kecil. Dari beberapa hubungannya dengan para lelaki yang diakuinya sebagai pacar, pasti hubungan mereka akan kandas saat mulai membicarakan pasal pernikahan.
Aneh, ada wanita seperi itu di dunia ini. Padahal Gina adalah seorang guru di salah satu sd ternama di kota Dingin ini.
Mendengar namanya dipanggil, Jovan menoleh dan mendapati Gina tersenyum berdiri di dekatnya yang sedang duduk di bangku taman.
"oh, hai Gin. Sama siapa kamu?" tanya Jovan.
"Tadinya sih sama pacar aku yang sudah jadi mantan. hehe" jawabnya terkekeh dan menjatuhkan diri untuk duduk di samping Jovan yang sedang bersama anaknya.
"putus lagi nih ceritanya?" tanya Jovan.
Gina hanya terkekeh sambil mengangguk.
"kemana mbak Vani? kok nggak kelihatan?"
"aku suruh dia istirahat di rumah. Lagi pengen main sama si kecil aja nih aku" jawab Jovan.
"Tante jangan dekat-dekat ayah Vera ya" kata Vera langsung minta duduk si pangkuan Jovan saat tau ada wanita lain duduk dekat ayahnya.
Gina jadi gemes sendiri, "tante mau ambil ayahnya Vera tau" kata Gina menggoda Vera.
__ADS_1
"no.. no.. no.. tante nggak boleh ambil ayah, nggak boleh dekat ayah" kata Vera posesif, hanya disambut tertawa oleh Jovan dan Gina.
Melihat gerobak es krim yang berhenti tak jauh di dekat mereka duduk, otomatis si kecil meminta es krim pada ayahnya.
"ayah, Ve mau es krim itu.." Vera merengek minta es krim pada ayahnya.
"oh. ok. kamu mau rasa apa Ve?" tanya Jovan.
"Stroberi yah, yang warna pink ya" kata Vera antusias.
"kakak mau es krim rasa apa?" tanya Jovan pada Varo yang sangat irit bicara.
"coklat dicampur vanila yah" jawab Varo
"kamu sekalian mau kubelikan es krim juga Gin?" tabya Jovan.
"eh, beneran boleh nih? okelah, mau dong. Yang rasa Vanila aja yah Jo" kata Gina.
Sementara Varo sudah memandang interaksi ayahnya dan tante Gina itu dengan sangat tidak suka.
Setelah ea krim pesanan mereka sampai, mereka bercengkrama sampai sore menjelang. Sambil memakan es krim mereka dengan suka hati.
Sekitar pukul empat sore, Jovan berpamitan pada Gina ingin pulang.
"kita pulang dulu Gin, sudah sore. Kamu mau mampir nggak nih?" tanya Jovan basa-basi.
"terimakasih udah nawarin mampir, tapi aku nggak mau deh, takut macannya marah"kata Gina cekikikan.
"iya sih, bahaya kalau macanku marah. Soalnya jatahnya tinggal malam ini aja, kalau gagal bisa pusing tujuh keliling aku Gin" kata Jovan seeikit bercanda.
"yaudah deh, demi keamanan negara. Sebaiknya kamu nggak usah mampir ke rumahku ya" lanjut Jovan.
"ih jahat, sedihnya aku. Yaudah cepetan sana pulang, aku juga mau pulang nih"kata Gina.
"ok. Kamu hati-hati ya. Assalamualaikum" kata Jovan.
"iya, waalaikumsalam" jawab Gina.
Merekapun berpisah setelah ke dua anak Jovan mencium punggung tangan Gina.
__ADS_1