Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
tujuh bulanan


__ADS_3

"Minggu besok mas Yudha bisa datang ke rumah? Ada acara tujuh bulanan buat calon anakku, mas" Vani mengundang Yudha melalui telepon, berharap Yudha menyempatkan diri untuk tasyakuran kehamilannya.


"Minggu ini, ehm... Bisa, aku usahakan selalu bisa. Jam berapa?" akhirnya ada kesempatan bagi Yudha untuk bertemu dengan Vani setelah seminggu ini tak pernah berjumpa.


"Setelah ashar, cuma acara syukuran kecil-kecilan sih, mas. Semoga si kecil bisa lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun" kata Vani yang menyematkan sebaris doa untuk calon anaknya.


"Amin, aku juga selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian" kata Yudha tulus, untuk anak-anaknya.


"Makasih ya mas, maafin juga karena selalu merepotkanmu selama ini" kata Vani.


"Sudah menjadi tanggung jawabku" kata Yudha yang melupakan bahwa Vani tak pernah tahu jika anaknya adalah hasil dari bibit unggul Yudha.


"Kamu ada-ada saja. Yasudah mas, aku cuma mau bilang itu aja sama kamu. Jangan lupa ya, aku tunggu kehadiran kamu lho" sekali lagi Vani menegaskan.


"Iya, pasti aku datang" jawab Yudha dengan mantap.


"Eh, tunggu. Kapan hari itu kamu kena musibah, ya?" tanya Yudha.


"Oh, yang kemarin itu. Iya, nggak tahu tuh, tiba-tiba ada yang mau nendang perutku. Kamu tahu darimana?" heran Vani, seingatnya tidak pernah memberitahu Yudha tentang kejadian itu.


"Ehm, ada temanku di rumah sakit yang katanya lihat kamu kesana diantar suamimu" kata Yudha, sangat tidak suka saat mengatakan tentang suami.


"Oh, gitu. Ya semoga saja nggak ada lagi orang-orang jahat yang berkeliaran" kata Vani.


"Tapi kandungan kamu tidak apa-apa kan, Van?" tanya Yudha.


"Alhamdulillah, semuanya sehat. Mereka baik-baik saja kok, mas" kata Vani.


"Syukurlah kalau begitu. Besok aku pasti datang, makasih sudah mau ngundang aku ya" kata Yudha, dia rela menjeda meetingnya yang sedang berlangsung demi bisa mengangkat telepon dari Vani.


"Yasudah mas, makasih ya. Assalamualaikum" Vani mengakhiri panggilannya, dan menutupnya setelah mendengar Yudha membalas salamnya.


"Kamu undang siapa barusan, bun?" tanya Jovan.


"Mas Yudha, dia sudah terlalu banyak berjasa kan sama aku. Jadi ya nggak ada salahnya diundang" jawab Vani.


Sedikit hati Jovan memanas mendengar Vani menyebut nama Yudha. Kenapa pria itu tak pernah bisa lepas dari keluarganya.


"Oh, gitu" Jovan tak bisa melarang istrinya. Karena Yudha masih memegang kartu as nya, Jovan tidak bisa berkutik.


Hari ini Vani dan Jovan, dibantu kedua orang tua dan juga saudara dari Jovan tengah mempersiapkan untuk acara besok, tasyakuran tujuh bulanan kehamilan Vani.


Hanya acara sederhana, tapi tak mungkin mereka berdua menyiapkan semuanya sendiri, kan.


Menjelang malam, ada mobil box yang berhenti di depan rumah Vani. Jovan yang menemuinya tadi, sekarang malah bingung mencari keberadaan istrinya.


"Bunda, kamu pesan kue dari toko ya? Kok ada kiriman dari mobil box di depan rumah?" tanya Jovan.


"Enggak tuh, yah" jawab Vani, diapun ikut memeriksa ke luar.


"Buat siapa, pak?" tanya Vani pada kurirnya.


"Ini pesanan bu Vani, alamatnya benar disini kok, Bu" kata kurir.


"Tapi saya nggak merasa pesan kok, pak. Yang beli atas nama siapa?" tanya Vani masih tak percaya.


"Pembelinya atas nama pak Aryudha, disuruh kirim ke bu Vani di alamat ini" jawab kurir itu.


"Oh, mas Yudha. Selalu saja orang itu" gumam Vani tersenyum.


"Yasudah, minta tolong dimasukkan saja ya pak" kata Vani.


Kurir itu dibantu supir dan beberapa kerabat Vani menurunkan pesanan Yudha yang dikirim untuk Vani.


"Banyak banget, bun" kata Jovan.


"Yasudah yah, nggak apa-apa. Biar pantas juga kalau besok dipakai untuk suguhan para undangan" kata Vani yang akhirnya menerima pemberian Yudha.


Setelah persiapan hari ini dirasa cukup, Vani tidur lebih awal dari yang lainnya. Karena kondisi perutnya yang sudah terlihat besar, membuatnya merasa sering mengantuk. Dia terlelap dengan nyenyak malam ini.


Hingga saat pagi menjelang, Vani terbangun pukul empat pagi, alarm alaminya meminta untuk segera menuju kamar mandi. Keluhan ibu hamil saat perutnya sudah membesar memang adalah frekuensi buang air kecil yang lebih sering dari biasanya.


★★★★★


Menjelang acara, Yudha ternyata datang lebih awal dari jam yang sudah ditentukan. Dan lagi, dia juga tak datang dengan tangan kosong.


"Assalamualaikum" sapa Yudha pada keluarga Vani yang tengah berkumpul untuk menyambut kedatangan para tamu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab keluarga Vani kompak.


Kembali Yudha membawakan parcel berupa satu paket kebutuhan ibu hamil, seperti susu, biskuit dan vitamin.


"Nih, buat kamu Van" kata Yudha yang menyerahkan parselnya pada Vani.


"Kok repot-repot banget sih, mas. Semalam kan kamu sudah mengirim paket kue segitu banyaknya. Kenapa sekarang masih bawa sesuatu, sih. Aku kan jadi merepotkanmu, mas" kata Vani, tetap menerima pemberian Yudha karena lelaki itu tukang ngambek.


"Nggak lah, aku nggak repot kok Van. Kan sudah disiapkan sama anak buahku" kata Yudha.


"Hengmh, belagu banget sih pak" gurau Vani.


Yudha hanya tersenyum, tak membalas ledekan Vani untuknya.


Setelah memberikan parselnya, Yudha segera menyalami keluarga Vani yang tadi menyambutnya.


"Terimakasih sudah mau datang, pak Yudha" kata Jovan saat Yudha mendekat dan menjabat tangannya.


"Aku kan sudah bilang sebelumnya sama kamu, jaga dia dengan baik. Kalau kamu tidak mau menyesal nantinya" kata Yudha berbisik pada Jovan saat dia memeluk singkat padanya


"Maksudnya apa ya?" tanya Jovan yang juga berbisik, berharap tak akan ada yang mendengar pembicaraan kedua lelaki dewasa yang punya tujuan berbeda.


"Saya rasa, kamu cukup pintar untuk melihat kondisi sekitarmu. Ada duri dalam selimutmu" gumam Yudha yang masih terdengar oleh Jovan.


Setelah mengatakannya, Yudha bersikap sebiasa mungkin. Tak ingin membuat Vani kecewa padanya.


Keluarga besar mereka bisa menerima Yudha dengan baik karena memang pembawaannya yang sopan dan menyenangkan.


Menjelang dimulainya acara, terlihat Gina yang juga datang sendirian.


Saat Vani melihatnya, reflek membuat Vani menoleh ke arah Jovan. Meminta penjelasan dari sorot matanya.


"Aku sengaja undang dia, bun. Nggak enak aja saat nanti aku sudah balik kerja, terus ketemu dia dan dia nanyain ke aku kenapa nggak diundang? Nggak enak lah aku, bun. Jadi, nggak apa-apa ya aku undang dia?" Jovan meminta persetujuan istrinya, dengan wajah memelas agar mendapatkan izin meski nantinya akan ada sedikit selisih paham.


"Dianya sudah disini, masak mau aku usir?" kata Vani ketus, baru kali ini dia tidak suka dengan keputusan suaminya.


"Makasih, bun. Maaf ya" Jovan menampilkan senyum terbaiknya agar Vani tidak terlalu marah padanya.


Tapi, ya. Namanya juga wanita, apalagi saat dalam kondisi sensitif seperti Vani yang tengah hamil. Wanita bisa berkamuflase, menyembunyikan kemarahannya untuk diluapkan di waktu yang tepat.


Jadi, siap-siap saja kamu, Jovan.


"Waalaikumsalam, nggak apa-apa kok. Ayo masuk" ajak Jovan. Menyuruh Gina duduk di sebelahnya.


Melihat pemandangan seperti itu, membuat amarah dalam hati Yudha semakin membara.


"Enak sekali bocah kurang ajar ini, berani-beraninya dia bermain di hadapanku. Sepertinya dia sengaja duduk bersisian dengan kedua istrinya di hadapanku" Yudha meneruskan gumaman dalam hatinya dengan umpatan-umpatan kotor yang ditujukan untuk rival ingusannya itu.


"Awas saja kau, Jovan. Sengaja kau sakiti Vani rupanya. Dan aku adalah orang pertama yang tidak terima dengan kelakuanmu" masih dalam hati Yudha berkata dengan emosi.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian nanti" Yudha sudah mempunyai rencananya sendiri.


"Hanya butuh satu bukti untukku agar bisa membawa wanita ular itu. Dan hari ini, aku pastikan untuk bisa membawanya" tekad Aryudha sudah bulat, akan ada sedikit urusan setelah acara ini selesai.


"Baiklah kita bisa memulai acaranya. Silahkan pak ustadz untuk memimpin" kata Jovan.


Ustadz yang juga sebagai imam mushola di kampung Vani adalah orang yang dipercaya untuk memimpin tasyakuran hari ini.


Setengah enam sore, acara telah selesai dilakukan. Banyak tamu undangan yang sudah berpamitan pulang.


Menyisakan beberapa orang teman dekat keluarga yang terlihat masih berada di rumah Vani untuk sekedar berbincang-bincang.


Masih ada Yudha dengan bodyguardnya yang tersebar di berbagai titik yang tak diketahui orang. Ada juga Gina yang masih mengekor pada Jovan, meski tak menampakkan kemesraan di muka umum.


"Aku sekalian numpang solat Maghrib di sini ya, Van. Takut kemalaman di jalan. Kan sudah dekat waktu Maghrib" Yudha meminta izin pada sang pemilik rumah untuk tinggal sejenak.


"Oh, tentu saja boleh mas. Memang sebentar lagi sudah mau adzan kan" Vani langsung saja memberi izin, sekalian dia pun ingin membalas kelakuan suaminya yang mengundang Gina tanpa persetujuan darinya.


Ginapun juga terlihat masih betah, daritadi duduk berdekatan dengan suaminya.


Saat adzan Maghrib sudah terdengar, Vani mengajak semuanya untuk sama-sama solat berjamaah di mushola.


Begitupun si kecil Varo dan Vee, mereka berdua juga diajak ke mushola. Vee tentu saja sangat lengket pada Yudha, membuat hati Jovan sedikit cemburu.


"Aku nggak ikut solat ya, mbak. Soalnya lagi halangan" kata Gina yang menolak saat Vani mengajaknya.


Jovan mengernyit, seingatnya hari ini bukanlah waktunya Gina dalam masa haid.

__ADS_1


"Baru tadi siang sih mbak aku halangan" kata Gina yang mendapat pandangan penuh tanya dari Jovan.


"Oh, oke" jawab Vani singkat, tak bisa menyembunyikan wajah ketusnya.


Saat semuanya sudah menuju mushola, Yudha menyuruh salah satu dari bodyguardnya untuk mengawasi Gina. Bagaimanapun caranya.


Melalui pesan WA, lelaki itu diharuskan memberi penjelasan singkat untuk tetap melihat gerak-gerik Gina.


Gina melihat botol minum Vani yang sengaja ditinggalkan di ruang tamu. Wanita itu tahu kebiasaan Vani sejak kehamilannya yang ketiga ini adalah membawa botol minum kemanapun dia pergi.


Meski hanya berada di rumahnya, maka Vani tidak akan terlepas dari botol airnya.


"Awas kamu mbak Vani. Sekarang kamu boleh merasa senang karena masih bisa selamat sampai usia kandungan kamu tujuh bulan" gumam Gina yang mengeluarkan seplastik kecil serbuk berwarna putih dari dalam tasnya.


"Setelah malam ini, coba kita lihat seberapa tangguh anak-anak yang ada di dalam perutmu itu" kata Gina lirih.


Dia memasukkan serbuk putih ke dalam botol air minum milik Vani yang masih tersisa separuhnya.


"Kamu nggak akan bisa selamat kali ini" senyum licik Gina terukir setelah berhasil memasukkan semua serbuk yang dibawanya ke dalam botol.


Wanita itu memasukkan sesuatu ke dalam botol minum, pak ✓


Mata-mata Yudha menginformasikan penemuannya melalui chatting.


Botol warna apa? ✓


Tanya Yudha, takut saja kalau bukan botol milik Vani.


Biru ✓


Jawaban singkat dari anak buahnya membuat keyakinan dalam hati Yudha untuk melancarkan rencananya pada Gina semakin mantap.


Anak buahnya bahkan memberikan sebuah video singkat saat Gina memasukkan serbuk dari plastik ke dalam botol air milik Vani.


"Oke, kita lakukan sekarang, wanita murahan" Yudha terus saja mengumpati perilaku buruk Gina.


Sebagai sesama wanita, dia terlalu tega berbuat sejahat itu.


Sekembalinya Yudha dari mushola, pandangannya tajam mengarah pada Gina yang baru ditemuinya kali ini.


Selama ini Yudha hanya mendapat informasi mengenai Gina dari Akbar yang juga hanya meneruskan informasi itu.


Mendapat tatapan dari lelaki setampan Yudha tentu saja membuat Gina sedikit salah tingkah.


"Siapa lelaki itu? Kenapa daritadi dia melihat ke arahku, ya?" kata Gina dalam hatinya. Dia terlalu gr saat mengartikan tatapan Yudha.


"Van, aku permisi pulang dulu ya. Semoga kehamilan kamu lancar sampai saatnya melahirkan nanti" doa tulus Yudha pada anak-anaknya yang dititipkan ke rahim istri orang lain.


"Oh, rupanya lelaki rupawan ini temannya mbak Vani. Tapi kenapa pandangannya terlihat teduh saat melihat mbak Vani, ya? Apa mereka berdua punya hubungan lebih" gumam Gina dalam hatinya yang melihat interaksi dari Yudha dan Vani di hadapannya.


"Amin, terimakasih sudah mau datang ya mas" kata Vani yang membiarkan Yudha berpamitan.


Langkah Yudha sedikit terganggu oleh Vee yang selalu ingin bersamanya. Yudha masih harus membujuk Vee agar mau ditinggal olehnya. Semua orang menjadi gemas dengan kelakuan balita itu.


Kembali Vani merasa haus, tangannya sudah terulur mengambil botolnya. Dia sudah membuka botol itu dan bersiap menenggak isi.


Vani akan menghabiskan sisa air itu dan akan mengisinya dengan yang baru.


Dan, terlambat!


Yudha baru menyadari jika Vani telah menenggak air minumnya. Segera saja Yudha menepis botol itu dari genggaman Vani.


"Oh, maaf. Aku tidak sengaja, Van. Maaf ya" kata Yudha yang membantu mengelap tumpahan air dari botol yang menggenangi permukaan karpet menggunakan tisu.


"Nggak apa-apa mas, nggak usah merasa bersalah begitu. Cuma air putih kok, aku bisa mengisinya lagi" kata Vani yang mengelap permukaan karpet menggunakan serbet yang diambilkan Jovan.


Gina mengernyit heran, tampak sekali jika Yudha sengaja melakukan itu. "Apa dia tahu sesuatu, ya?" gumamnya. Dia tahu jika Yudha sengaja menepis botol itu.


Setelah keluar dari rumah Vani, Yudha segera menelpon Ambulan untuk menuju ke rumah Vani.


Yudha yakin beberapa saat setelah kepergiannya, Vani akan merasakan sesuatu pada perutnya.


Sebenarnya Gina pun baru mengetahui serbuk yang tadi diberikan olehnya pada Vani itu beberapa hari ini. Dan segera dia lakukan saat mendapat kesempatan sebagus hari ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2