
Tok... Tok... Tok...
Jovan mengetuk pintu sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar.
Dia melihat Tita sedang berpelukan dengan istrinya.
"Boleh aku masuk?" sedikit ragu, tapi dia harus berusaha mengambil hati istrinya.
Tita mengangguk setelah mengurai pelukannya dengan Vani.
Vani mengusap pipinya, menghilangkan bekas air mata yang tersisa.
"Aku keluar ya, Van. Biar aku cari anak-anak dulu. Takut mertua kamu kewalahan kalau menjaga tiga anak" Tita mengatakan itu sambil mengelus lengan Vani.
Lagi-lagi, Vani hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tanpa menyapa Jovan, Tita langsung saja keluar dari kamar Vani.
Jovan hanya bisa menghela napas, memang dia salah kali ini.
Perlahan dia duduk disamping sang istri. Berharap masih ada kata maaf yang bisa diraihnya.
"Maaf, maafin aku bun... Aku nggak menyangka kalau akan ada kejadian seperti ini. Aku nggak percaya kalau bapak dan ibu sudah pergi" Jovan menangis kali ini, mendekat pada sang istri untuk berusaha memeluknya.
Tapi lagi-lagi, Vani menghindar.
Vani duduk ditepian ranjang, kakinya menjuntai ke bawah. Dengan sandal rumahan bermotif panda. Kedua tangannya masih mendekap perutnya yang sudah membuncit meski masih berusia enam bulan kandungannya.
Air matanya kembali menetes, sebenarnya dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan kedua orang tuanya. Tapi air matanya kali ini lebih pada rasa kecewa yang mendalam pada Jovan yang tak kunjung bisa dihubungi saat Vani dalam keadaan kalut.
Selalu ada Yudha yang berada di sisinya saat dia membutuhkan bantuan. Selalu Yudha yang bersedia menolongnya tanpa imbalan, selalu Yudha yang mendekapnya saat Jovan entah berada dimana.
"Kamu kemana? Kemana saat aku kalut, aku bingung, aku membutuhkan sandaran untuk menguatkanku?"
dengan air mata yang terus meleleh, Vani mengutarakan isi hatinya.
"Sudah sejak kemarin aku berusaha memberitahumu, aku butuh kamu Jovan. Aku butuh orang yang bisa nguatin aku".
"Capek aku berusaha kuat didepan anak-anak, capek aku menjawab pertanyaan mereka kemana kakung dan uti pergi, capek aku ditanyakan sama orang-orang kenapa bukan kamu yang mengurus pencarian jenazah bapak dan ibu, kenapa Yudha, dimana kamu?"
memang sejak kemarin orang-orang selalu mempertanyakan siapa pria yang selalu berada disamping Vani, kenapa bukan Jovan.
Jovan ikut menangis, sepasang suami istri itu sedang tidak baik-baik saja.
Jovan berlutut di hadapan Vani, menenggelamkan kepalanya diatas lutut sang istri yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Pundak Vani naik turun sementara tangannya menutup mulutnya agar tak menimbulkan suara keras saat menangis.
"Maafkan aku, bun. Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku" ucapan maaf terus Jovan tuturkan. Saat bibir istrinya sudah menyebut namanya saat sedang berselisih paham, sudah bisa dipastikan jika dia sudah sangat kecewa padanya.
"Aku nggak tahu apa aku bisa maafin kamu, beri aku waktu. Aku mau kamu keluar, aku mau sendiri" kata Vani sambil mengangkat kepala suaminya yang masih berada diatas lututnya.
"Tolong, aku capek. Aku mau istirahat" kata Vani mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Sejak kemarin dia kurang istirahat, Vani tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak mendengar kabar tentang kecelakaan orang tuanya.
__ADS_1
Apalagi saat kedua jenazah dari orang yang sangat dicintainya itu sudah sampai dirumahnya, Vani terus saja menangis.
Jovan mengerti, dia harus mengalah kali ini. Tidak boleh dia egois untuk memaksa Vani memaafkannya yang memang salah.
"Baiklah, aku keluar dulu ya. Kamu istirahat dulu. Nanti aku bawain kamu makanan" Jovan berucap sambil mengelus ujung kepala istrinya, dan mengecup keningnya dalam sebelum benar-benar keluar dari kamarnya.
Saat keluar dari kamar, Jovan melihat Yudha sudah kembali berada diruang tamunya. Bersama para pelayat, dia terlihat sudah bisa menempatkan diri.
"Mas Jovan, mari kesini. Pasti sibuk banget ya sampai baru bisa pulang hari ini?" tanya pak RT yang ikut ke pemakaman tadi, dan sekarang bersama para warga yang sudah membantu proses pemakaman, mereka sedang menikmati hidangan sederhana yang telah disajikan oleh ibu-ibu.
Jovan mendekat, ikut duduk disebelah Yudha.
"Baiklah bapak-bapak, saya permisi dulu. Masih ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Karena juga, sudah sejak kemarin saya disini. Bahkan belum sempat mandi dan ganti baju" Yudha berpamitan kepada semua orang, ucapan sindiran yang sangat mengena untuk Jovan.
"Oh, iya .. Iya pak Yudha, bapak kan orang sibuk ya. Mana bisa meninggalkan pekerjaan untuk waktu terlalu lama" kata pak RT yang tidak menyadari adanya persaingan diantara dua pria yang sama-sama menaruh hati pada satu wanita, bernama Vani.
Yudha bersalaman dengan orang-orang disana, setelahnya dia ingin sedikit bertanya pada Jovan.
"Dimana Vani?" tanya Yudha.
"Dia sedang istirahat, katanya tadi dia sedikit lelah" jawab Jovan yang ikut memandang Yudha tajam.
"Tentu dia lelah, suaminya saja sedang enak-enakan sama perempuan lain. Sampai tidak tahu kalau istrinya yang sedang hamil sedang berduka" Yudha mengatakan itu setengah berbisik di telinga Jovan.
Jovan tentu terkejut dengan perkataan Yudha, bagaimana dia bisa tahu kalau dia punya perempuan lain?
Bibir Jovan terkatup, tak bisa menyanggah perkataan Yudha yang memang semuanya benar.
Sementara Yudha sudah tersenyum sinis. "Baiklah, saya pamit Jovan. Salam untuk Vani kalau dia sudah bangun nanti" kata Yudha berdiri, segera dia beranjak dari tempatnya dan pergi dari rumah duka.
Dari kota Pesisir, Gina sudah siap untuk mendatangi rumah Vani. Siang hari saat dia sudah selesai dengan tugasnya sebagai seorang pengajar, dia akan langsung menuju rumah Jovan.
Bagaimanapun dia harus datang untuk mengucapkan turut berbelasungkawa atas musibah yang dia perbuat, hingga membuat banyak nyawa melayang hanya untuk memenuhi ambisinya.
Dengan mengendarai mobilnya, Gina berangkat sendiri ke kota Dingin.
"Kamu siap-siap ya sayang, aku sudah kangen sama kamu. Kalau kamu masih berduka, maka aku akan datang untuk menghibur kamu".
Bibir Gina terangkat, menyunggingkan senyum manis untuk menikmati rasa bahagia karena bisa membuat Vani bersedih.
Keadaan yang memaksanya menjadi wanita jahat.
Tiga jam berlalu, Gina baru bisa sampai dihalaman rumah Vani yang masih saja ramai dikunjungi para pelayat.
Gina memarkirkan mobilnya didepan rumah tetangga Vani. Karena dihalaman rumah Vani sendiri sudah tidak cukup untuk menampung lebih banyak kendaraan.
Sore yang cerah.
Dengan langkah gontai, Gina berjalan mendekati rumah Vani. Setelan gamis berwarna hitam, dengan pasmina yang tak terlilit erat, Gina berjalan ke arah tujuannya.
"Assalamualaikum" sapa Gina pada semua orang yang ada di ruang tamu. Belum terlihat Jovan menyambut kedatangannya.
"Waalaikumsalam" ucap orang-orang serempak.
Semua saling lirik, tidak ada yang mengenal tamu yang baru saja datang ini, sementara sang tuan rumah baru saja masuk untuk mengambilkan minuman pada para tamu.
__ADS_1
Gina masuk dengan santai, setelah melepas high heels yang dia pakai. Wanita cantik berkerudung hitam itu berjalan sedikit memasuki ruangan, lalu duduk didekat ruang tengah.
"Silahkan diminum ibu-ibu, pak" kata Jovan yang membawa sekardus air mineral dalam kemasan gelas berukuran kecil.
Dia belum menyadari kedatangan istri mudanya.
"Terimakasih pak Jovan, saya pamit dulu. Tolong sampaikan salam saya pada bu Vani" kata seorang pelayat yang sudah daritadi datang untuk berbela sungkawa.
"Iya pak, terimakasih atas kedatangannya, maaf karena istri saya tidak bisa menemui, nanti saya sampaikan sama istri saya. Dia sedang istirahat, sejak kemarin menemui tamu sendiri" kata Jovan setelah bersalaman dan menerima pelukan singkat dari pelayat itu.
Jovan duduk di batas antara ruang tamu dan ruang tengah, sejenak dia memindai ruangan untuk melihat para tamu.
Keterkejutan terlihat dari wajahnya saat mendapat pandangan intens dari Gina yang ternyata duduk didekatnya.
"Kamu ngapain disini, Gina?" tanpa sadar dia menanyakan hal yang tidak masuk akal, hingga beberapa orang ikut melihat ke arah Gina.
"Kamu nggak suka aku kesini? Aku cuma mau mengucapkan belasungkawa, aku turut berduka cita Jovan" kata Gina lirih, seolah terluka dengan ucapan Jovan.
Setelah menghela napas sejenak, Jovan kembali memandang istri mudanya ini. Apalagi pandangan aneh masih tertuju padanya.
"Maafkan aku, terimakasih sudah mau mampir. Tapi maaf sekali lagi, istriku sedang istirahat. Kasihan dia sejak kemarin mengurus segalanya sendiri karena ponselku tak dapat dihubungi" kata Jovan seolah menegaskan jika dia terlalu kecewa dengan perbuatan Gina.
Gina hanya menyunggingkan senyuman sinis, dia sudah menduga jika Jovan akan bersikap seperti itu.
"Iya, aku ngerti. Biarkan saja dia istirahat, toh ada kamu disini" kata Gina sesantai mungkin.
"Lho, ada nak Gina. Sudah lama datangnya?" tanya ibu Jovan yang kebetulan datang membawa camilan untuk para tamu yang juga hadir.
"Baru saja, bu. Ibu apa kabar?" tanya Gina sambil menyalami ibu mertuanya.
"Baik, kamu sendiri bagaimana?" ibu Jovan kembali berbasa-basi.
"Baik juga, bu. Sekarang kan audah ada yang mengurusi Gina" kata Gina sambil melirik reaksi Jovan yang sudah seperti es batu.
Jovan khawatir Gina tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Oh iya bu, aku turut berduka cita. Semoga almarhum dan almarhumah diampuni segala dosanya" kali ini Gina berkata tulus.
"Aamiin. Ayo silahkan diminum" kata ibu Jovan kembali menawarkan minumannya.
"Bu, anak-anak kemana?" terdengar sebuah suara dari belakang tubuh sang ibu.
Ternyata itu adalah Vani yang sudah terbangun dari tidurnya. Dengan mata tang masih sangat sembab, dia mencari keberadaan kedua anaknya.
"Sudah bangun, nak. Kamu tenang saja, mereka dibawa sama Tita sejak tadi siang. Tita bilang kasihan kalau kamu kecapekan mengurus mereka sementara masih banyak tamu" kata ibu Jovan mambantu Vani yang ikut duduk untuk menemui tamu yang ada.
Pandangan matanya bertemu dengan Gina, perasaan tidak nyaman mulai muncul.
Entahlah, hanya sebuah firasat atau hanya sekedar hormon sensitif dari seorang ibu hamil. Yang jelas Vani tidak suka melihat seringai di bibir Gina saat pandangan mereka bertemu.
Kembali Jovan merasa panas dingin, semoga tidak terjadi apa-apa.
.
.
__ADS_1
.