
Satu bulan sejak Gina menghubungi Fian, laki-laki itu mulai menunjukkan aksinya. Dimulai dengan kabur membawa uang dan surat-surat berharga, dan menghilang tanpa kabar.
Ternyata kaburnya Fian tentunya didanai oleh Gina yang notabene adalah anak dari orang terpandang dan banyak uang.
Jovan yang mendengar kabar itu pun tentunya kalang kabut memikirkan nasib uangnya.
"Terus bagaimana ini Gin? pastinya nanti Vani akan sangat kecewa sama aku. Uang itu sangat banyak untuk ukuran orang sepertiku." kata Jovan mengeluh pada Gina yang sekarang sedang makan bersama di warung sate langganan mereka.
"Kamu tenang dulu Jo, aku bantu cari dia sampai ketemu".
"Kamu bilang investasi sama dia aman, ini buktinya dia hilang Gina. Banyak yang cariin dia, apalagi ada poin dalam surat perjanjian itu yang mengharuskan aku juga ikut menanggung resiko dari hal-hal buruk yang diluar dugaan seperti ini, mana bisa aku menanggung kerugianku sendiri ditambah menanggung kerugian dari perusahaan dia, meskipun cuma 10%, tapi jika dinominalkan mencapai seratus juta Gina" ucap Jovan frustasi sambil mengusap rambutnya kasar.
Gina sebenarnya tidak tega melihat Jovan seperti itu, ada rasa sesal dihatinya. Tapi mata hatinya tertutup oleh obsesinya untuk mendapatkan Jovan, meskipun bukan cintanya.
"Aku janji bakalan bantu kamu Jo, kamu jangan kayak gini ya, kamu tenang dulu" ucap Gina sok polos.
"Aku nggak tahu harus bilang apa sama Vani, aku bingung" kata Jovan.
"Kamu nggak usah bingung Jo, kamu nggak usah bilang aja sama mbak Vani, biarin jadi masalah kita aja disini" kata Gina berusaha menenangkan Jovan.
"Nggak tahu lah, aku pamit aja mau balik ke mess aku" kata Jovan bangkit untuk pergi, karena memang saat ini dia sedang mengunjungi tempat Gina.
"Yaudah kamu tenangin diri dulu ya, kamu nggak usah khawatir, aku bisa bantuin kamu kalau masalah dana" kata Gina.
Jovan langsung berlalu pergi tanpa menggubris ucapan Gina, membuat gadis itu merasa bersalah saja.
Jovan yang bingung masih tidak ingin kembali ke messnya, sekarang dia malah pergi ke taman sendirian, berharap sedikit mengusir resahnya.
Ponselnya berdering, terlihat panggilan video dari Vani. "Pasti anak-anak yang menghubungiku" batinnya sambil menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum ayah..." ucap Vee disebrang sana.
"waalaikumsalam cantik, kenapa belum tidur?" tanyanya.
"Lagi kangen ayah, lagi apa ayah?" lanjut Vee.
"Ayah nggak lagi ngapa-ngapain" ucap Jovan seraya tersenyum dipaksa.
__ADS_1
"Ayah nggak kenapa-kenapa kan? kok kayak kusut gitu mukanya?" tanya Vani.
"Nggak apa-apa bun, lagi sedikit ada masalah saja. Yasudah ayah balik ke mess dulu ya, mau istirahat ini" kata Jovan.
Tidak biasanya Jovan mengakhiri panggilan video dengan anaknya terlebih dahulu, biasanya dia akan menunggu hingga anaknya lelah dan menutupnya terlebih dahulu. Tapi dibiarkannya Jovan begitu, mungkin sedang ada masalah. Vani berusaha mengerti dan memberi pengertian pada anaknya.
Dan semua kabar buruk yang diderita Jovan tidak pernah luput barang sedikitpun ditelinga Yudha.
Pria itu masih saja mengawasi gerak-gerik dua sahabat yang dianggapnya bodoh itu.
Sejauh ini, hanya sebatas mengamati saja. Dan merekam bukti-bukti untuk bisa dipergunakan lain hari jika dibutuhkan.
******
Sudah dua minggu Jovan tidak pulang ke rumah. Hal ini tentunya membuat Vani sangat khawatir dengan tulang punggungnya itu.
Alih-alih menenangkan, curhat pada Yudha semakin membuatnya merasa tertekan.
"Jadi menurut mas Yudha gimana? Kenapa Jovan jadi sulit dihubungi ya? Malah sekarang sudah dua minggu ini nggak pulang loh" tanya Vani setelah menceritakan sebagian kecilnya saja.
"Apaan sih mas, dia itu bukan tipe-tipe player kayak kamu asal kamu tahu yaa" jawab Vani sewot.
"Ya nggak apa-apa juga sih, kalau memang terbukti gitu, kamu tinggalin aja dia, terus jadi istri kedua aku. Gimana?" tanya Yudha bercanda.
"Dan satu lagi, aku juga bukan player asal kamu juga tahu. Sayang aku selamanya buat kamu aja loh" lanjutnya.
"Udah deh, nggak usah mancing di air keruh. Mas Yudha nih nambah-nambahin pikiran aku yang lagi mumet aja deh. Aku lagi khawatir ini. Jangan bercanda dong" kata Vani sedikit marah.
"Iya udah, aku bercanda doang kok. Aku coba bantu kamu cariin dia disana yaa. Tapi aku nggak janji juga sih kalau bakalan berhasil. Sini kamu kasih alamat dia disana, biar aku suruh anak buah aku buat nyari dia" kata Yudha berusaha menenangkan Vani.
"Bener ya mas, aku bingung nih. Masa iya aku nyari sendiri kesana? ntar nyasar gimana kan ya?" tanya Vani sambil mencatat alamat mess Jovan dari riwayat chattingnya.
"udah nih mas, bantuin aku ya. Si Vee udah nyariin bapaknya mulu soalnya. Bingung aku. Padahal nggak pernah sebelumnya dia kayak gini, baru kali ini aja dia terkesan ngilang gini" lanjutnya.
"Iya.. Iya.. aku usahain ya. Kamu nggak usah khawatir dulu gitu" ucap Yudha akhirnya berusaha menenangkan Vani meskipun hatinya terbakar cemburu.
*************
__ADS_1
Sementara Jovan yang sedang kalut, saat ini sedang berdiskusi dengan sahabatnya, Gina, yang membuat pikirannya semakin kalut.
"Kamu tahu kan Gin, kalau aku dua kali nyuntik dana buat perusahaan itu? Yang pertama dulu memang asli uang aku sendiri, tapi yang kedua kalinya itu aku dapat dari teman. Seratus juta Gin... Gimana coba caranya aku kembalikan uangnya?" Kata Jovan frustasi.
Takut-takut Gina berusaha mengeluarkan usulnya yang sudah lama dia rencanakan.
"Aku ada ide sih buat kamu, tapi aku yakin kamu nggak bakalan mau ngelakuin ide aku" kata Gina mengawali rencananya.
"Apa itu? kalau aku mampu pasti aku lakuin daripada harus menanggung hutang" kata Jovan.
"Aku bisa kasih kamu uang sebanyak itu asalkan ada satu syaratnya" kata Gina mengawali maksudnya.
"Kamu mau aku kembalikan uangnya berbunga gitu maksudnya?" tanya Jovan.
"Enggak, malah aku bisa kasih kamu cuma-cuma asalkan kamu mau turutin satu aja permintaan aku" kata Gina.
"Memangnya kamu minta apa?" tanya Jovan.
"Kamu nikahin aku Jo, aku pasti kasih kamu uang lebih daripada itu" kata Gina.
"hahaha... ide gila macam apa itu Gin? Kamu lagi sakit ya? ngomongnya jadi ngawur gitu" kata Jovan memandang Gina tajam.
"Enggak Jo, aku serius. Aku bakalan ngasih kamu lebih dari itu asalkan kamu mau nikahi aku. Nggak masalah nikah siri dulu juga. Asalkan kamu tahu Jo, sudah lama aku ada rasa sama kamu. Tapi kamu terlalu kaku buat ganti status kita buat lebih dari sekedar sahabat"
"Semua perhatian aku ke kamu nggak ada sedikitpun buat bisa bikin kamu peka dengan semua ini. Aku serius dengan tawaran aku" Lanjutnya.
"Kamu beneran sudah gila. Aku pergi aja. Nggak nemu solusi bicara sama kamu" kata Jovan yang kemudian pergi dari tempat tinggal sementara milik Gina.
Akhirnyapun, Jovan pulang ke rumah. Dia ingin berbagi kesulitannya ini dengan sang istri. Berharap ada sedikit jalan keluar, ataupun hanya bisa didengarkan keluh kesahnya. Agar beban dihatinya bisa sedikit berkurang.
.
.
.
.
__ADS_1