Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
kembali terluka


__ADS_3

Yudha meyakini jika hari ini Jovan sudah kembali pada rutinitas pekerjaannya. Sejak terjadi pertengkaran Bella dan Vani waktu itu, Yudha merasa sangat bersalah pada Vani. Apalagi tidak satupun pesan ataupun panggilannya yang dibalas oleh Vani, membuatnya semakin merasa harus meminta maaf secara langsung.


Tok .. Tok... Tok...


Dengan kenekatannya, sekarang dia berada disini. Di depan rumah Vani, berharap dia mau membukakan pintunya.


Akhirnya tangannya terangkat untuk mengetuk pintu rumah Vani setelah beberapa lama hatinya berperang untuk berani mengetuk pintu kayu itu atau tidak.


"Iya, sebentar" Yudha meyakini jika yang berkata itu adalah Vani, sebenarnya dia sedikit gugup. Akankah Vani mau memberinya maaf.


Setelah pintu terbuka, rupanya Vani akan segera menutup kembali pintunya setelah tahu siapa yang datang. Tapi dengan sigap, Yudha menahan daun pintu yang sedikit lagi akan tertutup itu dengan ujung sepatunya.


"Mas Yudha ngapain sih kesini?" tanya Vani dari balik pintu.


"Bukain dong Van, kaki aku kejepit ini" kata Yudha.


"Apanya yang dibuka? Salah sendiri kenapa menahan pintu kok pakai kaki" kata Vani dengan nada mengejek.


"Buka pintunya Van, pliiss..." kata Yudha.


"Aku lagi males banget mau ketemu sama kamu, mas" kata Vani yang masih betah untuk tidak membuka pintunya.


"Kamu ngapain Van?" tanya ibu Vani yang baru keluar.


"Nggak ngapa-ngapain bu. Diluar lagi ada orang iseng, makanya aku mau tutup pintunya saja. Tapi susah" kata Vani.


"Ada saya disini bu, Vani tidak mau membukakan pintunya" kata Yudha sedikit berteriak saat mendengar suara dari ibu Vani.


"Kayak suaranya Yudha? Kok nggak dibukakan pintu sih?" tanya ibunya.


"Kaki saya kejepit pintu, bu. Vani tidak mau membukakan pintu ini, kaki saya bisa tambah sakit ini, bu" kata Yudha.


"Buka pintunya, Van. Jangan seperti anak kecil, kamu ini apa-apaan sih" kata ibunya sambil membukakan pintu.


Akhirnya Vani membuka pintu itu meski masih menggerutu. Dia masih belum menceritakan tentang pertengkarannya dengan istri Yudha dua hari yang lalu.


Senyum Yudha mengembang, dia sedikit lega karena kakinya sudah bebas. Selanjutnya, tinggal mengambil hati Vani agar mau memaafkannya.


"Terimakasih sudah menolong saya, bu" kata Yudha yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh ibu Vani.


"Mas Yudha mau ngapain lagi sih?" sudah sana pergi saja" kata Vani yang kali ini sudah membuka pintunya.


"Van, jangan begitu. Ayo masuk nak" kata ibu Vani yang memang tidak tahu persolan apapun yang menimpa anaknya.


Yudha masuk dengan senang hati saat ibu Vani menyuruhnya. Tapi tentu Vani memandangi Yudha dengan tatapan tidak suka saat Yudha dengan seenaknya masuk dan duduk dengan tenangnga.


"Sebentar biar ibu buatkan teh ya" kata ibu Vani.


"Tidak usah repot-repot, bu" kata Yudha.


"Bu, tidak usah dibuatkan apa-apa. Orangnya tidak mau kok" kata Vani.


"Tidak repot, sebentar ya" kata ibu Vani berlalu.


"Mas Yudha mau ngapain lagi sih? Mendingan jagain singa betinanya saja yang benar ya, jangan gangguin aku lagi mas. Daripada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan" kata Vani.


"Nggak akan ada apa-apa lagi, Van. Kamu tenang saja, dan aku benar-benar minta maaf untuk kejadian yang waktu itu" kata Yudha.


"Istri kamu sedang cemburu mas, lebih baik kamu temani dia. Lagian kan kalian itu jarang sekali bertemu, kenapa kamu nggak menghabiskan waktu dengan istri kamu sih mas?" tanya Vani.

__ADS_1


"Dia sudah pergi lagi, Van. Bahkan dia nggak pamit sama aku" kata Yudha.


"Itu karena kalian kurang komunikasi, lagian apa kamu nggak rindu sama istri kamu?" tanya Vani yang sebenarnya ingin Yudha segera pergi.


"Aku rindunya sama kamu, Van" kata Yudha yang hanya berani disampaikan di dalam hatinya.


"Diajak ngobrol malah bengong" kata Vani. Yudha hanya menanggapi dengan senyuman.


"Silahkan diminum" kata ibu Vani yang menyajikan secangkir teh hangat untuk Yudha.


"Terimakasih, bu" kata Yudha yang menyesap sedikit tehnya.


"Oh iya Van, sepertinya sudah waktunya kamu jemput anak-anak kamu. Sebentar lagi mereka pulang" kata ibu Vani.


"Eh, iya. Maaf nih ya mas, bukannya ngusir. Tapi memang aku mau jemput Varo dan Vee sekarang" kata Vani.


"Biar aku antar, ya. Tidak apa-apa kan, bu?" tanya Yudha pada ibu Vani.


"Terserah Vani saja, setahu ibu memang Vee sejak kemarin nanyain kamu. Iya kan Van?" kata ibu Vani.


"Enggak kok bu" kata Vani.


"Nggak apa-apa juga nggak dicari, pasti nanti Vee akan bahagia kalau bertemu denganku" kata Yudha.


"Huft, terserah kamu saja mas" kata Vani berdiri, dia akan ganti baju dan mengambil tasnya.


"Kenapa ikut berdiri?" tanya Vani yang melihat Yudha berdiri.


"Bukannya mau berangkat sekarang?" tanya Yudha.


"Aku mau ganti baju sebentar" kata Vani.


Kali ini dia berbincang dengan ibu Vani sambil menunggu Vani datang.


Tak begitu lama, Vani sudah siap dengan tas slempang kecil dipundaknya. Penampilan sederhana yang selalu membuat Yudha betah berlama-lama memandangnya.


"Ayo berangkat mas, malah bengong" kata Vani.


"Oh, iya. Ayo. Bu, kami permisi ya" kata Yudha.


"Bu, Vani jemput anak-anak dulu ya. Assalamualaikum" kata Vani berpamitan dan mencium punggung tangan ibunya.


"Iya, waalaikumsalam. Hati-hati ya" kata ibunya.


Seperti yang sudah Vani duga sebelumnya, pasti mereka akan menjadi pusat perhatian para ibu-ibu berkoloni. Sebenarnya itulah yang tidak Vani inginkan, ia takut jika sampai ada berita tidak benar yang sampai ke telinga keluarga Jovan. Mengingat sekolah ini adalah milik keluarga Jovan.


Vani memilih untuk tetap di dalam mobilnya saja, dia membiarkan Yudha yang sudah tidak sabar bertemu Vee untuk menunggunya si pintu gerbang sekolah saat bel pulang berdenting.


"Papa Yudhaaa" teriak Vee yang selalu bersemangat saat bertemu dengan Yudha.


Seperti bapak dan anak sungguhan, Yudha segera menggendong Vee dan mengayunkan di udara sehingga tercipta gelak tawa dari mulut kecil Vee.


Setelahnya, dia segera menggandeng tangan Varo dan tangan lainnya sibuk menggendong Vee. Yudha sangat bahagia saat bisa seperti ini.


Layaknya seorang ayah yang sangat dicintai anaknya, Yudha berjalan ke arah mobilnya dengan senyum yang terus berkembang.


Banyak mata menatap ke arah wajah rupawan Yudha. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu muda yang menatap dengan mata lapar.


"Silahkan masuk tuan putri" kata Yudha setelah membukakan pintu belakang untuk Vee dan Varo.

__ADS_1


"Iya papa" kata Vee senang.


Yudha segera menjalankan mobilnya setelah memastikan penumpang spesialnya duduk dengan tenang.


"Mau kemana mas?" tanya Vani saat melihat Yudha membawa mereka ke arah yang berbeda dengan arah rumahnya.


"Kita kan mau jalan-jalan, iya kan Vee?" kata Yudha mencari dukungan dari Vee.


"Iya, tentu saja pa" kata Vee senang


"Mas, aku nggak suka kalau kamu terlalu memanjakan Vee" kata Vani.


"Tidak selalu Van, aku hanya kangen saja sama mereka" kata Yudha.


"Memangnya kamu nggak ada kerjaan lain ya? Sempat banget sih ngajakin kita jalan?" tanya Vani.


"Aku kan bosnya, jadi terserah aku dong mau masuk atau tidak" kata Yudha dengan pandangan fokus ke depan.


"Cg, kalah memang kalau debat sama kamu" kata Vani menyerah.


"Pa, laper" celetuk Vee dari kursi belakang.


"Oh, baiklah tuan putri. Kamu mau apa?" tanya Yudha.


"Ayam goreng, pa" kata Vee.


"Siap, laksanakan tuan putri yang cantik" kata Yudha senang.


Berbeda dengan Varo, pria kecil itu sedikit tidak suka melihat kedekatan adiknya dengan Yudha. Bocah itu terlalu sensitif, dia terlalu peka menilai keadaan di sekitarnya.


Setelah cukup lama berkendara, Yudha membelokkan setirnya di sebuah restoran cepat saji yang menjadi favorit anak-anak kecil. Dengan icon badut yang duduk di setiap teras di depan restonya.


Vee sempat meminta foto dengan paman badut sebelum masuk ke dalam restoran. Yudha selalu mengabulkan keinginan Vee. Jadilah Vani dan Varo yang memesan makanannya sambil menunggu Yudha dan Vee yang sibuk berfoto bersama.


"Sudah fotonya?" tanya Vani saat Yudha dan Vee datang dan duduk bersama mereka.


"Sudah" kata Vee singkat sambil mengangguk. Gadis kecil itu segera mengambil makanannya yang sudah tersedia diatas meja. Mereka makan sambil bercengkrama, seperti sebuah keluarga betulan saja.


Tanpa disangka, ternyata Bella mendatangi restoran yang sama siang itu. Mata elang Varo melihat percikan amarah yang keluar dari mata Bella yang saat itu kebetulan melihat ke arah mereka.


"Mas Yudha, ternyata dia masih menemui wanita ****** itu. Kamu benar-benar keterlaluan mas" batin Bella yang kini air matanya kembali meleleh.


"Tante itu kan yang membuang makananku waktu itu" batin Varo yang menatap Bella. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan di hati anak kecil itu saat melihatnya menangis, dia teringat sang bunda yang pasti akan Varo peluk saat menangis seperti itu.


"Kamu lihat apa nak?" tanya Vani yang menyadari Varo sedang memperhatikan sesuatu.


"Nggak ada, bunda" jawab Varo yang kembali sibuk dengan makanannya.


Vani memindai ruangan dalam restoran itu untuk mencari apa yang telah membuat Varo tertarik. Tapi dia tidak menemukan apa-apa karena Bella langsung pergi saat Vani menyadari keberadaannya.


Kembali Bella merasa kecewa, entah sudah keberapa kali Yudha menyakitinya, tapi tentu selalu tersedia stok maaf yang berlimpah darinya. Tanpa Bella sadari, kehidupan bebasnya juga sudah bisa dikatakan sebuah pengkhianatan.


Wanita memang selalu benar, dan pria harua bisa memahaminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2