Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
I can't wait!


__ADS_3

Week end seperti ini membuat pikiran Gina melayang kemana-mana.


Membayangkan Jovan bermesraan dengan Vani membuat otaknya semakin mendidih.


Rasa yang sudah ia pendam selama ini sudah kian membuncah.


Rasanya dia sudah tidak sabar dengan segala rencana kotor diotaknya bisa terwujud. Biarlah dia menjadi yang kedua asalkan bahagia. Tanpa mau memperdulikan perasaan wanita lain.


Cinta terkadang memang sejahat itu. Mungkin juga karena populasi wanita yang kian membludak daripada populasi pria? Sampai banyak wanita menjadi pelakor? Entahlah.


Diraihnya benda pipih sejuta umat itu untuk menghubungi Fian, rekannya yang bersedia membantu mewujudkan keinginan Gina.


Tuutt... Tutt ..


"*halo yan.. Gimana?"


"iya halo, aman. Semua sudah sesuai rencana"


"Aku sudah nggak sanggup buat nunggu lagi, bisa kita percepat aja bulan depan?"


"Bisa, asalkan bayarannya nambah dong"


"Kamu morotin aku ya?"


"terserah kamu, mau atau nggaknya. Aku kan cuma bantuin kamu doang"


"Sialan kamu emang, duit mulu. Awas aja kalau kerja kamu nggak becus. Yaudah aku transfer nanti sore. Cepetan kerjain ya, bulan depan harus sudah terlaksana"


"Siap bosku, ada uang semua aman*"


Gina mengakhiri percakapannya dengan penuh harap agar semua rencananya mulus dan aman.


*****


Selepas mengantar Vani ke tempat kerjanya, Jovan pergi mengunjungi rumah orang tuanya.


Week end seperti ini dia sering mengajak anaknya bolos sekolah untuk mengunjungi orang tua Jovan.


Tapi kali ini dia tidak bisa melakukannya karena Vani punya kesibukan sendiri. Jadilah dia pulang ke rumah orang tuanya seorang diri dan akan kembali saat menjemput anak sekolah nanti siang.


Sampai di kediamannya dulu, terlihat banyak motor terparkir di depan rumahnya. Pasti si kembar sedang bersama teman-temannya beradu ps sewaan.


Benar dugaannya, mereka sedang berkumpul di ruang tengah sambil lomba ps yang di sewa di tempat langganan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" ucap mereka hampir bersamaan.


"Uwaahh... abang balik sendiri nih? Ayo kain bang, tuh mereka nggak ada yang bisa ngalahin aku" kata Hamza semangat, dia memang lawan yang sangat tanggung saat berperang ps.

__ADS_1


"Iya abang sendirian. Bapak sama ibu dimana dek?" tanya Jovan.


"Dikamarnya bang, tapi bapak nggak ada lagi keluar ada acara" Jawab Hamza.


"Yaudah abang ke kamar ibu dulu ya, nanti abang samperin kamu buat tanding, siap-siap aja kamu".


"Ooo.. baiklah abangku" jawab Hamza semangat.


Jovanpun melanjutkan langkahnya menuju kamar sang ibu. Terlihat ibunya sedang duduk diatas kasur sambil membaca Al-Quran.


"Assalamualaikum bu" Jovan ulu salam sambil mencium punggung tangan ibunya.


"Waalaikumsalam Van, kamu sendiri?" Tanya sang ibu.


"Iya sendiri bu, anak-anak lagi sekolah, Vani kan sekarang kerja bu, jadi besok baru bisa main ke sini bareng mereka"


"Iya nggak apa-apa, yang penting mereka sehat"


"Iya bu"


"Oiya, ibu mau bicara sama kamu"


"Bicara apa bu? Sepertinya penting?" Tanya Jovan sambil duduk di dekat kaki ibunya, dan memijit kaki wanita kesayangannya itu.


"Ibu ada mimpi nggak enak tentang kamu sama Vani, ibu berharap sih semua itu cuma mimpi saja. Tapi memnag kadang mimpi itu datang sebagai peringatan terhadap kita untuk waspada sama keadaan sekitar kita. Ibu harap kamu hati-hati sama pertemanan kamu dengan wanita lain selain istri kamu ya nak. Ibu harap yang terbaik buat rumah tangga anak-anak ibu, semoga semuanya baik-baik saja" kata sang ibu.


"Insyaallah semuanya baik Bu. Ibu nggak usah khawatir. Aku akan berusaha sebaik mungkin buat menjaga rumah tangga kami. Semoga semuanya cuma mimpi saja ya bu, aku cuma minta doa dari ibu buat kebaikan kita semua" jawab Jovan.


"Yasudah, aku mau ke depan ya bu. Tadi si Hamza ngajakin tanding ps. Belum ada yang bisa ngalahin dia katanya".


"Hengmh.. anak itu memang selalu beruntung. Iya sudah kamu sama mereka aja. Ibu mau nderes lagi" jawab ibunya.


Jovanpun kembali menemui adik kembarnya untuk tanding ps. Memang adiknya yang satu ini sangat sulit dikalahkan dalam hal tanding ps.


Merekapun bermain dengan asyiknya hingga waktu menjemput sekolahpun tiba. Jovan berpamitan pada adik-adiknya juga pada ibunya untuk segera menjemput anaknya.


Mengendarai motor scoopy biru kesayangannya, Jovan tidak terlambat untuk datang menjemput. Bel baru saja terdengar, dan para murid berhamburan keluar sekolah untuk menemui penjemput masing-masing.


"Ayah..." Vee berteriak dengan senangnya, diikut Varo yang berjalan santai dibelakangnya.


"Jangan lupa eskrimnya yah" lanjut Vee.


"Tentu, ayo kita pergi" ucap Jovan.


Merekapun menuju Alfamarr terdekat untuk membeli eskrim dan memakannya diteras yang sudah tersedia kursi untuk duduk.


Saat sedang asyik menikmati eskrim mereka, Vee berteriak memanggil seseorang untuk mendekat.


"Papa Yudhaaaaaaa" Seperti biasa Vee sangat ekspresif.

__ADS_1


Yudha yang baru keluar dari Alfamart pun menoleh dan tersenyum pada gadis kecil yang belepotan eskrim itu.


"Haaii... kalian sedang makan eskrim yaa?" tanya Yudha setelah mendekat pada mereka.


"Iya pa, ini ada ayahnya Vee sama kita" kata Vee memberitahukan keberadaan Jovan.


'hengmh... bocah tengil ini ada disini rupanya' batin Yudha.


'Ouwh... ini rupanya yang ngaku-ngaku papanya anakku' Jovanpun membatin tak kalah heboh.


Tapi terukir senyum keterpaksaan dibibir kedua pria dewasa itu, dan saling menyapa juga menjabat tangan untuk berkenalan.


"Hai, saya Yudha" ucap Yudha memperkenalkan diri.


"iya, saya Jovan" ucap Jovan menimpali.


"papa Yudha sedang apa disini?" tanya Vee.


"Tadi papa abis bertemu klien dekat sini, mampir soalnya haus. Kalian seneng banget ya sama ayah?" tanya Yudha gemas.


"iya, papa mau eskrim?" tanya Vee polos.


"Tidak sayang, papa sedang sedikit buru-buru. Lain kalo saja papa traktir eskrim lagi buat kalian yaa" kata Yudha.


"Tidak perlu repot-repot pak" Jovan yang menjawab.


"Ouwh, tentu tidak repot. Hanya eskrim" ucap Yudha.


"Yasudah saya permisi dulu. Jaga mereka baik-baik, jangan sampai kau bertindak diluar presiksi hingga menimbulkan kerugian untukmu dan keluargamu" ucap Yudha.


"Maksud anda apa ya?" tanya Jovan.


"Tidak ada, hanya sedikit memperingatkan anda untuk hati-hati pada siapapun itu, meskipun orang terdekatmu" kata Yudha.


"Baiklah, saya permisi dulu. Papa pergi dulu sayang, nanti lain kali kita bertemu lagi" ucap Yudha sambil mencium gemas pipi gembul Vee.


"Dada papa Yudha" kata Vee sambil melambaikan tangan, sedangkan Varo hanya melambaikan tangannya saja, sungguh sangat irit bicaranya pria kecil itu.


Yudha berbalik dan berjalan, sambil mencibir dalam hati pada Jovan 'dasar bocah bodoh'.


Jovanpun tidak mau kalah mengumpat dalam hati 'dasar tua bangka aneh'.


Baru bertemu saja mereka sudah tidak akur..


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2