
Dua bulan yang lalu Jovan telah menandatangani perjanjian investasinya. Selama dua bulan ini juga keuntungan sudah Jovan dapatkan.
Awal yang baik! Begitulah pikir Jovan.
Saldo rekeningnya terus bertambah seiring majunya perusahaan tempatnya berinvestasi.
Minggu depan, saat pulang ke rumah dia berencana menceritakan semua yang telah dia lakukan dan memberi semua keuntungan dari investasinya itu kepada istri tercintanya.
Dia sudah tidak sabar melihat senyum sang istri saat tahu usahanya berhasil.
Ting
Satu notif muncul di hapenya.
Ternyata sebuah pesan dari Gina. Seperti biasa, Gina selalu mengajaknya makan malam bersama.
Selepas proses penandatanganan kontrak waktu itu, Gina jadi lebih sering mengajaknya untuk bertemu.
Jovan tentu tidak pernah berfikiran buruk terhadap sahabatnya itu. Kebaikan Jovan membuat cinta dalam hati Gina semakin membuncah.
Seperti abg yang baru dilanda cinta. Gina selalu tersenyum sendiri saat mengingat semua kebersamaannya dengan Jovan.
Selama ini dia selalu mencintainya dalam diam. Kali ini dia akan berusaha mendapatkan cintanya dengan cara apapun.
*******
Jum'at malam telah tiba. Seperti biasanya, waktu ini adalah saat Jovan kembali ke rumah dan bertemu dengan istri dan anak-anak tercintanya.
Berangkat pukul 7 malam dari kota Pesisir menuju kota Dingin, waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor, tapi kali ini berbeda karena hujan turun dengan derasnya, bisa dipastikan kalau perjalanan pulangnya akan sedikit terhambat. Entah jam berapa dia akan sampai rumah nantinya.
Hati Jovan gembira saat ini, meskipun hujan turun dengan derasnya tak menghalangi niatnya untuk segera bertemu istri tercintanya.
Kalau biasanya hujan turun saat ia akan pulang, maka ia akan menunggu hujan reda, setidaknya sampai tidak begitu deras lagi.
Tapi kali ini berbeda, dia sudah tidak sabar bertemu istrinya untuk mengabarkan berita baik mengenai penambahan saldo rekeningnya.
"Assalamualaikum... ayah pulang" Jovan uluk salam salam dengan hati riang.
Vani dan kedua anaknya menyambut dengan gembira kedatangan sang ayah.
"Waalaikumsalam ayaahh" tentu saja Vee yang sangat ekspresif langsung ingin memeluk ayahnya.
Vani memerhatikan jam dinding, pukul setengah sepuluh malam. Kedua anaknya bahkan belum ingin tidur demi menunggu kedatangan ayahnya.
Jovan masih berdiri di teras rumahnya sambil melepaskan jas hujan yang melindunginya sedari tadi.
"Kehujanan darimana tadi yah?" tanya Vani.
"Dari awal keluar mess sudah hujan bun, daripada nggak pulang-pulang ya nekat aja deh" jawab Jovan.
__ADS_1
Setelah selesai menggantungkan jas hujannya diluar, Vani segera mengambil tas ransel yang tentu berisi pakaian kotor. Lalu segera Jovan memeluk dan menciumi anak-anaknya.
"Sudah makan apa belum yah?"
"Sudah tadi sebelum pulang mampir dulu buat makan, hujan sih jadi sering lapar bun"
Mereka sedang duduk bersama diruang tengah, menemani buah hatinya yang masih belum mau tidur karena masih ingin bersama ayahnya.
"Bun, aku punya sesuatu buat kamu" kata Jovan dengan senyum mengembang.
"Apaan sih yah? Bikin penasaran aja"
Jovan mengeluarkan buku tabungan dari tas kecilnya. Lalu menyerahkan pada Vani.
"Buku tabungan?"
"Iya, coba bunda lihat deh isinya"
Vani membuka lembaran buku tabungan itu.
"Uwaahh.... saldonya banyak ya yah. Ini dapat darimana transferan segini banyaknya?" Tanya Vani.
"Jadi selama ini ayah tuh nyisihin sebagian gaji sama insentifku gitu bun, terus sudah sampai nominal lima puluh juta aku investasikan di sebuah perusahaan kosmetik gitu. Ternyata hasilnya lumayan banget kan bun" kata Jovan senang.
"Alhamdulillah kalau memang menghasilkan. Tapi perusahaannya benar-benar aman kan yah?"
"Insyaallah aman bun, buktinya sudah dua bulan ini hasil yang kita dapat lumayan kan?"
"Amin"
Jovan menggendong Vee dan memangkunya, karena gemas diapun meremas lengan Vee berniat menggelitikinya.
"aaahhhh.... sakiitt...." Vee bertieriak dan menangis.
"Loh .. kenapa dek?" tanya Jovan bingung.
"Oiya, lupa ngabarin ayah, Vee tangannya sakit soalnya dua hari yang lalu kita sempet jatuh di jalan waktu mau nyebrang yah, terus tangannya Vee luka dan dapat dua jahitan gitu" kata Vani.
"kok bunda nggak ngabarin ayah sih?"
"iya, maaf ya yah..." kata Vani menyesal.
"Terus Varo gimana?"
"Kakak nggak kenapa-kenapa kok soalnya dia langsung lompat waktu mau jatuh, cuma Vee aja yang luka. Tapi Alhamdulillah nggak sampai luka berat"
"Untungnya ada papa Yudha yang nolongin kita yah" kata Vee menimpali obrolan orang tuanya.
"Siapa itu papa Yudha?" tanya Jovan tidak nyaman karena anaknya memanggil papa pada orang lain.
__ADS_1
"Teman aku yah, ehm... saudaranya atasanku sih, dulu kita sempat berteman sebelum dia kembali ke Jakarta, terus dia balik lagi ke sini karena ngurusin usahanya gitu. Kebetulan ketemu lagi waktu aku nyari kerja kemarin itu" jawab Vani.
"Kenapa harus manggil papa juga sih?'
"Ya nggak kenapa-kenapa juga, sebenarnya dia tuh selama lebih dari sepuluh tahun berumah tangga masih belum punya momongan, terus lihat anak-anak aku yang unyu-unyu gini dia jadi pengen, makanya iseng aja dia nyuruh Varo sama Vee manggil dia papa. Biar bisa cepet nyusul punya anak katanya" kata Vani.
"Yasudahlah... Sini anak ayah, kasian banget sih... Masih sakit banget yah tangannya?"
"Sakit yaahh" jawab Vee manja pada ayahnya.
"Besok ayah beliin es krim yang banyak deh biar Vee baikan yaa. Pulang sekolah, oke?"
"Yeee... asik... es krim" kata Vee bahagia.
" Sekarang kakak sama adik bobok dulu yah, besok biar nggak kesiangan bangunnya. Ayo ke kamar" Kata Jovan bangkit menggendong putrinya dan menggandeng tangan putranya.
******
Sabtu pagi, setiap satu kali dalam seminggu, Varo dan Vee pasti diantar jemput oleh ayahnya.
Pagi ini pun demikian, kedua kakak beradik itu terlihat bahagia karena diantar oleh ayahnya, apalagi dengan janji sang ayah tentang es krim nanti sepulang sekolah.
"Dada anak ayah, belajar yang rajin yah"
"iya yah, assalamualaikum" kata Varo dan Vee bergantian menyalami kedua orang tuanya.
Setelah mereka masuk, Jovan berniat mengantarkan Vani ke tempat kerjanya, dan mampir ke warung bubur langganan mereka untuk sarapan bersama.
"Gina masih dinas di sana yah?" tanya Vani mengawali percakapannya setelah semangkuk bubur ayam komplit ada di hadapannya.
"Masih bun, nggak tahu juga aku sampai kapan" jawab Jovan.
"Kalian sering ketemu?"
"Kadang sih, dia ngajakin makan bareng, kalau pas lagi senggang sih ya aku iyain aja"
"Anak-anak dekat ya sama teman kamu si Yudha itu?" lanjut Jovan bertanya.
" Ya lumayan sih yah, kan aku bilang dia tuh pengen anak. Mungkin dengan adanya Varo dan Vee membuat dia tuh ngerasa jadi papa beneran gitu. Apalagi kan Vee memang gampang deket sama orang lain, supel banget emang anak gadis kita itu"
"Terus istrinya nggak ngelarang dia buat ngelakuin itu?"
"Nggak tahu juga aku, soalnya istrinya dia tuh super sibuk, secara model kelas internasional. Dia aja menetap di Thailand buat nekunin profesinya, pulang ke rumahnya jarang sih menurut cerita mas Yudha"
"Kalian sering ketemu?"
"Ya nggak sering-sering banget yah, kadang kalau lagi pengen ketemu anak-anak dia mampir ke rumah bawain mereka oleh-oleh. Memangnya kenapa sih yah? Udah kamu tenang aja, dia cuma teman aku kok. Kita dekat juga karena aku kerja di tempat omnya gitu" jawab Vani sambil mengunyah buburnya.
"Yasudahlah, yang penting kamu harus bisa jaga hati dan perasaan aku yaa" kata Jovan sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Apaan sih yah, kayak abg aja. Jangan lupa nanti pulang sekolah tuh bocil-bocil dibeliin es krim" kata Vani mengingatkan.
"iyaa... nggak lupa kok"