Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
hak milik Gina


__ADS_3

Jovan sangat terpukul saat mendengar kabar buruk yang menimpa Gina.


Bagaimanapun, wanita itu masih berstatus sebagai istrinya saat menerima kecelakaan maut yang sangat naas baginya.


"Kenapa, yah?" tanya Vani yang melihat wajah suaminya tertekuk dalam.


"Gina kecelakaan bun" kata Jovan.


Vani berusaha mengerti keadaan suaminya. Mendengar kabar buruk dari sahabatnya memang menyedihkan.


"Kamu mau nengok dia? Memangnya kecelakaannya dimana?" tanya Vani.


"Nanti siang saja aku ke rumahnya kalau mayatnya sudah dipulangkan" kata Jovan.


Vani terkejut mendengarnya. "Maksud kamu, Gina meninggal?" tanya Vani.


"Iya, bun. Menurut berita yang aku baca tadi, ada ular besar masuk ke dalam mobilnya. Bahkan saat orang-orang menemukannya, sebagian tubuhnya berada didalam mulut ular itu" kata Jovan dengan raut wajah yang sangat terpukul.


"Astaghfirullah, separah itu? Lagian dia kemana sih yah? Kenapa sampai ada ular di dalam mobilnya?" tanya Vani.


"Aku juga nggak tahu dia mau kemana bun. Tapi mobilnya ditemukan di hutan perbatasan ke luar kota" jawab Jovan.


"Apa dia mau lari yah? Tapi lari dari apa?" tanya Vani.


Jovan hanya diam saja, meski dalam hatinya dia sudah menyangka jika Gina merasa ketakutan karena telah berusaha mencelakai Vani.


"Mungkin dia ingin kari dari tanggung jawab" kata Jovan dalam hatinya.


Ada sedikit rasa syukur dalam hati Jovan dengan kematian Gina.


Mungkin dia terkesan jahat dengan anggapan itu. Tapi memang dengan kepergian Gina, rumah tangganya aman tanpa ada ancaman dari mulut Gina yang sedikit-sedikit berkata akan mengadukan pernikahan mereka pada Vani jika Jovan tak memenuhi permintaannya.


"Nggak apa-apa kan kalau nanti siang atau sore aku berkunjung ke rumah Gina untuk berbela sungkawa, bun?" tanya Jovan meminta izin pada istrinya.


"Nggak apa-apa dong, yah. Boleh, kenapa juga harus dilarang? Dia kan sahabat kamu, pasti orang tuanya sangat terpukul dengan kepergian anak semata wayangnya" kata Vani.


"Nanti kalau aku jadi ke rumah orang tua Gina, aku kabari ibu ya. Biar anak-anak juga diajak kesini. Aku takut kamu kesepian kalau ditinggal sendirian" kata Jovan.


"Iya, aku juga sudah kangen banget sama Varo dan Vee" kata Vani.


Sementara Yudha sudah mempersiapkan segala keperluan untuk membawa salah satu anaknya ke ibu kota.


Siang ini dia akan pergi meninggalkan kota Dingin yang beberapa tahun ini menjadi tempatnya mengisi kekosongan di hatinya.


Senyumnya terukir saat melihat kedua bayi kembarnya menggeliat di dalam inkubator.


Memang salah satu dari mereka terlihat lebih aktif daripada yang satunya.


Setitik air matanya jatuh, menyadari anaknya yang malang akan tumbuh tanpa seorang ibu yang menyayanginya.


Seperti yang dia rasakan dulu, saat ibunya pergi selamanya dan papanya menikah lagi.


Hidup bagai di neraka bersama ibu tiri yang bermuka dua.


"Aku tidak akan pernah memberimu ibu tiri, nak. Biarlah kita hidup berdua saja selamanya. Sampai kau nanti tumbuh dewasa dan menikah dengan laki-laki baik pilihanmu" kata Yudha sambil mengelus kaca inkubator.


"Maafkan papa yang harus memisahkan kalian berdua. Nanti saat kalian dewasa, semoga ada keajaiban yang bisa mempertemukan kalian tanpa perantara tangan kami sebagai orang tua" kata Yudha lirih, mengamati kedua anaknya yang sangat mungil


"Maaf tuan. Semuanya sudah siap, apa bayinya akan dibawa sekarang juga?" tanya suster.


Kemarin Yudha belum bisa membawa anaknya karena masalah pemilihan alat transportasi yang tepat untuk membawa anak sekecil itu.


Akhirnya, Yudha sepakat untuk membawa putrinya dengan pesawat medis untuk bisa sampai dengan cepat dan selamat tanpa banyak memakan waktu untuk bisa sampai ke rumah sakit di kota besar.


"Iya, beritahu dulu ibunya sebelum kami pergi suster. Saya tidak mau dia menyesal karena tidak bisa mengantarkan anaknya" kata Yudha.


"Baik pak" suster itu segera ke ruang rawat Vani.


"Permisi bu Vani. Pak Yudha meminta ibu datang ke ruang NICU karena beliau akan segera membawa anak ibu" kata suster.


Vani tertegun sejenak, membayangkan hidupnya yang akan terpisah dengan sang anak.


"Mari bu, saya bantu duduk di kursi roda" kata suster.


"Mau dibawa kemana istri saya, sus?" tanya Jovan yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ke ruang NICU, pak. Karena pak Yudha akan segera mambawa salah satu putri bapak" kata suster itu.


"Biar saya yang membantu istri saya" kata Jovan.


Suster itu membiarkan Jovan mengambil alih tugasnya.

__ADS_1


Vani sudah tak bisa menahan air matanya karena harus melepas satu anaknya untuk dirawat orang lain.


Rasanya dia sudah menjadi ibu yang gagal karena tak bisa merawat sendiri anak kandungnya.


"Assalamualaikum" kata Jovan saat memasuki ruang NICU, dan ada Yudha di dalam sana.


"Waalaikumsalam" kata Yudha menoleh.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Yudha.


Vani hanya menggeleng samar. Tak berani membuka suara karena takut bertambah deras air mata yang keluar dari kelopak matanya.


"Jangan sedih ya, Van. Aku pasti akan mengabarimu setiap hari tentang perkembangannya. Kamu bisa video call juga kalau masih belum puas jika hanya membaca kabar melalui chatting" kata Yudha dengan sabarnya.


Memang hanya kepada Vani dia bersikap sabar dan manja sekaligus. Vani telah menguasai hatinya sejak dulu, bahkan sampai sekarang.


"Iya mas" kata Vani singkat.


"Doakan kami selamat. Semoga pengobatannya berhasil dan bisa segera bertemu dengan kembarannya" kata Yudha.


"Iya" jawab Vani yang masih menangis karena harus berpisah dengan anaknya.


Kedua bayi perempuan itu ternyata berpegangan tangan. Seolah mereka juga tak mau dipisahkan.


Bahkan mereka sama-sama menangis saat suster harus melepaskan pegangan tangannya.


Sejenak Vani bisa menggendong dan mencium wajah bayi mungil itu sebelum dimasukkan kembali ke dalam inkubator lainnya.


"Tolong jaga dia dengan baik ya mas. Aku titip dia sama kamu, tolong bawa dia kembali suatu saat nanti" kata Vani dengan deraian air matanya.


"Pasti, aku akan merawatnya dengan baik. Kamu doakan yang terbaik buat dia ya" kata Yudha.


"Iya" kata Vani sambil menangis.


Sementara Jovan hanya bergeming di tempatnya, suasana haru menyelimuti mereka.


Suster mulai mendorong inkubator entah kemana. Bersama Yudha yang berjalan di belakangnya, bersama seseorang yang tiba-tiba muncul saat Yudha keluar dari ruang NICU.


Vani hanya bisa pasrah saat melepas kepergian anaknya. Berharap suatu saat nanti bisa bertemu dan bahagia bersama keluarganya.


Sementara kembaran dari bayi itu masih menangis. Cukup lama agar anak itu bisa tenang kembali.


"Sebentar bun, ada telepon" kata Jovan yang merasa ada getaran dari ponsel yang sedang dikantonginya.


"Assalamualaikum, iya pak" kata Jovan mengawali pembicaraannya setelah merasa cukup aman dari pendengaran Vani.


"Waalaikumsalam, kamu sudah dengan kan berita kematian istrimu?" tanya mertuanya.


"Iya pak" jawab Jovan.


"Lantas kenapa kamu tidak juga mengunjunginya untuk yang terakhir kali?" tanya mertuanya dengan nada penuh penyesalan.


Mungkin beliau menyesal karena telah menikahkan anaknya dengan Jovan yang malah membawanya pada kematian.


"Vani juga sedang dirumah sakit, pak. Dan asal bapak tahu, Gina yang menyebabkan Vani hampir mati bersama kandungannya" kata Jovan yang tidak terima karena mertuanya seolah menyalahkannya.


"Maksud kamu apa?" tanya mertuanya.


"Nanti saja saya ceritakan sama bapak. Mungkin sore nanti saya berkunjung ke kediaman bapak. Saya yakin sekarang jenazah Gina masih di rumah sakit" kata Jovan.


"Ya, memang sekarang kami bersama rombongan sedang dalam perjalanan ke rumah untuk membawa jenazah Gina" kata mertuanya.


"Baiklah pak, nanti sore saya kesana. Saya masih harus mengurus beberapa dokumen untuk Vani dan anak kami" kata Jovan.


Hati ayah Gina sedikit ngilu saat mendengar Jovan menyebutkan bahwa dia telah memiliki anak lagi dengan istri pertamanya.


"Iya" kata mertuanya singkat.


"Saya tutup dulu teleponnya pak. Assalamualaikum" Jovan memberi salam pada mertuanya sebelum mengakhiri obrolan mereka.


"Waalaikumsalam" kata mertuanya.


Setelahnya, Jovan kembali memasuki ruang NICU untuk menemui istrinya.


"Telepon dari siapa yah? Kelihatannya penting sekali" tanya Vani.


"Ayahnya Gina memberi kabar kalau jenazahnya sedang dalam perjalanan. Beliau bilang supaya aku datangnya agak sore saja" kata Jovan.


"Oh. Bisa minta tolong belikan pompa asi dulu yah? Sepertinya Asi ku mulai penuh" kata Vani yang merasa jika baju di bagian dadanya sedikit basah karena asinya yang keluar.


"Tentu. Tapi kamu kembali ke kamar saja ya. Biarkan dia istirahat, kamu juga istirahat" kata Jovan.

__ADS_1


Vani mengangguk menyetujui. Dia kembali ke kamarnya setelah berpisah dari salah satu putrinya.


Meski tak rela, Vani harus kuat demi kebaikan bersama.


"Aku beli pompa Asi dulu di apotik ya Bun. Kamu kabari Hamza saja agar membawa ibu dan anak-anak kesini menemani kamu" kata Jovan.


"Iya" jawab Vani.


Terdengar Vani sedang mengawali percakapannya saat Jovan masih berada di ambang pintu.


★★★★★


Sore itu, saat Jovan melihat keadaan jenazah Gina secara langsung, Jovan merasa kengerian luar biasa karena kondisi jenazah Gina yang mengenaskan.


Rumahnya dipenuhi para pelayat yang merasa terkejut dan tidak menyangka jika Gian yang mereka kenal sedang bekerja di luar kota malah pulang tinggal nama.


Kebanyakan dari mereka tahu berita kematian Gina yang mengenaskan dari televisi. Dan membawa mereka ke rumah duka untuk mengetahui keadaan mayat Gina setelah berhasil dikeluarkan dari mulut ular.


"Kenapa malang sekali nasibmu, Gina" gumam Jovan sambil menyentuh wajah sang istri yang sudah terbujur kaku.


Terlihat jelas tulang leher Gina yang patah. Kepalanya pasti terlepas jika saja kulit lehernya tidak ada.


Ada bekas kebiruan di pipinya, mungkin karena separuh tubuhnya dipaksa keluar dari mulut ular yang membuat pipi mulusnya menjadi lebam seperti itu.


"Apa ada luka lainnya pak?" tanya Jovan.


"Tidak ada, polisi bilang kalau lukanya yang paling parah ada di lehernya, dan itu yang menyebabkan Gina kehilangan nyawa" kata ayah Gina.


"Kenapa Gina bisa ditemukan di perbatasan pak? Mau kemana dia sebenarnya?" tanya Jovan.


"Aku tidak tahu, Jovan. Sekarang aku sangat merasa kehilangan setelah Gina benar-benar pergi dan tak mungin kembali" kata ayah Gina.


"Bisa kita bicara sebentar di tempat lain?" tanya ayah Gina lada Jovan.


Mereka berdua pindah ke tempat yang lebih tenang, jauh dari keramaian yang tak bisa membahas masalah pribadi.


"Apa ada yang perlu bapak sampaikan?" tanya Jovan.


"Ya, kenapa kamu bilang Gina berusaha mencelakai istri kamu?" tanya mertua Jovan.


"Sore saat kami menggelar acara tujuh bulanan anak kami, Gina datang seorang diri dari kota Pesisir. Dan malam hari saat kami semua pergi ke mushola untuk solat maghrib, Gina bilang sedang halangan dan tak ikut ke mushola" kata Jovan.


Diapun menceritakan dengan detail pada mertuanya tentang kelakuan Gina yang ingin mencelakai Vani.


Ayah Gina tentu tidak percaya kalau anak tang selama ini dibesarkannya dengan penuh cinta bisa setega itu memperlakukan wanita hamil.


"Seharusnya kamu bisa mengerti dia sedikit saja, Jovan. Beri dia kasih sayang yang sama agar dia tak merasa diabaikan olehmu" kata mertuanya.


"Aku sudah sangat berusaha bersikap adil, pak. Bahkan saat kematian orang tua Vani dulu, Gina sengaja menjebak saya agar tidak hadir di pemakaman mertua saya. Beruntung saya masih sempat datang sesaat sebelum kedua mayat orang tua Vani dikebumikan" kata Jovan yang selama ini memang menutupi perilaku buruk Gina.


"Tidak mungkin anakku setega itu, Jovan. Aku tidak percaya padamu" kata ayah Gina.


"Awalnya akupun tidak percaya, pak. Tapi semakin lama, Gina selalu menghalangi niatku untuk mengunjungi Vani. Padahal dia tahu kalau Vani sedang hamil" kata Jovan yang terpaksa harus menceritakan tingkah Gina yang membuatnya sedikit kecewa di saat wanita itu sudah tak bernafas.


"Tapi sebenarnya akupun sayang padanya pak. Bagaimanapun kami telah berteman semenjak aku belum kenal dengan Vani. Hanya saja, untuk mencintainya masih sangat sulit. Karena pada dasarnya aku dan Vani telah berjanji untuk saling setia selama kami masih bisa bernafas" kata Jovan.


Ayah Gina sebenarnya juga mengerti jika Gina memang terlalu ambisius untuk bisa bersanding dengan Jovan.


Entah apa yang membuatnya sangat mencintai pria seperti Jovan yang dari segi ekonomi saja masih lebih baik keluarganya sendiri daripada Jovan.


"Bapak mengerti keadaanmu, nak. Memang Gina yang terlalu memaksakan kehendaknya untuk bisa kau terima. Sebagai seorang ayah, bapak minta maaf padamu ya" kata ayah Gina.


Jovan tak menyangka jika ayah Gina mau merendahkan diri untuk meminta maaf padanya.


"Aku selalu memaafkannya, pak. Bahkan sebelum dia meminta maafpun aku sudah memberinya maaf. Bagaimanapun dia juga istriku. Baik atau buruknya Gina adalah tanggung jawabku, pak" jawab Jovan.


"Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan padamu, Jovan" kata ayah Gina.


"Apa itu pak?" tanya Jovan.


"Gina adalah anakku satu-satunya, dan setelah dia pergi, bapak tidak punya lagi ahli waris untuk mendapatkan sebagian hartaku. Jadi, bapak mohon kamu mau menerima harta bapak yang sudah bapak alokasikan untuk Gina" kata ayah Gina.


"Jangan pak, biarlah hak milik Gina bapak sumbangkan saja untuk kegiatan sosial atas namanya. Agar menjadi amal jariahnya" kata Jovan.


"Untuk itu sudah bapak atur sendiri. Sedangkan untuk hak milik Gina, bapak takut seandainya bapak tidak ada lagi di dunia ini, harta itu akan menjadi rebutan antara saudara-saudara bapak"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2