Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
ayah Jovan pergi, papa Yudha datang!


__ADS_3

Senin pagi selalu diiringi kericuhan di setiap rumah di atas bumi ini.


Awal pekan yang pastinya akan menyibukkan seluruh anggota di planet ini, setelah libur mingguan.


Begitu juga di rumah sederhana milik keluarga Vani. Pasalnya pagi ini agak sedikit kesiangan karena si ayah minta jatah lagi dong!


Dengan tergesa-gesa, Vani menyiapkan sarapan alakadarnya untuk sang suami setelah selesai dengan kewajiban paginya.


Hanya nasi goreng sederhana dengan telor ceplok saja yang bisa dia hidangkan pagi ini.


Tepat pukul enam pagi, setelah melepas kepergian suaminya untuk kembali bekerja di luar kota, Vani membangunkan kedua malaikat kecilnya untuk bersiap ke sekolah.


Seperti janjinya pagi ini, Yudha akan menjemput dan mengantar Vani dan anak-anaknya pergi ke sekolah.


Setelah melewati keruwetan dengan dua bocilnya, akhirnya mereka bertiga telah siap untuk menunggu kedatangan Yudha, teman sang bunda.


"kita nggak naik motor bun? kok nggak dikeluarin sih motornya?" tanya Vee.


"kita hari ini bareng om Yudha ya, sekalian bunda ada perlu juga nanti"


Sedangkan si sulung hanya diam memperhatikan. Seperti biasanya.


Beberapa menit berlalu, datanglah orang yang ditunggu-tunggu.


Ternyata kali ini Yudha membawa sebuah mobil mewah yang sangat jarang dilihat oleh Vani dan juga anaknya.


"hai, sudah lama nunggunya?" tanya Yudha sambil turun dari mobilnya.


"waalaikumsalam.. nggak lama kok mas"


"eh... iya, assalamualaikum, hehe"


"mobil om ini keren ya bun?" si bungsu berkomentar, bundanya hanya memberikan senyum.


"pamitan sama orang tua kamu dulu ya Van?"


"nggak usah mas, aku lihat tadi ibu sama ayahku lagi ada di belakang, lagi ngurusin tanamannya. Kita langsung berangkat aja ya?"


"yaudah ayo"


"kamu nggak pakai mobil yang dulu itu mas?"


"nggak, soalnya nanti siang ada acara sama orang-orang pemerintahan, jadi aku pakai yang ini aja, kalau yang dulu itu terlalu besar"


"ooo... banyak yaa mobil kamu?"


"nggak juga, adalah beberapa. Aku kan sekarang kaya Van, nggak kayak dulu waktu kita bersama"


"uwaahh... tau gitu aku porotin aja kamu yaa?? hehehehe"


"haha... morotin kok bilang-bilang. Tapi ya nggak apa-apa kalau buat kamu rela abang, dek"


"hehe... apaan sih mas. Yaudah yuk berangkat, kesiangan nanti malah udah dikunci gerbang sekolahnya"


"iyaa, ayo tuan Putri"


Yudha bergegas membuka pintu kemudi, tapi dilihatnya Vani akan masuk ke kursi belakang.


"kamu kira aku ini sopir ojol ganteng gitu ya Van? di depan dong duduknya, berasa jadi supir beneran kalau kamu ikutan duduk dibelakang"


"iya, iya, aku pindah ke depan deh. Adek sama kakak duduk sini ya" ucap Vani sambil membantu memasang seat belt untuk kedua anaknya


Setelah semua siap, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju tujuan awal mereka, yaitu sekolah si kecil.


Jalanan agak sedikit macet di pagi hari seperti ini, karena memang banyak orang yang juga sama-sama pergi ke sekolah maupun pergi bekerja.


Hingga butuh waktu hampir dua puluh menit saat mengendarai mobil seperti ini saat menuju sekolah Varo dan Vera. Padahal biasanya hanya butuh waktu tidak lebih dari sepuluh menit untuk sampai.


Tiba di depan sekolah, gerbang sudah nyaris ditutup. Beruntung mereka berdua masih sempat masuk ke dalam.


Hingga sekarang waktunya menuju lokasi kedua, yaitu sebuah minimarket yang berada tak jauh dari tempat tinggal Vani.


Bertolak dari sekolah, sudah tidak ada wali murid yang mengantar anaknya pagi ini. Jadi tidak ada yang tau kalau pagi ini ada yang berbeda dengan Vani. Dia diantar menggunakan mobil.


Tunggu saja siang nanti saat menjemput sekolah, pasti banyak wali murid, terutama ibu-ibu yang pasti akan sedikit kepo dengan keadaan.


Vani bukan tipe ibu-ibu yang suka berkumpul untuk berghibah dengan sesama ibu-ibu wali murid lainnya. Dia lebih memilih pulang daripada harus bergerumbul dengan ibu-ibu lainnya.


Tapi mungkin hanya dengan Tita, dia kadangasih menyempatkan diri untuk menemani sahabatnya itu barang sebentar.


Minimarket yang diberitahukan Yudha itu ternyata tidak begiti jauh dari rumah Vani, hanya berbeda kelurahan saja. Mungkin sekitar 15 menit bisa sampai kalai jalanan tidak sedang macet.

__ADS_1


Tapi membutuhkan waktu sedikit lebih lama bila menggunakan mobil. Seperti saat ini, audah sepuluh menit masih belum separuh perjalanan karena mereka terjebak macet.


Kalau dari arah rumahnya untuk menuju minimarket itu harus melewati sebuah pasar tradisional. Kadang memang para pedagang tidak mematuhi aturan, suka menggelar dagangannya sampai ke pinggir jalan raya.


"Mas Yudha beneran nggak apa-apa nih? kayaknya macetnya bakalan lama deh"


"nggak apa-apa sih, kan aku sudah bilang kalau nanti ada meetingnya siang. Kadi pagi ini masih aman"


"sudah sarapa apa belum mas?"


"belum sih. Cari makan dulu aja gimana?"


"terserah mas Yudha sih. Sebenarnya tadi aku sudah makan"


"Makan lagi ya, masak aku makan tapi kamu cuma nungguin aja?"


"yaudah, iya, aku makan juga."


"aku teraktir apa aja yang kamu mau deh"


"uwaahhh... beneran nih?" Vani antusias


"iyaa .. kamu mau makan apa nih?"


"mas Yudha maunya makan apa?" Vani bertanya balik.


"ditanya balik tanya, dijawab nanti pasti nggak setuju, dasar wanita" kata Yudha sambil tersenyum.


Melihat itu, Vani jadi meleleh. Senyum Yudha selalu menawan sejak dulu di mata Vani.


Tapi Vani harus tau diri, siapa dia sekarang. Sangat berbeda dengan dahulu karena dia juga harus menjaga hatinya hanya untuk suaminya.


"kamu terpesona ya sama ketampanan saya? Sampai mangap mulutnya" kata Yudha menyadarkan lamunan Vani.


"ehh... apa? bapak pede sekali ya? mana ada acara mangap segala"kata Vani malu.


"yaudah, jadinya makan apa ini?"


"itu ada bubur ayam di depan situ, gimana kalau itu saja?"


"uwah, boleh banget tuh mas. Disitu juga jualan onde-onde, enak itu onde-ondenya macam-macam rasa. Okelah kita kesana aja" jawab Vani yang memang hobi makan.


Tak lama mereka sudah duduk manis di salah satu kursi di dalam warung yang menjual bubur ayam.


Vani merasa diperhatikan, karena selama ini suaminya tidak pernah berbuat romantis semacam itu.


Setelahnya, Yudha duduk dihadapan Vani. Lalu melihat-lihat menu yang sudah tersedia diatas meja.


Beberapa lama membaca daftar menu, Yudha melambaikan tangan pada pelayan warung sederhana itu.


"mau pesan apa pak?" tanya pelayan wanita itu ramah.


"buburnya satu pakai sate telor ya mbak, minumnya jeruk hangat saja. Kamu mau pesan apa Van?"


"ehm.. onde-ondenya sudah matang belum mbk?" tanya Vani.


"sudah bu, beberapa menu onde-ondenya sudah tersedia. mau pesan varian rasa apa?


"mau yang original, coklat sama stroberi ya mbak, minumnya es jeruk aja."


pelayan pergi setelah mencatat dan memastikan pesanannya.


"kamu sering kesini ya?" tanya Yudha membuka obrolan.


"nggak juga sih mas, kadang-kadang aja. Biasanya kesini bareng Tita, sahabat aku"


"sahabat kamu cuma satu ya? kasian sekali kamu temannya sedikit" Yudha berlagak mengejek.


"menurut aku sih lebih baik punya sedikit teman atau sahabat tapi mereka jujur, tulus berteman sama kita mas, daripada punya banyak kawan tapi kebanyakan dari mereka nggak ada yang tulus berteman sama kita. Iya kan?"


"benar juga sih. Kalau kamu berteman sama aku sekarang tulus apa modus nih?" tanya Yudha memancing.


"awalnya sih aku tulus waktu ngira kamu karyawan hotel biasa. Tapi setelah tau kamu orang kaya, aku jadi pengen morotin harta kamu mas, pasti senang hidup aku, hahahaha" kata Vani mendramatisir.


"kamu kok bisa jadi orang kaya gitu sih mas? aku lihat dulu kan kita kayak senasip gitu kan? kaum akar rumput yang kalau akhir bulan senang dapat gaji, awal bulan kembali miskin buat bayar hutang. Hehehe"


Yudha ikut terkekeh dengan penuturan Vani. Saat dia akan menceritakan kisah hidupnya, malah pesanan sudah datang. Jadi, obrolan mereka sempat terhenti saat pelayan memberikan pesanan mereka.


"makasih mbak", ucap Vani sopan. Malah tidak dihiraukan sama mbak pelayannya karena si mbak lagi sibuk merhatiin pria ganteng di depan Vani.


Vani jadi melongo melihat si mbak yang juga melongo menatap Yudha sampai tak berkedip.

__ADS_1


Merasa hening, Yudha mendongakkan kepalanya. Terlihat si mbak bengong menatapnya, dan Vani bengong menatap si mbak.


Tangan Yudha melambai di depan wajah Vani. Si empunya wajah jadi kaget. Lalu Yudha melihat si mbak pelayan, "ada yang salah sama muka saya mbak?" tanya Yudha.


"eh.. maaf. Masnya ganteng ya, mirip aktor korea" jawab si mbak malu-malu.


"uwah, makasih sudah muji saya ya mbak, Tapi kenapa wanita ini malah nggak pernah bilang kalau saya ini ganteng ya mbak?" kata Yudha sambil menunjuk Vani.


"apaan sih mas, udah makan aja keburu dingin" kata Vani.


"silahkan dinikmati ya mas dan mbaknya" kata si mbak sambil berlalu.


"tuh kan Van, mbaknya aja bilang kalau aku ini ganteng loh. Kamu nggak mau ngakuin juga apa?"


"kamu selalu pede mas. udah diem makan"


Merekapun makan dalam diam. Sedikit lupa dengan obrolan mereka yang telah lalu.


Sampai acara sarapan bersama selesai dan mereka sudah di dalam mobil kembali, Yudha masih tidak melanjutkan obrolannya. Tapi Vani ingat, dan dia akan menanyakannya nanti kalau ada waktu.


Memasuki jalan raya, lalu lintas sudah tidak semacet tadi. Jadi mobil Yudha bisa leluasa berjalan tanpa hambatan berarti.


"kamu hebat ya, sudah sarapan di rumah tapi bisa menghabiskan tiga buah onde-onde yang ukurannya lumayan gede gitu" kata Yudha.


"hobi mas, hobi aku kan makan. haha. dari dulu juga gitu"


"tapi tubuh kamu tetap kecil gitu ya. Padahal juga udah punya dua anak. Biasanya cewek-cewek gitu kan suka melar badannya kalau sudah punya anak"


"Biasanya sih memang gitu mas. Cuma aku nggak ngerti kenapa aku susah banget gemuk ya? paling nggak sedikit berisi gitu. Padahal nggak pernah ngurangin porsi makan, apalagi diet. Anti aku sama diet gitu"


"kalau seandainya mas Yudha punya istri, terus abis melahirkan badannya jadi gendut, nggak selangsing sebelum punya anak, apa mas Yudha tetap cinta sama istri mas Yudha?" tanya Vani mulai serius.


Sedikit berfikir, Yudhapun menjawab"kalau aku cinta nggak pandang fisik tau, emang kamu nggak ngerasa selama ini apa yang sudah aku lakuin buat kamu"


"tau kok, mas Yudha ninggalin aku tanpa kabar setelah buat janji mau anterin aku pulang kan sebelas tahun yang lalu?" jawab Vani.


Yudha terdiam, benar kata Vani. Dia seorang pecundang yang tidak bisa mempertahankan cintanya.


Suasana didalam mobil itu menjadi hening. Andai Vani tau betapa Yudha tersiksa dengan masa lalunya itu.


Untuk meredam sunyi, Yudha berinisiatif menyalakan radio. Malah terdengar lagu dari Band Dygta "pecundang sejati"


dalam diam jiwaku


telah terluka, memiliki mu


karena ku takkan bisa


tuk selamanya menjadi cintamu


sesungguhnya, hanya dirimu


tapi mereka tak mengerti


dan menetang cinta


ku denganmu


ku tlah menyerah selamanya


dan mengakhiri kisah kita


meski air mata membunuhku


ku memang pecundang sejati


yang tak sanggup perjuangkan cinta


maafkan semua cintaku


ku meninggalkanmu...


ouwowoooo


Mereka berdua malah terlarut dalam untaian kata yang dinyanyikan sang vokalis.


Rupanya acara lagu kenangan sedang diputar di salah satu stasiun radio yang tidak sengaja diputar oleh Yudha.


Suara penyiar radio membuyarkan kekhusyukan dua insan ini. Mereka saling sadar dan menoleh, lalu sama-sama tersenyum.


"betapa aku masih ada rasa di lubuk hati ini pada orang ini"

__ADS_1


mereka sama-sama membatin hal yang sama.


__ADS_2