
Senyum Yudha mengembang saat melihat Vani tertidur tak berdaya.
Sebenarnya keanehan dalam minuman yang telah Vani habiskan adalah ulahnya sendiri. Tadi saat memesannya pada pelayan hotel, Yudha telah memerintahkan pada mereka untuk memberikan obat tidur dengan dosis yang lumayan banyak.
Dia ingin menghabiskan malam ini dengan kekasih hatinya.
Yudha memegang kepala Vani di tangannya. Mata Vani terpejam sempurna. Suasana balkon di malam itu semakin menambah syahdunya perasaan.
"Maafin aku, Van. Aku sangat mencintaimu sejak dulu. Tapi keadaan yang memaksa kita tidak bisa bersama. Maaf kalau kali ini aku egois agar bisa bersamamu. Aku yang selalu mencintaimu" kata Yudha lirih pada Vani yang terpejam.
Yudha mendekatkan kepalanya pada Vani. Menatap bibir tipis berwarna soft pink itu semakin membuat perasaannya berbunga.
"Kamu pakai lipglos rasa apa, Van?" gumam Yudha yang telah menempelkan bibirnya dengan bibir Vani.
Yudha merebahkan tubuh Vani diatas sofa yang ada di balkon. Menikmati manisnya bibir Vani ditemani sepoinya angin malam.
Matanya terpejam menikmati manisnya bibir wanitanya. Tangan Yudha memegang pipi Vani agar bisa membuatnya terbuka.
Lalu dengan lahapnya, dia mengeksplor bagian dalam dari mulut Vani setelah berhasil membuka bibirnya.
Lidahnya mengabsen deretan gigi dan lidah Vani dengan rakus. Meluapkan segala emosi yang telah ditahannya selama bertahun-tahun.
Debaran di dalam dadanya sudah tidak bisa lagi dia kontrol. Rasanya terlalu kencang karena dia sangat bahagia.
Tubuhnya menindih Vani yang tidak berdaya. Mengungkung dengan penuh intimidasi. Yudha sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Malam ini dia akan membahagiakan hatinya yang kosong.
Tak pernah puas rasanya untuk Yudha menikmati manisnya bibir Vani. Hingga berkali-kali dia ******* bibir tipis itu, tidak ada kata bosan menghampirinya.
Udara malam semakin dingin, tapi aktivitas Yudha malah memanas. Sadar efek buruk dari angin malam, Yudha menghentikan aksinya. Memandangi wajah Vani yang terpejam membuatnya mabuk kepayang.
Yudha menyudahi aksinya, duduk disamping wanitanya yang masih terpejam. Dia menengadahkan kepalanya ke langit.
"Maafkan aku tuhan, kau terlalu egois karena tak memberikanku sedikit saja kesempatan untuk bisa bersamanya. Maka, jangan salahkan aku jika melakukan apa yang aku inginkan kali ini".
"Hatiku terlalu lelah untuk selalu mengikuti permainanmu. Maka ijinkanlah kali ini saja tuhan, biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri" kata Yudha yang ingin membawa Vani ke dalam kamarnya. Udara malam tidak baik untuk kesehatan.
Yudha menggendong Vani ala bridal style memasuki kamarnya. Dia menjatuhkan tubuh Vani secara perlahan diatas ranjang king size itu.
Senyum selalu menghiasi wajah bahagianya malam ini. Tak pernah puas Yudha memandangi Vani.
Yudha mengabari suster Hesti, menyuruh mereka berdua untuk menemani Varo dan Vee malam ini.
Setelah itu, kembali dia melakukan keinginannya pada wanita pujaannya yang tertidur seperti snow white.
Tangannya bergerak, membuka pengait hijab yang Vani kenakan dengan sangat hati-hati.
"Maafin aku Van, aku yakin kamupun punya keinginan yang sama denganku" kata Yudha lirih, menyimpan peniti diatas nakas. Dan membuka hijab Vani secara perlahan.
"Rambut kamu berantakan sekali" gumam Yudha.
"Rambut kamu berwarna coklat ya, warnanya cocok banget sama kamu. Aku jadi makin cinta sama kamu" kata Yudha yang sudah tidak waras kali ini.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, tangan nakalnya semakin bergerak turun untuk membuka kain yang melekat di tubuh Vani yang tertidur.
Malam ini Yudha melakukan keinginannya. Persetan dengan dosa yang telah dia perbuat. Jika istrinya sendiri, juga suami Vani bisa berbuat tega pada mereka berdua, mengapa dia dan Vani tidak bisa membalasnya?
Ya, anggap saja sekarang Yudha sedang membalaskan perbuatan Jovan pada Vani yang telah berkhianat.
Meski Vani tidak tahu dengan apa yang dia alami, tapi Yudha tahu. Dan akan menjadikannya senjata untuk melawan Jovan nantinya.
"Awas kau bocah tengik" lirih Yudha disela kegiatan panasnya.
Yudha bergerak sendiri, tanpa Vani sadari. Makanya dia tidak berani membuat kiss mark sebagai tanda kepemilikan, karena memang apa yang sedang dia nikmati bukanlah miliknya
Dia hanya sebagai penikmat yang mencari kebenarannya sendiri tanpa memperdulikan dosa apa yang telah dia perbuat. Dan melibatkan orang lain untuk menyenangkan diri sendiri sebenarnya juga bukan hal yang bisa dibenarkan.
Hanya saja, dia merasa ketidak adilan dari nasibnya. Hingga dia nekat berbuat apa saja untuk membahagiakan dirinya sendiri.
"Aarrgh.." rintih Yudha setelah dapatkan kepuasannya.
Menyemburkan bibit-bibit manusia baru dalam rahim wanita yang sudah dimiliki pria lain.
Tubuhnya terkulai lemah setelah menuntaskan hasratnya. Masih menindih tubuh wanitanya dalam pelukan penuh keringat yang diciptakannya sendiri.
"Makasih, sayang" lirih Yudha menciumi seluruh wajah Vani yang masih terpejam.
Yudha mengubah posisi tidurnya, tidur telentang dengan mata menerawang. Mengingat dosa yang baru saja dia lakukan.
"Hanya sekali ini saja, Van. Kita bisa menikmati waktu bersama" kata Yudha yang masih mengistirahatkan tubuhnya.
Bahkan dia sempat mengulanginya lagi, saat hasratnya sudah tidak bisa lagi dibendung.
Setelah puas dengan aksinya, Yudha memakaikan kembali pakaian ditubuh Vani. Meski tak menyematkan lagi hijabnya, membiarkan Vani tertidur di ranjangnya. Sementara dia sendiri akan menenangkan dirinya di balkon saja.
Waktu berlalu begitu saja.
Saat matahari sudah meninggi, Yudha baru menyadari jika dia sudah terlambat.
Senyum paginya tercipta setelah mengingat kejadian semalam. Dia sangat senang hari ini.
"Apa kamu sudah bangun?" tanya Yudha dalam hatinya.
Dia beranjak memasuki kamarnya. Pemandangan indah jika setiap pagi bisa melihat pujaan hati berada diatas ranjangnya.
Vani masih tertidur, Yudha mendekat dan duduk diatas ranjang. Disamping Vani.
"Van, bangun" kata Yudha membangunkan Vani yang masih betah tidur.
"Bangun, sayang" kata Yudha sambil menepuk ringan pipi Vani.
Perlahan Vani mulai mengerjap. Membuka sedikit matanya untuk bisa menyesuaikan pendaran cahaya yang ada.
"Ehm... Mas Yudha" kata Vani lirih. Belum menyadari sepenuhnya jika dia berada di kamar Yudha.
__ADS_1
"Hah? Kok ada kamu sih mas?" teriak Vani kaget, bahkan langsung duduk dan menelisik seluruh isi kamar.
"Kok aku tidur disini sih?" tanya Vani sambil memegangi kepalanya. Terbangun dalam keadaan terkejut membuatnya sedikit merasa pusing.
"Kamu ketiduran disini semalam, di balkon sana. Waktu kita lagi ngobrol. Kamu nggak ingat?" tanya Yudha berpura-pura bodoh.
"Oh, iya ya. Tapi semalam itu... Apa aku mimpi ya?" gumam Vani.
"Mimpi apa?" tanya Yudha.
"Eh, nggak kok. Nggak apa-apa, lupakan saja" kata Vani malu.
Semalam dia bermimpi sedang begituan sama Yudha, dan terbangun berada diatas ranjang pria itu.
Sebagian hatinya merasa takut telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Tapi kan semalam Vani tertidur, dan dia tidak ingat telah berbuat yang aneh-aneh.
"Pasti cuma mimpi saja" kata Vani lirih, seolah sedang berfikir.
"Kenapa sih?" tanya Yudha yang merasa aneh dengan sikap Vani.
"Nggak ada apa-apa. Cuma kaget saja, kenapa bisa kesiangan. Aku tidur sangat nyenyak semalam" kata Vani yang merapikan rambutnya, ikatannya terlepas. Dan dia tidak tahu berada dimana sekarang tali rambutnya.
"Loh, aku tidur nggak pakai hijab ya" kata Vani yang menutupi kepalanya dengan selimut.
Yudha terkekeh dengan tingkah Vani. " kenapa ditutup? Aku sudah lihat kok" kata Yudha memegang tangan Vani agar melepas selimut.
"Jangan dilepas, aku malu" kata Vani menghentikan keinginan Yudha.
"Nggak usah malu, aku bahkan sudah melihat semuanya" kata Yudha dengan senyum mautnya.
"Maksud kamu apa mas?" tanya Vani.
Lho, Yudha kelepasan bicara. Bingung sendiri kan jadinya.
"Nggak ada maksud apa-apa. Ya kan memang aku sudah lihat kamu nggak pakai hijab, Van. Kenapa harus malu sekarang?" tanya Yudha mencari alasan.
"Sudah lah, aku mau mandi dulu deh. Kok rasanya gerah, lengket, terus kok aku ngerasa capek ya mas?" gerutu Vani yang menuruni ranjang dan bersiap menuju ke kamar mandi.
"Eh, tunggu. Kok rasanya ada yang aneh ya" kata Vani merasakan sesuatu miliknya agak sedikit nyeri.
"Kenapa lagi?" tanya Yudha.
"Aku mandi dikamarku sendiri deh mas. Lagian nggak bawa baju ganti" kata Vani menghampiri Yudha dan mengambil hijab yang ada disampingnya.
Memakainya asal dan segera keluar dari kamar yang bisa membuat jantungnya bekerja keras karena melihat masa lalunya yang indah sedang berada disana.
.
.
.
__ADS_1