
Dipikirannya saat ini, apa yang akan papanya lakukan? Ancaman macam apalagi?
"Ngapain papa kesini?"tanya Yudha malas.
Tanpa berbasa-basi, papanya berucap "papa mau kamu pulang sekarang. Urusan kamu disini sudah beres. Papa mau mulai Senin depan kamu sudah mulai fokus diperusahaan papa. Dan bulan depan kamu nikah sama anaknya om Frans."
"Enteng sekali pak Tama ini kalau bicara ya. Yudha nggak mau sama anaknya om Frans yang kecentilan itu. Lagian aku tahu kalau semua ini cuma jalan supaya bisnis papa bisa semakin maju. Kenapa juga nggak anak dari istrinya pak Tama sendiri saja yang dinikahkan? Kenapa harus aku?" Kata Yudha menolak.
Dia sangat jengah dengan papanya ini. Karena 20 menit lagi waktu janjiannya dengan Vina.
"Terserah apa kata kamu. Seperti kamu sekarang, dulu papa juga menikah dengan perjodohan. Tapi papa baik-baik saja. Sekarang kamu pulang dan menikah bulan depan, atau papa akan suruh orang-orang papa untuk mencelakai wanita kecil yang bekerja di ruko itu sampai kamu akan menyesal seumur hidup kamu karena papa pasti akan mencelakainya secara pelan-pelan sampai dia sendiri yang menginginkan kematiannya. Sesimple itu. Semua pilihan ada ditanganmu. Papa tunggu dimobil papa sekarang juga. Lalu kita akan pulang ke Jakarta. Atau yah, terserah pilihan kamu saja" kata papanya sambil menepuk pundak Yudha dan meninggalkannya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.
Sial!!!!
Ingin sekali Yudha berteriak demi memuntahkan segala amarah di dadanya.
Dia tak sanggup jika harus melepaskan secuil asa nya pada sang pujaan hati di saat yang tidak tepat seperti ini.
Tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih karena papanya masih setia menungguinya di luar.
Sekali lagi Yudha menurut, mengubur semua keinginannya demi keluarganya, demi keselamatan pujaan hatinya, demi masa depannya.
Memasukkan kembali motor kesayangannya ke garasi ruko, selanjutnya berjalan gontai menuju mobil papanya, sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap bertemu Vani untuk terakhir kalinya.
Tapi tentu saja tidak akan bertemu karena Vani sedang bekerja.
Masuk ke mobil, duduk di sisi kemudi, dan papanya yang akan mengemudikan kereta besi itu.
Di dalam mobil tidak ada yang bersuara. Dan papanya secara sengaja lewat di depan ruko tempat Vani bekerja, sehingga Yudha bisa dengan jelas melihat Vani yang sedang asyik memijit tuts keyboard dengan fokusnya.
Seperti yang sudah dititahkan papanya, selepas mengambil barang-barang Yudha di rumah neneknya, mereka akan langsung bertolak ke Jakarta malam ini juga.
Sesampainya di rumah sang nenek, Yudha bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke kamarnya. Mengabaikan sang nenek yang bingung karena Yudha tidak menjawab pertanyaan neneknya.
"Kenapa dengan anak itu Tama?" Tanya nenek pada pak Tama.
"Tidak apa-apa bu, dia hanya sedikit syok karena aku langsung mengajaknya pulang malam ini juga."kata pak Tama.
__ADS_1
"Apa tidak bisa besok saja? Menginaplah disini malam ini. Berangkat besok pagi agar kamu bisa istirahat." Kata nenek.
"Tidak bu, sekarang saja. Bisa-bisa Yudha melarikan diri lagi kalau sampai menginap. Aku nggak mau kecolongan lagi"kata pak Tama.
"Hengmh .. yasudah, tapi jangan terlalu kasar pada Yudha. Kasihan anak itu dari kecil sudah kurang kasih sayang orang tua." Sindir nenek halus.
"Iya bu " jawab pak Tama lirih.
Setengah jam berlalu. Yudha juga sudah selesai packing baju dan segala keperluannya. Hanya satu koper tanggung dan satu tas punggung yang dia bawa. Tidak terlalu banyak.
Menuju ruang tamu dimana papa dan neneknya sudah menunggu.
"Ayo berangkat pa, terlalu lama disini tidak baik untuk orang terlalu terhormat seperti papa." Kata Yudha.
"Jaga omonganmu nak. Lupa kau bicara dengan siapa?"jawab pak Tama sengit.
Setengah mulut Yudha terbuka untuk membalas omongan papanya.
Tapi neneknya sudah melerai.
"Sudah jangan ribut di rumahku. Cepat kalian pergi kalau itu memang maumu Tama. Jangan membuat ribut di sini."
"Saya pamit nek. Semoga nenek selalu sehat di sini, jaga kesehatan nenek jika ingin melihat Yudha bahagia kelak" kata Yudha sedih, karena memang waktu yang ia habiskan lebih banyak dengan neneknya daripada dengan orang tuanya.
" Iya nak. Nenek selalu berharap yang terbaik untukmu. Jalani saja semua dengan bahagia. Pasti lama kelamaan kamu akan terbiasa dengan keputusan papamu untuk pernikahanmu." Kata nenek.
Setelah mencium tangan neneknya, Yudha berbalik dan segera berjalan menuju mobil yang dikendarai papanya.
Bersiap menuju bandara untuk ke Jakarta, tempat kelahirannya sekaligus tampat yang sangat tidak dia sukai karena ibunya meninggal disana.
Di dalam pesawat dia sangat resah karena sudah meninggalkan Vina di perjanjian terakhir mereka. Pasti Vina sangat bingung karena malam-malam begini sangat sedikit sekali angkot yang lewat.
Dan sangat rawan sekali untuk seorang gadis pulang sendirian.
Tapi lepas dari itu, Yudha juga tidak bisa memberi tahukan keberadaannya karena papanya selalu mengawasi setiap gerak-gerik Yudha, sudah seperti pencuri yang sedang dimintai keterangan saja. Sangat tegang situasinya.
Jadi Yudha hanya bisa berharap dan mendoakan keselamatan sang pujaan hati.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, Yudha sudah berada di halaman sebuah rumah megah.
Rumah papanya ini sangat megah, karena dengan bergabungnya dua perusahaan, yaitu perusahaan papanya dan perusahaan istri baru papanya ini sangat bisa menguntungkan ke dua belah pihak, melahirkan sebuah perusaan yang lebih besar dengan keuntungan yang sangat fantastis.
Tapi diluar itu semua, Yudha tidak menginginkannya.
Dia tidak suka dipaksa, apalagi menyangkut pernikahan. Karena kepulangannya saat ini adalah untuk membahas persoalan pernikahan yang sudah diputuskan pak Tama (papanya) dan pak Frans (calon mertuanya), demi kelangsungan perusahaan yang bisa lebih besar lagi.
Papa Yudha sangat suka harta, sangat suka kekuasaan. Maka dari itu dia sangat berharap dengan menikahnya Yudha dan Hani, akan bisa membuat perusahaanya jauh lebih besar.
Tapi Yudha tidak bisa menolak lagi saat ini, karena nyawa Vani taruhannya, itu sebenarnya yang sangat tidak diinginkan oleh Yudha.
Itulah mengapa selama ini Yudha sangat tidak mau membuat ikatan lebih dari teman dengan wanita manapun.
Tapi kedekatannya dengan Vina kali ini tercium oleh mata-mata papanya. Hingga papanya tahu kelemahan Yudha adalah Vani, menjadikan alasan itu sebagai pemulus keinginannya untuk menikahkan Yudha dengan anak dari relasinya untuk melebarkan sayap perusahannya.
Demi harta, orang rua itu rela mengubur semua keinginan dan mimpi anaknya. Meskipun tujuannya baik, tapi laki-laki tua itu lupa bahwa anaknya punya hati yang juga bisa merasa sakit.
Yudha segera mengakhiri lamunannya karena ada suara ketukan pintu.
Ternyata sekretarisnya datang untuk memberitahu jadwalnya hari ini.
Sepertinya hari ini dia akan lembur lagi. Perasaan sendunya beberapa menit yang lalu harus dia lupakan demi pekerjaannya.
Setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu, otomatis perusahaan semua dia yang pegang.
Menunggu adik laki-laki dari ibu tirinya dewasa untuk berbagi peran sebagai pimpinan perusahaan. Sekarang adiknya masih kuliah, sudah hampir selesai.
Dari ibu tirinya, dia punya dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Adik perempuannya masih sma, memang selisih usianya dengan ke dua adiknya agak jauh, karena memang papanya menikah dengan ibu tirinya saat Yudha sudah lulus Sma.
Dari beberapa perusahaan yang dimiliki oleh almarhum papanya, Yudha memilih perusahaan yang terletak di kota Dingin ini. Dia ingin menghindari hiruk pikuk ibu kota yang tidak cocok dengannya yang sebenarnya suka kedamaian dan keheningan.
Selain itu, dia juga ingin bernostalgia dengan masa lalunya. Menemukan sahabat lamanya, dan mendirikan usahanya sendiri, bukan meneruskan usaha papanya.
Dan misinya kali ini adalah membesarkan hotel yang telah di akuisisi olehnya beberapa bulan yang lalu.
Selain letaknya yang sangat strategis secara ekonomi, juga secara pribadi dia ingin menemukan masa lalunya sebagai bonus untuknya dari usaha yang telah ia geluti.
__ADS_1
Jadi, datangnya Yudha kembali ke kota Dingin ini mempunyai dua tujuan yang sama-sama berarti untuk kehidupannya.