Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Desisan emak-emak berkoloni memang menyakiti hati


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan keharusan para orang tua untuk menjemput anak-anaknya pulang sekolah.


Siang ini, di waktu yang lumayan terik, sepasang insan yang sudah berdamai dengan keadaan sudah bisa memaafkan nasib masing-masing, siapa lagi kalau bukan pak Yudha dan bu Vani.


Dua orang ini sudah merasa lega setelah berbicara dari hati ke hati. Menemukan satu solusi, tetap saling berteman.


Dan terbesit rasa di dalam hati Yudha untuk ikut serta menjaga Vani dan anak-anaknya. Dia sudah bertekad untuk menyayangi anak-anak itu.


Kini mereka berdua berada di dalam mobil mewah Yudha. Bersama ingin menjemput Varo dan Vee. Meski sebenarnya Vani sangat keberatan.


Karena dia tidak ingin terlihat mencolok diantara kebanyakan ibu-ibu yang menjadi penjemput. Sungguh saat ini dia sangat berbeda dengan kebiasaannya yang sederhana.


Sudah bisa dipastikan kalau dia akan menjadi bulan-bulanan sumber gosip para ibu-ibu.


"Biasanya panas-panas gini kamu bawa motor jemput anak kamu?" tanya Yudha memulai obrolan.


"iya, adanya cuma motor mas. Kalau punya helikopter ya udah aku jemput pakai helikopter dong"


"haha. Bisa ae buk. Tapi kan memang dari dulu kamu sukanya musim panas gini ya? bener nggak sih? apa udah berubah?"


"tetep dong, aku kan susah move on" kata Vani sambil melirik Yudha, mengamati perubahan mimik wajahnya. Terlihat Yudha sempat sedikit kaget, lalu berusaha biasa saja.


"tapi kehilangan seseorang yang dirasa berarti membuat aku juga jadi suka musim hujan mas". Vani menjeda ucapannya sambil menoleh pada Yudha.


"Oiya? kenapa?" tanya Yudha tanpa menoleh sambil berusaha menenangkan hati.


'dasar wanita, tadi sudah melakukan perjanjian kalau nggak akan mengungkit masa lalu. Tapi malah dia sendiri yang seenaknya nyindir-nyindir terus daritadi' Yudha membatin berusaha bersikap santai.


"karena dibawah tetesan air hujan nggak akan ada orang yang tau kalau juga ada air mata yang turun bersama tetesan airnya"


"alasan yang aneh, terus dulu alasan kamu sangat suka musim panas apa?"


"ehm... apa ya? mungkin sebagai penyeimbang yaa, karena setelah hujan yang membuat air mata ikut jatuh, perlu sinar matahari yang diharapkan bisa juga menghangatkan semuanya, termasuk hati"


"cg .. lebih baik terima saja apa yang sudah diberikan, baik itu panas ataupun hujan sama saja. Pasti ada kebaikan dan keburukan yang terkandung dalam keduanya. Karena semua diciptakan seimbang. Betul?" kata Yudha menirukan gaya bahasa penceramah terkenal itu.


"hahah... betul pak ustadz. Leres, sae, bener" kata Vani tertawa.


Mendekati sekolah, Vani masih berusaha untuk bisa menjemput anaknya sendiri tanpa bantuan Yudha yang terus memaksa ingin bertemu si kecil.


Benar saja, tiba di sekitaran sekolah. Sudah banyak orang tua yang juga sedang menunggu anaknya di depan gedung. Kebanyakan ibu-ibu yang bergerombol sibuk mendiskusikan entah apa.


Juga ramainya para penjual jajanan yang tertata rapi di tempat yang sudah disediakan.


Banyak mata memandang ke arah mobil yang baru datang. Bagaimana bisa ada mobil mewah yang menuju sekolah itu.


Karena meskipun memang sekolah ini adalah sekolah terbaik di kawasan ini, tapi bukanlah sekolah elit yang ditempati para siswa dengan walinya yang pasti dari kalangan atas.

__ADS_1


Beberapa ibu-ibu bahkan saling sikut untuk ikutan melihat arah pandang salah satunya yang melihat keberadaan mobil Yudha ini.


"Tuh kan mas, aku bilang juga apa. Udah aku sendiri aja yang jemput Varo dan Vee. Besok-besok pasti aku dijadikan biang gosip deh" kata Vani.


"Biarin aja sih. Nggak usah dengerin kata orang. Aku kan cuma pengen kenalan sama mereka." ucap Yudha.


Setelah menemukan tempat yang baik untuk parkir dan menunggu kepulangan si kecil, Yudha mematikan mesin mobilnya.


Karena memang cuaca sedang panas, dia membuka kaca mobilnya untuk membiarkan udara segar masuk.


Banyak ibu-ibu yang terpesona melihat tampang Yudha yang memang sedap dipandang. Dengan rambut yang agak panjang membuatnya terlihat lebih muda daripada usianya.


Vani mengenakan masker, sehingga masih belum ada yang tau siapa dia meskipun dia sudah turun untuk menjemput, dan meninggalkan Yudha yang kepanasan di dalam mobilnya.


"aduh, lihat deh ganteng banget ayahnya siapa ya kira-kira?"


"mungkin ada siswa baru ya, kok punya bapak yang ganteng gitu sih? penasaran anaknya yang mana ya?"


"muka udah kayak artis korea aja tuh orang, baru kali ini lihat yang seger kayak gitu disini, jadi pengen nginep"


dan banyak lagi ucapan-ucapan mengidolakan Yudha lainnya yang terdengar di telinga Vani, dan apa yang dia dapat?


Tatapan penuh tanya dari para ibu yang penasaran pria ganteng itu bersama dengan wanita seperti apa?


Dan pasti mereka akan sakit hati jika tau kalau wanita yang pasti dikira sebagai pendampingnya adalah Vani.


Dan benar saja, setelah mengetahui anaknya keluar gerbang sekolah. Vani memanggil kedua anaknya yang keluar bersamaan, tidak lupa seorang anak laki-laki gemuk yang lucu, siapa lagi kalau bukan Hildan.


Menggandeng tangan mereka, dan mencari keberadaan Tita, mamanya Hildan yang ternyata belum datang.


Terlihat pandangan mencemooh dari beberapa ibu-ibu yang suka bergosip.


"sepertinya bukan itu suaminya, kok bisa diantar laki-laki lain sih. Jangan-jangan ini perempuan nggak bener" terdengar seseorang menggunjing nya, tapi Vani berlalu tanpa perduli.


"paling itu bosnya, dia minta tolong bosnya paling cuma pengen tau rasanya naik mobil mewah kali" terdengar lagi ucapan dari yang lainnya. Dan beberapa ucapan lain yang terasa memanaskan telinga.


Tapi Vani berusaha acuh saja. Biarkan anggapan orang lain, saat kebenaran terungkap, biarkan mereka malu sendiri dengan ucapannya.


Prinsip hidup Vani yang membuatnya tegar setiap hari.


"sudahlah ibu-ibu, belum tau kebenarannya kan. Nggak usah kepo sama urusan orang. Urusan diri sendiri aja masih banyak, nanti nggak kelar-kelar kalau masih mau ngurusin orang lain" terdengar seseorang membelanya, siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Tita.


Senyum cerah langsung terukir diwajah yang terhalangi masker. Vani lega dengan kedatangan sahabatnya itu.


"maaf ya say, aku lupa kalau waktunya jemput. Lagi asyik masak tadi malah telat deh. Udah lama keluarnya?" Tanya Tita sambil mengambil tangan Hildan dan menggandengnya.


"baru aja kok. Yaudah aku duluan ya beb, buru-buru nih. Panas telinga aku. hehe" kata Vani.

__ADS_1


"iya, aku juga mau lanjutin acara masak aku" kata Tita mengerti.


Mereka bertiga berjalan ke arah mobil Yudha yang terparkir di dekat deretan penjual jajanan.


"kita pulang naik apa bun? kok aku nggak lihat ada motor bunda sih?" tanya Varo.


"aku mau beli itu" sahut Vee menunjuk penjual sosis bakar didekat mobil Yudha.


"iya, ayo kita beli dulu"kata Vani menuntun kedua anaknya.


Yudha turun dari mobilnya dan ikut mengantri di gerobak penjual sosis bakar.


Vani sedikit kaget karena Yudha yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka. "eh .. mas, nggak apa-apa kamu disini? nanti baju kamu bau asap loh"


"nggak apa-apa Van, dulu aku juga sering kayak gini kan, masak kamu lupa" kata Yudha.


"hai jagoan, nama kamu siapa?" sambungnya.


"aku Varo om, om ini siapanya bunda?" tanya si sulung curiga.


"papa baru kayaknya dek" abang penjual sosis malah yang nyaut.


Varo jadi makin tidak suka pada Yudha. Dan bersikap lebih posesif pada bundanya.


"Om Yudha ini omnya Varo. Jadi Varo harus sopan sama om Yudha yaa" kata Vani memperingatkan anaknya.


Melihat kilatan mata yang belum mau menerima, Yudha tidak kehabisan akal.


"Sebagai hadiah perkenalan kita, om beliin semua apa yang Varo mau sekarang"


Mata kecil itu mulai melunak, tapi si bungsu malah tergiur lebih dulu.


"Adik mau sosis, es krim, sama sempol boleh?"


"boleh dong, ayo kita borong semua" kata Yudha senang dengan sambutan Vee.


Varo mulai bimbang, dan selanjutnya pasti mengikuti jejak si adik.


Anak kecil tetaplah anak kecil, yang masih sangat mudah dibujuk dengan sesuatu.


Puas membeli jajanan yang mereka mau, mereka berempat kembali ke dalam mobil. Varo dan Vee duduk di kursi belakang dengan kantong-kantong jajannya.


"jajan sebanyak itu memangnya siapa yang mau habiskan?" tanya Vani pada anaknya yang mulai sibuk mengunyah.


"kita sendiri" ucap Vee mantap, Varo diam saja tapi mulutnya tetap mengunyah.


Yudha mulai menjalankan mobilnya pelan, berharap bisa bersama dengan mereka sedikit lebih lama, dia ingin merasakan menjadi keluarga utuh dengan hadirnya anak.

__ADS_1


Dan dia merasakan sedikit kebahagiaan itu sekarang. Merasa menjadi papa bagi dua anak yang duduk di jok belakangnya. Senyum bahagia tampak di wajah tampan itu.


__ADS_2