
Bella membuka matanya, tidurnya terasa sangat nyaman kali ini. Pakaiannya sudah melekat indah di tubuhnya, pasti Yudha yang memakaikan untuknya. Seulas senyum terbit dari sudut bibirnya.
Kini dia terduduk, mencari keberadaan sosok yang selama ini dia khayalkan dalam setiap berhubungan dengan pria lain.
"Sudah bangun?" tanya Yudha yang membawa beberapa kantong yang sepertinya berisi makanan ke dalam ruang kerjanya.
"Kamu darimana mas?" tanya Bella manja.
"Ambil makanan, baru saja delivery" jawab Yudha sambil menata makanan keatas meja.
"Kamu pasti lapar, ayo kita makan dulu" kata Yudha memberikan sekotak makanan pada istrinya.
"Terimakasih, tapi aku sedang diet. Aku tidak makan karbo, mas" kata Bella mengeluh.
"Kenapa masih diet? Sekali-sekali tidak apa-apa lah makan yang seperti ini" kata Yudha.
Kembali dia membandingkan Bella dan Vani. Jika Vani tidak pernah mengeluh soal makanan, berbeda dengan Bella yang selalu menjaga bentuk badannya.
"Tapi demi kamu, aku makan deh kali ini" kata Bella yang melihat gurat kekecewaan dari suaminya.
"Oh iya mas, kamu bertemu lagi ya sama Vani?" tanya Bella dengan tampang yang dibuat sesantai mungkin walaupun hatinya bergemuruh saat mengatakan nama itu.
"Tidak" jawab Yudha singkat.
"Kau menyebut namanya saat kita bersama tadi, setelah sekian lama aku tak mendengar nama itu lagi dari mulutmu" kata Bella tegas kali ini.
"Untuk itu, aku minta maaf sama kamu ya" jawab Yudha yang membuat Bella semakin geram. Mereka makan dalam diam setelahnya. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
★★★★★
Vee sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya. Mereka bertiga terlihat bahagia meski tidak mengendarai mobil mewah.
Nyatanya Vee lebih nyaman saat sang ayah yang berada disampingnya. Jovan hanya merasa terlalu takut kehilangan keluarganya. Hingga dia mengambil jalan pintas untuk bisa menjauhkan keluarganya dari jeratan Yudha. Tapi tanpa dia sadari, dia malah terjerat oleh akal Gina.
"Alhamdulillah kamu sudah pulang nak" kata ibu Vani saat mendapati cucunya sudah lebih baik.
"Vee sudah lebih baik bu, jadi dia sudah boleh pulang" kata Vani.
"Apa kata dokternya, Van?" tanya ibunya.
"Alergi bu, dia makan udang. Ternyata alerginya separah itu" jawab Vani.
Jovan menidurkan anak gadisnya diatas kasur. Vee masih tidak mai ditinggal oleh sang ayah. Dia sangat manja pada ayahnya jika sedang sakit begini. Sampai-sampai harua ke kamar mandipun dia harus ijin pada bks kecilnya itu.
"Mas, Varo minta dibelikan ayam krispy" kata Vani.
"Biar aku belikan" kata Jovan.
"Ayah disini saja, biar bunda pergi sendiri sama kakak" kata Vee masih mode manja.
__ADS_1
"Oke, biar aku beli sendiri sama Varo, mas. Kamu temani saja tuan putri itu" kata Vani sambil menggelitiki putrinya.
"Yakin?" tanya Jovan.
"Tentu saja, aku bawa motor kamu ya" kata Vani.
"Iya, kuncinya ada diatas meja" jawab Jovan.
"Ayo Varo, kuta pergi" kata Vani menggandeng tangan putranya.
Mereka bersama menuju penjual ayam krispy didekat rumahnya, tapi tutup. Jadinya mereka ke tempat yang sedikit jauh. Yang berada di dekat tempat Vani bekerja.
Bella yang kebetulan berada di car wash yang masih satu tempat dengan tempat kerja Vani, mendapat informasi tentang keberadaan Vani yang sedang antri untuk membeli ayam krispy dengan putranya.
Beruntung Yudha masih menyelesaikan pekerjaan di ruangannya, Bella segera menemui Vani. Dia ingin melihat seperti apa wajah wanita yang sudah tertanam di dalam hati suaminya sejak dahulu itu.
Sesuai informasi yang didapatkannya, Bella mencocokkan wajah Vani dengan foto yang dia dapatkan. Setelah merasa cocok, Bella dengan santainya mendekat ke arah Vani yang bersiap pergi dengan Varo.
"Hai" sapa Bella.
Vani menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa hanya ada dia saja, diapun membalas sapaan Bella yang terlihat asing baginya.
"Eh... Hai, apa kita saling kenal?" tanya Vani dengan senyuman.
Bella mengamati penampilan Vani dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Wanita berhijab dengan kaos santai lengan panjang dan rok lebar ini yang telah menguasai hati suaminya?
Bahkan dari segi kecantikan, Bella merasa menang jika dibandingkan wanita semacam Vani.
Tiba-tiba Bella menyambar makanan Vani dan melemparnya. Tak hanya itu, diapun menginjak-injak makanan itu dengan high heelnya hingga tak berbentuk.
Vani membulatkan matanya, tidak ada hujan tidak ada angin, dia diserang oleh keturunan mak lampir yang dikaruniai harta dan tahta.
Tidak ada yang bisa melawan kekuatan seorang ibu. Kini Vani akan membuktikannya.
"Bunda, itu kan ayamnya Varo" kata Varo merengek.
Mendengar isakan dari anaknya, semakin membuat emosi Vani bertambah. Mereka berdua sudah menjadi bahan tontonan sekarang.
Vani turun dari motornya. Bersiap menghadapi makhluk aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Dia berdiri dihadapan Bella yang masih memandangnya rendah.
"Heh, mak lampir. Saya nggak ada urusan sama kamu ya. Kenal juga enggak, apa maksud kamu tiba-tiba membuang makanan anak saya?" kata Vani sambil berkacak pinggang.
"Kamu itu yang kegatelan, jangan suka gangguin suami orang. Urus saja suami kamu sendiri" kata Bella.
"Bahkan saya nggak kenal sama suami kamu. Jangan sok kenal deh sama saya" teriak Vani tak mau kalah.
Bella geram dengan tingkah Vani yang tidak takut padanya. Tangannya melayang ingin menarik hijab Vani, tapi Vani yang mengetahuinya bersiap dengan menangkap pergelangan tangan Bella dan memelintirnya.
"Aduh... Aduh" rintih Bella yang mendapat teriakan dari sekitarnya.
__ADS_1
"Makanya kalau nggak kenal jangan sok jadi preman" kata Vani masih memelintir tangan Bella.
Bella yang malu berusaha menendang Vani dengan heelsnya, tanpa disangka Varo datang membantu sang bunda. Anak kecil itu menangkap kaki Bella yang terangkat sebelum mengenai sang bunda. Lalu mendorongnya dengan kuat, bersamaan dengan Vani yang melepas tangannya.
Sontak hal itu membuat Bella jatuh terduduk, pakaiannya yang minim membuat ****** ******** terlihat saat jatuh terjengkang. Vani langsung menutup kedua mata Varo agar tak melihatnya.
Seseorang melempar kain spanduk pada Bella yang terjatuh agar tak nampak lagi bagian dalamnya.
Bella sangat malu, wajahnya memerah sempurna. Emosinya meluap-luap. Bahkan air matanya sudah menetes.
Yudha datang setelah mendapat kabar jika istrinya sedang berkelahi. Mengetahui kemampuan istri manjanya, Yudha segera menghampiri.
Dia kini terkejut, dia melihat Vani yang berdiri sambil menutupi kedua mata Varo. Sedangkan Bella duduk dihadapannya sambil menangis dan tertutup kain spanduk? Sungguh pemandangan yang sangat memalukan.
"Ada apa ini?" tanya Yudha memecah keriuhan. Dia segera membantu istrinya berdiri dan menatap Vani tajam.
"Apa? Mau tanya apa?" kata Vani seolah menantang Yudha karena mendapatkan tatapan tajam darinya.
Yudha mendesah, bagaimanapun dia tidak bisa memarahi Vani.
"Om Yudha, Tante itu buang makanan Varo. Bukan bunda yang salah" kata Varo membela bundanya.
Bella memeluk Yudha dan menangis yang dibuat sedemikian rupa agar Yudha tidak marah padanya.
"Kamu ngapain sih?" tanya Yudha pada Bella.
"Wanita itu yang datang duluan pak, terus ngambil makanannya mbak yang pakai hijab, malah makanannya diinjak. Kan kasihan anaknya nangis" kata seseorang mengadu pada Yudha.
"Benar Bel?" tanya Yudha yang masih dipeluk erat oleh Bella.
"Cg, terserah. Ayo Varo kita cari di tempat lain saja" kata Vani ingin pergi.
"Tunggu mbak, ini viar saya ganti makanan mbaknya. Saya kasihan lihat anak mbak yang ganteng ini nangis" kata ibu-ibu penjual ayam krispy itu sambil memandang sinis Bella dan Yudha.
"Memang gitu mbak aturan orang sok kaya, nggak ada salam sapa main buang makanan sembarangan" kata ibu itu lagi.
"Jangan Bu, nggak apa-apa. Biar saya beli lagi deh sama ibu, kan kasihan ibu sedang berdagang" kata Vani.
"Nggak apa-apa mbak, saya ikhlas. Saya ingat anak saya dirumah, pasti nangis juga kalau makanannya direbut orang" kata ibu itu.
"Yasudah, terimakasih banyak ya bu. Semoga rejeki ibu bertambah banyak" kata Vani yang diamini semua orang yang menonton mereka bagai drama.
Vani menaiki motornya, diikuti Varo yang kini minta bonceng di depan. Mereka berdua meninggalkan Yudha yang masih dipeluk oleh istrinya. Baru kali ini Vani pergi meninggalkan Yudha dengan meninggalkan emosi.
.
.
.
__ADS_1
.