
Gadis dengan wajah yang pucat masih tertutup matanya.Pakaiannya yang semula basah kini sudah berganti dengan piyama yang kering.
Seorang laki laki duduk disebelah ranjangnya, menatap wajah seorang gadis didepannya yang tetap cantik meskipun tampak terlihat pucat.
Dean Raihan,laki laki yang kini menatap Karan adalah kapten futsal sekolah.Cowok ini sudah memendam perasaan kepada Karan sejak lama juga.Namun,Karan pun tak mengetahui hal itu.
"Ran,cepet sembuh.Biar gue bisa ngelihat senyum lo lagi.Meskipun senyum itu bukan buat gue," setelah mengatakan itu Dean beranjak keluar dari kamar Karan dan berpamitan kepada Mama Karan,Mirna.wanita itu hendak masuk kedalam kamar Karan.Dimana gadis itu masih terlelap puas disana.
Al menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Karan.Cowok itu ingin memastikan keberadaan Karan,akankah cewek itu sudah pulang terlebih dahulu atau belum.Saat ia baru saja keluar dari mobil.Dean langsung mencengkram kerah baju Al dan melayangkan tinju di pipi mulus Al.Dean memukul Al bertubi tubi sampai tubuh cowok itu terjatuh.Karena tak terima Al bangun dan balik membalas pukulan Dean.
"Maksut lo apa mukul gue?" tanya Al penuh kilatan amarah,kedua tangannya mencengkram kerah baju Dean
Dean tersenyum sinis, "Bego!"
Dengan cekatan Al kembali meninju pipi Dean kedua kalinya, "Gue nanya maksut lo apa!" bentak Al.
"Lo masih nanya salah lo apa?" Suara Dean kini ikut meninggi, "Salah lo,lo ngebiarin Karan kehujanan sendirian dan mirisnya dia nyari lo!"
__ADS_1
Cengkraman tangan Al yang semula menguat kini mulai mengendur.
"Sedangkan lo,berduaan sama cewek lo tanpa mikirin kondisi Karan! Dia pingsan ditengah hujan buat nyari cowok yang nggak punya hati!" Kini amarah Dean semakin memuncak,Al hanya diam membisu,bibirnya kelu. "Seenggaknya kalau lo emang nggak suka dia,jangan sampai kayak gini.Lo tahu?lo udah nyakitin dia dari segi fisik dan hati!" setelah mengatakan itu Dean pergi menuju mobilnya,meningalkan Al yang terdiam membisu.
Pernyataan Dean seolah menamparnya tanpa ampun.Bahkan rasa sakit akibat pukulan Dean pun kini tak terasa.Hanya perasaan bersalah serta rasa penasaran terhadap gadis itu yang tersisa.
Benar apa yang Dean ucapkan, ia terlalu sibuk dengan Ralina sampai melupakan Karan.Ia baru inggat Karan setelah ia selesai mengantarkan Ralina pulang.
Al berdiri mematung,didepan pagar rumah perempuan yang kini memenuhi kepalanya.Rasa gengsi membuat Al lebih memilih masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju rumahnya.Toh,ini bukan sepenuhnya salah dia.Karan sendiri yang memaksa untuk ikut padahal kondisinya belum sepenuhnya sehat.Itulah pemikiran Al setelah rasa gengsi menguasai dirinya.
Semalaman Al tidak bisa tidur.Perasaan bersalah kembali muncul lagi,bahkan soto Mbak Ipeh yang akhir akhir ini jadi menu favoritnya di kantin tidak bisa membuat cowok itu berhenti memikirkan keadaan Karan.
"Al lo mikirin apaan sih? mikirin kredit sterika emak lo? apa kredit ****** superman lo?" celetuk Farel
__ADS_1
"Atau lo mikirin duluan mana telur sama ayam kan?gue juga lagi mikirin itu sih," gumam Reonal semakin tak jelas.
Bukannya menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya,cowok itu beranjak dari duduknya, "Gue cabut dulu."
Al bukanlah cowok yang suka membolos sekolah seperti ini,sekalinya bolos pasti ada hal yang sanggat penting.Bedanya, biasanya ia akan cerita kepada kedua sahabatnya tapi kali ini tidak.
"Al lo kenapa?" Kini Davon ikut teheran heran dengan tingkah Al.
Al hanya menggelang. "Urusan sebentar," usai mengatakan itu Al segera keluar dari kantin menuju parikiran.Beruntungnya saat ini pos penjaga sedang kosong yang artinya Al bisa dengan bolos dengan mudah.
Tanpa pikir panjang,motor Al segera keluar dari gerbang sekolah.Cowok itu memacu laju motornya kencang membelah jalanan kota.
Tepat didepan gerbang berwarna Hitam yang tak terlalu tinggi,motor Al terparkir disana.Cowok itu membulatkan tekad untuk sekedar melihat kondisi gadis yang kemarin ia lupakan begitu saja.Bukan karena apa,hanya karena perasaan bersalah.
Ditempat lain namun diwaktu yang berbeda, Karan tengah berharap semoga Al datang untuk menjenguknya,meskipun hanya sebentar.Tapi,Karan segera membuang harapan itu,karena itu suatu ketidakmungkinan yang hanya menjadi mimp Karan.
Setelah lama berbincang bincang dengan Mirna dibawah,kini cowok itu tengah menyaksikan pemandangan yang tak ingin ia lihat dibalik pintu kamar Karan yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Gadis itu,
Karan?